
Malam hari pun tiba, Zeno dan Bambang merasa lelah karena perjalanan panjang mereka dari Jakarta menuju Desa Umbul Jaya. Rumah baru Kakek Wiro hanya menyediakan dua kamar tidur, sehingga kedua pemuda itu harus tidur berdua.
Kamar tidur yang di huni mereka cukup bagus untuk ukuran kamar tidur di pedesaan. Bambang merasa senang, pasalnya dia mendapatkan fasilitas yang jauh dari ekspektasinya. Sebelum melihat langsung, Bambang membayangkan akan hidup menderita karena mendengar penjelasan dari Zeno mengenai rumahnya dan kehidupannya dulu.
Sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur, Bambang menatap langit-langit kamar. Matanya menerawang seolah memikirkan sesuatu. Sementara Zeno sedang sibuk memainkan ponselnya sembari duduk di kursi dekat jendela kamar.
"Zen ... gua masih gak abis pikir, kenapa keluarga gua semuanya dibunuh? Siapa orangnya, ya?" Mata bodyguard bertubuh kurus itu berkaca-kaca, dia mengingat bagaimana keluarganya sudah menjadi mayat dan bersimbah darah -- saat pertama kali dia temukan.
Zeno tidak langsung menjawab, pria itu mendongakkan kepalanya keatas dan menyenderkannya di kursi. Ada banyak hal yang dia pikirkan malam itu. Dalam benaknya ada sebuah kecurigaan kepada seseorang yang mengaku keluarganya, yaitu Tuan Kenan. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau itu adalah ayah dari gadis yang dia sukai atau bisa jadi orang lain.
"Bentar, Bang ... gua mau keluar dulu. Lo istirahat aja dan ikhlasin keluarga lo, Bang ... doain yang terbaik buat mereka. Setiap makhluk hidup gak ada yang kekal dan suatu saat akan kembali kepada Allah." Zeno mencoba menenangkan Bambang lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Gua harus ikhlas, sedangkan lu tetep mau balas dendam. Lucu kalo lu nasehatin gua kayak gitu," sindir Bambang.
Langkah Zeno otomatis terhenti. Sindiran Bambang mengena dihatinya. Dia yang kehilangan orang tuanya saat masih kecil saja masih tetap bersikeras membalas dendam, apalagi Bambang yang melihat kematian orang tua dan adiknya pada saat sudah dewasa.
"Seenggaknya sekarang lo jangan larut dalam kesedihan, Bang ... gua akan bantu cari tau siapa yang bertanggungjawab atas kematian orang tua lo," ucap Zeno. Pria itu meninggalkan Bambang sendirian di kamar.
***
Zeno menemui kakeknya yang sedang duduk di teras depan. Terlihat pria tua itu sedang menikmati secangkir kopi panas. Bintang-bintang tidak malu-malu menampakkan sinarnya di desa yang belum banyak gedung tinggi itu.
"Kek...." Zeno mengambil posisi duduk disamping kakeknya di sebuah kursi kayu jati.
"Ada apa? Ada yang mau kamu tanyain ke kakek?"
"Kakek kayak paranormal aja." Zeno tersenyum sambil melihat kearah pria renta yang merawatnya sejak kecil.
"Kamu masih mau melanjutkan balas dendam?" tanya Kakek Wiro.
Zeno menghembuskan napasnya, dia menyenderkan tubuhnya di kursi kayu itu.
"Zeno udah melangkah jauh, Kek ... kalo harus menyerah di tengah buat apa memulai," ujar Zeno.
"Kakek tau ... sudah banyak hal yang kamu alami di sana. Sejujurnya kakek hanya ingin melihat sejauh mana keberanian mu, maka dari itu kakek memperbolehkan dirimu untuk ke Jakarta," tutur Kakek Wiro. "Apa kamu tidak gentar melihat betapa kuatnya lawanmu?" imbuhnya.
"Zeno bertemu dengan keluarga ayah yang tidak kalah kuat dengan keluarga Wijaya. Kakek tau Tuan Kenan Sanjaya? Dia bilang, dia itu adik dari ayah," ucap Zeno yang ditanggapi kerutan kening oleh sang kakek.
"Dia memang adik ayahmu tapi kakek tidak kenal dekat, mungkin kami hanya pernah bertemu sekali. Ayah dan ibumu hanya menikah secara agama, karena ibumu hanyalah seorang asisten pribadi dan ayahmu dari keluarga terpandang. Dalam dirimu memang masih mengalir darah mereka, namun kamu dan ibumu tidak ada dalam silsilah keluarga mereka," jelas Kakek Wiro.
Zeno mencoba memahami perkataan dari kakeknya. Tiba-tiba pikirannya tertuju kepada Jessie. Dulu dia pernah berpikir kalau dia bisa menggantikan posisi Key untuk menikah dengan Jessie, karena dia juga adalah tuan muda dari keluarga Sanjaya. Namun, setelah mendengar penjelasan kakeknya -- dia merasa semakin jauh dari harapannya.
__ADS_1
Mulut berkata lain tapi hatinya masih mencintai gadis cantik itu. Balas dendamnya bahkan sempat teralihkan oleh rasa cintanya kepada gadis cantik itu.
"Dia bilang akan membalas dendam atas kematian ayah sama sepertiku, Kek ... dia juga butuh bantuan ku," tanggap Zeno.
"Jadi kamu mau tetap membalas dendam? Sebenarnya kakek sudah ikhlas dengan kematian ibumu tapi kalau kamu ingin melakukannya, kakek tidak akan melarang."
Kakek Wiro sebenarnya tidak ingin Zeno melanjutkan tujuannya. Kakek Wiro hanya ingin Zeno menyerah sendiri saat melihat betapa kuat musuhnya, namun takdir berkata lain -- cucunya malah mendapatkan dukungan yang kuat dari pihak yang mempunyai tujuan yang sama.
"Kek ... gimana aku bisa selamat dari kecelakaan itu?" tanya Zeno penasaran. Selama ini, dia tidak pernah menanyakan hal ini kepada kakeknya.
Kakek Wiro menyilangkan kakinya, pada akhirnya dia harus mengatakan sebuah kenyataan yang pernah menimpanya dan cucunya puluhan tahun silam. Dia mengatakan kalau kecelakaan itu terjadi pada saat ayah dan ibu Zeno berniat untuk mengantarkannya ke desa setelah mengunjungi cucu dan anaknya.
***
Kecelakaan itu terjadi di jalanan yang tidak jauh dari desa. Tiba-tiba pedal rem mobil yang dikendarai mereka tidak berfungsi, entah apa yang membuatnya begitu. Namun, sepertinya semuanya sudah diatur oleh seseorang dari jarak jauh.
Mobil yang dikendarai oleh ayahnya Zeno hilang kendali dan menabrak sebuah pohon beringin besar di tepi jalan. Sebelum mobil itu benar-benar kehilangan kendali dan mengalami kecelakaan, ibu Zeno sempat mengatakan sesuatu kepada ayahnya, Kakek Wiro.
"Bapak harus lompat sebelum kita benar-benar mengalami kecelakaan dan bawa Zeno sekalian," ucap Marina sambil menyerahkan Zeno yang masih berusia dua tahun kepada ayahnya.
"Tapi nanti kalian gimana? Ayo kita lompat bareng, Nak!"
"Ayah duluan saja! Aku lagi mencoba mengendalikan kemudi tapi sepertinya ada seseorang yang mengendalikan kemudi dari jarak jauh sehingga susah dikendalikan," ujar Albert.
"Di depan ada hamparan sawah berlumpur basah, ayah langsung melompat kesana!" pekik Albert.
Namun nahas, baru saja dia melompat -- mobil yang berisi anak dan mantunya menabrak pohon beringin besar itu dengan kuat sehingga membuat bagian depan mobil ringsek dan rusak parah.
Kakek Wiro tidak luka walaupun dia melompat dari mobil. Lumpur sawah yang basah menyelamatkan dirinya dan cucunya. Dengan tergesa-gesa sambil menggendong Zeno, kakek Wiro berlari menuju mobil itu.
"Nak! Kalian gak apa-apa?!" teriak Kakek Wiro.
Pria tua itu mengintip kalau anak dan mantunya masih sadarkan diri, tapi kaki mereka terjepit badan mobil akibat menabrak pohon beringin.
Kakek Wiro kebingungan karena Zeno menangis dengan kencang setelah diajak melompat oleh kakeknya.
"P-pak ... Frans ... Frans Wijaya dia--," lirih Albert.
Belum sempat Albert menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara bip beberapa kali dari arah bagian belakang mobilnya. Ayah Zeno itu menyadari sesuatu yang berbahaya dari suara itu.
"Lari, Pak! Ada bom!" pekik Albert.
Kakek Wiro bingung harus berbuat apa, di satu sisi dia ingin menyelamatkan anak dan mantunya tapi di sisi lain dia tidak memiliki waktu lagi karena sudah ada boom yang terpasang.
__ADS_1
Akhirnya, Kakek Wiro memutuskan untuk berlari membawa Zeno. Tak lama kemudian, mobil itu meledak dan menghancurkan semua hingga menjadi kepingan-kepingan kecil. Semuanya juga hangus terbakar habis.
***
Mendengar cerita kakeknya, Zeno memejamkan matanya lekat. Betapa kejamnya orang yang sengaja membunuh kedua orang tuanya. Bukannya menyerah, dia malah semakin ingin membalaskan dendamnya.
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Zeno
Bambang
Kakek Wiro
***
Suami dicuri? KUMENANGISSSSSS ... itu di ikan terbang.
DI WALINGMI? Ngakak, terbahak hingga somplak. GAK PERCAYA? BURUAN KEPOIN ....
Novel karya lima author somplak
Tya Gunawan
Aldekha Depe
Linanda Anggen
Syala Yaya
__ADS_1
Nafasal