Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Adu domba


__ADS_3

Fox nampak menikmati liburan di kapal yacht pribadinya. Pria itu seraya menikmati indahnya langit malam yang bertabur bintang dan birunya laut yang terkena bias lampu kapalnya. Angin malam menyapu kulit wajah dan rambutnya sehingga pria tampan itu kadang memejamkan matanya sejenak.


"Tuan ... rencana Anda sepenuhnya berhasil dan malah melebihi ekspektasi Anda," lapor Petra, asisten pribadinya.


"Benarkah? Melebihi ekspektasi bagaimana?" tanya Fox yang sontak menoleh kearah asisten pribadinya itu.


"Reaksi dari kedua kepala keluarga itu sungguh diluar dugaan. Anda tidak perlu mengotori tangan Anda sendiri untuk membuat kedua kubu melakukan pertumpahan darah," jelas Petra.


"Wah ... sepertinya dokumen itu membuat mereka berpikir terlalu jauh. Padahal aku hanya ingin mengerjai mereka." Fox nampak tersenyum samar sambil menatap asistennya itu.


"Ternyata dokumen itu lebih mengerikan dari pada yang aku bayangkan," tutur Fox.


Petra mencoba memberikan pendapatnya, walaupun awalnya dia nampak ragu-ragu.


"Kalau Anda hanya mengirimkan dokumen itu ke Tuan Frans, mungkin kejadiannya akan berbeda. Sedangkan kenyataanya, Anda mengirimkan dokumen itu juga kepada Tuan Kenan. Sudah pasti Tuan Kenan akan bereaksi keras karena mata-mata yang dikirimkan olehnya sudah ketahuan jati dirinya."


"Benar juga pendapatmu ... tapi biarkan saja. Biarkan mereka berdua tetap menjadi musuh dalam selimut. Sekarang, Tuan Frans tahu kalau calon besannya adalah musuh terbesarnya," kekeh Fox.


.


.


.


***


Paviliun Timur, Kediaman keluarga Wijaya.


Ruang kerja Tuan Frans, pukul 01.07 dini hari.


Berulang kali pria paruh baya itu membaca dokumen yang dikirimkan oleh Fox. Dia memang tidak mengetahui kalau Fox yang mengirimkan dokumen itu. Tapi ada hal yang membuatnya tidak habis pikir, di dokumen itu tertulis kalau Tuan Kenan lah yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya. Maka dari itu, dia sengaja tidak menunjukkan isi dokumen itu kepada ring satu dan hanya menyebutkan nama-nama pengkhianat yang tertulis di dalamnya.


Ayah dari Jessie itu belum sepenuhnya yakin kalau para mata-mata itu adalah suruhan dari calon besannya. Dia mencoba untuk mencari informasi dari orang-orang tersebut, namun mereka malah mati dengan keadaan tidak wajar karena penyerangan yang tiba-tiba. Hal itu membuatnya berpikir kalau ada pihak lain yang sebenarnya membawahi para mata-mata itu.


Dia menjadi gamang dan memutuskan lebih waspada dengan calon besannya itu. Karena kemungkinan kalau Tuan Kenan merupakan musuh dalam selimutnya cukup besar.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu memecahkan lamunan dari sang bos mafia itu. Pria itu mempersilahkan seseorang yang hendak menemuinya malam itu. Ternyata yang datang adalah Zeno.


"Tuan ... apakah saya mengganggu?"

__ADS_1


"Tidak ... ada apa malam-malam begini kau menemui saya?" tanya Tuan Frans yang masih menampakkan raut wajah kurang baik karena pikiran yang mengganjal.


"Maafkan kalau saya lancang, Tuan ... tapi apakah saya bisa melihat dengan jelas isi dokumen yang Anda terima?" pinta Zeno tanpa ragu.


Tuan Frans menautkan kedua alisnya, dia tidak berpikir kalau Zeno akan meminta hal seperti itu kepadanya.


"Apa yang membuatmu berani meminta hal ini?" Tuan Frans nampaknya menggertak Zeno dengan pertanyaannya ini.


"Saya ingin tahu, Tuan ... itu pun kalau Anda sepenuhnya percaya kepada saya. Saya rasa Anda menyembunyikan sesuatu sehingga Anda tidak mau menunjukkan isi dokumen itu," ucap Zeno tepat sasaran.


"Ha-ha-ha! Kau adalah anak yang naif. Kau sengaja malam-malam datang kemari hanya untuk menanyakan hal ini? Kau tidak takut jika tiba-tiba aku membunuhmu?" seloroh Tuan Frans sembari mengambil sebuah handgun dari laci meja kerjanya dan menodongkan ke kepala Zeno.


Zeno bergeming dan tidak berpindah posisi. Dia memasang wajah seriusnya saat berhadapan dengan ayah dari gadis yang dicintainya itu.


"Kalau Tuan ingin membunuh saya, silahkan ... semenjak saya menjadi bodyguard di keluarga ini, sudah berarti nyawa saya pun sudah dibeli oleh Anda, Tuan."


Tuan Frans terkekeh mendengar pernyataan dari Zeno yang bahkan tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun kepadanya. Dia bahkan beranjak dari tempat duduknya dan bertepuk tangan memutari tubuh Zeno yang masih berdiri tegap dihadapannya.


"Kau anak yang berani ... aku sangat menyukaimu, ha-ha-ha!'


Tuan Frans berjalan menuju kursi kebesarannya dan mendudukkan dirinya di kursi empuk itu.


"Belum ada dari orang-orangku yang berani seperti dirimu. Mungkin hanya ada satu orang yang pernah melakukan hal ini kepadaku selain dirimu. Kau mengingatkan aku kepada asisten pribadiku di masa lalu. Sayang sekali dia harus meninggalkan dunia ini dengan cepat."


"Baiklah ... ambil dan bacalah." Tuan Frans menyodorkan dokumen tersebut kepada Zeno dan langsung disambut oleh bodyguard tampan itu.


"Aku harap kau bukanlah seorang pengkhianat," tukas Tuan Frans dengan tatapan yang mengintimidasi.


Zeno hanya tersenyum tipis sembari menundukkan kepalanya kepada Tuan Frans.


.


.


.


***


Kediaman keluarga Sanjaya.


Ruang kerja Tuan Kenan.

__ADS_1


Tuan Kenan terlihat gelisah dan mondar-mandir didepan meja kerjanya. Dia sepertinya nampak was-was dan menunggu seseorang datang. Tak berapa lama ada seseorang yang datang ke ruang kerjanya.


"Bagaimana? Apa semua sudah beres? Dia tidak curiga, kan?" tanya Tuan Kenan kepada orang yang baru datang itu.


"Semua anggota Liverleaf yang berada di kediaman keluarga Wijaya sudah dibereskan, tapi masih ada satu orang yang lolos dan masih hidup sampai sekarang," lapor orang tersebut.


"Apa? Siapa orang itu?" Tuan Kenan menyugar rambutnya kasar.


"Dia adalah mata-mata dengan kode SJ18 atas nama Bambang Gentolet."


"Cih! Sialan! Bagaimana kalau dia tertangkap oleh anak buah Frans? Dia pasti akan dicecar sampai mengaku, itu sangat berbahaya!" Tuan Frans sangat frustasi dan berjalan menuju singgasananya.


"Kami akan menemukannya lebih dahulu dari anak buah Tuan Frans Wijaya dan langsung membunuhnya."


"Cepatlah! Jangan sampai rencana yang sudah aku susun matang-matang hancur karena ada hal kecil yang belum dibereskan!"


"Baik, Tuan!"


Anak buah Tuan Kenan pun berlalu meninggalkannya sendiri. Pria paruh baya itu telah masuk ke dalam permainan yang direncanakan oleh Fox. Fox sengaja memberikan catatan kalau dokumen itu juga dikirim ke Tuan Frans diwaktu yang sama. Sehingga, tanpa pikir panjang dia terlebih dahulu menghabiskan nyawa mata-mata yang dikirimnya sebelum calon besannya itu mengorek informasi dari mereka.


"Sialan! Siapa sebenarnya orang brengsek ini?!" Tuan Kenan melemparkan dokumen yang dikirim oleh Fox kepadanya.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Kuy mampir ke novel teman author yang super duper kece ini 😁😁😁😁


Cintaku Pembunuh Kekasihku - shanty fadillah



Terjerat Pernikahan - Ismi Sima simi


__ADS_1


Elleana And The King Of Mafia - Ranty Yoona



__ADS_2