Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Tak percaya


__ADS_3

Zeno menyeret Young Flash untuk dibawa ke para bodyguard yang lain untuk diadili. Namun Young Flash memasang tampang sedihnya sehingga membuat Zeno iba.


"Kenapa lo pasang tampang mirip lele kejepit kawat kayak gitu?" tanya Zeno asal.


Anzay! Lele kejepit kawat? Istilah apa lagi itu? Sungguh diluar nalar perumpamaan orang ini, batin Young Flash.


"Ampun Om! Saya hanya mencari nafkah untuk sesuap nasi. Istri saya empat dan anak saya selusin, Om ... tolong ampuni saya," pinta Young Flash mengiba.


"Eh? Banyak amat istri dan anak lo? Udah kayak keluarga kucing," tanggap Zeno heran.


Young Flash hanya berbohong kepada Zeno. Jangankan istri empat dan anak selusin, gebetan saja dia tidak punya. Sungguh kasihan.


"Tolonglah lepaskan saya ... saya janji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi." Young Flash memohon dengan sungguh-sungguh sehingga Zeno sampai tidak tahu kalo itu hanyalah akting belaka.


"Hm ... baiklah, tapi inget jangan sampe gua liat lo lagi berkeliaran di sekitar sini," peringat Zeno.


Young Flash pun mengangguk dan berlari secepat kilat sampai tak terlihat lagi. Hanya hembusan angin yang masih tersisa setelah kepergiannya.


"Gile ... itu orang ngebut banget, ck-ck," gumam Zeno.


Zeno pun bergegas menuju ke tempat para bodyguard berkumpul di depan halaman kediaman utama keluarga Wijaya.


Sembari berjalan, Zeno pun tiba-tiba terpikir -- bagaimana bisa pria tadi alias Young Flash bisa masuk ke dalam kediaman keluarga Wijaya padahal penjagaan sangatlah ketat.


"Kok bisa, ya? Aneh banget," gumam Zeno.


Tiba-tiba dari belakang, Bambang mengagetkan Zeno yang sedang berpikir itu.


"Dor!" pekik Bambang tepat ditelinga kanan Zeno.


"Astaghfirullah! Gentolet! Kenapa 'sih lo itu kalo muncul gak pernah normal dikit?!" protes Zeno sembari mengelus dada.


Bambang hanya nyengir kuda.


"Mikirin apa, sih? Serius banget kayaknya," tanya Bambang heran.


"Tadi ada penyusup, Bang," jawab Zeno.


"Eh? Penyusup? Kok bisa? Kapan?" Bambang bertanya bertubi-tubi.


"Tadi barusan, dia bawa-bawa kamera terus larinya secepat kilat, Bang," jelas Zeno.


"What?! Yang bener, Zen?" Bambang membelalakkan matanya.


Zeno menoyor kepala Bambang. "Biasa aja melototnya, awas gelinding tuh bola mata."


Bambang masih saja melotot dan malah mengguncang-guncangkan tubuh Zeno. Bambang terlihat sangat khawatir dan resah karena mendengar cerita dari Zeno.


"Bahaya, Zen! Dia pasti Young Flash!" teriak Bambang histeris.


"Hah? Siapa itu?" tanya Zeno penasaran.

__ADS_1


Akhirnya Bambang menceritakan tentang legenda Young Flash kepada Zeno. Dengan seksama, Zeno pun mendengarkan penjelasan dari Bambang. Bambang menjelaskan secara detail dan terperinci mengenai sepak terjang seorang Young Flash, sosok paparazi handal itu.


"Dia masih jomblo?" tanya Zeno.


"Jelas jomblo ... sebenernya rumah bokapnya tetanggaan sama rumah bokap gua. Lebih tepatnya dia temen kecil gua, Zen, he-he," jawab Bambang sembari nyengir kuda.


Berani-beraninya dia nipu gua! Awas aja kalo ketemu lagi! Gua beri bogem mentah tuh orang, gerutu Zeno dalam hati.


"Zen kalo si Young Flash udah kesini, pasti ada berita yang udah diendus sama dia. Dia pasti cari fakta buat ngebuktiinnya," tukas Bambang.


"Terus gimana?" tanya Zeno.


"Kita harus lebih waspada, dia pasti bakal balik lagi," jawab Bambang.


.


.


.


***


Kediaman keluarga Sanjaya, Jakarta.


Nenek Elizabeth baru saja tiba di kediaman anak satu-satunya itu. Nenek berusia 80 tahun itu masih terlihat gagah dan energik. Perjalanan jauh tak membuatnya lelah.


Terlihat Tuan Kenan -- ayah dari Key dan Kyla terburu-buru turun dari tangga rumahnya untuk menyambut ibundanya itu.


"Tidak apa-apa, nanti malam kita bicara suatu hal yang serius di ruang kerjamu, sekarang aku ingin istirahat dulu," ucap Nenek Elizabeth sembari bergegas menuju ke kamarnya yang ada di rumah itu.


Nenek Elizabeth sudah tua jadi dia lupa arah ke kamarnya dan malah jalan kearah yang salah. Selain itu, sudah lebih dari sepuluh tahun dia tidak pernah ke Indonesia.


"Bu ... itu salah jalan," tukas Tuan Kenan.


"Tapi kamar ibu masuk ke lorong ini, kan?! Kamu pikir ibumu ini sudah tua dan tidak ingat kamar sendiri," protes Nenek Elizabeth.


Tuan Kenan menepuk jidatnya karena bingung bagaimana harus menjelaskan kepada ibunya kalau itu salah jalan.


Tak berapa lama, Nenek Elizabeth keluar dari lorong itu dan marah-marah.


"Kenapa kamarku berubah jadi kandang ular?! Dasar anak tidak tahu berbakti kepada orang tua! Mentang-mentang ibu sudah tidak pernah kesini sejak lama, kau berani menggunakan kamarku!" Nenek Elizabeth marah dan membuka sendalnya untuk memukul anaknya itu.


Tuan Kenan berlari menghindari kejaran ibunya dan tak sengaja menabrak Key yang baru tiba. Ternyata seorang bos mafia takut juga dengan sendal yang hendak dipukul oleh ibunya.


"Kenapa ini?" Key terlihat panik melihat keributan yang terjadi dihadapannya.


Tuan Kenan bersembunyi dibalik badan putra sulungnya itu.


"Nenek kapan kesini? Nenek gak bilang ke Key kalo mau datang. Kemarin waktu Key ke London, nenek bilang gak mau ikut," ujar Key.


Nenek Elizabeth tidak menjawab, dia hanya fokus ingin memukul kepala Tuan Kenan dengan sendalnya.

__ADS_1


"Nek! Kenapa nenek ingin memukul ayah dengan sendal?!" pekik Key sehingga membuat Nenek Elizabeth berhenti mengejar Tuan Kenan.


"Ayahmu kurang ajar! Kamar nenek berubah jadi kandang ular!" teriak Nenek Elizabeth.


Key menepuk jidatnya. Dia pun akhirnya menjelaskan kepada neneknya bahwa kamarnya bukan di lorong yang itu, melainkan lorong sebelahnya.


Nenek Elizabeth pun malu tapi dia tetap ngeles dengan memberikan sebuah alasan klasik.


"Biasa ... nenek cuma bercanda, ha-ha!"


"Punya nenek gini amat," gumam Key.


.


.


.


***


Malam harinya.


Ruang Kerja Tuan Kenan Sanjaya.


Seperti janji tadi siang, nenek Elizabeth pun menemui anaknya untuk berbicara serius. Ternyata pembicaraan itu mengenai foto keluarga Zeno yang tertinggal di kediaman mereka di London tempo hari.


"Keturunan dari Albert dan Marina ternyata masih hidup," ucap Nenek Elizabeth sembari meletakkan foto keluarga Zeno di meja kerja Tuan Kenan.


Mata Tuan Kenan terbelalak dan bibirnya bergetar saat mengambilnya foto tersebut dari mejanya.


"I-bu tau dari mana? Lalu dapat dari mana foto ini?" tanya Tuan Kenan penasaran.


"Foto ini tertinggal di kamar yang ditempati oleh salah satu bodyguard tunangan Key," jawab nenek Elizabeth.


"Kemungkinan besar anak itu adalah anak dari Alfred dan Marina," tambah nenek Elizabeth.


Bagaimana mungkin anak itu masih hidup? Bukankah semuanya sudah mati dan hangus terbakar di kecelakaan itu? batin Tuan Kenan tidak percaya.


"Apa yang kau pikirkan? Cepat temukan anak itu dan bawa dia ke hadapanku," perintah nenek Elizabeth.


"Baik, Bu."


Tuan Kenan langsung bergegas menelepon seseorang untuk mencari informasi.


.


.


.


***

__ADS_1


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2