Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Sungguh sial


__ADS_3

Griffin Island.


Kediaman keluarga Griffin.


Fox menyugar rambutnya kasar sehabis mendengar sebuah berita dari anak buahnya. Pria blasteran itu menampakkan raut wajah masam dan kesalnya.


"Bagaimana bisa mereka tidak jadi membatalkan pertunangan?!"


Fox mencoba tenang agar bisa berpikir lebih jernih. Dia mengambil tempat duduk tepat di sofa depan jendela ruang kerjanya yang menyuguhkan pemandangan pinggir pantai yang indah di pagi hari.



Sepuluh menit berlalu, ternyata suara deburan ombak yang samar terdengar bisa membuatnya sedikit tenang. Urat-urat yang terlihat dibagian lehernya sudah mulai memudar seiring dengan merileks-nya pikiran.


Tok-tok-tok!


Terdengar suara pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang.


"Masuklah!"


Seseorang berjas hitam memasuki ruangan kerja Fox. Pria itu terlihat membawa sebuah dokumen dengan map berwarna merah. Fox tidak terlalu perduli dengan kehadiran orang tersebut karena pikirannya saat ini sedang kacau.


"Tuan ... saya telah mendapatkan informasi yang cukup akurat mengenai bodyguard yang tempo hari berada di rumah sakit itu."


Sontak Fox menoleh dan langsung berdiri. Dia langsung berjalan mendekati orang yang merupakan asistennya itu, lalu mengambil dokumen itu dari tangannya.


Fox berjalan menuju kursi meja kerjanya dan mulai membaca isi dokumen yang berisi tentang latar belakang Zeno. Lembar demi lembar dia baca dengan seksama. Tiba di lembar ketiga, pria tampan itu menampakkan senyum samar di wajahnya.


"Kerja bagus! Kau memang asisten yang bisa diandalkan," puji Fox kepada asistennya itu.


Terbersit sebuah ide di otak pintarnya setelah membaca dokumen tersebut.


"Ambilkan salah satu ponsel yang ada di laci ruang penyimpanan bawah tanah dan siapkan salah satu kapal untuk aku berlayar," perintah Fox.


"Baik, Tuan!"


.


.


.


Ruang kerja Tuan Frans Wijaya, Paviliun Timur.


Kring-kring-kring!


Sebuah suara panggilan telepon berbunyi di ruangan tersebut. Tuan Frans yang berada di sana langsung mengangkat telepon yang berdering itu.


In call.


"Halo?"


"Halo ... Tuan Frans Wijaya ... apa kabar?"


"Siapa, kau? Mengapa suaramu disamarkan?"


"Ha-ha-ha! Anda tidak perlu tahu siapa saya tapi yang jelas saya ingin memberikan sebuah informasi kepada Anda."

__ADS_1


"Informasi? Informasi apa?"


"Lebih baik Anda jangan plin-plan dan benar-benar membatalkan pertunangan putri Anda dengan putra sulung keluarga Sanjaya dan ada satu hal yang harus Anda ketahui."


"Apa itu? Jangan bertele-tele! Cepat beri tahu!"


"Aku peringatkan Anda untuk berhati-hati walaupun berada di dalam kediaman Anda sendiri, karena ada mata-mata musuh diantara orang terdekat Anda."


Tut!


End call.


"Halo? Halo?! Sial!"


Brak!


Tuan Frans membanting gagang telepon dengan kasar. Pria paruh baya itu merasa frustasi karena panggilan telepon dari orang misterius itu. Dia pun terpikir dengan apa yang diperingatkan olehnya.


"Mata-mata? Musuhku yang mana? Tapi aku memang mencurigai beberapa orang. Semoga saja kecurigaan ku itu tidak benar. Padahal saat penyeleksian sudah dilakukan sangat ketat, apa masih bisa kecolongan juga?"


"Kenapa dia meminta aku benar-benar membatalkan pertunangan Jessie dengan Key? Apa ini termasuk ancaman? Siapa dia?"


Tuan Frans yang sungguh merasa frustasi dengan masalah-masalah yang menimpanya. Urusan dengan istrinya saja belum selesai karena Nyonya Nelly masih marah kepadanya. Dia pun memanggil Ryu -- asisten pribadinya untuk melakukan sesuatu.


"Ada apa, Tuan?"


"Coba kau lacak dari mana asal telepon yang baru saja menghubungiku," perintah Tuan Frans.


"Siap, Tuan!"


.


.


.


Young Flash dan Depe masih belum sadar, mereka berdua diikat dengan posisi bersebelahan dengan mulut yang dilakban. Saat itu, hanya Bang Ismed yang menjaga mereka karena Zeno dan Bambang harus melakukan apel pagi rutin.


Bang Ismed nampak masih tertidur pulas. Nampaknya pria konyol itu sangat lelah. Dia tidur dengan posisi yang sungguh aneh, kepalanya di lantai dan bagian kakinya di atas kasur. Dia pun mendengkur sangat kencang sehingga membuat bising satu kamar.


Young Flash yang merasa terganggu dengan suara dengkuran Bang Ismed pun terbangun. Pria lincah itu terkejut ketika menemukan sosok wanita cantik pemilik ponsel yang dia pinjam berada di sampingnya.


Kenapa cewek ini ada di sini? Masa dia memang mau nyusul gua? Kalo bener, gua sungguh terharu dan setelah bebas gua akan melamar dia.


Pemikiran Young Flash sungguh receh sekali, masa hanya karena Depe menyusulnya dia akan melamarnya. Maklumi saja dia memang jomblo lumutan.


Young Flash mencoba membangunkan Depe dengan menyenggol tubuh Depe menggunakan pundak kirinya. Depe yang merasa terganggu pun kaget dan langsung ingin marah, namun diurungkannya karena dia melihat sosok yang disukainya.


Mimpi apa gua semalem? Gua bisa ketemu dengan pangeran tampan berbulu dan lincah yang sangat gua kagumi. Tapi kenapa ketemunya lagi posisi diiket gini, sih?! Gua 'kan jadi gak bisa elus-elus dia!


Mata kedua insan manusia itu beradu pandang. Ada getaran aneh bak setruman alat kejut listrik anti mesum. Eh! Tidak ... mungkin rasanya beda. Author juga tidak pernah disetrum jadi tidak tahu. Pada intinya mereka merasakan getaran-getaran cinta yang mulai bersemi.


Kemesraan mereka terganggu dengan suara batuk pura-pura dari Bang Ismed. Pria konyol itu berdiri tepat di depan mereka berdua sambil mengusap mulutnya yang berliur. Entah mimpi apa dia semalam?


"Oh! Jadi kalian berdua adalah pasangan? Dasar pasangan tidak ada akhlak! Kalian mencoba menganggu ketentraman kediaman ini dengan menyusup? Ck-ck-ck! Kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Aku adalah Ismed, bodyguard yang paling dipercaya oleh Tuan Frans Wijaya!" celoteh Bang Ismed panjang lebar.


Mereka berdua hanya mengerutkan dahi dan memandang Bang Ismed dari atas kebawah. Penampilan Bang Ismed sungguh jauh dari penampilan seorang bodyguard. Dia memakai kaus warna kuning dengan tulisan 'Aku Ndeso Tapi Setia' dan sarung cap yang disamarkan karena tidak boleh iklan.

__ADS_1


Ternyata tanpa sepengetahuan Bang Ismed, sedari tadi Young Flash dan Depe sedang berusaha melepaskan tali yang mengikat mereka. Memang sungguh sulit tapi mereka berdua saling bekerja sama dan tidak menyerah.


Bang Ismed menyombongkan dirinya dengan bicara macam-macam. Sampai pada akhirnya ikatan tali milik Young Flash terlepas. Pria lincah itu pun langsung menyergap Bang Ismed dan mengikat tubuhnya.


"Woy! Lepasin gua! Gua ini adalah bodyguard tangguh yang...."


Seketika ucapan Bang Ismed terhenti karena Depe menyumpal mulut pria konyol itu dengan kaus kaki yang tergeletak di lantai.


"Hmmphh...." Bang Ismed mencoba memberontak tapi semua hanya sia-sia saja.


Bang Ismed pun diikat dan diangkat ke atas lemari milik Zeno. Bang Ismed yang tadinya bergeliat pun diam karena takut terjatuh.


"Ha-ha-ha! Sukurin! Makanya jangan banyak gaya!" ujar Young Flash.


"Terus kita harus gimana?" tanya Depe yang masih terlihat bingung.


"Sementara ini kita kabur dulu." Young Flash menarik tangan Depe dan berlari untuk kabur dari kediaman keluarga Wijaya. Sungguh romantis.


Dua jam kemudian.


Zeno dan Bambang terburu-buru memasuki kamar. Namun, tawanan mereka telah kabur tanpa jejak.


"Gimana, sih ... Bang Ismed ini! Masa tawanan bisa kabur dua-duanya!" Zeno terlihat kesal dan meraup wajahnya kasar.


"Emang ya si Ismed kalo kerja gak pernah bener! Sekarang ke mana coba orangnya?" Bambang mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan akhirnya menemukan Bang Ismed yang pingsan di atas lemari.


"Buset! Kok dia bisa di sono?"


Zeno dan Bambang bekerja sama menurunkan Bang Ismed. Mereka membuka ikatan tali dan mengeluarkan kaus kaki yang menyumpal mulut Bang Ismed.


"Gile! Ini kaos kaki siapa? Bau banget!" pekik Zeno sambil melemparkan jauh kaus kaki itu.


Tiba-tiba Bambang tersenyum penuh arti. "Itu kaos kaki gua ... sengaja gua lepas soalnya udah satu bulan gak dicuci," tukas Bambang.


"Astaghfirullah! Pantes aja Bang Ismed semaput!" Zeno hanya bisa geleng-geleng kepala.


.


.


.


Apakah Young Flash akan mengungkapkan fakta kepada publik tentang apa yang dia ketahui?


Apakah Bang Ismed akan selamat? wkwk


Next episode comming soon 😁👍


Sembari menunggu up novel absurd ini, kuy mampir ke novel teman author yang pastinya gak kalah seru!!!


Love A Mafia King Season 1 & 2 - Liska Oktaviani



Kontrak Pernikahan Season 2 - Samudra Lee


__ADS_1


__ADS_2