Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Love sick


__ADS_3

Sementara itu Zeno berusaha menghubungi Bambang melalui ponsel salah seorang bodyguard yang telah mati. Zeno sengaja mengambil ponsel tersebut saat yang lain tidak fokus kepadanya dan terlihat panik.


Zeno mulai menghubungi Bambang setelah keluar dari kediaman keluarga Wijaya. Dia sengaja memarkir jauh mobilnya dari tempat dia akan menghubungi sahabatnya itu.


"Angkat dong, Bang!" Zeno terlihat khawatir kepada sahabatnya itu.


"Sebenernya dia ada di mana, sih!" Zeno makin frustasi dan mengacak-acak rambutnya kasar.


.


.


.


***


Di pinggir hutan.


Drrt-drrt-drrt!


Suara getaran ponsel berasal dari ponsel milik Bambang yang tergeletak di aspal jalan. Terlihat langkah kaki seseorang yang berjalan menuju ponsel tersebut. Orang misterius itu mengambil ponsel Bambang dan mengangkat teleponnya.


In call.


"Halo?"


"Halo! Bang ... lo di mana? Lo jangan pulang ke kediaman keluarga Wijaya! Bahaya, Bang ... lo udah ketauan dan nyawa lo dalam bahaya."


"...."


"Bang! Kok lo diem aja? Pokoknya lo harus sembunyi dan jangan balik lagi. Oke!"


Tut!


End call.


.


.


.


***


Zeno merasa sedikit lega karena sudah memberi tahu Bambang. Dia langsung membuang ponsel yang digunakan olehnya ke sungai yang berada dibawah jembatan tempat dia berdiri.


"Mudah-mudahan dia paham apa maksud gua dan gak balik ke kediaman keluarga Wijaya. Tapi diluar sana nyawa dia juga dalam bahaya."


"Entah siapa dalangnya? Gua harus buru-buru cari tau, apalagi semua mata-mata Om Kenan udah pada dibunuh."


Zeno bergegas berjalan menuju mobilnya, namun tiba-tiba dia memikirkan sesuatu yang membuat dia tampak frustasi.


"Tapi tadi Bambang gak jawab dan cuma bilang halo ... itu Bambang beneran apa bukan? Bambang sebenernya di mana? Hadeh! Kok gua jadi gelisah gini." Zeno mondar-mandir sambil memijit pelipisnya.


"Ish! Mana hapenya udah keburu gua buang lagi! Haish! Bambang 'kan pinter dia pasti selamat, gua harus percaya sama dia." Zeno mencoba menenangkan dirinya.


.


.

__ADS_1


.


***


Rumah sakit, Ruang ICU.


Key masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Jessie dan Kyla melihat Key yang terbaring dari jendela kaca. Jessie sungguh tidak percaya kalau Key benar-benar koma. Tak berapa lama, datanglah Nyonya Diana dan seorang perawat wanita menghampiri mereka.


"Jessie ... tante sudah meminta izin agar kau bisa masuk ke dalam. Siapa tahu dengan kehadiranmu, Key bisa cepat sadar dari koma," ucap Nyonya Diana sembari menggenggam tangan Jessie dan menatapnya dengan pandangan memohon.


"Baik, tante ... akan Jessie coba," sahut Jessie. Gadis itu membalas genggaman tangan Ibunda Key.


Jessie berjalan masuk mengikuti staf perawat ruang ICU tempat Key dirawat. Terlihat Key terbaring dengan ventilator sebagai alat bantu pernapasan dan infus yang terpasang di tangan kanannya. Di samping tempat Key terbaring ada pula sebuah monitor yang berfungsi untuk menampilkan grafis kinerja detak jantung, kadar oksigen di dalam darah, dan tekanan darah Key.


"Coba nona ajak Tuan Key berbicara ... mungkin saja dia bisa bereaksi," pinta sang perawat.


Jessie mengangguk dan mencoba mengajak Key berbicara.


"Key ... ini gua Jessie." Jessie mencoba menarik napas panjang untuk memantapkan hatinya.


"Maafin gua ... malem itu gua udah buat lo jadi frustasi dan akhirnya kecelakaan. Gua udah mikirin mateng-mateng dan gua putusin buat lanjutin pertunangan kita, gua juga siap buat nikah sama lo. Tapi lo sadar jangan koma kayak gini!"


Walaupun Jessie tidak mencintai Key, hatinya tetap terasa sakit karena melihat pria yang merupakan tunangannya itu terbaring tak berdaya.


Karena mendengar ucapan Jessie, perlahan Key menunjukkan reaksinya dan menggerakkan pelan jari jemarinya.


"Ini sangat bagus! Tuan Key menunjukkan reaksi yang positif." Perawat itu nampak antusias dan tersenyum girang.


Kyla dan Nyonya Diana yang melihat dari kaca juga merasa senang, karena keadaan Key mengalami peningkatan dengan kehadiran Jessie. Mereka berdua menangis bahagia dan saling berpelukan.


Kejadian itu dilihat oleh Zeno yang baru saja sampai. Zeno berlari kecil menghampiri ibu dan anak itu.


"Iya, Nak ... berkat kehadiran Jessie, Key akhirnya menunjukkan reaksi positif. Padahal selama ini, keadaannya stagnan," jawab Nyonya Diana yang masih menangis haru.


"Alhamdulillah kalo gitu," tanggap Zeno sembari tersenyum samar.


Zeno melihat kearah kaca jendela tempat Key dirawat. Matanya tertuju pada tangan Jessie yang menggenggam erat tangan Key. Dadanya terasa sesak, ada rasa cemburu yang melanda dihatinya. Namun, dia berusaha tetap bersikap tenang.


***


Tak berapa lama, Jessie keluar dari dalam ruang ICU. Betapa terkejutnya saat dia melihat ada Zeno yang menunggu diluar.


"Maaf, Non ... saya diminta ayah Anda untuk menjemput," jelas Zeno.


"Lo pulang sama Zeno aja, Jes ... soalnya gua sama nyokap kayaknya bakal nginep di rumah sakit," ujar Kyla.


Jessie hanya mengangguk mengiyakan.


"Nak Jessie ... terimakasih sudah mau datang dan mau membantu Key. Tante harap besok kau datang lagi, ya? Mungkin saja Key akan cepat terbangun dari koma kalau ada Nak Jessie di sampingnya," tutur Nyonya Diana.


"Baik, Tante ... Key adalah tunangan Jessie, jadi sebisa mungkin Jessie akan selalu ada buat dia," sahut Jessie dengan mengulum senyum.


Nyonya Diana langsung memeluk Jessie dengan erat. Raut wajahnya terlihat bahagia karena Jessie mengakui putranya sebagai tunangannya.


"Jessie pulang dulu ya, Tante ... Kyla."


Jessie pamit dengan Nyonya Diana dan sahabatnya Kyla. Gadis itu berjalan mendahului Zeno yang berjalan dibelakangnya.


.

__ADS_1


.


.


***


Di mobil Zeno.


Tidak ada dialog tercipta diantara keduanya. Hanyalah suasana hening dan canggung yang tercipta saat itu. Semenjak Zeno memutuskan merelakan Jessie untuk Key, hubungan mereka berdua menjadi tidak baik.


"Kalo Key sadar ... gua mau langsung nikah sama dia," ucap Jessie tiba-tiba.


Deg!


Zeno terkejut mendengar pernyataan Jessie yang tiba-tiba. Dadanya makin terasa sesak dan terasa sangat sakit. Fokus mengemudinya pun sedikit buyar. Dia mencoba menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Baguslah, Non ... itu lah yang seharusnya terjadi," sahut Zeno yang berpura-pura tegar.


Jessie menggertakan giginya dan memejamkan kedua matanya. Gadis itu merasa Zeno tidak punya perasaan apapun lagi kepadanya karena ekspresi datar yang ditunjukkannya.


"Oke ... lo juga jangan jomblo, cari pacar sana!"


"Saya belum berpikir ke sana, tapi Non Jessie tenang saja ... saya pasti akan mendapatkan wanita pujaan hati yang saya inginkan suatu saat nanti," tukas Zeno tanpa mau menoleh sedikitpun kearah Jessie.


Tak terasa mereka sudah sampai di kediaman utama keluarga Wijaya. Suasana sudah kembali normal, seperti tidak terjadi apa-apa.


Dengan terburu-buru Jessie keluar dari mobil Zeno. Gadis itu berlari menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Sedangkan Zeno masih berada di dalam mobilnya. Tanpa sadar, cairan bening telah menggenang di pelupuk matanya. Dia adalah seorang pria tapi dia juga hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan rasa sakit dan sedih karena cinta.


***


Jessie memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa. Dia langsung mengunci pintu kamarnya dan duduk bersimpuh didepan pintu. Dia menangis sejadi-jadinya sembari menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


"Dasar jahat! Bodoh!"


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Bagaimana rasanya saling mencintai tapi tidak bisa saling memiliki? Mungkin itulah yang dirasakan oleh Zeno dan Jessie saat ini.


Zeno



Jessie



Sambil menunggu updatenya kuy mampir ke novel adek onlen author yang super kece 😁😁👍


Istri Kesayangan Tuan Muda - Nafasal


__ADS_1


__ADS_2