
Zeno dan Bambang masih waspada berjaga agar Young Flash tidak memasuki area kediaman keluarga Wijaya lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan mereka berdua masih berjaga. Sebenarnya hari itu adalah waktunya mereka berdua istirahat.
"Harusnya kita bobo dan udah mimpi indah. Kenapa juga kita berdua harus berjaga di semak-semak sambil tiduran kayak gini 'sih, Bang?" gerutu Zeno.
"Dia biasanya suka menyusup tengah malam, Zen ... gua tau banget dia," sahut Bambang sambil menepuk nyamuk yang mengganggunya.
"Gua heran ... emang berita apa yang udah diendus sama si Young Flash itu?" Zeno bertanya kepada dirinya sendiri.
"Kebanyakan berita yang dia kuak itu berita perselingkuhan, Zen," sahut Bambang.
"Emangnya majikan kita tukang selingkuh, Bang? Kayaknya dia setia banget sama istrinya," ujar Zeno.
"Mungkin berita perselingkuhan lu dengan Non Jessie kali," celetuk Bambang asal.
Celetukan Bambang yang asal itu pun membuat Zeno berpikir. Bukan hanya Zeno, ternyata Bambang juga ikutan berpikir.
"Eh? Bisa jadi itu, Zen ... lu sama Non Jessie 'kan main dibelakang Tuan Key," tukas Bambang memperjelas ucapannya.
Zeno langsung menyumpal mulut Bambang dengan rumput yang baru saja dicabutnya.
Bambang langsung kaget dan mengeluarkan rumput itu dari mulutnya. Dengan posisi mereka berdua yang masih tiduran di semak-semak pastinya.
"Lu kata gua ini sapi, Zen! Kenapa lu sumpel mulut gua pake rumput?!" protes Bambang.
"Lagian lo itu kalo ngomong gak pake rahang! Asal aja! Gimana kalo misalkan si Young Flash itu tiba-tiba di samping kita dan denger?" bisik Zeno.
Bambang lantas bangun dan duduk. "Iya juga! Gua salah ... maaf, Zen."
Zeno pun ikut terbangun dan duduk mensejajarkan Bambang. "Lagian gua gak ada hubungan apapun dengan Non Jessie ... gua sadar diri, Bang."
Wajah Zeno yang melankolis pun membuat Bambang menjadi iba. Dia merasa bersalah sudah membuat Zeno menjadi sedih. Akhirnya malam itu mereka memutuskan untuk kembali ke asrama karena keberadaan Young Flash tidak terasa.
***
Sementara itu, ternyata Young Flash malah sedang asik memancing di sungai dekat tempat pelatihan para bodyguard keluarga Wijaya. Tempat itu merupakan tempat yang tidak terpasang CCTV karena masuk area hutan.
"Huh! Kalo aja gua gak ketauan sama bodyguard lucnut itu, mungkin aja gua udah dapet informasi yang akurat!" keluh Young Flash.
"Lagian ngapain juga gua dibuat mancing ikan tengah malem? Emang gak ada akhlak yang buat cerita ini! Kesel gua!" gerutu Young Flash.
Entah dia menggerutu ke siapa tapi sudah jelas dia kesal dengan yang menulis cerita ini. Mungkin memang yang menulis adalah orang yang tidak ada akhlak dan pemalas karena hanya update seminggu tiga kali.
Tiba-tiba Young Flash menyadari sesuatu, dia pun mengambil kamera miliknya lalu mencari sesuatu di dalam kameranya. Sudah tentu dia mencari foto, bukan untuk mencari jodohnya yang entah ada di mana.
Setelah melihat foto tersebut, Young Flash pun menutup mulutnya terkejut. Dia hanya menggunakan satu tangan bukan dengan kedua tangannya, karena kalau pakai kedua tangannya nanti kameranya jatuh dan rusak.
"Jadi ... bodyguard yang tadi nangkep gua adalah target operasi! Pantesan kok ganteng, padahal biasanya bodyguard itu serem-serem," gumam Young Flash.
Young Flash pun berpikir untuk mengatur strategi, demi mendapatkan informasi yang akurat. Akhirnya dia pun memutuskan untuk istirahat, agar besok dia bisa bangun pagi. Kalau kalian ingin tahu, Young Flash tidur di tenda bagai anak Pramuka.
.
__ADS_1
.
.
***
Kediaman keluarga Sanjaya.
Pagi itu sekitar pukul tujuh, Nenek Elizabeth pun terburu-buru mendatangi kamar Tuan Kenan. Dia ingin bertanya perihal bodyguard dari Tunangan Key yang memiliki foto keluarga tersebut. Kita sudah tahu kalau bodyguard itu adalah Zeno. Tapi nenek Elizabeth tidak tahu, mungkin saja dia kurang gaul tidak seperti author dan readers.
"Kenan! Bangun! Udah tahu belum?" teriak Nenek Elizabeth sembari mengetuk pintu kamar anaknya itu.
Tuan Kenan pun membuka pintu kamarnya dengan keadaan masih berantakan dan mengantuk.
"Ada apa, Bu? Ini masih pagi ... kenapa ibu ribut-ribut di depan kamarku? Aku masih ngantuk, Bu!" gerutu Tuan Kenan.
"Makanya jangan berkali-kali kalau main! Kamu gak malu, ya? Padahal anakmu sudah pada dewasa, ck-ck-ck," decak Nenek Elizabeth sembari menggelengkan kepalanya.
Tuan Kenan menyugar rambutnya kasar, dia merasa frustasi karena pagi-pagi sudah diganggu oleh ibunya.
"Aku mau main sama siapa? Aku saja tidur sendiri, Bu! Aku semalam begadang karena mengecek dokumen," protes Tuan Kenan.
"Oh iya! Ibu lupa kalau Diana sedang berada di Roma." Nenek Elizabeth tersenyum menunjukkan barisan gigi palsunya yang rapih.
***
Tuan Kenan sudah rapih dan wangi, dia menemui ibunya yang sudah menunggunya sedari tadi di ruang kerjanya. Tanpa basa-basi, Tuan Kenan pun memberitahu ibunya mengenai informasi yang dia dapatkan.
"Jadi bodyguard yang mengawal tunangan Key itu bernama Zeno dan Bambang. Bambang tidak mungkin orang yang memiliki foto ini karena dia merupakan anak bungsu dari Pak Gatot Gentolet, CEO Gentolet Corp. Jadi kesimpulannya, yang memiliki foto ini adalah bodyguard yang bernama Zeno," jelas Tuan Kenan.
"Aku sudah meminta anak buahku untuk membawa Zeno kemari. Semua sudah terkendali, Bu," ucap Tuan Kenan percaya diri.
"Memangnya, bagaimana caranya kamu mengajak anak yang bernama Zeno itu datang kemari?" tanya Nenek Elizabeth penasaran.
Tuan Kenan hanya tersenyum smirk dan tidak menjawab pertanyaan dari ibunya.
.
.
.
***
Kediaman keluarga Wijaya.
Ada dua pria berjas yang berdiri tepat di depan gerbang kediaman keluarga Wijaya. Pak Asep yang menjaga pos satpam pun bergegas mendatangi dua orang pria yang merupakan suruhan dari Tuan Kenan itu.
"Ada perlu apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Asep.
"Maaf kami ingin bertanya, apakah bapak kenal dengan bodyguard yang namanya Zeno?" tanya pria pertama.
__ADS_1
"Oh! Zeno! Saya kenal! Dia itu waktu pertama kali dateng ke sini aja udah gak bisa dilupain, ha-ha-ha! Masa mau jadi bodyguard kok bawa-bawa ayam terus tampangnya itu loh mirip gelandangan," celoteh Pak Asep sembari mengingat Zeno yang masih norak dan kampungan.
"Kami berdua boleh masuk?" tanya pria kedua.
"Memangnya ada perlu apa?" Pak Asep harus siaga sebelum mempersilahkan orang asing masuk ke dalam kediaman keluarga Wijaya.
Kedua pria itu menunjukkan tanda pengenal mereka. Tanda pengenal itu merupakan tanda pengenal bodyguard dari keluarga Sanjaya.
"Owalah! Jadi kalian bodyguard dari calon besan ... kenapa gak ngomong dari tadi!?!" seru Pak Asep.
Kedua pria suruhan Tuan Kenan itu hanya diam.
"Ada perlu apa dengan Zeno?" tanya Pak Asep.
"Kami diminta oleh Tuan Key untuk mengambil barang milik Tuan Key yang ada pada bodyguard yang bernama Zeno itu," jelas pria pertama.
"Oke! Silahkan masuk." Pak Asep mempersilakan kedua pria itu masuk melewati gerbang dengan mobil mereka.
Kedua pria itu kembali ke dalam mobilnya dan berterimakasih kepada Pak Asep.
"Terimakasih atas penjelasannya!" seru pria kedua.
Pak Asep hanya garuk-garuk kepala karena bingung dengan ucapan salah satu pria itu.
.
.
.
***
Kedua pria tadi akhirnya berhasil menangkap pria yang diidentifikasi adalah Zeno. Mereka membius pria itu dan menaruhnya di kursi bagian belakang mobil.
"Ternyata gampang banget ... nyulik bodyguard yang hidupnya kebanyakan di kampung," tukas pria pertama.
"Masa ada bodyguard tampangnya memprihatinkan kayak gitu," sahut pria kedua.
"Tapi menurut ciri-cirinya, dia itu yang paling pas," ujar pria pertama.
Tak berapa lama pria yang ditangkap itu pun bangun. Ternyata mereka salah tangkap, karena yang mereka tangkap adalah Bang Ismed. Kebetulan hari itu Bang Ismed sedang mencoba jas barunya sehingga kedua pria itu salah paham.
"Lah sampeyan berdua ini, siapa? Kenapa saya bisa di sini?" tanya Bang Ismed sambil garuk-garuk kepala.
.
.
.
***
__ADS_1
Next episode comming soon 😁👍
^Kasihan Bang Ismed diculik 🤣🤣