Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Kebobrokan Bambang


__ADS_3

Jessie memicingkan matanya seolah mengingat siapa gerangan pria yang telah menyapanya barusan. Pria itu terlihat tampan dengan jas navy bermotif garis merah tipis sebagai aksennya. Senyuman tipis pria itu pun sungguh terlihat manis melebihi gula. Ternyata pria itu adalah Fox.



"Nona Jessie tidak ingat dengan saya?" tanya Fox.


"Maaf ... gua gak inget, apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Jessie masih memicingkan matanya dan memandangi Fox dari atas kebawah.


"Saya adalah Fox Griffin, mungkin Nona Jessie bisa mengingat saya ketika saya sebutkan nama." Fox mengulurkan tangannya kepada Jessie.


OMG! Fox? Fox Griffin? Bukannya dia itu si bulet dan cupu itu? Kok dia jadi ganteng banget sekarang!


Jessie seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan sedikit ragu Jessie menyambut uluran tangan dari Fox.


"Ha-ha-ha! Fox, ya? Sorry gua lupa soalnya lo dulu gak kayak gini penampilannya," tutur Jessie dengan tawa canggungnya.


Fox hanya tersenyum mendengar penuturan dari Jessie.


Jessie masih memandangi Fox dengan seksama, sekilas dia juga menatap Key yang sedang berbincang dengan Aryan. Dia seolah membandingkan Key dengan Fox yang berada didepan matanya.


"Apa yang Anda pikirkan, Nona Jessie?" tanya Fox.


"Ah ... gua gak mikirin apa-apa." Jessie terlihat sangat kikuk didepan Fox.


Fox tersenyum smirk sembari menatap gadis cantik dihadapannya itu.


"Apa Nona Jessie mulai menyesal dan membandingkan saya dengan tunangan Anda yang sekarang?" bisik Fox ditelinga kiri Jessie.


Bulu kuduk Jessie meremang karena sapuan hangat deru napas Fox yang membelai telinga dan pipinya.


Jessie mencoba menjauh dari Fox dengan memundurkan langkahnya perlahan.


Langkahnya terhenti ketika Jessie tak sengaja menabrak tubuh seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Nampaknya orang tersebut baru saja datang.


"Anda tidak apa-apa, Non?" tanya Zeno memastikan keadaan Jessie.


Jessie menoleh, dilihatnya sosok pria tampan berjas yang tidak asing baginya. Zeno, ya mungkin dia adalah pria yang sudah membuatnya jatuh cinta saat ini.


"G-gua gak apa-apa," jawab Jessie.


"Apa pria ini mengganggu Anda?" Zeno memandang Fox dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.


"Kan udah gua bilang, gak!" pekik Jessie.


Zeno pun sedikit kaget mendengar pekikan Jessie yang membuat telinganya berdengung.


Buset! Ini cewek suaranya ngelebihin suara toak, kuping gua sampe bunyi nging, batin Zeno sembari mengusap-usap telinga kanannya.

__ADS_1


"Maaf, Fox ... gua kesana dulu, ya." Jessie berlalu meninggalkan Fox dan Zeno yang masih sibuk mengusap telinganya.


Zeno pun mengikuti kemana langkah kaki Jessie. Sesekali Zeno menoleh kearah Fox yang tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri tadi.


Kayak pernah liat cowok itu ... postur tubuhnya gak asing dan suaranya gak asing, tapi di mana? batin Zeno.


Fox mengulum senyumnya kepada Zeno yang sedari tadi sesekali menoleh kearahnya sambil berjalan.


"Apa jangan-jangan dia homo? Kok dia senyum ke gua," gumam Zeno sembari bergidik.


.


.


.


***


Acara pernikahan antara Raymond dan Alice pun selesai. Setelah acara, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kediaman keluarga Sanjaya yang berada di London. Hari itu merupakan hari yang melelahkan karena mereka belum sempat beristirahat sejak kedatangan mereka ke Ibukota negara Inggris itu.



Kediaman keluarga Sanjaya begitu mewah dengan gaya bangunan khas Inggris yang sungguh memanjakan mata. Rumah itu ditempati oleh nenek Key yang memang asli orang Inggris.


Begitu turun dari mobil Jessie langsung berjalan cepat tanpa memperdulikan Key maupun Zeno. Sedangkan Zeno tak henti-hentinya mengagumi rumah Key yang terlihat mewah itu. Padahal bukan pertama kalinya dia datang kesana karena sebelum ke pesta pernikahan, dia sudah kesana.


"Itu mah karena lu terlalu norak, Zen," tanggap Bambang singkat karena dia sibuk tebar pesona dengan para maid yang bekerja di rumah tersebut.


"Gua heran sama lo, Bang ... perasaan dimana-mana lo selalu tebar pesona," kata Zeno sembari melihat para maid bule yang tersenyum malu kepada mereka berdua.


"Emang lu kagak? Tuh liat ada cewek senyum-senyum ke lu," tunjuk Bambang kepada salah satu maid yang memperhatikan Zeno sedari tadi dari balik tembok.


"Itu mah karena ketampanan gua yang paripurna," ucap Zeno dengan bangga sambil memegang kerah jasnya.


Bambang mencebik seolah meremehkan Zeno.


"Halah ... kalo gak gua make over, lu pasti masih burik dan dekil. Mana ada cewek yang mau sama lu, apalagi Non Jessie," sindir Bambang.


Zeno merasa tertohok dengan sindiran Bambang, dia pun berusaha untuk ngeles menanggapinya.


"Kenapa lo jadi bawa-bawa Non Jessie, sih? Lagian gua dengan dia hanya sebatas bodyguard dan majikan!" ketus Zeno.


Bambang tersenyum penuh arti sambil menatap Zeno. "Kalo cuma sebatas itu kok pake acara kiss segala."


Zeno langsung membekap mulut Bambang agar perkataannya tidak didengar oleh orang lain.


"Jadi cowok jangan ember ngapa mulutnya! Kalo masih ember juga, gua kasih tau ke Tuan Key kalo lo pernah cium adeknya," ancam Zeno sambil memiting kepala Bambang.

__ADS_1


"Jangan! Lagian dia yang cium gua, bukan gua yang cium dia!" protes Bambang sembari melepaskan diri dari Zeno.


Bambang pun berhasil melepaskan diri dari Zeno dan langsung merapikan jas serta rambutnya, tak lupa dia pun mengeluarkan kaca andalannya dari saku jasnya.


"Punya temen gini amat, ck-ck-ck," decak Zeno heran melihat kelakuan Bambang.


"Bilang aja iri dengan kepopuleran gua diantara wanita," ujar Bambang.


Zeno berjalan kearah kamarnya seolah tidak memperdulikan kenarsisan Bambang yang sudah over itu. Dia merasa lelah dan ingin segera merebahkan dirinya dikasur. Walaupun dia seorang bodyguard, tetap saja dia juga manusia yang butuh istirahat.


Namun kenarsisan Bambang mungkin sudah tidak terkendali, dia malah gaya-gayaan dengan koprol demi menarik perhatian para maid bule di kediaman keluarga Sanjaya.


Prek!


Suara sesuatu yang robek terdengar jelas di telinga Bambang. Bambang yang baru berdiri dari koprol pun langsung memeriksa celananya. Ternyata celananya sobek tepat di sel*ngkangannya.


Astogeh! Kok bisa robek disaat yang tidak tepat?!


Para maid yang melihat Bambang pun menertawainya karena melihat hal itu. Zeno yang sedari tadi fokus berjalan kedepan pun menoleh kearah Bambang karena tertawaan yang begitu kencang.


"Kenapa, Bang?" tanya Zeno heran.


Bambang tidak menjawab dan terburu-buru mendekati Zeno dengan berjalan layaknya orang yang ingin buang air kecil.


"Zen ... buruan kita ke kamar," bisik Bambang.


"Lo kebelet pipis?" tanya Zeno dengan polosnya.


Bambang yang malu pun hanya mengangguk. Zeno melanjutkan langkahnya untuk berjalan menuju kamar tapi Bambang berjalan lama sekali.


Si gentolet lama amat jalannya! Segitunya pengen pipis kah?


Tanpa basa-basi, Zeno pun menghampiri Bambang dan langsung mengangkatnya dengan ala bridal style.


"Zen! Turunin gua! Harga diri gua mau tarok dimana digendong sama cowok?!" protes Bambang.


"Udah diem dari pada bocor dijalan!"


Zeno pun menggendong Bambang dengan berlari kencang menuju kamar mereka.


.


.


.


***

__ADS_1


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2