
Bambang meminta Nafa, Young Flash, dan Depe untuk tetap tinggal. Namun, ketiga orang itu tetap bersikeras untuk mengikuti kemanapun Bambang pergi. Bambang tidak dapat menolak permintaan mereka dan akhirnya mereka berangkat bersama-sama.
Nafa yang begitu kesal dengan kemesraan Young Flash dan Depe pun memutuskan untuk ikut di mobil Zeno. Gadis itu menyerahkan kunci mobil kepada Young Flash agar dia yang mengendarainya. Padahal dia hanya modus agar bisa berkenalan dengan Zeno.
***
Di mobil Zeno.
Nafa yang duduk dibelakang sedari tadi memandangi wajah Zeno dari kaca spion depan mobil tersebut. Gadis itu begitu mengagumi keindahan seakan tanpa cela wajah pria tampan yang berprofesi sebagai bodyguard itu. Hidung mancung, mata indah, dan bibir tipis menggoda membuat gadis itu beberapa kali menelan saliva-nya.
Bambang yang memperhatikan gerak-gerik Nafa pun berniat mengerjainya. Sebenarnya Bambang merasa sedikit cemburu melihat Nafa yang malah tertarik kepada Zeno, padahal dia juga tidak kalah tampan.
"Gimana kabar Zaenudin, Zen?" tanya Bambang.
"Dia sehat, Bang ... tapi beberapa hari ini, gua belum nemuin dia. Sebenernya gua kangen sama dia ... kangen peluk dia, cium dia, dan tidur bareng sama dia kayak dulu," jawab Zeno apa adanya, karena dia memang sangat menyayangi ayam jagonya itu.
Nafa yang mendengar percakapan itu menjadi salah paham. Gadis itu mengira kalau Zeno adalah seorang gay atau homo. Dia pun langsung bergidik ngeri saat memandang Zeno dari pantulan kaca spion.
Bambang terkekeh berusaha menahan tawa saat melihat perubahan ekspresi Nafa yang secepat kilat. Dari yang tadinya mengagumi akhirnya menjadi geli. Ternyata dialog yang diciptakan olehnya dengan Zeno, mampu membuat gadis itu mundur perlahan sebelum memulai.
.
.
.
***
Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di depan rumah Bambang. Kebetulan sekali gerbang depan rumah tersebut terbuka lebar, sehingga mereka bisa langsung masuk ke halaman rumah tersebut. Rumah itu terlihat cukup mewah tapi tidak semewah kediaman keluarga Wijaya atau Sanjaya.
Suasana di rumah nampak lengang dan tidak terlihat satu pun penjaga, pelayan, dan tukang kebun -- padahal waktu masih cukup pagi. Bambang merasa ada yang tidak beres pun langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Langkahnya terhenti didepan pintu utama yang terlihat sudah terbuka lebar. Bercak darah ... itu lah yang membuat Bambang menghentikan langkahnya. Tubuh pria itu bergetar, seketika wajahnya pucat pasi. Dia takut ada sesuatu yang benar-benar buruk terjadi.
Zeno yang berjalan dibelakang Bambang pun merasa heran dengan gelagat aneh sahabatnya itu. Dia mulai berlari kecil untuk menyusul Bambang yang tiba-tiba berlari masuk ke dalam rumah.
"Bang!" Langkah Zeno juga terhenti saat matanya menangkap bercak darah yang tak sengaja terinjak oleh sepatunya. Dia berjongkok dan mengusap darah tersebut dengan telapak tangannya lalu mengendusnya.
__ADS_1
"Ini masih segar."
Dia terlihat khawatir dan langsung menyusul Bambang ke dalam. Sedangkan ketiga temannya yang lain nampak ribut dibelakang, karena Nafa sepertinya sebal dengan Depe dan Young Flash yang bermesraan tapi tidak tahu tempat.
***
Bambang membelalakkan matanya, pemandangan yang sungguh mengerikan terpantul di kornea matanya. Banyak manusia tergeletak bersimbah darah berserakan tersebar di setiap sudut rumahnya. Dua manik gelapnya menangkap sosok yang sangat dia kenal. Ayah, ibu, dan kedua adiknya. Cairan bening lolos dari netra hitamnya. Bambang pun nampak emosional.
"Ayah! Ibu! Dita! Hengki!" Bambang secara bergantian berlari dan mengguncang tubuh orang-orang yang teridentifikasi sebagai keluarganya.
Nihil. Percuma saja dia membangunkan mereka, karena mereka sudah menjadi mayat. Hanya raga yang masih tersisa, tapi nyawa sudah tiada. Bambang menangis sejadi-jadinya sambil bersimpuh diantara mayat keluarganya.
Zeno yang baru saja memasuki ruangan tersebut terperanjat melihat situasi yang benar-benar mengerikan itu. Pembantaian yang sangat sadis, itu lah yang terjadi. Dia mungkin kehilangan kedua orang tuanya, tapi mungkin perasaannya tidak sehancur Bambang yang melihat secara langsung keluarganya menjadi mayat dalam keadaan yang tidak wajar.
Young Flash, Depe, dan Nafa yang baru saja memasuki ruangan tersebut pun terkejut. Bahkan kedua wanita yang ikut melihat hal itu nampak takut dan tidak berani memandang mayat-mayat yang bersimbah darah itu.
Zeno mencoba mendekati Bambang dan berusaha menenangkannya. Namun, Bambang masih saja menangisi kepergian keluarganya itu. Bahkan tangisannya makin menjadi-jadi.
Mata Zeno menangkap sebuah bom rakitan yang terpasang di salah satu dinding rumah Bambang. Bodyguard itu tampan menyadari, ada sesuatu hal yang tidak beres. Dia pun terbelalak karena melihat waktu yang tersisa hanya kurang dari empat menit.
"Bang! Kita harus cepet pergi dari sini! Ada bom! Kalo kita gak pergi kita bisa mati!" pekik Zeno sembari menyeret Bambang yang masih bersimpuh dilantai.
"T-tapi keluarga gua, Zen!" Bambang yang masih emosional menepis tangan Zeno dengan kuat.
Zeno tak gentar dan terus saja menarik Bambang. Akhirnya, Bambang menurut dan berlari mengikuti Zeno. Ketiga temannya tadi sudah berlari terlebih dahulu menuju mobil.
"Kunci mobil lo!" teriak Nafa yang mengarah kepada Zeno.
Zeno yang masih berlari dengan cepat merogoh saku jasnya dan melemparkan kunci mobilnya kepada Nafa. Beruntung dengan tepat dan cekatan, gadis itu menangkapnya.
Depe dan Young Flash sudah memasuki mobil Nafa untuk segera meninggalkan tempat itu. Nafa juga sudah memasuki mobil Zeno lalu menghidupkan mesin mobil untuk mempersingkat waktu.
"Cepetan!" pekik Young Flash yang sudah berada di kursi kemudi.
Zeno berlari tergopoh-gopoh sembari menarik tangan Bambang yang masih saja menoleh kearah bangunan rumahnya. Akhirnya, mereka berdua telah sampai di mobil terdekat, yaitu mobil milik Nafa. Zeno dengan segera mendorong Bambang memasuki mobil diikuti dengan dirinya.
"Buruan!" pekik Zeno.
Nafa dan Young Flash saling memberi kode. Kedua mobil itu bersama-sama keluar dari halaman rumah Bambang untuk menghindari ledakan.
__ADS_1
Boom!
Duar!
Bom yang terpasang meledak tepat saat kedua mobil itu berlalu melewati gerbang. Kobaran api yang besar membuat rumah mewah milik keluarga Bambang dilahap tak bersisa.
Bambang menoleh kearah belakang dan melihat pemandangan yang begitu mengerikan. Sungguh kejam orang yang berbuat hal itu kepadanya. Air matanya mengering menyisakan kelopak mata sembab. Sekarang bukan lagi kesedihan yang dirasakan, tapi kebencian terhadap pelaku keji itu.
"Siapa orang yang tega?" Bambang mengepal erat kedua tangannya. Dia tertunduk lesu merasa frustasi.
"Gua akan cari tau, Bang," tutur Zeno. Dia menepuk punggung sahabatnya itu, berusaha menenangkannya.
Siapa orang yang menghabisi keluarga Bambang? Om Kenan? Tapi dia bilang udah mengampuni nyawa Bambang. Tuan Frans? Dia juga kandidat yang kuat, atau mungkin ada orang lain dibalik semua ini? Si pengirim dokumen?
Zeno memikirkan berbagai kemungkinan pelaku yang telah membantai keluarga Bambang dengan sadis. Dia bersikeras untuk mengungkapkan semua fakta dan bukti untuk membuktikan siapa pelakunya.
.
.
.
***
Siapakah pembunuh keluarga Bambang?
Apakah Zeno mampu mengungkapkannya?
Next episode comming soon 😁👍
Dan jangan lupa mampir kuy ke novel kakak dan adik-adik onlen author yang kece badai ini 😁👍
Istri Ketiga Mas Bram - Eka Pradita
Istri Kesayangan Tuan Muda - Nafasal
__ADS_1
Kabut Menjelang Pernikahan - Emekama