
"Kapal apaan, Bang? Itu foto keliatan gak senonoh malahan," tutur Zeno sambil masih mengerutkan dahinya.
Bambang terburu-buru melihat layar ponselnya, ternyata dia salah menunjukkan foto. Dia malah menunjukkan foto tubuhnya yang sedang bertelanjang dada.
"Waduh ... gua salah kasih foto. Ini mah foto pas gua lagi audisi jadi bodyguard," ucap Bambang sambil garuk-garuk kepala.
"Itu kerempeng amat badan lo, Bang? Ha-ha-ha!" ejek Zeno.
Bambang merasa kesal karena Zeno mengejeknya, tapi dia menahannya karena Zeno adalah seorang tuan muda yang dihormatinya.
"Itu sebelum gua minum susu badak jinak jadi masih kerempeng," sahut Bambang asal.
"Emang ada susu badak jinak, Bang? Setau gua semua badak itu liar." Zeno seraya memegang dagunya dan berpikir.
"Aish! Bodo amat lah, Zen! Sebenernya ini yang mau gua tunjukin." Bambang mencari foto yang sesungguhnya dan menunjukkan kepada Zeno.
Foto itu tertera kartu tanda pengenal Bambang sebagai bagian dari anggota rahasia Liverleaf, yang merupakan kelompok para mata-mata yang dibawahi oleh Tuan Kenan Sanjaya. Nama Liverleaf sendiri diambil dari nama bunga yang bisa bertahan di cuaca dingin dan bahkan bunganya bisa tumbuh diantara salju.
Filosofi yang diambil dari bunga ini adalah agar kelompok ini diharapkan bisa setangguh bunga tersebut dan bisa bertahan di keadaan sesulit apapun.
"Gua adalah salah satu anggota mata-mata di bawah naungan Tuan Kenan Sanjaya, maka dari itu kita berada dalam kapal yang sama," jelas Bambang.
Zeno akhirnya paham apa maksud Bambang. Bodyguard tampan itu langsung memeluk Bambang dengan erat.
"Gua gak nyangka kita ternyata satu tujuan," isak Zeno.
Bambang langsung menjauhkan Zeno dari dirinya.
"Tuan muda ... janganlah seperti ini, karena saya tidak pantas mendapatkan ini," tutur Bambang dengan wajah seriusnya.
Zeno menatap Bambang dengan raut wajah datar.
"Gak usah sok formal! Gak cocok!" Zeno menoyor kepala Bambang sehingga pria itu merasa kesakitan.
"Jadi ... Tuan?" Bambang masih melanjutkan aksinya.
"Diem! Kalo gak gua lapor ke Om Kenan biar lo dihukum rajam," ancam Zeno.
Bambang terlihat takut dan akhirnya memilih diam.
.
.
.
***
Sementara itu, ternyata Bang Ismed lupa untuk melakukan ritual malam harinya. Dia masih mengenang mantan pacarnya yang sudah meninggal itu. Setiap malam sebelum jam sepuluh, dia harus menyanyi di depan bunga matahari yang ditanamnya.
Sedang asyik berdendang, dia mendengar suara mencurigakan dari balik semak-semak yang ada di dekat tempat dia berada.
__ADS_1
"Suara apa, ya?" Bang Ismed nampak perlahan berjalan kearah semak-semak itu.
Dengan penuh keberanian walaupun sebenarnya takut, dia pun melompat ke dalam semak-semak yang ada suara berisik itu.
"Siapa lu?!"
Ternyata hasilnya nihil, malah dia hanya melihat seekor kucing yang terlihat marah kepadanya. Tapi ingat, dia bukan kucing garong.
"Gua kira ada apaan ... eh taunya kagak ada apa-apa," gerutu Bang Ismed.
Ternyata perkiraan Bang Ismed meleset. Sebenarnya ada seseorang yang berada di sana. Begitu tahu Bang Ismed akan menghampirinya, dia pun langsung bersembunyi dibalik batang pohon.
"Untung aja gua gak ketauan ... hampir aja," desis seseorang yang mencurigakan itu.
Orang itu lengkap memakai pakaian serba hitam, topi, dan masker hitam.
"Dari GPS-nya dia di sekitar sini. Gua harus buru-buru sebelum ketauan lagi."
Baru saja dia melangkahkan kakinya, tak sengaja orang misterius itu menginjak sebuah batang kayu.
Krek!
Karena suara itu, Bang Ismed pun kembali berbalik badan dan langsung berlari dengan kecepatan penuh. Ternyata usahanya tidak sia-sia, dia berhasil menangkap orang misterius tersebut.
"Hayo! Mau ke mana lagi lu?" pekik Bang Ismed.
Orang misterius itu berusaha melepaskan diri darinya. Namun, Bang Ismed tidak tinggal diam dan menahan dengan kuat. Karena perkelahian sengit itu, tak sengaja Bang Ismed menarik topi serta masker milik orang misterius itu. Akhirnya rambut hitam panjang tergerai sempurna dan nampak pula wajah cantiknya.
Bang Ismed sejenak tertegun melihat penampilan wanita yang ternyata adalah Depe. Ternyata wanita seksi itu berniat untuk mencari Young Flash karena tak kunjung datang ke rumahnya, padahal dia sudah berhari-hari menunggu. Dia sengaja melacak GPS ponselnya dan akhirnya bisa menyusup masuk ke kediaman keluarga Wijaya yang penjagaannya cukup ketat itu.
Bang Ismed akhirnya sadar dari lamunannya yang sejenak mengagumi salah satu kaum hawa ciptaan Tuhan itu.
"Neng ini, siapa? Kenapa bisa menyusup kemari?" selidik Bang Ismed.
Depe sejenak berpikir, dia menatap Bang Ismed dari atas kebawah dan sebaliknya. Tak berapa lama dia tersenyum samar seakan merencanakan sesuatu.
"Bang ... bisa bantu aku, gak?" tanya Depe dengan nada manja.
"Bantu apa, Neng?" Bang Ismed nampak antusias karena ada wanita cantik meminta bantuannya.
Depe mengeluarkan alat setrum kejut yang biasa digunakan untuk melindungi diri dari orang mesum.
"Pegang ini, Bang...." pinta Depe.
Bang Ismed menuruti permintaan Depe. Wanita itu nampak tersenyum dengan penuh kemenangan. Namun perkiraannya salah, Bang Ismed ternyata lebih pintar dan memukul pergelangan tangan Depe lalu menyetrum wanita itu hingga pingsan.
"Lu pikir gua ini bodoh, ya? Tampang boleh ndeso tapi pemikiran modern." Bang Ismed membanggakan diri sendiri.
Bang Ismed nampak bingung melihat Depe yang pingsan itu. Dia hanya garuk-garuk kepala memikirkan dia harus melakukan apa. Akhirnya otak karatannya berfungsi juga. Pria lucu mengambil sebuah karung goni besar dan memasukan Depe ke dalamnya.
"Dari pada bingung lebih baik gua bawa dia ke kamar Zeno," gumam Bang Ismed.
.
.
__ADS_1
.
***
Sementara itu, Jessie masih nampak terpukul dengan keputusan Zeno yang menyerah begitu saja dan mengalah kepada Key. Gadis itu mengusap kasar air mata yang masih mengalir di pipinya. Dia pun beranjak dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk bertemu dengan ayahnya.
"Gua udah yakin dengan keputusan gua!"
Jessie berjalan cepat menuju paviliun timur. Sepanjang perjalanan dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap dia bisa melihat Zeno. Namun, dia tidak menemukan sosok bodyguard yang dicintainya itu.
***
Paviliun Timur.
Jessie memasuki ruang kerja ayahnya. Terlihat ayahnya nampak sedang memijit pelipisnya. Sepertinya kemarahan Nyonya Nelly membuat pria paruh baya itu kepikiran.
"Daddy, kenapa?"
Tuan Frans terkejut melihat putrinya yang tiba-tiba datang.
"Ada apa, Nak? Ini sudah malam. Daddy hanya sedikit pusing. Kau tahu tidak kalau mommy mu sudah pulang?
"Kapan mommy pulang? Aku tidak lihat."
"Sekitar lima belas menit yang lalu dia datang menghampiri daddy dan dia langsung marah kepada daddy." Tuan Frans menghembuskan napasnya kasar.
"Marah kenapa, Dad?"
"Cemburu," jawab Tuan Frans singkat.
Jessie tahu betul kalau ibunya adalah wanita yang pencemburu. Jangankan wanita, kadang Nyonya Nelly juga cemburu dengan guling karena lebih sering dipeluk suaminya ketimbang dirinya. Dia sering menceritakannya kepada Jessie.
"Daddy sudah tahu kalau Key mengalami kecelakaan?" tanya Jessie sedikit ragu.
"Daddy baru saja dapat kabar, ku dengar dia mengalami koma. Tapi kau tak perlu khawatir, daddy akan bicara baik-baik dengan Tuan Kenan dan tetap pada keputusan untuk pembatalan pertunangan kalian."
Jessie mencoba memantapkan hatinya dan bicara hal yang membuat Tuan Frans kaget.
"Tidak perlu membatalkan pertunangan kami, Dad ... aku rasa Key benar-benar tulus mencintaiku. Aku hanya perlu belajar untuk membalas cintanya, Dad," seloroh Jessie.
"Kau yakin, Nak?"
Jessie mengangguk mengiyakan. "Lagi pula aku tidak punya seseorang yang aku cintai saat ini."
"Baiklah ... ini adalah kabar baik. Daddy akan menghubungi Tuan Kenan untuk memberi tahu hal ini."
Jessie tersenyum kepada ayahnya, walaupun hatinya terasa sangat sakit.
.
.
.
***
__ADS_1
Next episode comming soon 😁👍