
"Kalian ingin tahu apa isinya?" tanya Tuan Frans sembari mengedarkan pandangannya ke sebelas orang anggota ring satunya. Matanya berkilat, terlihat kalau pria yang merupakan bos mafia yang paling ditakuti itu sedang marah besar.
Suasana sedari tadi cukup hening, mereka tidak ada satu pun yang berbicara. Termasuk Master Lee, pria tua berambut putih itu tidak banyak bicara seperti biasanya.
"Saya ingin tahu, Tuan!" Dengan lantang Zeno mengutarakannya sembari berdiri dari kursi.
Tuan Frans tersenyum mengangkat sebelah bibirnya. Dia merasa senang ada seseorang yang berani. Selama ini, saat Tuan Frans menunjukkan raut wajah penuh amarah -- tidak ada satu pun yang berani menjawab pertanyaannya sebelum dirinya sendiri yang mengutarakan.
"Wah! Zeno ... kau adalah sosok anak muda yang pemberani. Walaupun kau adalah anggota yang paling baru bergabung dalam ring satu, tapi kau sudah berani mengutarakan apa yang ada di pikiranmu," ujar Tuan Frans.
"Saya tidak ingin ada sesuatu yang mengganjal, Tuan. Lagi pula ... jika kami tidak mengetahui isi dokumen tersebut, bagaimana kami bisa menganalisa dan menyelidikinya," tutur Zeno.
Tuan Frans terlihat kagum dengan sosok Zeno yang piawai dalam mengutarakan pendapatnya. Bukan hanya itu, Zeno juga sudah terbukti bisa menjalankan tugasnya dengan baik selama menjadi bodyguard khusus yang melindungi Jessie.
"Baiklah ...saya tidak ingin kalian melihat isi dokumen ini, tapi saya hanya akan memberitahu garis besar isi dari dokumen ini," tukas Tuan Frans.
Para anggota ring satu nampak antusias saat Tuan Frans mengatakan akan memberitahu isi dokumen itu kepada mereka. Ada pula yang harap-harap cemas karena takut ada nama mereka disangkutpautkan.
"Dokumen ini berisi bukti pengkhianatan oleh beberapa orang yang mengaku mengabdi kepada saya dan daftar nama-nama orangnya," seloroh Tuan Frans.
Deg!
Zeno merasa terkejut dengan pernyataan dari Tuan Frans. Dia menarik napasnya panjang untuk menenangkan dirinya.
"Beruntung tidak ada nama salah satu dari kalian yang tercantum disini," tambah Tuan Frans.
Seketika Zeno merasa lega dengan penyataan terakhir Tuan Frans.
"Saya akan memberikan daftar nama orang-orang yang terlibat didalamnya. Mereka merupakan mata-mata yang menyamar sebagai bodyguard. Silahkan cek ponsel kalian masing-masing." Tuan Frans nampak menjeda ucapannya dan menghela napas panjang. "Sebenarnya, sebelum saya menerima dokumen ini, saya sudah menaruh curiga terhadap mereka tapi saya lebih yakin saat melihat isi dokumen ini," imbuhnya.
Dengan cepat Zeno melihat ponselnya, betapa terkejutnya dia saat melihat nama Bambang tercantum dalam daftar nama pengkhianat. Dan yang paling ironis, Zeno lah yang ditugaskan untuk menghabisi nyawa Bambang.
"Tangkap mereka semua dan sekap dalam penjara bawah tanah. Korek informasi sebanyak-banyaknya dari mereka. Kalau tidak mau mengaku, siksa mereka sampai mengaku ... lalu bunuh," perintah Tuan Frans.
Tubuh Zeno bergetar, badannya merasakan sensasi panas dingin karena mendengar perintah Tuan Frans. Baru kali ini dia melihat Tuan Frans benar-benar marah dan bahkan terlihat mudah saja mengatakan untuk menghilangkan nyawa seseorang.
__ADS_1
"Zeno ... saya lihat kau dekat dengan Bambang. Itu bisa menjadi keuntungan buatmu untuk mengorek informasi darinya. Dia seorang pengkhianat jadi tidak ada masalah bagimu untuk membunuhnya, kan?" seloroh Tuan Frans.
"Siap, Tuan!" Dengan terpaksa Zeno harus terlihat menuruti semua perintah Tuan Frans. Namun, dalam otaknya berpikir bagaimana caranya menyelamatkan nyawa sahabatnya itu.
"Tugas kalian masing-masing sudah ada, kalian bisa memulainya malam ini," perintah Tuan Frans.
***
Baru saja mereka akan mengakhiri pertemuan itu, tiba-tiba ada seseorang yang tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan.
"Tuan! Gawat, Tuan! Baru saja terjadi penyerangan di kediaman utama. Suasana sungguh kacau, Tuan! Sepertinya mereka yang datang sungguh profesional!"
Tuan Frans langsung beranjak dari tempat duduknya. "Cepat kalian semua ke sana! Siapa orang yang berani terang-terangan menyerang kediamanku?! Lindungi istri dan anakku!"
Dengan cepat para ring satu yang termasuk Zeno, beranjak dari ruang pertemuan itu. Hatinya sedikit lega karena Jessie sedang tidak berada di kediaman utama dan pergi bersama dengan Kyla.
.
.
.
***
Suasana telah kacau balau, banyak bodyguard yang terluka parah bahkan ada diantara mereka yang tergeletak bersimbah darah dan tak bernyawa lagi. Tapi anehnya, saat mereka datang para penyusup telah pergi dari tempat itu.
"Sialan!" umpat Tuan Frans.
Dengan terburu-buru pria paruh baya itu berlari menuju dalam rumahnya. Baru saja ingin masuk, Nyonya Nelly tampak keluar dari pintu utama dengan tubuh yang bergetar hebat diiringi oleh seorang bodyguard.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?" Tuan Frans terlihat cemas kepada istrinya itu.
"Jessie ... di mana Jessie?" lirih Nyonya Nelly yang masih merasa takut.
Zeno yang mendengar percakapan itu, langsung menghampiri orang tua Jessie.
__ADS_1
"Tadi sebelum saya mengikuti pertemuan, saya bertemu dengan Non Jessie. Dia sepertinya pergi bersama Non Kyla," jelas Zeno.
"Syukurlah kalau begitu ... Zeno segera jemput Jessie dan lindungi dia. Walaupun keamanan dari keluarga Sanjaya cukup ketat, sebaiknya kita juga harus lebih berhati-hati," perintah Tuan Frans.
"Siap, Tuan!"
Baru saja Zeno akan beranjak pergi, ada seseorang yang melaporkan sesuatu yang membuat mereka terkejut.
"Tuan ... orang-orang yang ada dalam daftar pengkhianat semuanya ditemukan sudah tidak bernyawa lagi."
Zeno membelalakkan matanya terkejut, sontak dia memikirkan Bambang. Apakah Bambang juga sudah tidak bernyawa lagi? Dia mengepalkan tangannya erat dan menggertakan giginya karena merasa sangat emosional.
"Sial! Bagaimana kita bisa mendapatkan informasi kalau mereka semua dibuat mati?" sergah Tuan Frans.
"Tuan ... izinkan saya untuk menyelidiki kasus ini," pinta Zeno.
"Baiklah ... sekarang kau jemput lah Jessie. Biar yang lainnya membereskan semua ini."
Zeno bergegas menuju mobilnya, perasaannya campur aduk dan merasa sangat kacau. Dia harus benar-benar memastikan apakah Bambang selamat atau tidak, karena posisi Bambang sekarang tidak sedang berada di kediaman keluarga Wijaya.
Siapa yang ngelakuin semua ini? Frans? Gak mungkin dia, pasti ada orang lain dibalik penyerangan dan kematian orang-orang yang masuk daftar pengkhianat dalam dokumen itu, batin Zeno.
.
.
.
***
Apakah Bambang benar-benar sudah tidak bernyawa?
Siapa dalang semua ini?
__ADS_1
Next episode comming soon 😁👍