
Tuan Abraham menerima telepon dari Tuan Frans, hatinya bertanya-tanya ada apa gerangan Tuan Frans menghubunginya.
In call.
"Hallo, Tuan Frans ... ada apa Anda tiba-tiba menghubungi saya?"
"Apa kabar, Tuan Abraham?"
"Kabar saya sungguh baik-baik saja. Kabar Anda sendiri bagaimana?"
"Kabar saya pun baik. Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kalau kita saling bertemu untuk waktu dekat ini?"
"Baiklah, Tuan Frans. Saya akan tunggu kabarnya."
Tut!
End call.
***
Tuan Abraham menghela napasnya setelah menerima panggilan telepon dari Tuan Frans. Hatinya masih was-was jikalau Tuan Frans mengetahui kebenaran 20 tahun yang lalu.
Tuan Abraham kembali menemui Fox di kamarnya.
"Besok kau ikut ayah pulang ke London!" perintah Tuan Abraham.
"Aku sudah nyaman di sini! Aku tidak mau pindah ke London lagi!" bantah Fox.
"Ayah tidak mau tahu, besok kau akan pulang ke London bersama ayah," pungkas Tuan Abraham.
Tuan Abraham meninggalkan Fox di kamarnya. Fox pun berdecih kesal karena dipaksa pulang ke London.
.
.
.
***
Kantor cabang Sanjaya Grup.
Key sedang serius membaca dokumen mengenai perusahaan tekstil yang dikelola olehnya. Perusahaan tekstil yang dikelolanya itu merupakan salah satu cabang dari Sanjaya Grup. Sebenarnya fokus dari Sanjaya Grup adalah penghasil senjata api, tapi Key lebih memilih mengurus perusahaan tekstil karena dia lebih menyukai fashion ketimbang yang berbau kekerasan, padahal ayahnya sendiri adalah mafia.
"Permisi, Tuan," sapa Theo sekretaris pribadinya.
"Ada apa?" tanya Key sambil masih serius membaca dokumen.
"Anda tidak lupa kan dengan undangan pernikahan Tuan Raymond Weil, CEO MANGO Corporate di London?" ingat Theo.
"Ah! Iya aku hampir lupa! Kapan acaranya?" tanya Key.
"Acaranya esok lusa dan dua tiket penerbangannya pun sudah dikirim kemari," jawab Theo.
"Baiklah!" tanggap Key.
Theo pun pamit meninggalkan ruangan kerja Key.
Waduh acaranya besok lusa ... mana dikasih dua lagi tiketnya. Gimana caranya biar bisa ajak Jessie? Ah! Gua nemuin Jessie sekarang!
Key pun beranjak dari kursi kebesarannya dan hendak menemui Jessie di kediaman keluarga Wijaya.
.
.
.
***
Dalam perjalanan menuju rumah Jessie, Key tidak sengaja melihat Zeno yang terlihat sedang mengejar Zaenudin. Dia pun merasa heran, mengapa bodyguard tunangannya itu malah main kejar-kejaran dengan ayam.
"Ngapain lo ngejer-ngejer ayam di jalan raya?" teriak Key dari dalam mobilnya.
"Ah! Tuan Key ... itu ayam saya ngambek jadi kabur," jelas Zeno sambil masih mengejar Zaenudin.
Key merasa heran karena aneh sekali ayam bisa ngambek.
"Naik! Kita kejer pake mobil," ajak Key.
"Terima kasih, Tuan!" sahut Zeno sambil bergegas masuk ke dalam mobil Key.
Key mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang maksimal saat mengejar Zaenudin. Bahkan saat Zaenudin masuk ke kebun-kebun, Key tetap mengejarnya dengan mobilnya.
"Tuan ini kebun orang, masa kita bawa mobil menerobos kebun?" tanya Zeno.
"Biarin aja ... masalah ganti rugi urusan gampang," jawab Key santai sambil fokus menyetir mobilnya.
Zaenudin pun mengetahui bahwa dia telah di kejar oleh mobil Key. Dia pun terbang menjauh menyebrang sebuah sungai lebih tepatnya aliran bendungan.
"Waduh gawat! Ayam saya terbang melewati sungai," ujar Zeno.
Key pun mengeluarkan senjata rahasia dari dashboard mobilnya. Senjata itu terlihat seperti pistol dan ditembakkan oleh Key tepat ke badan Zaenudin. Seketika Zaenudin pun tergeletak tak berdaya.
"Tuan! Kok ayam saya ditembak!" protes Zeno.
"Tenang ... itu cuma obat bius, lagian punya ayam bar-bar banget, bikin frustasi aja," decak Key heran.
Zeno pun lega mendengar penjelasan dari Key. Dia pun bergegas mengambil Zaenudin sebelum ayam kesayangannya itu bangun dan kabur lagi.
Tak berapa lama ada sebuah panggilan masuk di ponsel Zeno. Panggilan itu berasal dari Bambang.
In call.
"Woy! Lu di mana?"
"Gua lagi ngejer Zaenudin dan sekarang gua lagi sama Tuan Key."
"Terus gimana? Gua susul, ya?"
"Gak usah ... nanti gua minta anterin Tuan Key, aja."
"Dasar bodyguard tak berakhlak lu."
"Santuy aja, lah."
"Oke! Gua sama Bang Ismed pulang duluan, ya."
Tut!
__ADS_1
End call.
.
.
.
***
Sesampainya di kediaman keluarga Wijaya, Key langsung berlari menuju kamar Jessie. Sedangkan Zeno langsung membawa Zaenudin ke kandangnya.
"Honey!" teriak Key sambil tersenyum di depan pintu kamar Jessie yang kebetulan terbuka.
Jessie yang mendengar suara Key pun langsung terkejut dan merasa kesal.
"Ngapain lo kesini?!" ketus Jessie.
"I miss you!" sahut Key sambil menghambur masuk ke dalam kamar Jessie.
Terlihat Jessie yang sedang memakai masker pun menengok dan membuat Key terkejut.
"Oh My God! Honey! Kamu serem banget kayak ondel-ondel," tukas Key.
Jessie yang merasa kesal pun melempar Key dengan bantal.
"Honey! Besok kita berangkat ke London, ya? Aku udah bilang sama Om Frans dan dia setuju," ajak Key.
"Mau ngapain ke London?" tanya Jessie.
"Kita hadir di pesta pernikahan kolega aku dan kita sekalian jalan-jalan di sana," jawab Key.
Jessie terlihat tertarik dengan tawaran dari Key. Dia memang sudah lama sekali tidak ke luar negeri. Sejenak dia menatap tunangan gemulainya yang tersenyum tapi yang terbayang adalah wajah Zeno yang sedang tersenyum kepadanya. Jessie menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha memecah halusinasinya.
"Kamu, kenapa? Kamu gak habis minum pil goyang, kan?" tanya Key.
"Enak aja! Lo pikir gua apaan!" ketus Jessie.
"Lah terus?" Key heran dan menggaruk tengkuknya.
Jessie memilih tidak menjawab pertanyaan Key. Dia pun langsung menanggapi ajakan Key.
"Oke! Gua mau ikut ke London tapi dengan syarat kedua bodyguard gua, Zeno dan Bambang harus ikut," ujar Jessie.
"Oke!" Dengan mudahnya Key memberikan jawaban atas permintaan dari Jessie.
.
.
.
***
Keesokan harinya, mereka berempat pun berangkat ke London. Zeno yang baru pertama kali naik pesawat pun terlihat norak dan kampungan.
"Gile! Dari atas sini bisa keliatan awan, Bang!" teriak Zeno girang.
Bambang yang duduk disebelah Zeno pun merasa malu karena orang-orang yang berada dalam pesawat memperhatikan mereka.
"Zen ... jangan malu-maluin, lah! Itu liat orang-orang pada ngeliatin," bisik Bambang.
.
.
.
***
Di pesta pernikahan megah Raymond dan Alice. Zeno terlihat sangat norak karena baru pertama kalinya dia melihat pernikahan yang begitu high class. Bambang yang notabenenya orang berada pun berusaha meredam kenorakan Zeno.
"Zen! Inget jangan bikin malu," bisik Bambang.
"Iya, Bang ... gua heran ini yang nikah sekaya apa coba? Gua sampe gak bisa berkata-kata," ujar Zeno.
"Mana gua tau, emang gua bapaknya!" sungut Bambang.
Ternyata ketampanan Zeno dan Bambang mampu memikat gadis-gadis bule nan seksi yang menjadi tamu undangan di sana. Gadis-gadis bule bahenol itu pun mendekati mereka berdua dan mengajak mereka mengobrol.
Sementara itu, Jessie yang melihat dari jauh pun merasa kesal karena Zeno tampak berwajah mesum saat memandang gadis bule yang memakai pakaian dengan belahan dada rendah.
Emang kurang ajar si kumuh! Bisa-bisanya dia tebar pesona dengan para bule sok seksi itu!
Saat itu adalah waktunya bagi pasangan pengantin itu berdansa. Key terlihat kagum melihat Raymond dan Alice yang sedang berdansa. Dia bahkan sampai memikirkan bagaimana acara pernikahannya dengan Jessie nanti.
Tiba-tiba Key yang sedang mengagumi pasangan pengantin yang berdansa itu pun memecah fokus Jessie yang sedang memperhatikan Zeno.
"Honey! Kapan ya kira-kira bisa kayak gitu? Kita menikah terus dansa yang romantis," ujar Key sambil tersenyum manja kepada Jessie.
"Kalau lo udah jadi laki-laki tulen seutuhnya!" ketus Jessie dengan wajah masam.
***
Di saat Key meratapi kesedihannya terdengar suara seorang pria memanggilnya dari kejauhan lalu pria itu semakin mendekat ke arahnya.
"Kak Aryan, ternyata kakak di undang juga ke acara ini?" tanya Key yang langsung berjabat tangan.
"Ya begitulah, undangan khusus dari Raymond dengan souvernir 1 perangkat handphone MANGO juga sepasang tiket ke London," jawab Aryan.
"Kalau begitu kakak datang bersama siapa?" tanya Key yang memandang sisi Aryan terlihat kosong.
"Ha-ha-ha, aku datang sendiri, aku dapat merubahnya menjadi tiket kepulangan, Elliot yang mengurusnya, pokoknya acara ini sungguh luar biasa bukan," tanggap Aryan dengan tawa canggung.
Key menyunggingkan senyum di wajahnya mendengar ucapan Aryan.
"Itu lebih baik datang sendiri tapi dapat tertawa bahagia, daripada aku, aku datang berdua namun seperti seorang diri," gumam Key lirih.
.
.
.
***
__ADS_1
Sedangkan di sisi Zeno dan Bambang, mereka berdua nampak hampir berliur saat memandang belahan dada para gadis bule itu. Dalam hati terus istighfar tapi mata tetap menatap hal yang membuat zina mata itu.
"Bang! Apa gak dingin dan masuk angin tuh dipamer kayak gitu?" bisik Zeno.
"Kayaknya udah masuk angin, Zen ... tuh liat udah besar," tanggap Bambang sambil berbisik.
Bambang pun merasa gerah melihat pemandangan yang membuat mata tercemar itu. Dia pun memutuskan untuk mencari minuman. Dia pun meninggalkan Zeno sendirian bersama para gadis bule itu. Bambang memang tidak setia kawan.
Bambang yang hendak mengambil minuman pun melihat sosok yang dikenalnya.
"Arga!" panggil Bambang.
Pria yang bernama Arga itu pun menoleh ke arah Bambang dan memicingkan matanya agar pandangannya terlihat lebih jelas.
"Bambang?" lirih Arga.
Laki-laki itu adalah Arga, sahabat Bambang di masa kecil. Bambang berjalan mendekati Arga dengan wajah sumringah, dia berjalan bak pragawan yang sedang berada di atas catwalk.
"Dunia napa kecil amat, ya? Kemarin ketemu lo, sekarang juga ketemu lo," ujar Bambang sambil main nyosor minuman yang dibawa oleh Arga.
Arga hanya melotot melihat tingkah absurd Bambang yang ada di depannya itu. Terlihat sosok wanita cantik yang berdiri tak jauh dari Bambang dan Arga segera menghampiri mereka berdua.
"Sayang, aku tak nyaman disana sendiri. Jadi, aku nyusul kesini," ucap wanita cantik itu sambil mengulas senyuman.
"Ga, ini bini lo?" bisik Bambang tepat di telinga Arga, Arga merasa geli dengan desahan nafas Bambang. Arga segera mendorong tubuh Bambang agar menjauh dari telinganya.
"Iya, tapi gak usah pakai niup-niup telinga juga, lah!" Arga nampak kesal dengan kelakuan Bambang.
Wanita cantik yang merupakan istri Arga mengernyitkan keningnya, dia heran melihat suaminya dan Bambang yang tampak sangat akrab. Menyadari kebingungan istrinya, Arga segera memperkenalkan Bambang kepada istrinya.
"Dia sahabat kecilku sayang, namanya Bambang Gentolet," ujar Arga sambil memperkenalkan Bambang.
Dengan semangat Bambang segera mengulurkan tangannya, tapi sebelum mengulurkan tangan. Ia mengelap telapak tangannya pada jas hitamnya.
"Gua Bambang Gentolet, panggil aja Abang Bambang," ujar Bambang dengan wajah sumringah.
Arga segera menjabat tangan Bambang. "Dia Erina, istri gua. Gak usah pake salaman, biar gua aja yang wakili!" desis Arga sambil meremas tangan Bambang sehingga Bambang meringis kesakitan.
"Dasar suami posesif!" seru Bambang kesal.
"Oh iya, gimana soal karya--," belum selesai Bambang bicara, Arga segera membekap mulut Bambang.
Istri Arga yang bernama Erina semakin merasa aneh dengan kedua laki-laki yang berada di depannya.
"Sayang, sebentar ya. Aku mau bicara sama Bambang." Arga segera menarik bambang menjauh dari Erina.
"Lo jangan bicara masalah kejadian kemarin di depan istri gua, dia gak tau masalah itu," ancam Arga dengan wajah serius.
"Wah parah lo, kenapa emangnya?" tanya Bambang yang merasa penasaran dengan alasan Arga melarangnya untuk bicara masalah penculikan karyawatinya didepan istrinya.
"Istri gua orang yang sensitif banget, kalo dia tau kejadian penculikan waktu itu. Dia gak akan bersedia untuk gua ajak kesini, semua masalah penculikan kemarin udah ditangani oleh orang kepercayaan gua. Sekarang mereka sedang melakukan misi penyelamatan," jelas Arga kepada Bambang.
Bambang hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti tentang alasan yang diberikan oleh Arga.
"Oke! Terserah lo aja, deh! Gua cuma do'ain semoga karyawan lo selamat dunia akhirat,"ujar bambang sambil menepuk pelan bahu Arga.
Arga menautkan kedua alisnya, heran dengan do'a yang baru saja keluar dari mulut Bambang.
"Ya udah, gua mau ke temen gua dulu ya. Lo baik-baik sama istri lo." Bambang segera memberikan pelukan kepada Arga, selama beberapa detik mereka saling berpelukan.
.
.
.
***
Bambang pun hendak kembali ke tempat Zeno berada, dia melihat pemandangan aneh sebelum mendekat. Dia melihat Zeno makin dikerubuti oleh banyak gadis bule.
"Waduh! Gawat! Zeno bisa runtuh pertahanannya kalo gini terus," gumam Bambang sambil berlari menghampiri Zeno.
Bambang yang baru sampai pun langsung menerobos barikade para gadis bule yang mengerubuti Zeno.
"Zen! Lo gak apa-apa, kan?!" pekik Bambang khawatir.
Zeno hanya diam dan terheran melihat reaksi Bambang yang berlebihan. Bambang lebih heran lagi dengan apa yang sedang dilakukan oleh Zeno.
"Lah lo ngapain, Zen?" tanya Bambang heran.
"Masa lo gak liat, Bang? Gua lagi buka jasa foto bersama untuk para jomblo kesepian, sekali foto 10 dollar," jawab Zeno santai.
Bambang menepuk jidatnya heran. "Ini acara kawinan orang, Zeno! Kok lo malah dagang!"
Zeno hanya nyengir kuda. "He-he ... anggep aja seseran, Bang ... lagian ya, mereka sendiri yang mau."
***
Jessie yang melihat kelakuan Zeno sedari tadi pun merasa kesal. Dia ingin menghampiri Zeno dan melabraknya. Namun tiba-tiba ada suara seorang pria yang memanggil namanya.
"Nona Jessie."
Jessie menoleh dan menautkan kedua alisnya. "Siapa?"
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Bagi kawan-kawan yang penasaran dengan kisah Raymond dan Alice ada di novel 👇
CEO Tampan Itu Jodohku - Eka Pradita
Si tampan Aryan tapi jomblo ada di novel ini 👇
Tentang Hati - Aldekha Depe
Dan juga Arga si suami posesif kepada istrinya Erina ada di novel ini 👇
Menikahlah Denganku - Nafasal
__ADS_1