Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Before ending


__ADS_3

Satu minggu setelah Zeno sadar dari koma, dia akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Tadinya dia ingin langsung menyusul Jessie ke Amerika, namun tak disangka -- nenek Elizabeth datang berkunjung ke rumah sakit.


Nenek tiri Zeno datang dengan membawa beberapa bodyguard yang mengawal di belakangnya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Nak?" tanya Nenek Elizabeth.


"Keadaanku sudah cukup membaik, Nek ..." jawab Zeno sambil mengulas senyuman.


Tiba-tiba nenek Elizabeth mendekati Zeno dan memeluknya. Wanita tua itu terisak sambil memeluk Zeno.


"Maafkan Nenek, Nak ... Nenek tidak tahu kalau pamanmu berniat jahat dan dia yang menyebabkan kematian orang tuamu."


Zeno tak langsung menjawab, dia hanya mengusap lembut punggung wanita berambut putih yang sedang menangis dipelukannya.


"Gak apa-apa, Nek ... semua sudah berakhir," ucap Zeno mencoba menenangkan.


Nenek Elizabeth melepaskan pelukannya, dia mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipinya. Bibirnya mengembangkan sebuah senyuman sambil mengusap pucuk kepala cucu tampannya.


"Ikut pulang ke rumah sama Nenek, ya? Ajak juga kakekmu bersama kita. Dimana dia sekarang?" Nenek Elizabeth mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Kakek sedang mengurus administrasi bersama Bambang, Nek ... mungkin sebentar lagi bakal balik kesini."


Nenek Elizabeth menganggukan kepalanya, sekali lagi dia bertanya kepada Zeno mengenai tawarannya.


"Bagaimana? Kau mau, kan?"


"Hmm ... nanti Zeno tanya sam--"


"Mau dong!" sahut Kakek Wiro dari ambang pintu masuk.


"Wah emang ya, Zen ... kakek lu ini gak ada jaim-jaimnya dikit. Masa langsung mau, ck-ck-ck," decak Bambang heran.


Kedua pria beda usia itu berjalan masuk mendekati Zeno dan nenek Elizabeth.


Kakek Wiro yang sok ganteng langsung menyugar rambutnya dan menyodorkan tangannya ke nenek Elizabeth.


"Perkenalkan ... aku adalah Wiro, Kakek kandung kece badai dari Zeno. Mungkin dulu kita pernah bertemu, tapi kita belum saling mengenal lebih jauh."


Nenek Elizabeth merasa heran, tapi dia menyambut uluran tangan si kakek kece badai.


"Aku Elizabeth."


"Cie ... apakah akan terjadi benih-benih cinta antara kedua makhluk hidup yang kisut ini?" goda Bambang. Dia mengisyaratkan dengan menyatukan dua jari telunjuknya sambil nyengir dan tatapan penuh arti.


Bugh!


Nenek Elizabeth memukul punggung Bambang menggunakan tas tangannya. Pria stylish itu meringis kesakitan karena pukulan nenek Elizabeth cukup kuat.


"Kau! Awas kalo berani-beraninya menggoda lagi, pernikahanmu dengan Kyla batal!" ancam Nenek Elizabeth.


"Ampun, Nek! Jangan, dong ... hu-hu."

__ADS_1


.


.


.


***


Kediaman keluarga Sanjaya, Jakarta, Indonesia.


Akhirnya, Zeno sampai ke kediaman keluarga Sanjaya. Kakek Wiro juga ikut kesana sesuai dengan kesepakatan.


Baru saja sampai, dia sudah disambut dengan hormat disana. Sepertinya, identitas Zeno sudah terungkap pasca kejadian itu.


Kedatangan Zeno hanya disambut oleh Kyla sebagai satu-satunya keluarga. Zeno mengedarkan pandangannya ke sekeliling tapi dia tidak menemukan ada orang lain lagi.


"Cuma lo sendiri?" tanya Zeno.


"Iya ... sekarang rumah sepi, Zen," jawab Kyla dengan raut wajah sendu.


"Ibu lo? Key? Mereka dimana?"


"Mereka--"


"Nanti akan Nenek ceritakan," potong Nenek Elizabeth yang baru saja keluar dari kamarnya. Wanita tua itu sepertinya mengambil sesuatu di dalam sana.


***


Kini keempat orang itu sudah mantap duduk di sofa ruang tengah rumah mereka. Nenek Elizabeth menyerahkan sebuah map kepada Zeno, sebelum memulai percakapan lebih jauh.


"Itu adalah daftar semua aset kekayaan milik pamanmu, Kenan. Dia belum pernah menulis surat wasiat, sehingga Nenek memutuskan untuk memberikannya kepadamu. Mulai hari ini, kau adalah kepala keluarga dari keluarga Sanjaya," jelas Nenek Elizabeth.


"Ta--tapi, Nek ... masih ada Key dan Kyla, mereka lebih berhak ketimbang aku," tanggap Zeno.


"Key ... dia tidak mau lagi berurusan dengan dunia mafia. Dia juga sudah setuju untuk memberikan semuanya untukmu. Sedangkan Kyla, kau bisa tanya sendiri dengan orangnya," Nenek Elizabeth memberi kode dengan menunjuk Kyla dengan dagunya.


Pandangan Zeno mengarah ke Kyla, karena dia butuh sebuah penjelasan.


"Gua rasa lo lebih pantes, Zen ... lagian gua ini cewek, gua gak paham masalah ngurus begituan," jawab Kyla seadanya.


Zeno terdiam, dia tampak memikirkan tawaran yang diberikan kepadanya. Tawaran yang cukup mengejutkan, karena tiba-tiba dia akan menjadi kepala keluarga dan mewarisi seluruh kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Sanjaya.


Apa gua pantes? Gua gak pernah berpikir buat dapet semua ini. Tapi kayaknya gua gak punya pilihan lain.


Zeno menatap dua wanita beda usia yang duduk tepat dihadapannya. Raut wajah mereka sepertinya mengharapkan jawaban 'iya' dari Zeno.


Zeno menarik napas dalam-dalam dan akhirnya memutuskan.


"Oke ... setuju."


Wajah nenek Elizabeth dan Kyla berubah sumringah saat mendengar jawaban dari Zeno. Mereka terlihat sangat senang dan saling berpelukan.

__ADS_1


Kini, Zeno sudah resmi menjadi kepala keluarga dari keluarga Sanjaya. Dia juga mewarisi klan mafia dan seluruh aset kekayaan yang dimiliki oleh tuan Kenan sebelumnya.


.


.


.


***


Di sebuah pusat rehabilitasi mental.


Terlihat Key sedang menanam bunga bersama dengan beberapa orang lainnya. Mereka terlihat sangat bahagia melakukan kegiatan itu, ada pula nyonya Diana yang sedang menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk mereka.


Kegiatan itu dilihat oleh Zeno dari jauh, dengan didampingi Kyla dan Bambang.


"Jadi semenjak kejadian itu Key udah disini?" tanya Zeno.


"Kak Key baru satu minggu disini. Sebelumnya dia sempet dibawa ke rumah sakit karena luka di kepalanya. Terus habis itu, dia selalu berada di dalam kamarnya dan gak mau keluar. Dia kayaknya merasa bersalah banget sama Jessie, Zen," jelas Kyla.


"Berarti ... dia memang cinta beneran sama Jessie?"


"Iya ... dari awal mereka dijodohin, kak Key memang suka banget sama Jessie. Tapi Jessie gak suka sama dia," Kyla menghela napas panjang sambil menatap kearah kakaknya.


"Namanya perasaan cinta itu gak bisa dipaksa, Zen. Kalo udah tau sama-sama cinta apa salahnya diperjuangkan," celetuk Bambang sambil menepuk pelan pundak Zeno.


"Kayaknya ini kode keras, gua harus secepetnya nyusul Jessie ke Amerika." Zeno memegang kedua pundak Bambang sambil menatap tajam matanya.


"Ish! Geli!" pekik Bambang. Dia menyingkirkan tangan Zeno dari pundaknya segera.


Zeno tertawa geli saat melihat reaksi Bambang yang berlebihan. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada seseorang yang baru saja muncul membantu nyonya Diana.


"Eh ... itu kan Nafa? Kok bisa ada dia?" tanya Zeno heran.


"Ini tempat emang punya dia, dia emang kadang dateng buat berkunjung dan bantu petugas," jawab Bambang.


"Kayak ibu yang mutusin jadi relawan karena mau dampingi kak Key," tambah Kyla.


Zeno menganggukan kepalanya, dalam hati kecilnya berharap -- sepupunya bisa kembali sehat seperti sedia kala. Dia juga berharap bisa mendapatkan kembali cintanya yang sempat tertunda.


Tunggu gua, Jes ... kali ini, gua gak bakal ngelewatin kesempatan sedetikpun buat dapetin hati lo lagi.


.


.


.


***


Selangkah menuju tamat guys 🤭🤭🤭

__ADS_1


Apakah Zeno berhasil mendapatkan hati Jessie kembali?


Jawabannya di episode terakhir novel ini 🥰🥰🥰


__ADS_2