Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Keputusan mengejutkan


__ADS_3

Tya masih termenung dan menatap kearah pintu kamar Jessie. Nampaknya gadis cantik itu masih berada dalam khayalan tingkat tingginya mengenai Fox.


"Tya? Hoy! Tya!" pekik Jessie sembari melambaikan tangannya tepat di depan wajah Tya.


Tya pun sontak terkejut karena pekikan suara Jessie yang begitu kencang.


"Duh ... maaf, Jes ... gua tersepona banget sama Babang Fox yang makin tampan. Eh! Tapi kok dia bisa setampan itu sekarang? Gua kaget setengah hidup, Jes!" ujar Tya girang.


"Hadeh ... mana gua tau, kenapa dia bisa ganteng gitu," tanggap Jessie malas.


Jessie menatap penuh perasaan curiga terhadap Tya. Dia mencoba menelisik tujuan dari anak bungsu sang mafia jalur perdukunan legendaris itu.


"Jadi lo mau ngapain ke sini?" tanya Jessie.


"Oh! Iya ... gua hampir lupa." Tya menarik lengan Jessie dan mengajak gadis cantik itu untuk duduk di tepian ranjang.


Tya mengeluarkan sebuah benda dari tasnya. Jessie terlihat mengerutkan keningnya saat melihat benda yang ditunjukkan oleh Tya kepadanya.


"Ini ginseng yang udah jadi kakek-kakek?" tanya Jessie dengan polosnya.


"Ish! Bukan lah! Ini barang koleksi baru gua, namanya jenglot," jawab Tya antusias.


"Hah? Jengkol? Sejak kapan jengkol berbentuk aneh kayak gitu?" Jessie terlihat gagal paham, karena dia memang salah paham.


"Jengkol terus lo ini! Je-ng-lo-t!" Tya mengeja kata yang ingin ditegaskan olehnya (author tidak menampilkan gambarnya karena takut, kalau penasaran cari sendiri ya 😁)


Otak Jessie me-loading perkataan dari temannya itu.


"Astaga! Ngapain sih lo bawa benda-benda kayak gitu ke rumah gua! Buang cepetan!" pekik Jessie seraya menjauh dari Tya.


"Ye! Enak aja! Ini barang langka tau ... lagian ya, lo itu gak tau yang namanya seni dalam dunia mistis," cibir Tya.


"Masa bodo! Lagian lo itu jadi cewek normal dikit, sih! Jangan maenannya benda mistis kayak gitu! Pantes aja si Fox takut sama lo," ujar Jessie.


Tya terlihat memikirkan perkataan dari Jessie. Dia berpikir, apa benar Fox selalu menghindari dirinya karena dia adalah anak dari sang mafia yang ahli dalam bidang perdukunan?


"Gitu, ya...." gumam Tya.


"Kan bokap lo ahli dalam santet dan pelet, kenapa lo gak minta bokap lo buat pelet si Fox," saran Jessie.


"Gak, Jes ... gua dari dulu suka sama Fox tulus. Jadi gua gak mau pake cara licik kayak gitu. Satu hal yang gua harapkan, Fox bisa menyukai gua dengan tulus juga bukan karena ilmu ghaib," ucap Tya.


"Tumben lo bener," ujar Jessie sembari menepuk pelan pundak kiri Tya.


"Ya gua kadang-kadang aja benernya, Jes," ucap Tya sembari nyengir kuda.


Hadeh ... punya temen gini amat, batin Jessie.


.


.


.


Zeno sudah terlihat tampan setelah berganti pakaian. Dia bahkan mandi sampai lima kali, demi menghilangkan bau amis air kolam ikan. Semenjak menjadi bodyguard, Zeno selalu menjaga kebersihan dan ketampanannya. Padahal sewaktu di desa, dia mandi saja satu bulan sekali dan sabunan saja pakai sabun colek.

__ADS_1



Zeno berjalan menuju kediaman utama keluarga Wijaya. Dia melihat Bambang dan langsung menghampiri sahabat karib barunya yang sesama bodyguard itu.


"Gimana, Bang? Itu orang udah pulang?" tanya Zeno penasaran.


"Udah dari tadi, tapi sebelum pulang dia minta anterin ke kamar Non Jessie," jawab Bambang.


"Eh? Ngapain dia minta anterin ke sana?!" Zeno terlihat sangat penasaran dengan dahi yang berkerut.


Bambang tersenyum smirk, dia tahu bahwa Zeno menampakkan tampang cemburu.


"He-he ... cemburu, ya?" goda Bambang.


"S-siapa yang cemburu?! Enak aja! Gak usah fitnah!" kilah Zeno.


"Aish ... udahlah, Zen ... lu gak usah ngeles, gua udah tau kalo lu ada hubungan khusus dengan Non Jessie," seloroh Bambang.


Zeno hanya diam tak menanggapi perkataan Bambang. Dia lebih baik mengambil jalan aman untuk tidak banyak bicara.


Sedang asyik mereka berdua mengobrol, tiba-tiba ada rombongan bodyguard yang mengawal Tuan Frans hendak datang ke kediaman utama.


"Emang ya, kalo orang penting di dalam lingkungan rumah aja pake acara dikawal segala," bisik Bambang.


"Sttt ... bentar lagi ke sini, kita harus kasih hormat," desis Zeno.


Begitu Tuan Frans lewat, semua bodyguard yang dilewatinya menunduk memberi hormat.


.


.


.


Kamar Jessie.


Ternyata Tuan Frans sengaja datang ke kediaman utama untuk menemui putri semata wayangnya itu. Terlihat Jessie sedang sendirian karena Tya baru saja pulang.


"Ada apa, Dad?" tanya Jessie heran, karena ayahnya jarang sekali menemui dirinya walaupun berada di rumah.


"Daddy ingin bicara, Nak," jawab Tuan Frans.


"Di sini?" Jessie memastikan.


Tuan Frans mengangguk, pria paruh baya itu menarik sebuah kursi dan duduk di sana.


Jessie pun mengambil kursi dan ditaruhnya di hadapan ayahnya duduk. Gadis cantik itu pun duduk sembari menyilang kaki di depan ayahnya.


"Daddy mau bilang apa? Tumben aja, biasanya juga lupa kalo punya anak," sindir Jessie.


Tuan Frans menghela napasnya kasar. Dia menyadari bahwa memang perkataan putrinya itu tidak sepenuhnya salah.


"Maafkan, daddy ... selama ini sepertinya daddy kurang memperhatikanmu," tukas Tuan Frans.


"Terus?" Jessie terlihat malas meladeni ayah kandungnya itu.

__ADS_1


"Daddy ingin menanyakan sesuatu, ini mengenai pertunanganmu dengan Key," ucap Tuan Frans.


"Memangnya kenapa dengan pertunanganku dengan Key? Kalau pun aku bilang tidak mau bertunangan, daddy juga tidak akan menanggapinya," keluh Jessie.


"Jadi benar, kau tidak menyukai pertunangan dengan Key?" tanya Tuan Frans memastikan.


"Sejak kapan aku bilang kalo aku suka? Daddy bahkan tidak menanyakan pendapatku mengenai pertunangan itu," protes Jessie.


Tuan Frans menghela napasnya sekali lagi, dia merasa telah gagal menjadi orang tua. Dahulu dia juga tidak menyukai calon tunangannya dan malah menikahi wanita pilihan hatinya sendiri.


"Baiklah ... daddy akan menghubungi Tuan Kenan, agar pertunanganmu dan Key dibatalkan," ucap Tuan Frans tiba-tiba.


Wajah Jessie terlihat sumringah, matanya pun berbinar cerah. Dia baru saja mendapatkan kabar baik dari ayahnya.


"Benarkah? Daddy tidak bercanda, kan?" tanya Jessie memastikan.


"Daddy serius, Nak ... maafkan daddy yang tidak mengerti perasaanmu selama ini," jawab Tuan Frans sembari mengulas senyum.


Jessie merasa bahagia, dia pun memeluk ayahnya dengan erat.


"Bolehkah aku memilih lelaki pilihanku sendiri?" tanya Jessie yang masih memeluk ayahnya.


"Asal kau bahagia, Nak...." jawab Tuan Frans.


.


.


.


Kediaman keluarga Sanjaya.


Tuan Kenan merasa terkejut saat Tuan Frans meneleponnya dan berbicara soal pembatalan pertunangan antara Jessie dan Key. Dia tidak langsung menyetujui hal tersebut karena jelas akan mempengaruhi rencana mereka. Sehingga mereka akan mengadakan pertemuan antara dua keluarga.


Key yang mendengar hal itu pun langsung bertanya kepada ayahnya.


"Bagaimana bisa Tuan Frans ingin membatalkan pertunanganku dan Jessie?" tanya Key penasaran.


"Ayah juga tidak tahu, Nak ... tiba-tiba dia menelepon ayah dan bicara seperti itu," jawab Tuan Kenan.


"Aku tidak menyetujui hal ini! Bagaimana pun caranya, aku harus menikah dengan Jessie!" tegas Key.


Tuan Kenan menghela napasnya kasar. "Ayah akan berusaha dan kau seharusnya bisa membuat gadis itu jatuh cinta kepadamu!"



Key terdiam dan terlihat cukup sedih dengan matanya yang sayu, dia paham betul kalau Jessie memang tidak mencintainya.


.


.


.


Next episode comming soon 😁👍

__ADS_1


__ADS_2