Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Merelakan


__ADS_3

Ternyata kehadiran Zeno di rumah sakit terpantau oleh Fox. Entah apa maksud dan tujuan putra bungsu Tuan Abraham itu. Sepertinya dia mempunyai maksud terselubung dengan memata-matai rumah sakit tempat Key di rawat.


"Ini namanya sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui," gumam Fox sembari memegang dagunya.


"Tuan ... kita akan di sini sampai kapan?"


"Aku rasa kita sudah boleh pulang ... aku bahkan mendapatkan sebuah informasi yang tidak terduga. Sebenarnya apa hubungan bodyguard Tuan Frans dengan Tuan Kenan?"


"Apa perlu aku mencari tahu, Tuan?" tanya asisten pribadi yang mendampingi Fox.


"Boleh ... aku rasa aku perlu mengetahuinya."


"Sekarang Tuan Key mengalami kecelakaan, bukankah itu hal yang buruk untuk rencana Anda memisahkan Nona Jessie dengannya?"


Fox mendengus kasar, dia memang tidak memperhitungkan kalau Key akan mengalami kecelakaan pasca putusnya pertunangannya dengan Jessie. Dia berpikir, kalau Key tidak sungguh-sungguh mencintai Jessie dan tidak akan frustasi.


Maka dari itu, dia memantau keadaan Key di rumah sakit begitu mendengar kabar kecelakaannya. Dia tidak menyangka kalau keadaan Key akan separah itu.


"Mungkin ini akan sulit, tapi selalu ada jalan menuju Roma dan selalu ada cara memuluskan rencana," tutur Fox.


.


.


.


***


Kyla ternyata datang menemui Jessie. Gadis itu muncul dengan tiba-tiba di kamar Jessie dan mengagetkannya.


"Kalo dateng gak usah ngagetin!" protes Jessie yang terlihat sungguh terkejut karena kedatangan sahabat karibnya itu.


"Jes ...." Kyla berlari kearah Jessie sembari menangis tersedu-sedu.


"Lo, kenapa? Kok nangis?"


"K-kak Key kecelakaan dan sekarang dia koma," lirih Kyla.


Deg!


Jessie sungguh terkejut mendengarkan pernyataan dari Kyla. Sepertinya baru tadi malam dia bertemu dengan Key tapi sekarang pria itu sudah terbaring koma.


"L-lo bercanda, kan? Tadi malem dia baik-baik aja."


Kyla menggeleng sambil menangis.


Melihat reaksi Kyla yang seperti itu, Jessie paham kalau sahabatnya tidak sedang berbohong. Tubuh Jessie gemetar karena mendengar berita itu, tapi dia masih berusaha merengkuh tubuh sahabatnya ke dalam pelukannya.


"Kak Key ... beneran cinta sama lo," isak Kyla.


"Dia kecelakaan karena frustasi, pertunangan dengan lo batal, Jes."


Tubuh Jessie seketika membeku, rasa bersalah menjalari seluruh pikirannya. Dia sejenak berpikir, Key tidak akan mengalami kecelakaan kalau saja dia tidak meminta pertunangan mereka batal. Tapi dia tidak mencintai Key dan hanya ingin bahagia. Bagaimana dia bisa bahagia sekarang? Sedangkan keadaan Key memprihatinkan.


"Jes ... balikan dengan Kak Key, ya?" pinta Kyla dengan mata yang masih mengalirkan cairan bening.


Jessie tidak menjawab, dia masih bergeming dan pikirannya sungguh kacau. Dia terlihat enggan untuk mengiyakan permintaan Kyla. Apa mungkin dia harus mengorbankan perasaannya?


"Gua kasih waktu lo buat berpikir, Jes ... kalau memang lo mau, lo bisa dateng ke rumah sakit tempat Kak Key dirawat."

__ADS_1


Kyla melepaskan pelukan Jessie dari tubuhnya, gadis itu menghapus air mata yang sudah terlanjur mengalir di pipinya. Kyla memang gadis yang kuat, tapi dia sangat lemah jika orang-orang yang dia sayangi terluka.


***


Jessie masih terdiam dan hanya memandang langit malam lewat jendela kamar. Dia merasa dilema karena permintaan Kyla tadi siang. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya.


"Masuk."


Jessie tidak menoleh dan hanya terus memandangi langit malam.


"Non?" sapa seorang pria yang ternyata adalah Zeno.


Mendengar suara sapaan dari seseorang yang dikenal, Jessie pun menoleh.


"Ada apa?"


"Non Jessie udah tau berita tentang Tuan Key?" tanya Zeno sedikit dengan perasaan ragu.


Jessie hanya mengangguk lemah dan kembali menatap jendela kamarnya.


"Gimana, Zen? Gua bingung."


Zeno menghela napas dalam-dalam, dia berniat untuk menyampaikan maksudnya untuk meminta Jessie kembali kepada Key dan tidak jadi membatalkan pertunangan mereka.


"Kembali dan jangan batalkan pertunangan kalian."


Bagi Zeno, mengatakan kalimat tersebut sungguh sulit. Bahkan sebelum dia menemui Jessie, dia sudah berulang kali berlatih dan menguatkan hatinya. Hatinya saat ini seperti teriris pisau yang tajam.


Perih.


Jari tangan saja akan sangat sakit jika teriris pisau, apalagi hati.


"Lo rela gua sama Key?" tanya Jessie sembari menoleh dan tersenyum getir kepada Zeno.


"Saya tidak punya pilihan lain, Non. Kalau pun Non Jessie tidak jadi menikah dengan Tuan Key, sudah pasti penggantinya juga bukan saya. Saya hanya seorang bodyguard, mana mungkin pantas mendampingi Anda."


Mungkin fakta Zeno adalah tuan muda kedua dari keluarga Sanjaya tidak dapat dipungkiri. Namun, hal itu memang tidak boleh terungkap sampai dendamnya terbalaskan. Sebenarnya, mudah saja baginya untuk menikahi Jessie setelah menyelesaikan dendamnya. Tapi keadaan saat ini tidak memungkinkan karena sepupunya dalam keadaan kritis dan lebih membutuhkan Jessie.


"Saya rasa ... Tuan Key adalah jodoh yang tepat bagi Anda," pungkas Zeno.


Zeno menundukkan kepalanya berpamitan kepada Jessie. Dia berjalan perlahan menuju pintu keluar. Saat itu, dia tidak mampu menatap wajah sendu gadis yang amat dia cintai itu dan akhirnya memilih pergi.


Air mata Jessie tidak dapat terbendung lagi, cairan bening itu lolos begitu saja ketika dia memandang punggung Zeno yang mulai menghilang dari balik pintu. Sesak di dadanya sungguh menyiksa. Gadis itu menahan tangis dan memukul-mukul dadanya perlahan. Mungkin baginya, baru kali ini dia merasa tersakiti karena cinta.



Ternyata Zeno masih belum beranjak dari depan pintu kamar Jessie. Dia mendengar suara tangisan Jessie yang semakin jelas. Rasanya dia ingin masuk ke dalam dan memeluk gadis yang dicintainya dengan erat. Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa selain pergi meninggalkan gadis itu sendiri karena dia sudah mencoba merelakan perasaannya.



.


.


.


***


Paviliun Timur, Kediaman keluarga Wijaya.

__ADS_1


Tuan Frans Wijaya menatap sebuah foto yang menampilkan potret dirinya dan kedua temannya, yang satu laki-laki dan satunya perempuan. Dalam foto itu, mereka bahkan terlihat sangat akrab. Ada penyesalan yang tergambar di raut wajahnya.


"Aku sungguh menyesal ... Albert ... Marina ... maafkan aku."


"Dulu kita pernah berjanji untuk menjodohkan anak kita, tapi semuanya hanya impian belaka. Maafkan aku sahabatku."


Mata Tuan Frans berkaca-kaca saat memandang potret kebersamaannya dengan kedua orang tua Zeno.


Ceklek!


Suara putaran handle pintu membuat Tuan Frans terkejut. Pria paruh baya itu berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh.


"Honey! Kau kangen sekali sama aku, ya? Sampai menangis seperti itu," teriak Nyonya Nelly Wijaya yang berlari kearah suaminya itu.


Nyonya Nelly mendekati Tuan Frans dan mengambil foto yang dipegang suaminya. Dia mendelik kesal kearah Tuan Frans karena bukan potret dirinya yang sedang ditangisi.


"Kau tidak rindu aku malah menangis untuk orang lain!" bentak Nyonya Nelly.


"Sayang ... tolong jangan marah, lagi pula aku hanya mengenang sahabat yang sudah tiada," jelas Tuan Frans sembari memegang lengan istrinya.


"Cih! Kau merindukan wanita yang bernama Marina itu, kan? Aku sungguh kesal, sudah mati saja masih membuatku naik darah!"


Nyonya Nelly melepaskan kasar tangan Tuan Frans dari lengannya. Wanita itu berjalan ke pintu keluar dengan emosi yang masih meluap-luap.


Tuan Frans mendesah kasar, dia seraya mengacak rambutnya. Dia bahkan tidak tahu kalau istrinya sudah pulang dari jalan-jalan keliling dunianya.


.


.


.


***


Epilog episode ini :


"Gitu ceritanya, Bang!" pungkas Young Flash.


Bambang mengangguk seraya memahami apa yang diceritakan Young Flash barusan.


"Oke! Gua udah cukup mengerti. Makasih infonya," tutur Bambang.


"Buruan lepasin gua ... gua 'kan udah ceritain semua."


"Oke! Bentar."


Bambang mendekat kearah Young Flash. Wajah pria lincah itu nampak bahagia karena sebentar lagi dia akan bebas. Namun, harapannya seketika musnah. Bambang malah melakban mulutnya dan lebih mengencangkan ikatannya.


Young Flash mendelik kesal kepada Bambang karena merasa tertipu. Sedangkan Bambang hanya tersenyum.


"Suruh siapa percaya sama gua ... percaya itu sama Tuhan, ha-ha-ha!" ejek Bambang sembari menjulurkan lidahnya.


.


.


.


***

__ADS_1


Next episode comming soon 😁👍


__ADS_2