
Ruang kerja Tuan Frans, Paviliun timur.
Tuan Frans tampak berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil menatap langit pagi hari yang cerah. Akhir-akhir ini, banyak hal yang dia pikirkan. Mulai dari telepon misterius, dokumen rahasia, dan pembunuhan terhadap mata-mata musuhnya sebelum dia mendapatkan informasi.
Pikirannya mengembara dan akhirnya tertuju pada sahabatnya yang meninggal dua puluh tahun yang lalu. Dialah Alfred, ayah kandung Zeno. Dia mengingat pertemuan sebelum sahabatnya itu meregang nyawa karena kecelakaan dan bom yang terpasang di mobilnya.
.
.
.
***
Dua puluh tahun silam, tiga hari sebelum kematian orang tua Zeno. Tuan Alfred datang menemui tuan Frans di kediamannya. Dulu kediaman keluarga Wijaya tidak sebesar ini, dan kekayaan tuan Frans juga masih terbilang standar diantara teman-teman mafianya.
"Kau datang tidak bilang-bilang, ada apa?" tanya Tuan Frans.
Tuan Alfred mengeluarkan sebuah dokumen yang dia simpan dibalik saku jasnya dan menyerahkannya kepada sahabatnya.
"Apa ini?"
"Baca saja, kau akan tahu isinya," ucap Tuan Alfred.
Tuan Frans mengambil dokumen itu dari tangan tuan Alfred. Dengan seksama dia membaca keseluruhan isinya dan membelalakkan matanya.
"Apa maksudnya dengan semua ini? Mengapa kau menghibahkan semua milikmu kepadaku?" tanya Tuan Frans tidak percaya.
"Aku hanya ingin ... hati kecilku mengatakan untuk memberikan semuanya untukmu."
"Bagaimana dengan Kenan? Mengapa kau tidak memberikan semua ini kepadanya? Dia kan adikmu," Tuan Frans mengeryitkan dahinya seperti meminta sebuah penjelasan.
"Kenan memang adikku tapi hubunganku sebenarnya tidak terlalu baik dengannya," Tuan Alfred mendesah kasar sebelum melanjutkan ucapannya, " Kau pasti tidak tahu, kan?" tanyanya kemudian.
"Bagaimana bisa hubunganmu tidak terlalu baik? Apa karena status kalian yang berbeda ibu? Tapi tetap saja ikatan darah kalian masih kental," seloroh Tuan Frans.
"Aku hanya merasa kalau dia sedikit iri kepadaku, ayah begitu menyayangi aku begitu pula nyonya Elizabeth yang merupakan ibu kandungnya," terang Tuan Alfred.
"Hal itu wajar, ibumu meninggal setelah melahirkanmu dan dua tahun kemudian ayahmu menikah lagi dengan ibunya Kenan. Dalam penglihatanku, hubungan kalian juga baik-baik saja."
Tuan Frans cukup heran dengan cerita dari sahabatnya. Pasalnya apa yang dia lihat selama ini, hubungan kedua kakak beradik beda ibu itu terlihat akur-akur saja.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, cobalah berpikir positif kepada Kenan," nasehat Tuan Frans.
"Hmm ... baiklah, tapi aku minta kepadamu untuk menyimpan dokumen ini. Jika suatu saat aku tiada, apa yang aku punya adalah milikmu dan tidak ada yang bisa mengambil alihnya darimu," amanah Tuan Alfred.
Tuan Frans tidak langsung menjawab, dia berpikir sejenak sebelum mengiyakan permintaan dari tuan Alfred. Dia tidak pernah menyangka, tiga hari setelah kejadian itu -- tuan Alfred beserta keluarganya meninggal.
***
Baru saja kecelakaan itu terjadi, tuan Kenan datang ke kediaman tuan Frans. Dia menangis sejadi-jadinya dan menceritakan kalau kakaknya meninggal karena ada yang sengaja membunuhnya.
Hati tuan Frans terenyuh melihat tuan Kenan menangis seperti orang kehilangan akal sehat dan menunjukkan kesedihan yang mendalam. Dia tidak menaruh curiga sedikitpun dengan adik tiri tuan Alfred tersebut.
Dia merasa hanya ada salah paham diantara mereka. Namun, amanah tetaplah hal yang harus ditepati. Semua aset dan klan mafia milik tuan Alfred tetap menjadi milik tuan Frans.
Tadinya dia ingin menyelidiki kematian tuan Alfred yang begitu misterius. Namun, dari pihak keluarga Sanjaya memutuskan untuk menutup rapat masalah ini dan mengumumkan kalau kematian tuan Alfred beserta istri, anak, dan mertuanya adalah murni kecelakaan.
.
.
.
__ADS_1
***
Pikiran tuan Frans kembali lagi ke masa sekarang. Sampai detik ini, dia masih ingin mengetahui siapa dalang pembunuhan tuan Alfred. Tapi bodohnya, dia tidak menyimpan kecurigaan sama sekali terhadap tuan Kenan.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pintu membuatnya terhenyak dari pikirannya. Dia mempersilakan orang yang berada di balik pintu untuk masuk ke dalam. Ternyata orang itu adalah Ryu -- asisten kepercayaannya.
"Maaf ... saya menganggu, Tuan. Saya hanya ingin menyampaikan kalau dari pihak tuan muda Key telah mengirimkan beberapa barang untuk nona Jessie," lapor Ryu.
"Baiklah ... semua barang itu ditempatkan dimana?"
"Nona Jessie tidak mau menerimanya untuk ditaruh di dalam kamarnya karena akan membuat sempit, jadi saya memerintahkan agar barang itu ditaruh di ruangan kosong yang ada di kediaman utama," jelas Ryu.
"Kerja bagus ... baiklah, kau boleh pergi."
Setelah Ryu pergi, tuan Frans mengembangkan senyumnya sambil membayangkan sesuatu yang indah.
"Tak terasa anakku satu-satunya sebentar lagi akan menikah, semoga dia bahagia selamanya," gumam Tuan Frans penuh harap. Sejenak dia melupakan segala hal buruk yang ada dalam pikirannya.
.
.
.
***
Zeno masih merasa kesal karena ponselnya tidak dapat beroperasi. Sudah kesal, dadanya makin sesak saat melihat barang-barang seserahan yang dikirim Key untuk Jessie.
Harapannya makin tipis dan mungkin sebentar lagi akan benar-benar pupus. Sungguh menderita nasibnya karena ulah author yang tidak bertanggung jawab. Ingin rasanya dia teriak tapi takut disangka gila. Ingin rasanya dia buka baju tapi takut masuk angin.
"Zen! Lu gak bantuin angkat-angkat?" teriak Bang Ismed yang terlihat sedang mengangkut sebuah kulkas tapi hanya kardusnya saja.
Bang Ismed tersenyum penuh arti, dia menaruh kardus dan berjalan menuju mobil box pengangkut barang. Pria lucu itu mencari sesuatu yang bisa diangkut oleh Zeno. Dia memilih sebuah box kecil yang diperkirakan berisi aksesoris.
Bang Ismed berlari kecil memberikan box itu kepada Zeno yang masih kehilangan separuh nyawa karena nyesek.
"Nih! Bawa ke kamar non Jessie!"
Zeno hanya mengangguk dan berjalan perlahan menuju kamar Jessie. Sedangkan bang Ismed senyum-senyum sendiri bagai kuda.
"Beres tugasku, non Jessie!" gumam Bang Ismed sambil mengepalkan erat tangan kanannya dan mengayunkannya ke belakang.
Ternyata, bang Ismed memang diminta oleh Jessie untuk menggiring Zeno ke kamarnya. Tya telah meneleponnya dan menyampaikan pesan dari Bambang agar Jessie bisa membawa Zeno keluar dari kediaman keluarganya hari ini. Walaupun tidak tahu alasannya apa, Jessie senang karena dia bisa jalan keluar bersama Zeno.
***
Zeno sudah hampir sampai di depan kamar Jessie. Gadis cantik pujaan hatinya itu bahkan sudah berdiri sembari bersidekap di depan pintu kamarnya.
"Apa itu?"
"Ini barang seserahan dari tuan muda Key, Non ..." jawab Zeno profesional.
"Tarok aja di dalam kamar gua dan lo temenin gua shopping! Gua mau hepi-hepi dulu sebelum melepas status lajang," perintah Jessie.
Zeno hanya mengangguk dan menuruti perintah Jessie.
.
.
.
__ADS_1
***
Tidak jauh dari kediaman keluarga Wijaya -- Bambang, Nafa, Young Flash, dan Depe sudah menunggu di dalam mobil. Mereka menunggu sampai mobil Zeno keluar dari kediaman itu.
Tak berapa lama, mobil Zeno akhirnya terlihat. Dengan cepat Bambang menghidupkan mesin mobil untuk mengikuti mobil Zeno. Namun, mobil mereka malah tidak dapat dihidupkan.
"Lah! Kok mogok, sih!" gerutu Bambang.
"Perasaan tadi gak kenapa-kenapa, kok sekarang jadi gak bisa hidup?" Nafa kebingungan karena mobil yang mereka kendarai baru saja diservis dan termasuk keluaran model terbaru.
"Gimana kita bisa ngikutin mereka?!" tanggap Young Flash.
Mereka mendesah kasar bersamaan.
***
Di bawah sebuah pohon besar, tak jauh dari mobil Bambang, dan kawan-kawan parkir. Ada seorang pria muda duduk bersandar di batang pohon sambil memainkan laptopnya. Tiba-tiba ponsel yang berada di saku celananya bergetar. Dia langsung menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan telepon.
"Bagaimana?"
"Sudah beres sesuai perintah."
"Bagus ... pastikan teman-teman dari Zeno tidak dapat menghubunginya sama sekali sampai tujuan dari tuan Kenan benar-benar tercapai."
"Siap! Itu hal mudah bagi saya."
"Bagus! Kau memang bisa diandalkan!"
.
.
.
***
Ternyata semua itu adalah ulah dari tuan Abraham. Dia pula yang menyuruh seseorang untuk melumpuhkan total semua ponsel milik Zeno. Dia melakukan itu karena merasa harus membantu tuan Kenan.
Pergerakan Zeno juga sudah dipantau oleh anak buahnya dari berbagai sudut dan sisi. Tujuannya hanya satu, agar Zeno tidak mendapatkan informasi apapun dari teman-temannya dan tetap bisa mereka peralat sampai akhir.
.
.
.
***
Next episode comming soon ππ
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Guys ini detik-detik menuju tamat jangan sedih dan sabar menunggu ya wkwk
mampir kuy kesini novel kolaborasi lima author somplakπ
Zeno
Jessie
__ADS_1