
Sudah dua hari Young Flash berada di kediaman keluarga Wijaya. Keberadaannya tidak dapat dideteksi oleh para bodyguard yang berjaga. Dia berusaha mencari informasi dengan bersembunyi diatas pohon. Pria muda itu mempunyai motto, jangan menyerah sebelum tertangkap basah. Padahal kemarin dia sudah tertangkap oleh Zeno, memang aneh.
Pria berperawakan kurus itu dengan seksama mengintai pergerakan dari Zeno. Tapi dia belum mendapatkan apa-apa selama ini. Zeno terlihat biasa-biasa saja dan berperilaku layaknya bodyguard umumnya.
"Haish! Dari kemaren bodyguard ganteng itu gak ada gerak-gerik mencurigakan. Kayak mesra-mesraan gitu sama anak majikan. Mau sampe kapan gua di sini?" keluh Young Flash sembari memperhatikan Zeno menggunakan teropong miliknya.
Fokusnya terpecah ketika melihat seorang pria berpenampilan aneh bin lucu dan membawa-bawa sapu. Tentu saja itu adalah bang Ismed. Bang Ismed terlihat memanggil Zeno.
***
Bang Ismed menghampiri Zeno yang sedang berjaga di depan halaman kediaman utama keluarga Wijaya.
"Hoy! Zen! Zeno!" panggil bang Ismed sedikit berbisik kepada Zeno.
Zeno pun menoleh kearah bang Ismed. "Apa, Bang?"
Bang Ismed memanggil Zeno untuk mendekatinya dengan lambaian tangan. Zeno pun mengerti dan berjalan mendekatinya.
"Ngapa manggil-manggil gua, Bang?" tanya Zeno penasaran.
"Lu mau semur jengkol gak, Zen?" tawar bang Ismed.
"Serius, Bang? Mana?" Zeno terlihat antusias ketika mendengar nama makanan favoritnya disebut-sebut.
"Sini ikut gua." Bang Ismed mengajak Zeno untuk mengikutinya.
***
Akhirnya mereka berdua sampai di tempat bang Ismed biasa merenungi nasibnya. Tepatnya di dekat pohon bunga matahari yang ditanamnya.
Young Flash yang melihat hal tersebut, langsung mengikutinya dengan pindah dari pohon satu ke pohon lain layaknya lutung.
"Tumben aja lo mau ngasih gua semur jengkol, Bang ... emang ada apaan?" tanya Zeno sembari bersiap-siap untuk memakan semur jengkol milik bang Ismed.
Maafin gua, Zen ... gua ngelakuin hal ini karena terpaksa. Tapi gua jamin lu gak bakal nyesel makan semur jengkol gua.
"Wah! Enyak banget, Bang!" puji Zeno sembari mengacungkan jempolnya.
Tak berapa lama, pandangan mata Zeno menjadi kabur dan akhirnya dia pingsan. Ternyata semur jengkol itu telah dicampur dengan obat tidur.
***
Young Flash yang melihat hal itu menjadi terkejut. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Dia tadinya hanya berpikiran kalau saja dia bisa ikutan makan semur jengkol.
"Lah? Kok malah pingsan? Apa jangan-jangan ini jebakan?" gumam Young Flash sembari masih fokus meneropong.
Benar saja, tak lama kemudian datanglah Tommy dan Jefry. Dua pria suruhan tuan Kenan yang waktu itu salah menangkap bang Ismed. Mereka berdua terlihat menggotong Zeno menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.
Young Flash tidak tinggal diam, dia mengikuti mobil tersebut dengan berpindah dari pohon ke pohon lain. Kadang dia berguling di semak-semak dan merayap dengan cepat. Setelah mobil berhasil keluar dari kediaman keluarga Wijaya, dia ikut menempel diatas mobil.
.
.
__ADS_1
.
***
Kediaman keluarga Sanjaya.
Young Flash buru-buru turun setelah sampai di depan kediaman keluarga Sanjaya. Dia bersembunyi di tempat yang tidak terlihat CCTV. Wajahnya terlihat sumringah saat menyadari bahwa itu adalah kediaman keluarga Sanjaya.
"Wah! Ini 'sih pucuk dicinta ulam tiba. Gak sia-sia gua nunggu dua hari. Pasti akan ada hot news yang bakal gua dapet, muehehe," gumam Young Flash.
Young Flash pun mengendap-endap untuk menyelinap masuk ke kediaman keluarga Sanjaya tanpa ketahuan.
"Jangan-jangan perselingkuhan antara bodyguard itu dan Non Jessie udah ketauan. Makanya dia ditangkep," terka Young Flash sembari berlari menyelinap menghindari CCTV.
***
Zeno akhirnya tersadar, saat sadar dia sudah berada di sebuah ruangan yang cukup besar. Zeno perlahan bangun sembari memegang kepalanya yang masih sedikit sakit.
Samar-samar dia melihat sosok pria paruh baya tampan dan seorang nenek modis yang duduk di sofa seberang. Jelas itu adalah tuan Kenan dan nenek Elizabeth.
Tuan Kenan dan nenek Elizabeth memperhatikan wajah Zeno dengan seksama. Wajah mereka menunjukkan sebuah keyakinan bahwa pria muda yang berada dihadapan mereka adalah orang yang mereka cari.
"Maaf? Saya ada di mana sekarang?" tanya Zeno bingung.
"Namamu benar, Zeno?" Nenek Elizabeth mencoba memastikan agar tidak salah sasaran lagi.
Zeno memicingkan matanya seakan mencoba mengingat sosok wanita tua yang bertanya kepadanya.
Bukannya nenek ini yang ada di London? Neneknya Key? Kenapa gua bisa ketemu dia lagi?
Nenek Elizabeth terlihat senang dan langsung menghampiri Zeno. Tanpa rasa ragu nenek Elizabeth memeluk erat Zeno yang terlihat masih bingung.
"Ternyata kamu masih hidup, Nak! Nenek kira kamu sudah meninggal seperti ayah dan ibumu," isak nenek Elizabeth.
Eh? Ini maksudnya gimana? Kenapa neneknya Key peluk-peluk gua?
***
Suasana canggung dan membingungkan itu mulai mendapatkan titik terang saat nenek Elizabeth memberikan foto keluarga Zeno yang tempo hari tertinggal di kediaman keluarga Sanjaya yang berada di London.
Tuan Kenan pun menjelaskan kronologi kenapa Zeno bisa dibawa ke kediamannya dengan cara yang tidak biasa. Dia pun menjelaskan sedikit tentang masa lalu orang tua Zeno.
"J-jadi? Maksudnya saya adalah cucu Nenek dan Tuan adalah paman saya?" tanya Zeno dengan rasa ragu yang masih mencekat disetiap ucapannya.
Nenek Elizabeth dan tuan Kenan mengangguk bersamaan.
Zeno masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dia masih tidak percaya dengan perkataan dua orang yang baru dikenalnya itu.
"Kau menjadi bodyguard di kediaman keluarga Wijaya pasti mempunyai sebuah tujuan, kan?" selidik tuan Kenan.
Zeno membisu dan sejenak berpikir, apakah pernyataan tuan Kenan dan nenek Elizabeth benar?
"Apa kalian tahu tujuanku?" tanya Zeno.
__ADS_1
"Tentu saja kami tahu, kau pasti ingin membalas dendam atas kematian orang tuamu," jawab tuan Kenan.
Deg!
Zeno tersentak karena tuan Kenan mengetahui tujuannya menjadi bodyguard di keluarga Wijaya.
"Alfred adalah kakakku, aku tentu tahu kalau kau ingin menuntut sebuah keadilan dengan membalas dendam atas kematiannya," tukas tuan Kenan.
"Apa kamu yakin bisa membalas dendam sendirian?" tanya nenek Elizabeth.
Sejujurnya Zeno bingung karena selama ini balas dendamnya belum terealisasi. Dia malah terjebak perasaan dengan Jessie -- anak semata wayang tuan Frans Wijaya.
"Aku sebenarnya tidak terlalu yakin tapi karena aku hanya sendirian, aku berusaha untuk membalas dendam semampuku," jawab Zeno.
"Dengan cara apa? Membunuh Frans?" Tuan Kenan mencoba mengorek informasi dari Zeno.
"M-mungkin," ungkap Zeno sedikit ragu.
"Setelah kau membunuh Frans, aku yakin kau pasti akan mati saat itu juga," tanggap tuan Kenan.
Sekujur tubuh Zeno panas dingin saat mendengar kata mati. Sudah dua kali dia hampir meregang nyawa saat bertugas menjadi bodyguard di keluarga Wijaya.
"Kau tetaplah menjadi bodyguard di sana. Aku akan mendukungmu secara diam-diam," saran tuan Kenan.
Zeno menarik napas panjang. Dia masih bingung apa yang terjadi sebenarnya. Tuan Kenan nampaknya membenci tuan Frans, tapi mengapa dia malah menjodohkan anaknya -- Key dengan Jessie? Apa itu adalah bagian dari rencananya juga?
Kenyataan kalau dia adalah anak dari orang kaya juga masih mengganjal pikirannya. Bagaimana kakeknya tidak mengetahui hal ini dan malah hidup miskin di kampung? Sungguh banyak pertanyaan yang berputar di kepala Zeno.
"Kakek ... mengapa kakekku tidak mengetahui kalau ayahku adalah kakak Anda? Aku dan dia bahkan hidup dalam kemiskinan selama kurang lebih 20 tahun," ungkap Zeno.
"Lalu mengapa Anda malah menjodohkan Key dengan Jessie? Padahal Anda sangat membenci Tuan Frans," tambah Zeno. Sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ungkapkan.
Nenek Elizabeth yang berada di sana sepertinya juga terlihat bingung. Dia menatap wajah anaknya lekat untuk meminta sebuah penjelasan yang keluar dari mulutnya.
"Harta milik Kak Albert atau ayahmu, semuanya di hak miliki oleh Frans. Frans tidak mungkin sekaya ini bila tidak merampas harta ayahmu. Kami berusaha merebut kembali dengan cara menikahkan Key dengan Jessie," jawab tuan Kenan.
Zeno membelalakkan matanya dan seakan tidak percaya dengan pernyataan yang diungkapkan oleh tuan Kenan.
"Lalu? Bagaimana dengan kakek yang tidak mengetahui hal ini?" Zeno masih penasaran.
Nenek Elizabeth akhirnya menceritakan apa yang dia ketahui.
"Kakekmu adalah seorang tentara, sedangkan Albert adalah anak dari seorang mafia dan bahkan dia sendiri seorang mafia. Ibumu takut kakekmu tidak menyetujui hubungan mereka jika tahu kebenarannya dan akhirnya mereka berbohong dan berbicara kalau Albert bekerja sebagai bodyguard-nya Frans," jelas nenek Elizabeth.
"Ibumu adalah tangan kanan dari Frans, Nak," tambah nenek Elizabeth lagi.
Zeno yang mendengar penjelasan itu pun menjadi pusing. Mengapa semuanya menjadi serumit ini? Penjelasan nenek Elizabeth memang sama dengan penjelasan dari kakeknya. Kakeknya menjelaskan bahwa ayahnya adalah bodyguard dan ibunya adalah tangan kanan dari tuan Frans Wijaya. Mereka berdua meninggal karena tuan Frans, itulah yang diberitahukan oleh kakeknya.
.
.
.
__ADS_1
***
Masih penasaran? Tunggu next episode ya 🤭🤭🤭😁👍