
Bambang terlihat kesal karena mobil mereka mogok. Dia memukul kemudi setir mobilnya dengan kencang. Tiba-tiba terdengar sebuah bisikan surgawi dari Young Flash yang membuatnya sedikit tenang dan tercerahkan.
"Biar gua dan Depe aja yang ngejer mereka," celetuk Young Flash.
"Caranya? Lo mau gelantungan di pohon gitu?" Bambang mengerutkan keningnya karena dia paham sekali perangai temannya.
"Naik motor dulu baru gelantungan. Ya kan, Beb?" tanya Young Flash kepada Depe sambil mengerling manja.
Depe mengangguk cepat sambil mengacungkan jempolnya.
"Ya udah sono buruan!" perintah Bambang.
Bukannya pergi, Young Flash malah menengadahkan tangannya kepada Nafa yang duduk di kursi depan.
"Ngapa tangan lo begitu?" Alis Nafa bertaut karena bingung.
"Bagi duit buat beli motor," ucap Young Flash santai.
Bambang yang kesal langsung menjitak kepala Young Flash. "Bisa serius dikit gak, sih!"
"Gua serius lah! Gua mau beli motor di situ," Young Flash menunjuk sebuah showroom motor bekas yang tidak jauh dari tempat mereka parkir. Heran juga kok bisa kebetulan ada di situ.
Saat mereka sedang berdebat, ternyata Nafa dan Depe sudah turun. Hebatnya lagi mereka sudah datang dengan membawa motor masing-masing.
"Buruan naik!" teriak Nafa.
Kedua pria yang sedang bertengkar itu langsung melongo, karena heran melihat kedua wanita sudah mantap nangkring pada sebuah motor Ninja 250R.
Tanpa basa-basi, Bambang dan Young Flash langsung menaiki kursi belakang masing-masing motor.
Kedua wanita itu mengendarai motor bak pembalap yang kesurupan. Sehingga membuat kedua pria yang mereka bonceng sampai tak dapat berkata-kata. Ternyata, Nafa dan Depe sangat mahir mengendarai motor besar.
***
Tak lama kemudian, mereka akhirnya menemukan mobil yang dikendarai Zeno. Depe dengan kemahirannya mencoba menyalip kendaraan-kendaraan yang menghalangi jalannya. Dia bahkan melakukan standing dan mengendarai motor dengan melompati atap-atap mobil.
"Sayang ... aku takut!" Young Flash merasakan jantungnya akan copot karena Depe sangat bar-bar mengendarai motornya.
"Santuy ... pegangan aja yang kuat!" teriak Depe.
Nafa tidak mau kalah, dia bahkan mengendarai motornya melewati trotoar karena kemacetan yang mengular. Dia bahkan mengambil jalan yang tidak mudah, yaitu jalan yang digunakan kendaraan yang berlawanan arah. Bambang bahkan merasa nyawanya akan hilang saat dibonceng Nafa.
"Gila lu, ya?! Gua masih mau hidup," protes Bambang.
"Cerewet amat, sih!" Nafa mengangkat kaki kirinya dan melepas sepatu sneaker-nya, lalu menyumpalkannya ke mulut Bambang. Heran kok bisa sempet.
Belum juga jantungnya normal, Bambang sudah dibuat tambah shock karena ada sebuah mobil truk melaju kencang di depan motor mereka. Beruntung Nafa sangat cekatan dan dapat menghindari mobil tersebut.
"Bahaya juga lewat jalur berlawanan," Nafa mengarahkan motornya ke jalan yang benar eh jalan yang seharusnya.
.
.
__ADS_1
.
***
Sementara di mobil Zeno.
Selama perjalanan, belum ada dialog yang tercipta diantara Zeno dan Jessie. Sedari tadi, Jessie memperhatikan Zeno dari tempat dia duduk. Gadis itu memang sengaja memilih untuk duduk di kursi bagian belakang.
Jessie menunggu Zeno berbicara lebih dulu tapi sampai detik ini, dia hanya diam dan fokus menyetir mobilnya. Jessie merasa kesal lalu beranjak dari tempat duduknya dan menjitak kepala bodyguard tampan yang dicintainya dari belakang.
Pletak!
"Aduh! Sakit, Non." Zeno mengusap-usap kepalanya yang dijitak oleh Jessie.
"Gak usah pake non! Kita cuma berdua juga, gak ada siapa-siapa," perintah Jessie.
Zeno terdiam sejenak, namun akhirnya dia tetap menuruti kemauannya Jessie.
"Iya, Jes ..." ucap Zeno.
Jessie mengulum senyumnya tipis, tapi tiba-tiba dia berusaha untuk bersikap biasa saja. Namun, tetap saja senyumnya masih terlihat walaupun samar.
Rasanya Jessie ingin memeluk pria yang berada di depannya itu. Pergi menjauh dan hidup bahagia berdua. Hidup dalam kesederhanaan sudah cukup asal bisa bahagia lahir dan batin.
"Zen ... kita kabur aja, yuk! Mumpung kita ada diluar. Gua rela lo bawa kemana pun, hidup susah gua rela," pinta Jessie. Entah dari mana keberanian melontarkan kalimat itu muncul.
Deg!
Jantung Zeno berdebar mendengar pernyataan dari Jessie. Kini dia mengalami dilema, apakah dia harus menerima permintaan Jessie dan melupakan tujuan awalnya?
"Maaf ..." lirih Zeno.
Kata 'maaf' membuat hati Jessie hancur, karena berarti penolakan tapi disampaikan secara sangat halus. Gadis itu tak kuasa menahan cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Jessie berusaha menahan suara tangisannya agar tidak terdengar oleh Zeno. Namun, Zeno tetap mendengarnya.
Zeno juga tak kuasa menahan air matanya, dia tak terisak tapi hatinya sangat sakit. Bukan hal mudah menolak permintaan dari Jessie, karena dia butuh kemantapan hati untuk mengatakan kata 'maaf'.
.
.
.
***
Bambang, Nafa, Young Flash, dan Depe masih berusaha mendekati mobil Zeno. Hampir saja tujuan mereka tercapai, ada beberapa buah motor juga yang mengikuti mereka. Bahkan orang-orang itu menembaki mereka.
Ban motor yang dikendarai oleh Depe dan Young Flash terkena tembakan sehingga lajunya motor menjadi oleng. Beruntung Young Flash adalah pria lincah, sebelum dia dan kekasihnya benar-benar mengalami kecelakaan -- dia dan Depe melompat keatas sebuah truk pengangkut beras yang sedang berjalan di sampingnya.
"Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Young Flash yang langsung ditanggapi anggukan oleh Depe.
"Kita gak bisa ngejer lagi, kayaknya Zeno dikawal ketat supaya gak ketemu kita. Semoga aja Bambang dan Nafa berhasil." Young Flash menghela napas kasar dan merebahkan tubuhnya ditumpukkan beras.
__ADS_1
Sementara itu, Nafa dan Bambang masih berusaha mengejar Zeno. Sepanjang perjalanan mereka ditembaki dari segala penjuru, beruntung Nafa sangat mahir menghindar. Namun, lama kelamaan dia juga tak sanggup melawannya.
"Gua udah gak sanggup, Bang! Yang ada kita mati kena tembak!" pekik Nafa.
"Oke! Kita coba lain waktu! Terus apa rencana lo?" tanya Bambang.
"Lo bisa berenang, kan?"
Belum sempat Bambang menjawab, Nafa mengarahkan motornya ke sebuah sungai yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Dia melompatkan motornya melewati pagar pembatas jembatan. Alhasil motor pun terlempar dan mereka juga ikut terlempar ke sungai.
Byur!
Beruntung mereka selamat dan dapat menghindari serangan dari musuh. Mereka berdua berenang ke tepian sungai dan mengistirahatkan tubuh di sana.
"Hahh ... hahh ... seenggaknya nyawa kita masih selamat. Gila ... gua gak nyangka, mereka berpikir sampe mateng banget. Zeno dikawal sampe segitunya," ucap Bambang dengan napas terengah.
"Musuh kita bukan orang sembarangan, gua harus cari lebih banyak partner mafia yang lebih hebat dari mereka," tanggap Nafa.
.
.
.
***
Tiga hari setelah kejadian itu, mereka sama sekali tidak dapat menemui Zeno. Segala cara yang mereka lakukan selalu saja dihalangi. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menghentikan misi dan beralih mencari informasi.
Sementara itu, Zeno diminta oleh tuan Kenan menemuinya. Dia bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, dia bahkan tidak tahu kalau sedang diperalat dan hanya mengiyakan apapun yang dikatakan oleh pamannya itu.
"Tiga hari lagi adalah pernikahan Key dan Jessie. Hari itu juga adalah hari kita akan menghabisi nyawa Frans. Sebelum kau menghabisi nyawanya, kau bisa mengungkapkan amarahmu kepadanya. Aku janji akan melindungimu dan kau akan hidup tenang walaupun telah membunuhnya." Tuan Kenan menepuk-nepuk pundak Zeno yang hanya diam.
Tiga hari lagi, dia akan berhasil membalaskan dendam kematian orang tuanya -- tapi dihari itu juga dia akan kehilangan seseorang yang dia cintai untuk selama-lamanya. Itulah yang dipikirkan oleh Zeno. Namun, dia sudah yakin dengan keputusannya.
"Baik, Om."
.
.
.
***
Next episode comming soon 😁👍
Belum tamat ini ya, santuy jangan kesel dulu 😁😁😁
Salam dari Zeno dan Jessie yang unyu hehe
Kuy mampir novel Kak Aldekha Depe yang kece badai 😁👍
__ADS_1