Balas Dendam Bodyguard Kampungan

Balas Dendam Bodyguard Kampungan
Getaran hati


__ADS_3

Nafa masih kebingungan karena Bambang tak kunjung sadar. Akhirnya dia mengambil sebaskom air dan menyiramnya ke wajah Bambang. Sontak Bambang langsung terbangun karena guyuran air tersebut.


"Astogeh! Banjir bandang!" pekik Bambang.


"Heh! Mesum! Apa 'sih yang lo pikirin sampe mimisan kayak gitu?" Nafa terlihat kesal dan berkacak pinggang dihadapan Bambang.


"Mikirin apa? Saya tidak punya pikiran kotor, Nyi ... itu adalah salah Nyi sendiri yang memakai baju kurang bahan," kilah Bambang.


Nafa tidak terima dan melemparkan baskom yang dipegangnya kearah Bambang. Dia kesal karena Bambang masih saja berkilah dan masih memanggilnya dengan sebutan Nyi.


"Nasib kok apes amat, ya ... udah kena tembak sekarang kena lempar baskom," keluh Bambang dengan suara lirih karena menahan rasa sakit.


Nafa memang kesal kepada Bambang. Namun, gadis itu juga merasa kasihan karena Bambang mengalami luka tembak yang cukup serius.


"Kesiniin kaki lo! Biar gua liat seberapa parah," perintah Nafa.


"Tembakan peluru dengan kecepatan medium 300-600 meter per detik. Mereka menggunakan submachine guns." Bambang mencoba menganalisa kecepatan peluru yang melukai betisnya.


"Karena kecepatan sedang kerusakan jaringannya gak begitu parah. Lo harus tahan pas gua lagi operasi pengangkatan peluru," tutur Nafa dengan santai.


"Aje gile! Emang gak ada bius apa?" protes Bambang.


"Ada ... tapi sayang kalo dipake buat lo."


"Ish! Jahat sekali! Jangan gitu lah! Masa tega banget sama saya." Bambang tidak terima kalau Nafa akan mengoperasi betisnya tanpa obat bius. Dia memasang tampang memelas agar gadis cantik dihadapannya mau berbelas kasihan.


"Oke! Tapi suatu saat lo harus ganti rugi," tutur Nafa yang akhirnya luluh juga.


Bambang mengangguk dengan cepat agar Nafa tidak berubah pikiran.


***


Sekitar satu jam setengah, akhirnya Nafa selesai mengangkat peluru yang bersarang di betis Bambang. Dengan alat bedah seadanya, nyatanya operasi itu berhasil dengan baik.


"Mending lo istirahat dulu ... lagian lo udah kehilangan banyak darah," ujar Nafa.


"Iya ... terimakasih, Nyi eh maksudnya Nafa." Bambang langsung nyengir kuda agar Nafa tidak jadi marah kepadanya.


Nafa hanya tersenyum kepada Bambang, sehingga membuatnya menjadi salah tingkah.


Untung aja gua ketemu dia ... kalo gak gua bisa mati kehabisan darah di hutan, batin Bambang.


Bambang merasa kalau Nafa merupakan Dewi penyelamat bagi dirinya. Tiba-tiba terlintas dipikirannya kejadian sebelum dia terkena tembakan. Dia pun masih tidak habis pikir, siapa orang yang sudah mengejar dan melukainya.


***


Satu jam sebelum Bambang terkena tembakan.


Sudah seharian dia mencari keberadaan Young Flash dan Depe yang kabur. Dari pagi hari hingga malam dia tidak dapat menangkap pasangan yang diklaim lincah oleh semua orang itu. Bambang bisa mengetahui keberadaan mereka berdua karena Zeno sebelumnya menempelkan alat pelacak di baju Young Flash.


"Itu orang keturunan belut kali, ya? Udah ketemu eh larinya cepet banget. Heran!"


"Dulu pas masih kecil dia memang suka berbuat sesuatu di atas pohon, sih? Berarti dia juga keturunan monyet. Aish! Entah mana yang bener."


Bambang sungguh frustasi dengan belum berhasilnya dia menangkap Young Flash dan Depe. Segala pikiran absurd-nya pun keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Bambang yang hampir putus asa itu akhirnya memutuskan untuk beristirahat di mobil bututnya. Tanpa sengaja, baru saja dia ingin memejamkan matanya -- dia melihat sosok Young Flash dan Depe yang berjalan melewati mobilnya.


"Pucuk dicinta ulam tiba, muehehe."


Bambang keluar dari mobilnya dan berlari mengejar pasangan itu.


"Mau lari ke mana lagi kalian?!" pekik Bambang.


Young Flash yang melihat Bambang pun terkejut. Tanpa pikir panjang, pria lincah itu menggendong Depe dengan gaya bridal dan berlari dengan kecepatan penuh. Bambang berlari dengan segenap kekuatannya agar tidak kehilangan jejak sahabat lamanya itu. Namun, ada hal yang tidak terduga terjadi.


Dor!


Suara tembakan memecah keheningan malam itu. Betis Bambang terkena peluru yang dilontarkan oleh orang yang tidak dikenal. Bambang yang merasa kesakitan pun hampir saja tidak berdaya dan menyerah. Rasa sakit akibat tembakan itu bahkan sampai ke kepalanya.


Bambang berusaha berlari untuk menghindari tembakan yang membabi buta kearahnya. Dia melihat kearah belakang ada tiga orang pria misterius berpakaian serba hitam dengan memakai topi dan masker berlari mengejar dirinya.


"Sialan!"


Bambang berlari tergopoh-gopoh sambil menahan sakit di kakinya. Disela-sela pelariannya, dia mencoba menghubungi Zeno untuk memberitahu kalau dia telah diserang. Namun, suara tembakan yang menembus pohon didepannya membuat dirinya kaget dan tak sengaja menjatuhkan ponselnya.


"Gua bisa mati kalo gak cepet-cepet lari." Bambang terpaksa meninggalkan ponselnya yang terjatuh dan berlari kearah hutan.


***


Bambang melamun mengingat kejadian yang dialaminya barusan sambil melihat langit-langit rumah gubuk itu. Lamunannya pecah karena Nafa membuatnya kaget.


"Hoy! Bengong aja!"


"Astogeh! Bikin kaget aja!"


"Ini apa?" tanya Bambang seakan curiga dengan minuman tersebut.


"Wedang jahe," jawab Nafa singkat.


Bambang memperhatikan minuman yang diberikan oleh Nafa. Pria itu masih merasa curiga dengan minuman itu.


"Gak usah diliat sampe gitu amat ... itu gak beracun kali," celetuk Nafa.


"He-he ... maaf, ya ... saya harus waspada karena baru mengalami kejadian mengerikan," sahut Bambang.


"Santai aja ... gak usah sok formal pake kata saya segala." Nafa sejenak menghentikan perkataannya dan menyesap wedang jahe miliknya.


"Kenapa lo bisa bisa kena tembak?" tanya Nafa. Gadis itu sepertinya penasaran.


Bambang menghela napasnya kasar, dia bahkan masih bingung kenapa dia tiba-tiba diserang dan ditembak.


"Entah ... gua juga gak tau. Gua juga gak bisa hubungi temen gua, soalnya hape gua jatoh tadi di pinggir hutan," jawab Bambang.


Nafa merogoh sesuatu dari kantung celananya. Ternyata itu adalah benda pipih pintar miliknya. Gadis itu menyodorkannya kepada Bambang.


"Pake ini ... sapa tau lo bisa tau jawabannya waktu lo telepon temen lo."


"Emang di sini ada sinyal?" Bambang mengeryitkan dahinya karena merasa heran.


"Ini memang hutan ... tapi ini masih dikawasan ibukota. Jadi ... masih ada 'sih walaupun suka ngadat."

__ADS_1


Bambang mencoba menghubungi Zeno. Tapi ternyata dia lupa nomor Zeno.


"He-he ... gua gak tau nomor temen gua." Bambang mengembalikan ponsel itu kepada Nafa.


"Hadeh ... dasar! Mending lo istirahat, besok gua anter lo pulang."


"Oke, deh ... makasih ya, Nafa." Bambang dengan tulus mengucapkan rasa terimakasihnya kepada gadis itu. Senyuman Bambang begitu manis sehingga membuat kadar glukosa dalam darah Nafa bertambah banyak.


Ih! Masa 'sih gua tertarik dengan cowok yang asal-usulnya gak jelas? Terus mesum lagi, batin Nafa yang seakan menolak getaran dihatinya.


.


.


.


***


Epilog episode ini :


"Orang yang nelpon bilang apa?" tanya Depe kepada Young Flash.


"Dia bilang yang punya ponsel ini dalam bahaya dan gak boleh balik lagi ke kediaman keluarga Wijaya."


"Emangnya kenapa 'sih dengan keluarga itu?"


"Aku juga kurang tahu ... tapi ini kayaknya masalah yang cukup serius karena menyangkut nyawa seseorang. Tadi kamu denger ada suara tembakan?"


Depe menganggukkan kepalanya.


"Aku rasa ini ponsel milik Bambang dan nyawanya dalam bahaya. Kayaknya aku harus bantu sahabat masa kecilku itu," seloroh Young Flash.


.


.


.


***


Next episode comming soon 😁👍


Kuy mampir ke novel milik teman-teman author yang tak kalah serunya 😁👍


pokoknya mantul deh muehehe


OB Kerudung Biru - Putri Tanjung



Reinkarnasi - Ranychan



Pernikahan Paksa Sang Pewaris - Desi Manik

__ADS_1



__ADS_2