
Ima dan Mila berjalan dengan riang, sesekali mereka becanda gurau. Satya yang berjalan dibelakang mereka tersenyum senang. Ia bahagia melihat senyum pada putrinya. Mila begitu kehilangan sosok Ibu padahal Ibu kandungnya masih ada. Ibu kandung Mila sudah tidak mau dan peduli lagi terhadapnya. Ditinggalkan setelah dilahirkan, bahkan untuk melihat wajah bayi merah Mila Mamynya tak sudi.
Satya senang bertemu dengan Ima walaupun tidak sengaja. Hari ini niat untuk membuat putrinya senang jadi lebih bertambah senang karena kehadiran Ima. Mila seperi bermain bersama Mamynya
"Mila seneng main salju?"
"Iya, Ini pertama kali Mila main"
"Lebih senang lagi bisa main sama-sama ibu Ima" Mila memeluk Ima erat dan Ima membalas pelukan Mila
"Ayah cek-in dulu ya buat nambah tiket buat Ima" Satya pamit sebelum pergi ke loket pembelian tiket.
Mila tiba-tiba berjongkok. Ima reflek merentangkan tangannya di hadapan Mila tanda akan menggendong. Mila girang dan melompat kepelukan Ima dan Ima menggendongnya.
'Eh..buset...berat juga nih bocah'
"Aduh.... Mila cape ya?"
Mila hanya mengangguk kepalanya dan bersandar di bahu Ima
'Untung gw tinggi besar, biasa gendong anak-anak TK'
"Mila sudah sekolah belum?"
"Mila mau sekolah tempat Ibu Ima aja, sama Ibu Ima"
"Boleh, nanti minta sama Ayahnya ya"
Mila kembali hanya menggukkan kepalanya di bahu Ima. Mila sedang menikmati rasanya di peluk, digendong dan disayang-sayang oleh orang yang Ia bisa panggil IBU
"Dirumah Mila sama siapa kalau ayah kerja?" Ima bertanya basa-basi agar Mila tidak mengantuk, Ia merasa takut bila Mila tertidur. Yang ditakutkan bukan harus menggendong tapi batalnya bermain salju.
__ADS_1
'Mumpung gratis kapan lagi'
'Jadi jangan tidur ya bocah'
Selama Ima bekerja di Bekasi belum pernah Ia memasuki arena permainan salju ini. Selain karena harganya yang sayang untuk Ima keluarkan uangnya juga karena sempitnya waktunya.
'Hidup gratis, ayo main sampai puas'
Ima senyum-senyum sendiri.
Mila mengelus-elus pipi kanan Ima. Ima merasa dalam moment canggung. Yang bisa Ia lakukan hanya mengelus punggung Mila
"Dirumah Mila sama siapa kalau ayah kerja?" Ima mengulangi pertanyaannya
"Sama mbah"
"Tapi Mbah gak asyik, Mila gak boleh ngapa-ngapain"
"Memang apa yang tidak boleh?"
"Itu tandanya Mbah sayang sama Mila"
"Marah-marah terus kok sayang?"
"Sayang itu kayak Ayah, Mila mau apa aja diturutin. Tapi ayah jarang ada dirumah, kerja melulu"
"Sayangnya Mbah ke Mila itu jagain Mila dari bahaya. Kalau main diluar banyak kendaraan kalau Mila ketabrak bagaimana?"
"Kan Mila jadi sakit kan"
Mila mengangguk-anggukan kepala
"Kalau Mila main di kamar, kamarkan untuk tidur. Jadi Mbah melarang itu untuk kebaikan Mila karena Mila masih kecil harus dijaga."
__ADS_1
"Mila sudah besar"
"Mila sudah empat tahun"
"Iya, berat lagi" canda Ima cengengesan
"Kan sudah besar jadi berat Ibu" Mila menggesekkan kepalanya di leher Ima.
Ima yang kegelian tertawa
"Hahahaha...."
"Ampun Mila..geli" Tubuh Ima agak bergoyang karena kegelian dan kehilangan keseimbangan
Tepat saat Ima hampir terjatuh datang Satya dan menangkap tubuh Ima. Dipeluknya tubuh Ima dan Mila
"Bercandanya asyik banget sih.... "Sindir Satya gemas
"Kalau jatuh pasti sakit loh"
"Maaf-maaf saya kegelian di kelitikin Mila" Ima berusaha melepaskan pelukan mereka bertiga dengan mendorong sikutnya kearah Satya. Namun Satya diam bergeming.
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung