
"Uhuk... uhuk..." Dara tersedak air liurnya sendiri melihat adegan Uwu-uwu pasangan yang entah pasangan atau bukan
"Batuk? Di komik aja..." Ledek Ima setelah kepergian Satya
Dara hanya bisa memandang wajah Ima dengan tatapan tajam
"Hutang penjelasan ya Lo ma gw"
"Lo hutang 250rb kurangan bayar kosan"
Plak
Refleks tangannya Dara mendarat di pundak Ima
"Ih...Tante jangan pukul orang lain sembarangan donk"
"Kan mama jadi kesakitan"
"Katanya Mbah itu perbuatan yang tercela" Mila protes dengan menambahkan wejangan ala nenek-nenek
Dara hanya bisa tersenyum canggung
"Maafin Tante ya"
"Kok maafnya ke aku, harusnya ke mama. Tante harus minta maaf sama mama"
Ima hanya bisa tersenyum menang, sambil menaik turunkan alisnya menatap wajah Dara
"Mama Ima, Tante Dara minta maaf ya"
Senyum Ima menghilang. Tatapan mata Ima tajam memandang Dara. Di gigit daging sapi dari piringnya dengan kasar.
Dara hanya memberikan tanda 'V' dengan jari telunjuk dan jari tengahnya
"Dagingnya keras ya Ma?" Satya kembali duduk disamping kanan Ima dengan mengelus kepala Ima
"Ayah, tadi Tante itu mukul mama" Adu Mila di samping kiri Ima
"Bukan mukul Mila sayang" Ima mengelus kepala Mila
__ADS_1
"Tante Dara memang suka gemesan orangnya, jadi itu bukan mukul tapi gemes"
"Mila gak ngerti"
"Kayak Mila gemes sama boneka maunya dipelukkan bonekanya"
Mila menggukkan kepalanya
"Nah, kalau Tante Dara memukul pundak"
"Memukul itu perbuatan tercela mama katanya Mbah. Ya kan Ayah?"
"Iya sayang" Satya mengelus kepala Mila melewati punggung Ima dan membuat tubuhnya menempel dengan tubuh Ima.
Ima merasa risih dan memajukan tubuhnya tapi mentok meja
'Kenapa jadi terhimpit begini sih'
Dara terkejut bukan main melihat adegan keluarga bahagia di depan matanya. Dara hanya bisa menggigit sendoknya sendiri karena makanan pesanannya belum datang.
'Baru ngerasa jodohku datang... tahunya jodohnya Ima'
'Laku keras banget sih Ima, baru kelar ma Bimo dah dapet paket lengkap Satya'
*
"Tapi pukulannya Tante Dara gak sakit kok. Kayak dicubit kalau ada tante-tante yang gemes" Ima mencoba memberikan pengertian
"Kalau dicubit dipipi tetap saja sakit mama"
"Iya, tapi itu karena gemas bukan perbuatan yang tercela Mila"
"Iya deh" Mila mengalah dengan wajah cemberut
"Makasih Mila sayang" Ima refleks mencium pipi Mila gemas
"Mila anak pintar" Satya tiba-tiba ikut mencium pipi Mila, tentu saja dengan mendekatkan tubuhnya ke Ima
'Ini berasa di modusin ya'
"Ya sudah, Mila makan lagi ya nak" Ima mencoba mendorong tubuh Satya agar kembali duduk
__ADS_1
"Makan yang banyak ya Ma" Satya akhirnya duduk tenang tapi tidak dengan tangannya yang mengelus punggung Ima
Ima melihat tatapan horor dari Dara. Tapi menghiraukannya.
"Makan Tante Dara... itu pesanannya sudah datang"
Dara menggigit daging sapinya dengan kasar seperti Ima tadi tanpa memalingkan wajahnya memandang Ima
*
Selesai makan malam, jam sudah menunjukkan pukul delapan tiga puluh. Mila mulai mengantuk.
"Mama gendong" Mila merengek
Ima terpaksa menggendong Mila yang mulai memejamkan matanya
"Ya sudah mari kita pulang"
"Parkir dimana?"
"Mobilnya aku parkir pakai parkir valet, jadi kita cukup nunggu di lobby saja. Ayuk" Satya menuntun Ima berjalan
Ima masih risih dengan perlakuan Satya juga ditambah tatapan mata Dara yang seperti menghakimi
'Ini bukan adegan selingkuhan ya'
"Mas Satya gendong Mila aja ini. Saya pulang naik motor bareng Dara"
"Gak bisa Ma. Tadi kan saya sudah bilang saya antar biar tahu tempat tinggal kamu disini"
"Motor biar Bu Dara yang bawa"
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉