
"Kamu sendiri kan Ma?"
"Hah?"
"Aku juga sendiri"
"Jalan bareng yuk"
Ima kehilangan kata-kata
'Ini ngomongin apaan ya?'
Satya mengganggap diamnya Ima sebagai tanda setuju. Ia tersenyum senang. Dilambatkan laju mobil yang dikendarainya dan menepikan di bahu jalan
Dielus kepala Ima lembut dan Satya tanpa aba-aba mencium kening Ima. Mata Ima membulat terkejut menerima perlakuan Satya yang tiba-tiba.
Ima bingung, kata-kata miliknya tidak bisa keluar dari mulutnya
Satya kembali melajukan mobilnya. Senyum cerah menghiasi wajahnya, senandung kecil sesekali ia dendangkan . Beberapa kali Satya juga mencuri pandang ke arah Ima.
"Kita mulai dari nol ya Ma" Satya menggenggam tangan Ima erat dan mencium punggung tangan Ima
Ima masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
'Tadi itu kita bicarakan apa ya?'
'Jalan bareng, jalan-jalan?'
'Tapi kenapa Satya main sosor aja kayak soang'
'Mulai dari nol, emang dia mau ngisi bensin?'
*
*
__ADS_1
"Kita sudah sampai Ma"
Suara Satya mengembalikan lamunan Ima. Sepanjang perjalanan Ima sedang bingung dengan tingkah Satya
Setelah 2 jam perjalanan akhirnya mereka sampai didepan rumah milik Satya di daerah Bogor
Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, Satya membukakan pintu untuk Ima.
"Ayo Ma" Tuntun Satya
Ima kembali ke kesadarannya.
"Rumahnya siapa Mas?"
"Rumah masa depan kamu sama aku juga Mila" Satya berbisik ditelinga Ima
*
Ima meletakkan Mila pelan-pelan di kasur miliknya. Kamar Mila benar-benar sudah seperti kamar contoh yang ada di majalah. Rapih sekali.
"Tidur barengnya setelah SAH ya" Satya mengedipkan sebelah matanya
Ima benar-benar kehilangan kata-katanya menerima perlakuan Satya
"Ini daster Mbah Sari semoga muat ya neng geulis" Mbah Sari pengasuh Mila memberikan daster
"makasih banyak mbah"
"Nanti kalau gak muat, kamu bisa pakai baju saya" Satya masih saja menggoda Ima di depan pintu kamar Mila
"Muat kok Aa... dasternya besar dan panjang. Palingan sedengkul Eneng kalau dipakai"
"Sudah biar neng geulis tidur sudah malam banget ini Aa" Mbah Sari mendorong Satya dan menutup pintu kamar
Ima bernafas lega, di kuncinya pintu kamar untuk membuat dirinya aman dan nyaman. Takut-takut saat Ima sedang berganti pakaian Satya masuk kamar.
__ADS_1
*
Sepanjang malam Ima bingung dengan sikap Satya. Ia ingat dulu Satya tidak akrab dengan dirinya karena perbedaan usia, Satya selalu menganggap bahwa Ima adalah 'Anak kecil'
"mami.. Satya tidak mungkin menikahi anak kecil seperti dia" Satya merajuk sambil menunjuk Ima di seberang meja makan kala pertemuan keluarga di Villa Puncak
Ima yang merasa di sebutkan namanya ditambah dengan ditunjuk-tujuk, refleks menengokan wajahnya ke arah suara. Saat itu Ima sedang mengunyah mie ayam dengan mie yang masih menjuntai di mulutnya dengan tatapan aneh
'Kenapa itu orang nunjuk-nunjuk?'
'Kalau mau mie ayam kan tinggal ambil itu di meja sana'
"Gubuk Mie ayamnya ada di meja ujung mas, Tante" Ima yang kala itu masih berusia 19 tahun dengan polosnya menunjukkan tempat gubuk mie ayam
"Sebelahan sama bakso"
"Tapi masih enak mie ayamnya" Ima memberikan du jempolnya
Many Satya tertawa lucu melihat Ima
"Tuh... lihat... lucu begitu anaknya"
"Kalau menikah itu lebih baik sama yang lebih muda" Bisik mamy Satya
Satya kehilangan kata-katanya melihat Ima dan mendengarkan bisikan Mamynya
Dan setelah dua tahun dari pertemuan keluarga itu Ima mengetahui bahwa Satya selalu memandangnya 'anak kecil'
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉