
Runtuh
By. Feby Putri
Ku terbangun lagi
Di antara sepi
Hanya pikiran yang ramai
Mengutuki diri
Tak bisa kembali
'Tuk mengubah alur kisah
Ketika mereka meminta tawa
Ternyata rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Ketika kau lelah
Berhentilah dulu
Beri ruang, beri waktu
Mereka bilang, "Syukurilah saja"
Padahal rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Kita hanyalah manusia yang terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah sekali saja ku menangis?
Ku tak ingin lagi membohongi diri
Ku ingin belajar menerima diri
Ima masih menangis, namun suaranya sudah melemah. Bahkan posisi badannya tergeletak di pasir pantai sebagai alasnya.
__ADS_1
Ima melepaskan semua perasaannya, sakit hatinya, luka batinnya, masa lalunya juga kepura-puraan bahwa ia baik-baik saja. Selama ini Ima memakai topeng kepura-puraan bahwa ia baik-baik saja. Pura-pura baik-baik saja ditinggal menikah Satya, pura-pura baik-baik saja ditinggal meninggal kedua orang tua nya, pura-pura baik-baik saja di tipu mantan pacarnya, pura-pura baik-baik saja di tinggal tanpa kabar gebetannya, pura-pura baik-baik saja ditikung teman baiknya, pura-pura baik-baik saja ditinggal menikah dengan Bimo.
\*
Satya tanpa ia sadari air matanya ikut turun.
' Maaf kan saya Ma'
'Saya sudah mendapatkan karma saya'
'Sekarang saatnya saya menepati janji saya dulu'
\*
Satya usia 21 tahun dan Ima 13 tahun. Mereka sempat melakukan acara pertunangan kecil-kecil saat acara pertemuan keluarga di Bandung. Bertempat di Rumah eyang Santi, salah satu sesepuh yang masih sehat. Satya mengucapkan janjinya untuk Ima, begitu juga sebaliknya.
"Saya janji akan membuat Ima bahagia bersama saya" Satya memberikan kalung kepada Ima kala itu
prok
prok
prok
Suara tepuk tangan riuh menjadi saksi janji mereka kala itu. Tapi itu dahulu dan sempat dilupakan oleh Satya, namun tidak oleh Ima.
Ima menepati janjinya untuk menurut dengan Satya, terbukti saat Satya meminta pembatalan perjodohan agar ia bisa menikahi wanita pujaannya.
\*
\*
__ADS_1
\*
"Ima" Satya mengelus puncak kepala Ima
"Balik mobil yuk, sudah mulai panas"
"Orang-orang juga sudah mulai ramai" Satya menuntun Ima yang terlihat lemah
Ima kehilangan suaranya karena terlalu lama menangis dan berteriak hanya bisa menganggukkan kepalanya dan membiarkan tubuhnya dituntun oleh Satya.
Satya dengan sabar menuntun Ima, membukakan pintu mobil, memakaikan sabuk pengaman. Satya memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
"Kita cari makan dulu yuk"
"Sudah siang"
Ima hanya menggukkan kepalanya. Satya mengerti Ima kehabisan suara, Ia keluar mobilnya dan mencari warung untuk membeli air minum. Ima yang tidak tahu maksud Satya hanya mengerutkan keningnya melihat Satya pergi.
Beberapa saat Satya kembali membawa kantong plastik hitam ditangan kanannya. Satya masuk kedalam mobil dengan senyuman. Dibukanya kantong plastik hitam itu
"Ini minum dulu Ma" Satya menyodorkan botol minuman setelah Satya buka tutupnya
"Pasti hauskan"
"Tadinya mas mau ngajak makan dipinggir pantai disitu, tapi penuh orang gak jadi deh"
"Kita cari tempat lain yang sepi ya" Satya menyalakan mesin mobilnya
Ima hanya menganggukan kepalanya dan meminum air dari botol hingga tandas
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉