Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 12


__ADS_3


Nina masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Bagas menjadi seseorang yang mau menolong, membantu, membela dan memberi kepadanya yang bukan siapa-siapa, orang lain dalam hidupnya. Memang mereka saling mengenal, dan ia memang pernah menolong Bagas bahkan dalam keadaan yang memalukan. Tapi kebaikan dan perlakuan yang Bagas berikan saat ini terlalu berlebihan untuknya. Membiarkan ia menginap sudah dua malam, membelanya dari tuduhan sebagai 'pelakor' walau belum clear dengan Maria langsung. Bahkan sekarang Bagas mempercayai dirinya untuk mengelola Coffee Shop yang sudah berpindah kepemilikan.


Mengelola Coffee Shop menurut dirinya sendiri tanpa intervasi dari Bagas. Bagas membebaskan dirinya berekspresi, bereksperimen dengan Coffee Shop tersebut. Bahkan pembagian keuntungan untuknya diluar gaji.


'Apakah pikiran Bagas masih normal atau sudah gi-la' Nina hanya bisa menggelengkan kepalanya bingung


Bagas memberikan ide agar Nina tinggal di atas Coffee Shop, di lantai 3 setelah lantai 2 di ubah menjadi gudang penyimpanan barang. Tinggal bersama dengan beberapa teman-teman yang Nina kenal baik. Selain irit juga aman karena security pertokoan yang dua puluh empat per tujuh standby ada menjaga. Mempersempit dirinya bertemu dengan mantan suaminya.


'Terlalu royal' pikir Nina akan sikap baik Bagas


Bagaimana tidak royal bila dengan mudahnya Bagas membeli Coffee Shop milik Angga layaknya membeli jajanan di warung, perumpamaan pikiran Nina. Hanya dalam hitungan jam Coffee Shop berpindah kepemilikan secara legal.


'kayak beli ciki aja'


Tapi hatinya pun menghangat setelah tahu alasan dibalik kebaikan Bagas untuknya. Lelaki yang membuat dirinya seperti ABG labil jatuh cinta dengan debaran jantung yang tidak kenal ritme, wajah yang memanas merona merah hingga ke telinga, kemampuan berbicara menurun hingga tergagap. Kasmaran membuatnya lemah namun memberikan kekuatan di waktu yang bersamaan


'Apa benar boleh berharap rasaku tersampaikan kepada Mas Bagas'


*


*


"Terima kasih banyak Mas Bagas" Nina bersungguh-sungguh mengucapkannya, bagaimana tidak bersungguh-sungguh sepenuh hati. Bagas sudah banyak membantu, menolong, membela dan terakhir memberikan banyak hal kepadanya yang bukan siapa-siapa, orang lain dari hidup Bagas


"Apaan sih Nin. Sudah terima kasihnya, sudah mpe jebol telinga saya dengernya. Kalau mau berterima kasih pakai cara lain gimana?" Alis mata Bagas naik turun menggoda


'Kasih gw cinta lo Nin'


"Saya tidak punya apa-apa yang bisa saya kasih ke mas Bagas" Nina menunduk lesu


'Ada Nin, rasa cinta lo buat gw' Binar mata Bagas memuja menatap Nina yang menundukkan kepalanya

__ADS_1


"Saya cuma janda miskin mas, ndak punya apa-apa. Ke Jakarta untuk mengubah nasib. Saya cuma punya tenaga untuk bekerja, bekerja yang halal mas. Saya gak akan jual BADAN saya. Cuma ada tenaga bekerja halal" Nina menekankan kata badan di ucapannya.


"Saya gak minta BADAN kamu Nin" Bagas agak terpancing, mulai sewot akan salah paham Nina. Bahkan ikut menekankan kata badan di ucapannya


"Saya nolongin kamu pertama karena memang kamu harus ditolong saat itu kamu dikejar-kejar. Kedua karena keadaan malam-malam saya cuma bisa bawa kamu ke sini, gak mungkin saya tinggal di tengah jalan atau ke hotel kamu gak akan sanggup bayarkan. Ketiga soal Coffee Shop memang maunya saya karena itu urusan keluarga saya dengan keluarga mereka"


"Mantan Boss kamu itu bohongin keluarga saya buat memikat kakak saya, dia membuat kakak saya seolah-olah wanita perebut suami orang. Padahal dia datang memperkenalkan diri sebagai DUDA. Untung belum sampai menikah dan sebar undangan. Istrinya datang kemari menghancurkan rumah ini dan membuat Ibunda saya masuk rumah sakit" Bagas menjeda mengambil nafas


"Si br*ngsek itu lalu dengan percaya diri membuka Coffee Shop di seberang percetakan. Tahu buat apa? buat bisa lihat kakak saya lagi dan mengganggunya. Kakak saya sampai rela pindah jauh sampai ke Belanda, alasan dia belajar lagi ambil S2. Saya tahu hancurnya hati kakak saya Nin."


"Kamu nanya kenapa saya baik banget? Saya lihat kakak saya di diri kamu, saya tahu hancurnya hidup kakak saya, dan pasti hidup kamu juga begitu"


"Kamu bisa tanpa pikir panjang menolong saya di toilet wanita waktu itu, seperti itu juga saya kepada kamu. Tidak usah pikir panjang menolong. Dan jika saya menolong akan sampai tuntas" Bagas menghembuskan nafasnya panjang dan berat


'Kacau bisa salah paham gini' Di acaknya rambutnya dengan kasar


"Maaf Mas, Saya minta maaf bila menyinggung perasaan Mas. Maaf saya gak tahu diri padahal sudah di tolong" Nina menundukkan kepalanya


Bagas dengan cepat menahan gerakan Nina


"Mau ngapain kamu Nin?" Bagas dengan kekuatannya dengan mudah membawa Nina untuk duduk lagi di tempatnya


"Saya salah Mas, saya minta maaf. Saya sudah salah paham sama Mas Bagas. Saya yang salah, saya minta maaf" Nina sudah mulai terisak


"Jangan nangis Nin, saya yang salah ngomong Nin. Maaf kalau buat kamu salah paham"


"Saya yang salah mas, maafin saya yang gak tahu diri ini"


"Sudah Nin, jangan nangis lagi. Saya yang salah, kamu jangan nangis. Saya yang gak jelas ngomongnya jadi salah paham" Bagas ingin memeluk Nina, namun di urungkan, takut Nina makin salah paham


'Jadi begini sih, kan maksudnya mau nembak tadi'


"Jangan nangis Nin, saya mohon. Saya salah godain kamu. Tapi bukan maksud ngerendahin kamu kayak begitu"

__ADS_1


'Kan aku salah' Nina malah makin terisak menangis


"Ya Allah, Non Nina kok nangis?" Ratih datang dari arah rumah belakang setelah mendengar suara ribut di ruang makan


"Kenapa nangis non Ninanya Den?" Ratih berbalik menanyakan kepada Bagas


Bagas hanya bisa tersenyum kecut dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung.


'Bingung gw jelasinnya'


"Saya yang salah mba, saya minta maaf gak tahu diri. Maafin saya mas Bagas" Ratih memeluk Nina, mencoba menenangkan dirinya.


Bagas menghela nafas berat "Saya yang salah Nin, makanya kamu salah paham. Maksud saya tadi tuh kamu bisa berterima kasih ke saya lewat suka sama saya gitu, kayak saya yang juga suka sama kamu"


Keheningan menjeda setelah ucapan Bagas. Nina tiba-tiba saja berhenti menangis. Bagas hanya bisa menggaruk kepalanya canggung. Ratih senyum-senyum sendiri


"Ciyeeee... Non Nina di ajakin suka-sukaan ma Den Bagas" di coleknya dagu Nina, menggoda


Muka Nina berubah merah tersipu 'Ini adegan apa sih, jantung hatiku deg-degan'


"Ikh... Mas Bagas gak romantis, masak ngajak suka-sukaan ke non Nina di depan saya" ledek Ratih sekarang tertuju kepada Bagas


'Ini Apes atau untung' batin Bagas


*


*


Jangan lupa like jempolnya 👍


Terima kasih banyak ❤️


Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2