
"Mba Nina mandi dulu ya. Ini baju nya" Ratih, ART yang membantunya di dalam kamar
"Terima kasih banyak"
Nina memasuki kamar mandi, tubuhnya masih bergetar setelah kejadian pengejaran tadi. Masih terisak-isak bekas tangisnya.
'Aku sudah lari sejauh ini, kenapa masih di kejar' Nina menangis di bawah guyuran shower dengan air hangat
Nina bingung, Ia merasa sudah pergi jauh dari kotanya dulu, Semarang. Menghindari diri dari Budi, mantan suaminya. Bahkan ini sudah setahun lebih lamanya. Bagaimana bisa malah bertemu di gang kecil tadi dari luasnya Ibukota.
Nina mengerutkan keningnya, memakai pakaian yang tadi di berikan.
'Baju milik siapa?' Nina berpikir baju yang dikenakannya tentu bukan milih Ratih yang sudah paruh baya tadi.
'Ukurannya malah pas badan, tapi kepanjangan' piyama tidur gambar kucing biru berkantung, Doraemon itu memiliki lengan pendek namun jatuhnya malah 3/4 di tangan Nina. Begitu juga celana pendek nya.
'Tapi nyaman dan harum' di endusinya piyama yang di gunakan
Tok
Tok
Tok
pintu kamar di ketuk dari luar
"Iya" dengan bergegas di bukanya pintu kamar dan di hadapan sudah di suguhkan pemandangan senyum manis menawan dari laki-laki yang sudah wara-wiri selama 6 bulan di pikiran dan hidupnya
"Makan dulu yuk" Bagas dengan penampilan piyama nya membuat Nina berfantasi
Bukan fantasi mesum, hanya berfantasi bagaimana bila mereka merupakan pasangan suami istri.
'Astaga apa yang aku pikirkan' seburat merah menghiasi wajah Nina
*
"Makan yang banyak Nin" Bagas mengedipkan sebelah matanya
'Astaga, jantung ku' Nina memegang dadanya di goda Bagas
Dengan sigap Bagas menyajikan aneka nasi dan lauk ke piring milik Nina
"Iya mas, makasih banyak. Nanti saya ambil sendiri saja" Nina merasa tidak enak hati di layani
"Ratu kan harus dilayani" dengan nada riang dan senyum menawan yang tidak pernah luntur tercipta keluar dari Bagas
"hah?" Nina kehilangan kata-katanya
"hehehe"
'Ratu di hatiku' Bagas bermonolog
"Ayo dimakan dulu Nin"
Nina menuruti perkataan Bagas, dimakannya makanan yang tersedia di piringnya dengan perlahan. Tubuhnya memerlukan pengisian tenaga setelah kejadian pengejaran tadi.
__ADS_1
Nina yang menghindar berbalik arah dan mengayunkan sepedanya dengan cepat, membuat Budi mengejarnya dengan motor, entah milik siapa. Untung nya motor yang digunakan Budi, motor butut yang tidak dapat berlari kencang.
Dan ia bergitu bersyukur bertemu dengan Bagas tadi. Walaupun motor butut dan tidak bisa berlari kencang, namun pasti bisa mengalahkan ayuhan sepeda. Saat tadi ia begitu putus asa ketika motor yang dikendarai Budi semakin mendekati nya. Bagas layaknya pangeran penolong nya. Pikiran kalut dan takut sampai melupakan sepeda miliknya, kendaraan miliknya yang boleh di hibahkan oleh Maria.
"Ya Allah sepeda!!!" Nina menjerit saat sadar akan keberadaan sepedanya
Bagas hampir saja tersedak makanan
"Makan dulu, sepeda nanti dipikirinnya" Bagas berbicara setelah meminum air
"Kalau perut kosong, otak ikutan gak bisa di pakai"
Nina menganggukkan kepalanya dan kembali makan. Pikirannya bercabang kemana-mana. Tentang Sepeda, tentang Budi mantan nya, tentang Bagas, juga tentang bagaimana nanti nasibnya sendiri nanti di Ibukota.
*
Bagas mengajak Nina duduk di ruang tengah menonton televisi
"Jangan tidur setelah makan, nanti perutnya sakit" alasan Bagas
Padahal ia masih mau ngobrol dengan pujaannya.
"Makasih banyak ya Mas Bagas. Maaf saya menyusahkan"
"Sama-sama Nin. Jangan sungkan, anggap aja saya balas budi juga. Dulu kamu nolongin saya pas hampir ketabrak motor juga di toilet minimarket sebelah itu"
"Hehehe"
Keheningan menjeda setelah tawa bersama. Hanya terdengar suara televisi yang entah menayangkan apa.
"Jadi tadi kamu kenapa Nin. Bisa dikejar-kejar begitu. Mereka siapa?"
"Ya sudah kalu belum mau cerita" Bagas berbicara setelah menghela nafas panjang
"Bajunya muat juga dikamu Nin, walau bagian lengan dan kaki malah kepanjangan. hehehe"
Nina menyentuh piyama yang dikenakannya
"Baju punya adik saya itu. Orangnya lagi di Bekasi, kerja disana nge-kos. Pulang paling sebulan sekali, jarang-jarang lah. Kadang saya yang sering kesana. Maklum adek perempuan bungsu, saya juga was-was sama dia disana"
"Kakak saya perempuan sudah menikah, sekarang ikut suaminya ke belanda, dapat bule sana"
"Di rumah cuma sama mba Ratih aja, weekend beliau pulang"
Bagas mencoba mengalihkan pembicaraan, ia merasa Nina belum siap bercerita tentang kejadian pengejaran tadi.
"Orang tua Mas Bagas kemana?"
"Sudah meninggal, setahun yang lalu"
"Maaf mas, saya ikut berbela sungkawa"
"Saya sudah ikhlas, memang sudah takdirnya semua orang pasti akan meninggal. Makasih Nin"
kehingan kembali menjeda
"Kayaknya sepeda kamu gak selamat Nin. Pasti sudah ada yang ngambil. Apa tadi kamu di begal?"
__ADS_1
"Tapi kok begal sepeda ya..."
Bagas asyik berasumsi sendiri
Nina bukannya tidak mau berbagi cerita atau pun membicarakan topik lain untuk menjadi bahan obrolan. Ia terlalu berdebar-debar setiap kali berdekatan dengan Bagas. Alih-alih lancar berbicara, ia malah sering tergagap dan hilang kemampuan berbicara. Ini adalah perasaan aneh pertama kali yang ia rasakan kepada lawan jenis, dulu ia tidak pernah berdebar-debar terus sampai gugup seperti ini. Perasaan ini terlalu mendebarkan. Padahal ia pernah beberapa kali pacaran dan juga sudah pernah menikah.
"Tadi itu mantan suami saya mas" cicit Nina
"hah??" Bagas syok, cicitan Nina seperti petir menyambarnya. Otaknya langsung blank
'Pasrah aku mah. Nantinya mas Bagas mau jauhin aku juga gak apa-apa' Nina kecewa melihat reaksi Bagas yang syok dengan wajah pucat
Dulu juga ia sempat dekat dengan Rahmat, pegawai minimarket sebelah. Tapi begitu tahu dirinya seorang janda, Rahmat mulai menghindar dari dirinya.
'Masih bisa melihat Mas Bagas dari jauh juga sudah senang'
"Terus mantan kamu mau apa ngejar-ngejar kamu begitu?"
"Gak rujuk kan?" terdengar nada panik di ucapan Bagas
'Masa gw kalah langkah sama mantan, bekas lagi. Kalau rujuk patah hati gw ini' Bagas benar-benar panik
"Gak mau rujuk kok Mas" Nina menggelengkan kepalanya
'Ah.. untunglah. Jangan rujuk Nin. Mending sama gw' Bagas lega
Nina menarik nafas lalu menghembuskan dengan panjang
'Mas Bagas selalu bercerita tentang kehidupannya, mungkin sekarang sudah saatnya aku juga. Biarlah yang nanti terjadi, terjadilah' Nina membulatkan tekadnya
"Saya juga gak ngerti, kenapa bisa ketemu lagi sama mantan suami saya. Padahal saya sudah pindah jauh dari Semarang ke Jakarta" Nina menjeda sambil menelan ludahnya
"Mantan suami saya setelah menikah jadi hobi main judi dan mabuk-mabukan. Semua gaji, tabungan sampai perhiasan di ambil buat judi dan mabuk. Kalau saya larang, pasti saya di pukuli" airmata sudah mulai turun keluar dari ujung matanya
"Saya gak sanggup, lalu saya gugat cerai. Dia tidak terima dan mengancam saya mau di buat lumpuh bila berani minta cerai" isak tangis Nina di mulai
"Saya gak sanggup... hiks... setiap pagi buta pasti pulang dengan mabuk... hiks... hiks... lalu saya jadi sasaran kemarahan dia karena kalah judi.... bahkan setelah saya babak belur... hiks.... hiks... hiks.... " Tangis Nina pecah, ia terisak-isak dengan berderai air mata
'Astaga, Ninaku' Bagas dengan refleks memeluk Nina. Walaupun belum pernah merasakan tetapi ia bisa mengerti rasa sakit Nina
"Dia.... selalu memaksa... berhubungan badan... setelah....badan saya.... babak belur..."
"Sudah....sudah... tidak usah di teruskan..."
"Kamu akan baik-baik saja. Ada saya yang akan selalu menjaga kamu"
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉