Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 23


__ADS_3


23 BPM


"Semua akan baik-baik saja. Ada saya yang akan selalu melindungi kamu. Kamu cukup bersandar pada saya, Imammu" Bagas berbisik di telinga Nina dengan lembut


*


"Saya sudah dengar semuanya dari Leni, ia cerita tadi pagi pas saya mau anter masakan dari mba Ratih buat kamu dan teman-temanmu. Sudah tata rapih di kulkas. Nanti sore mungkinakan ada orang yang anter sembako. Saya titip beli sama Toni pacarnya Leni yang kerja di minimarket sebelah itu."


Bagas dan Nina mengobrol sambil sarapan yang kesiangan. Bagas dengan cekatan menyajikan masakan Ratih di meja makan, bahkan sudah memasak nasi. Bagas benar-benar memperlakukan Nina layaknya ratu. Ia boleh bercermin dan meniru Satya, adik iparnya saat mendekati Ima -adiknya-


"Makasih banyak ya Mas, saya banyak merepotkan. Malah banyak menyusahkan Mas Bagas, bukannya menyenangkan" Nina merasa bersalah


"Kamu itu selalu menyenangkan hati saya Nin, kamu itu adalah mood booster ku. Setiap saya punya banyak masalah, melihat senyum ramah dan perlakuan kamu malah membuat mood saya naik yang tadinya sudah anjlok" Bagas mencolek pipi Nina gemas


"Apalagi sekarang, setelah kamu menerima saya menjadi calon imam buat hidup kamu. Lebih-lebih membuat mood saya terbang naik roket" Bagas mengelus-elus puncak kepala Nina lembut


"Makasih banyak calon Imamku" dengan malu-malu Nina menjawab


"Saya cuma bisa berjanji akan selalu setia menemani mas Bagas, dalam susah ataupun mudah. bukan harta mas Bagas yang saya mau. Tapi karena rasa tanggungjawab mas Bagas yang sangat besar dan saya merasa terlindungi sebagai wanita. Laki-laki tanpa tanggung jawab walau harta banyak pasti akan habis dan laki-laki dengan tanggung jawab tanpa harta masih bisa mencari nafkah" Nina menangkap tangan Bagas yang mengelus kepalanya dan menggenggam erat kedua tangan Bagas


"Dan saya yakin mas Bagas adalah laki-laki bertanggung jawab dan saya akan selalu mensupport disamping mas Bagas selalu mulai saat ini" Nina memandang mata Bagas dengan pandangan mata teduh


"Terima kasih banyak calon makmum ku" Bagas membalas pandangan mata Nina dengan senyum menenangkan


*


Rendi, kakak sepupu Bagas dari pihak keluarga besar Ayahnya. Mengirim seorang pengacara handal di bidang perdata, Pengacara ini biasa menangani kasus pemerasan, kasus kekerasan, dan kasus yang banyak menangani premanisme. Antonius, pengacara yang bekerja sama dengan Rendi di kantor pengacara milik Rendi.


Bagas sudah dihubungi langsung oleh Anton -nama panggilannya- dan akan bertemu dengannya langsung bersama Nina di Coffee Shop sore hari ini.


Mereka akan berbicara di lantai 3, di ruangan huni. Karena Bagas merasa bahwa ini pembicaraan yang lumayan penting dan terlalu pribadi, ia tidak ingin para pegawai tahu masalah pribadi yang menimpa Nina. Takut di gosipkan yang tidak-tidak.


"Sore pak Bagas, saya Anton" Anton mengulurkan tangannya


"Sore pak Anton, terima kasih sudah datang. Ini Nina, tunangan saya" Bagas membalas jabatan uluran tangan Anton dan berjabat tangan


"Saya Nina, karenina Asdari" Nina mengulurkan tangannya kepada Anton

__ADS_1


"Senang bertemu anda Bu Nina" Anton membalas uluran tangan Nina dan berjabat sebentar. Menjaga sikap karena pandangan mata Bagas yang tidak suka saat mereka berjabat tangan. Dan Anto mengerti dan paham


'pria dominan' Anton memberi julukan untuk Bagas


Mereka pun duduk di meja makan dengan di suguhkan kopi dari Coffee Shop dan beberapa slide cake. Pembicaraan mereka awalnya santai, Anton mencoba berbicara dengan tenang, mengorek selaga informasi dan mendengar Bagas dan Nina bercerita, walaupun lebih banyak Bagas. Nina juga menunjukkan bukti-bukti peneroran yang dilakukan Budi, juga bukti-bukti KDRT dulu saat menikah.


Nina karena di temani Bagas, yang selalu mensupport disampingnya. Mengelus punggung Nina perlahan dengan lembut, menenangkan saat Nina mulai down. Membuat Nina menjadi kuat dan percaya diri. Bercerita dan menjawab saat Anton mulai mengirek lebih dalam masalah yang sebenarnya terjadi di antara ia dan Budi -mantan suaminya-


Tok


Tok


Tok


Pintu di ketuk dari luar saat Nina selesai bercerita tentang kehidupannya dulu bersama Budi. Menghentikan pembicaraan yang terjadi, menjeda dan membuat mereka bertanya-tanya siapa yang mengetuk pintu padahal sudah jelas peringatan Bagas agar jangan di ganggu dulu saat mereka sedang dalam pertemuan.


Bagas melihat jam tangannya sekilas, pukul 17.30 sore. Ia berdiri dan membuka pintu.


"Sore pak Bagas, mau nganter sembakonya. Toni minta maaf gak bisa nganter masih shifnya, jadi di ganti sama saya" Rahmat sudah ada di ambang pintu dan tangga, ada beberapa kardus di bawahnya


Bagas menghela nafas panjang, mencoba menahan kesalnya. Ia kesal karena ada yang menggangu pertemuan. Dan ia pun juga tak ingin mengeluarkan amarahnya kepada orang lain.


Rahmat masuk membawa satu kardus, ia sengaja melihat orang yang duduk di hadapan Nina dengan seksama secara sembunyi-sembunyi. Ia mencoba mengulur waktu agar dapat melihat secara jelas. Namun usahanya gagal karena Bagas membawa sisa dua kardus lainnya dalam sekali jalan.


'sialan' maki Rahmat


"Ada tamu ya pak Bagas" Rahmat basa-basi


"Hmmm" Bagas berusaha menahan kesalnya


"Maaf ganggu ya pak"


"Ini buat kamu, makasih banyak" Bagas memberikan selembar uang biru dari dompetnya di hadapan Rahmat, mengusir dengan cara lembut


"Tolong bilangan Leni, tolong jangan ada yang naik ganggu dulu. Saya ada pertemuan penting" Bagas mengantar Rahmat keluar dan menutup pintu dengan agak sedikit kasar


'br*ngs*k mentang-mentang punya duit belagu amet jadi orang, dasar bujang lapuk gak laku-laku. Gue sumpahin senjata lo karatan' Maki Rahmat sambil menuruni tangga


Niat Rahmat datang adalah untuk melihat dengan mata sendiri cerita dari Toni. Toni menceritakan masalah Nina yang di terorantan suaminya, dan Bagas tidak terima hingga berencana menyewa pengacara untuk memperkarakannya ke meja hijau. Rahmat agak ketakutan, ia takut terseret-seret karena ialah yang memberitahukan kepada Budi dimana Nina berada dan juga memberitahukan nomer handphone Nina.

__ADS_1


'mati gue kalau ikut keseret-seret, gak mau gue masuk penjara. @su Bagas, @su mantannya Nina. @su Nina, semua gara-gara janda si@-lan itu' Rahmat mengutuk


"Lah, kok kamu disini? Kok turun dari atas? Siapa yang nyuruh masuk!!!" Leni menarik pundak Rahmat saat di lantai 2. Leni baru saja mengantarkan pelanggan yang memesan privat room, melihat Rahmat yang baru turun dari lantai 3. Mereka bertemu di tangga.


"Apaan sih lo" dihempaskan tangan Leni kasar


"Gue nganterin orderan belanjaan pak bossnya lo" dengan garang Rahmat menjawab, ia melampiaskan kekesalannya kepada Leni


"Siapa yang nyuruh lo naik ke atas hah" Leni makin sewot


"Toni" jawab asal Rahmat dan mencoba berlalu turun


"Gak mungkin ya, lo pasti bohong. Toni dah tahu kalau sekarang lagi dilarang naik, pak Boss ada meeting penting di atas, siapapun dilarang ganggu" Leni mendorong pundak Rahmat marah


Rahmat yang tidak ada persiapan hampir terjatuh saat di dorong Leni, kekesalannya memuncak menjadi kemarahan. Dengan kasar ia menarik lengan Leni


"B@cot lo Lon-te" maki Rahmat dengan mata menyalang marah


Leni yang kalah kekuatan dengan Rahmat, tertarik jatuh ke bawah dan berguling-guling sampai ke anak tangga terakhir. Lalu tergeletak di lantai 1 Coffee Shop. Leni tidak bergerak, ia pingsan.


"Aaaarghhh........." suara jeritan histeris bersautan


*


*




Minta like jempolnya ya 👍



Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2