
Ima mati-matian untuk mematikan perasaan sakit dihatinya. Yang Ia tahu adalah dengan tidak bertemu dengan Satya ataupun mendengar berita tentangnya.
Ima bingung dengan keadaannya. Sudah hampir 6 tahun Ima hanya mengenal Satya sebagai sosok laki-laki yang boleh ia sukai. Tidak boleh dekat dengan teman laki-laki disekolah membuat Ima kikuk dengan laki-laki. Tapi begitu Ima sudah dewasa malah ditinggalkan menikah.
Seperti sebuah kamar, awalnya kosong lalu dipenuhi satu demi satu foto-foto Satya hingga penuh dan sekarang harus kembali dikosongkan.
Semua membutuhkan waktu, begitu juga Ima yang harus kembali menata hatinya untuk menghilangkan Satya dari hidupnya, hatinya dan pikirannya. Setelah lebih 6 tahun di isi oleh ucapan kedua orangtuanya.
Ima merasakan kehampaan setelahnya. Namun rasa sakit ditinggalkan juga masih ada. Ima belum bisa mengobatinya, hanya bisa mengalihkan perhatian dengan kegiatan yang lain. Entah itu di kampus, kegiatan sekolah gratis untuk anak-anak jalanan ataupun dengan teman-teman barunya.
Bahkan sepanjang massa setelahnya Ima hanya melupakan rasa sakitnya. Tidak menyembuhkannya karena Ima belum bisa mengatasinya.
Berkenalan dengan laki-laki baru, terkadang dalam hati Ima ada ketakutan bahwa Ia akan ditinggalkan lagi. Jadi yang bisa ia lakukan hanya berteman akrab walaupun akhirnya ada beberapa lelaki yang membuat Ima nyaman dan berhubungan ketingkat lebih dari teman. Namun apalah daya, sampai sekarang masih saja suka dihempaskan, ditinggalkan dan dilupakan.
*
Sekarang setelah bertemu kembali setelah 5 tahun tidak bertemu, sikap Satya berubah 180 derajat. Dulu selalu menghindar dari Ima, sekarang tangannya ringan sekali sampai berani mengelus-elus kepala dan punggung kadang merangkul pundak juga menggenggam tangan. Bahkan Satya berani mencium kening Ima.
'Dulu dibilang anak kecil, sekarang main nyosor aja'
'mau dulu mau sekarang tetap samalah, beda usia gak bakal berubah'
'Ini hati dulu pernah disakiti sekarang maunya apa?'
'Mau pacaran atau nikah gitu?'
__ADS_1
'Dulu bagaimana coba sikapnya'
Ima mengusap-usap wajahnya bolak-balik
'Ini hati mirip barang pecah belah, pernah retak sama kamu. Sekarang malah sok baik-baikin'
Ima memukul dadanya untuk mengurangi sesak
'Iya, kamu kena karma. Kamu ninggalin aku sekarang kamu ditinggalkan'
'Tapi bukan berarti setelah kamu ditinggalkan kamu mau balikan sama aku'
Ima terisak sendiri, ditahannya suaranya agar tidak membangunkan Mila.
'Sakitnya masih ada disini'
*
Matahari sudah terbit, Ima belum tidur dari semalam. Ima bergegas membersihkan badannya agar lebih segar. Ada kantung mata karena menangis semalam, dipoleskan makeup tipis yang selalu tersedia di dalam tasnya.
'Aku juga berhak bahagia' Ima memandang dirinya di cermin kamar mandi didalam kamar Mila.
*
Mbah Sari mengetuk pintu kamar untuk membangukan Mila. Ima membukakan pintu yang semalam dan kunci olehnya.
"Loh, neng geulis sudah rapi lagi"
__ADS_1
"Iya, saya masih harus berangkat kerja Mbah"
"Loh inikan Sabtu neng"
"Sabtu juga masuk setelah hari"
"Saya nunggu didepan teras ya Mbah, nunggu ojol datang" Ima memesan ojol untuk mengantarkannya ke stasiun kereta Bogor
'Kalau langsung ke Bekasi mahal banget'
'Terpaksa naik kereta dulu baru nanti naik ojol lagi'
'Posesif banget, tukang maksa lagi'
'Gak ingat dulu apa, kayak jijik kalau lihat aku' Ima masih sibuk dengan handphonenya untuk memesan ojol
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉