
Bundanya Bimo menatap tajam seorang lelaki yang duduk dipojokan, yang enggan untuk ikut bercengkrama dengan sanak saudara
'Katanya anak yatim-piatu miskin, ini malah cucunya orang kaya'
*
Pertemuan keluarga besar pengantin berpindah ke Restoran karena gedung akan di rapihkan. Eyang putri sebagai sponsor memesan ruangan pribadi agar lebih leluasa berbincang-bincang.
Ruang besar yang tertutup mampu memuat sampai 100 orang hanya di isi 60 orang, membuat ruangan menjadi lebih luas.
Pertemuan keluarga ini seperti reuni keluarga dikarenakan jarangnya waktu mereka bisa bertemu dan berbicara
Eyang putri begitu senang bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan sanak saudaranya. Ima yang duduk disampingnya hanya menjadi pendengar yang baik dengan di selingan percakapan dengan Satya.
'Kambing conge gw disini'
'Pipi gw sampai mau kram senyum terus' Ima mengelus kedua pipinya pelan
"Kenapa sayang?" Satya berbisik di telinga Ima
Ima hanya menggeleng kepalanya
"Jadi Nak Ima teman kerjanya Nak Bimo toh"
"Ningsih ini jatuhnya adik sepupu kamu ini. Berarti kalau Ningsih ikut Bimo bisa dekat sama kamu. Sama-sama saudara."
"Tenang Bunda melepas Ningsih pindah ikut Bimo. Ada temannya" Mertua Bimo, ibunya Ningsih menyimpulkan
Ima hanya bisa tersenyum mengiyakan
Ima tidak memperhatikan sanak saudara dengan seksama. Bahkan Ima tidak merasakan canggung harus berhadapan dengan kedua orang tuanya Bimo dan Bimo beserta istrinya.
Satya yang memandang wajah Ima yang tanpa beban, tersenyum lega
'Kamu hebat sayang'
*
"Ima kenalin ini Arga, sepupu nya Bimo" Bundanya Bimo memperkenalkan Arga dengan paksa. Bunda Bimo menarik lengan Arga ikut bertemu dengan Ima saat Ima sudah selesai dari toilet
Ima sedikit terkejut melihat Arga, mantannya dulu.
"Saya kenal kok, Tante"
"Kenal dimana Ma?"
"Di jalanan" Ima enggan berlama-lama dengan mereka
"Saya mau masuk lagi ke dalam, permisi" Ima menghindari tubuh Arga dan bunda nya Bimo
Setelah siluet tubuh Ima menghilang, Bundanya Bimo memukul-mukul punggung Arga
plak
plak
__ADS_1
plak
"Kamu sengaja ya bohongin Tante soal Ima!!"
"Kamu bilang dia anak yatim-piatu miskin, tapi coba lihat sekarang"
Arga mencoba menghindar namun amukan Bundanya Bimo tetap bisa mendarat di tubuhnya
"Saya tidak bohong Tante!!!"
"Dulu dia miskin banget, Kuliah saja beasiswa"
"Makan saja kebanyak mie instan, kosannya saja bobrok"
"Beneran Tante saya tidak bohong" Arga menangkap kedua tangan Bundanya Bimo agar berhenti memukuli tubuhnya
"Lalu sekarang ini apa?"
"Mana saya tahu kalau dia bohong sama saya"
Bundanya Bimo begitu terkejut mengetahui tentang Ima yang sesungguhnya. Sebenarnya alasan Bunda Bimo tidak menyetujui Ima karena cerita Arga yang mengatakan mengenal Ima yang merupakan mantan pacarnya. Bundanya Bimo hafal betul cara bergaul Arga yang sangat bebas cenderung ke arah negatif, Ia merasa jika mantan Arga pasti sejenis dengan Arga. Ditambah dengan keadaan Ima yang yatim piatu dan miskin.
*
Ima yang terburu-buru berjalan tanpa sengaja menyenggol lengan orang
"Aduh..." seorang gadis terjatuh
"Maaf...maaf... saya yang salah buru-buru jalannya" Ima hendak membantu
"Kamu gak apa-apa honey" lelaki itu membantu gadis yang disenggol Ima, berdiri. Di bersihkan debu-debu di tubuhnya
"Hati-hati kalau jalan, memang tidak punya ma....." lelaki tersebut terkejut hingga kehilangan kata-kata nya saat melihat Ima
Ima juga ikut terkejut, namun masih bisa tersenyum
'Mantan ada dimana-mana ya'
"Saya yang salah tidak lihat ada orang yang berdiri dibelakang pilar"
"Kalau ada yang luka bisa kita ke Rumah Sakit sekarang"
"Saya bertanggung jawab" Ima mengalah
"Honey..." gadis tersebut bergelayut di lengan lelaki muda yang terdiam
"Saya Ima, anda baik-baik saja nona?" Ima beralih ke gadis yang tidak sengaja di senggol
"Sakit tahu Mba" ketusnya dengan tatapan tajam
"Kalau begitu mau ke Rumah Sakit, Saya tanggung jawab"
"Tidak sampai ke Rumah Sakit juga"
"Lingga!!! Manika!!! cepat masuk!!!"
Gadis dan lelaki muda itu menoleh karena merasa dipanggil. Manika menarik lelaki nya Lingga masuk kedalam ruangan pertemuan pribadi yang tadi dipesan Eyang putri
__ADS_1
'Masih saja sama, pergi tanpa kabar' Ima memandang ke dua orang tadi yang sudah menghilang masuk kedalam ruangan
hufh
Ima menghela nafas panjang
'Hari ini perasaan berat banget. Ketemu mantan dimana-mana. Padahal sudah ada slogan, buanglah mantan pada tempatnya. Apa disini tempat buang mantan'
Ima berjalan gontai menuju pintu ruangan. Dipandanginya suasana restoran yang cukup ramai.
'Astaga, beneran hari ini, hari terberat gw' Ima terkejut menangkap sepasang kekasih yang Ia kenal dengan baik
'Semua mantan ada di satu tempat, tepuk tangan buat gw'
*
"Ima..."
"Ima? Memang akan ada Ima disini yang?"
"Itu disana" tunjuknya
Pandangan mata Ima dan sepasang kekasih bertemu. Sepasang kekasih itu menunjukkan wajah yang terkejut dan tegangnya. Sedangkan Ima memutuskan pandangan matanya dan menggelengkan kepalanya pelan sambil berjalan kembali.
Ima enggan untuk menyapa mereka, mantan pacarnya dan mantan sahabatnya yang berselingkuh di belakang Ima.
'Masa lalu biarlah masa lalu'
'Kok malah nyanyi ya gw?'
*
Satya berjalan keluar ruangan pertemuan pribadi mencari Ima, Ia merasa Ima terlalu lama berada di toilet. Satya takut terjadi hal yang tidak diharapkan
'Gimana kalau Ima datang bulan dan tidak bawa pembalut. Mana handphone miliknya tertinggal di tas di bangkunya'
Baru saja Ia mencari-cari, sosok Ima mendekat ke arahnya dengan menggelengkan kepalanya
"Kenapa sayangku?" Satya menghampiri Ima dan merangkul pundak nya juga mengelus kepala Ima lembut
"Pusing ya"
'Iya, pusing ketemu barisan para mantan ditempat yang sama' Ima hanya tersenyum menerima perlakuan Satya yang tulus
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉
__ADS_1