
Dua minggu setelah acara Akad Nikah Bagas dan Nina yang diadakan di Kota Semarang. Berlangsung acara resepsi pernikahan yang digelar di Ibu Kota DKI Jakarta. Acara yang digelar memang untuk kalangan rekan dan relasi bisnis, membuat acara berlangsung formal membuat keinginan Nina untuk mengundang anak-anak yatim datang menjadi diurungkan. Dialihkan nanti satu bulan lagi sekalian acara Tujuh bulanan Rheina dan Ima.
Nina harus bisa menahan rasa canggung dan risisnya karena pakaian dan makeup khusus pengantin. Ia tidak terbiasa dengan pakaian mewah dan makeup tebal walaupun terlihat sangat cantik.
Nina harus bisa menahan diri selama tiga jam hanya untuk merias riasan wajahnya belum termasuk memakai pakaiannya. Lalu harus bisa tahan menggunakan sepatu hak tinggi walaupun tidak terlalu tinggi, tetapi karena ia belum terbiasa membuatnya sedikit menderita.
'Perjuang untuk tampil cantik itu menyisa' pikir Nina
"Masyaallah ndu, ayu tenan anak wedokku pak" Ibunya Nina takjub, beliau sampai tidak mengenali wajah Nina yang sudah di makeup. Begitu cantik dan bersinar, ditambah lagi pakaian resepsi pernikahannya yang mengembang seperti baju tuan putri di tayangan televisi, menurut ibunya.
(Cantik sekali anak perempuan ku pak)
"Masyaallah ndu, cah ayu dadi putri rojo" Bapaknya Nina memujinya dengan mata yang berkaca-kaca. Beliau menahan haru melihat putri sulungnya bisa mengadakan resepsi pernikahan yang begitu mewah jauh dari mimpi-mimpinya ataupun harapan. Bapaknya Nina sedikit merasa begitu buruk menjadi orang tua, dulu saat pernikahan pertama Nina tidak bisa memberikan sesuatu yang pantas hingga anaknya begitu dicemooh oleh mantan mertuanya. Bapak merasa tidak mampu memberikan kebahagiaan kepada anak-anaknya
"Sampurane Bapak ya ndu, Sampurane Bapak ro iso ngasih senang koyok wong liya. Sampurane Bapaknya sih go-blok ini ya cah ayu" airmata Bapak mengalir, beliau menutupi wajahnya dengan lengan tangannya. Ibu disampingnya ikut sedih dan terisak
(Maafkan Bapak ya nak, maafkan Bapak belum bisa memberikan rasa senang seperti orang lainnya. Maafkan Bapak yang masih bo-doh ini ya anak cantik)
"Sampurane mbok mu iki ya ndu, mbok mu durung iso nyenengke awakmu" Ibu merangkul Nina yang masih duduk di ruang hias
(Maafkan Ibumu ini juga nak, Ibumu belum bisa menyenangkan dirimu)
"Sampurane Nina, Bapak Ibu. Anakmu ini belum bisa menjadi anak yang berbakti" Nina ikut sedih dan terisak. Ia membalas rangkulan Ibunya
"Sudah-sudah jangan menangis lagi, hari bahagia ini harusnya senang bukan malah nangis-nangisan" Ratih yang membantu persiapan Nina menengahi acara tangisan dadakan keluarga
"Bapak Ibu, semua ini juga berkat doa kalian. Non Nina dan Den Bagas bisa berjodoh. Percayalah tanpa doa kalian pasti semua tidak akan mungkin bisa terjadi" Ratih menenangkan dengan bijak
__ADS_1
"Sekarang kita orang tua cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya toh. Sudah sekarang hapus airmatanya, Non Nina pelan-pelan hapus airmatanya. Takut rontok makeupnya"
Acara resepsi pernikahan Nina dan Bagas kali ini terasa begitu formal mengusung tema internasional. Semua tamu undangan dengan pakaian formalnya sedikit membuat keluarga Nina agak tidak percaya diri. Mereka hanya bisa tersenyum dan berbicara sangat hati-hati takut melakukan kesalahan yang membuat malu. Acara itu hanya berlangsung tiga jam, namun bagi Nina seharian karena lamanya persiapan makeup dan pakaian, menguras tenaganya hingga habis tidak seperti acara akan nikah yang lebih simpel dengan adat jawa modern.
*
"Ampun capeknya" Nina melepas sepatunya dan duduk di bangku pelaminan begitu acara selesai
"Sabar ya sayang" Bagas dengan telaten memijat kaki Nina yang ia bawa naik ke pangkuannya
"Setelah acara ini selesai kita bisa liburan honeymoon dua minggu full" Bagas menggoda Nina dengan mengedipkan sebelah matanya. Wajah Nina bersemu merah malu-malu, walaupun tidak terlihat karena tertutup makeup, tapi kedua telinganya terlihat merona.
Walaupun sudah sering mendengar dan melihat godaan Bagas, namun selalu membuat Nina berbunga-bunga, berdebar-debar dan malu-malu.
"Jangan mau honeymoon lama-lama mba Nin. Paling dikekepin di kamar melulu, jangan mau" Ima memberi peringatan sambil memberikan minuman kepada Nina. Ima memaksa duduk diantara pengantin baru yang baru saja selesai dipajang. Dengan gerakan gesit Ima menggeser Bagas dan duduk ditempatnya tadi. Bagas mau tidak mau mengalah, Ima sedang mengandung dan tidak mungkin ia mengomelinya. Bisa-bisa ada drama tangisan Ibu hamil berjamaah
"Minum dulu mba Nin" Ima memberikan gelas kepada Nina
"Dulu pas aku honeymoon, dikekepin di dalam kamar aja mba Nin. Pastinya mas Bagas itu sebelas dua belas sama Mas Satya. Boro-boro mau jalan-jalan, pakai baju aja gak bisa. Makan aja bisa dirapel. Mending jangan lama-lama honeymoonnya, dah dirumah aja. Sama-sama cuma didalam kamar gak bisa keluar" Ima sekalian curhat
"Jangan percaya kata-kata honeymoon itu jalan-jalan sama pasangan halal. Honeymoon itu dikekepin di dalam kamar selamanya" Ima berbicara dengan polosnya. Satya yang memang dari tadi selalu mengikuti kemanapun istrinya pergi, tertawa terbahak-bahak disamping Bagas sambil merangkul pundak Bagas. Bagas ikut tersenyum-senyum sambil memperlihatkan deretan gigi-giginya.
"Tuh lihat kan mba Nin, mereka itu sebelah dua belas. Mirip kelakuannya, saya saja sangsi apa benar saya adeknya. Kayaknya sih ketuker gitu" Ima dan Nina memandang pasangannya masing-masing
*
*
Dan sesuai seperti perkataan Ima saat selesai acara resepsi pernikahan Bagas dan Nina. Saat ini Nina masih ada di atas tempat tidur tanpa pakaian, tubuhnya hanya tertutupi berselimut tebal dari kamar hotel. Honeymoon yang di gadang-gadang sebagai jalan-jalan dengan pasangan halal pupus sudah dari pikiran dan harapan Nina. Dulu dipernikahan pertamanya dengan Budi -mantan suaminya- ia tidak pernah merasakan apa itu honeymoon, dan dipernikahan sekarang pun sama. Bedanya sekarang ia ada di Korea tapi tidak tahu bagaimana suasana diluar, hanya bisa melihat lewat jendela kamar hotel dan saat perjalan dari bandara ke hotel. Selebihnya bener-benar sesuai perkataan Ima, disekap didalam kamar tanpa bisa memakai pakaian. Dan ini sudah hari ke tiga mereka ada di Korea dari rencana dua pekan Honeymoon.
__ADS_1
"Aaaaaakkkhhh...." Nina berteriak kesal sambil menendang udara
'bener kata dek Ima, ini disekap namanya' runtuk Nina
"Ada apa sayangku" Bagas terkejut dari tidurnya disamping Nina. Bagas tertidur setelah puas bermain dengan Nina dari bangun tidur, dan sekarang sudah memasuki waktu makan siang.
"Apa yang sakit?" Bagas masih sedikit linglung, nyawanya belum terkumpul. Ia baru memejamkan matanya beberapa menit.
"Sakit hati aku mas" rengek Nina, ia bahkan sekarang sudah berani menendang kaki Bagas, gemas.
"Kenapa sayang?"
"Katanya honeymoon, mau jalan-jalan keliling Seoul. Ini di Seoul malah gak kemana-mana. Lobby hotel aja cuma pas datang. Aku mau lihat Istana Gyeongbokgung, Seoul N Tower, jalan-jalan ke Myeongdong Street, Insadong, main di Lotte World trus malamnya ke Itaewon Street. Mana janjimu? Mas tukang bohong" Nina frustasi, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pura-pura menangis sedih.
"Ini sih kayak yang di bilang dek Ima, dikekepin di dalam kamar. Ini penyekapan namanya!!!" Nina tidak tahan pura-pura menangis, ia berteriak akhirnya dan tanpa sengaja menghempaskan selimutnya hingga jatuh ke bawah tempat tidur.
"Astaga sayangku" Suara Bagas mendadak serak, ia memandang tubuh polos istrinya yang terpampang nyata di depan matanya setelah tersibak dari balutan selimut. Bagas terpancing, ia merasa di goda Nina. Dan dengan gerakan cepat ia sudah menaklukkan tubuh Nina dibawahnya
"Ikh, mas Bagas. Aku marah ini" Nina mencoba melawan dari jajahan Bagas, namun tetap kalah dari Bagas yang sudah dari awal Nina menerimanya sudah berlatih di Gym dengan telaten membentuk tubuhnya dan staminanya menjadi semakin lebih...
"Nanti terusin marahnya, main sebentar dulu..." Bagas sudah menaklukkan tubuh Nina dengan mudah. Dan Nina pasrah walaupun kesal.
*
*
~❤️~
Jangan lupa like jempolnya ya 👍
__ADS_1
Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉