
Janji hanyalah tinggal janji. Begitulah pikiran Nina akan sikap Bagas selama honeymoon, suaminya itu bermulut manis untuk mengajaknya berkeliling di Seoul namun lemah terhadap rasa gairahnya dan membuatnya kembali disekap didalam kamar. Ia begitu kesal dan sedikit kecewa dengan Bagas. Dan ia membalas kekecewaannya tunai saat hari ke lima honeymoon ia datang bulan.
"Dibayar tunai" ledek Nina kepada Bagas malam harinya saat ia baru saja kedatangan tamu bulanannya
Bagas yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahinya saat melihat Nina keluar kamar mandi dengan wajah cerah
"Selamat berpuasa suamiku sayang, satu minggu full. Aku haid, yeah!!!" Teriak Nina girang sambil melompat-lompat menuju kopernya dan membongkar mencari pakaiannya
"Apaaaa?!" Bagas lemas, ia tidak percaya akan pernyataan Nina.
"Ayo kita ke Itaewon Street, lapar banget aku. Kita hunting cari yang halal. Ayok"
Setelah acara honeymoon ala Bagas tidak berjalan sesuai rencana, maka sisa waktu yang ada dilakukan honeymoon ala Nina. Nina benar-benar memaksa Bagas untuk berkeliling Seoul selama 3 hari nonstop dan sisa hari selanjutnya pindah ke pulau jeju. Nina sebenarnya tidak terlalu ingin ke Korea namun karena sedikit racun dari Mina dan Tati yang suka mengajaknya nonton drakor ia pun akhirnya penasaran akan Korea. Sedangkan Bagas, untuknya dimanapun sama saja asal bersama istrinya, selesai.
Terlebih lagi Bagas mendapatkan paket honeymoon lima hari ke Seoul, Korea dari salah satu relasi bisnis Ayahnya. Maka kenapa tidak digunakan dengan baik, ia hanya menambahkan beberapa hari agar menggenapkan.
*
*
Tidak terasa usia pernikahan Bagas dan Nina sudah sebulan lebih. Banyak hal yang baru mereka tahu dari pasangannya. Nina baru tahu bahwa Bagas harus tidur memeluk guling, tanpa memeluk guling tidurnya tidak akan nyenyak. Gelisah dan berputar-putar di kasur bahkan sampai Nina terjatuh di tendang. Yang paling parah adalah sikap sebrono Bagas, handuk basah di tinggal di atas kasur. Baju kotor di taruh di atas wastafel. Memilih baju bisa membuat setengah lemari pakaian keluar dan berserakan di atas tempat tidur bersama dengan handuk basah tadi.
'Kasian banget mba Ratih selama ini punya majikan jabrah (berantakan) dan kasian aku yang sekarang harus menggantikan mba Ratih' Nina hanya bisa mengurut dada melihat kelakuan suaminya
Nina sudah dipercayai sebagai owner Coffee Shop Arleen oleh Bagas, hadiah pernikahan mereka. Nina hanya beberapa hari saja datang kesana untuk melihat, selebihnya ia sibuk berkuliah dan menjadi istri dari Bagas, orang yang sembrono di mata Nina.
Saat ini keluarga besar Bagas, Sarendra sedang mengadakan acara tujuh bulanan kehamilan Rheina dan Ima. Acara berlangsung di taman raya Bogor, mengusung acara indoor garden party. Untuk bisa mengakomodir banyaknya keluarga yang di undang juga agar kedua ibu hamil tidak merasa sumpek bila acara dilakukan di dalam ruangan. Maklum mereka lebih memerlukan uadara segar akan keadaan mereka.
"Semoga sehat, lancar persalinan. Anaknya menjadi anak berbakti, pintar mencari cuan dan jangan menyusahkan paklinya lagi, aamiin" Arya mendoakan sambil sedikit curhat
"Apa maksudnya?! Eh sini bocah" Rheina yang selama hamil menjadi lebih bar-bar menjewer telinga Arya
"Ampun mba, ampun...." Rengek Arya
"Kapan anak gue nyusahin hah? Pelit amet lo ma ponakan, hitungan nih ceritanya"
"Bercanda mba Rhein, aku sayang padamu sister" rayu Arya
"Aduh Ima jangan ikutan donk" telinga Arya yang satunya di sentil Ima dengan gemas. Ima cengengesan dengan wajah polos
"Ponakanmu yang mau" Ima mengelus perutnya perlahan-lahan
"Anak baik nanti paklimu ini akan ajarin jadi anak pintar ya, jangan nakal" Arya malah ikut kengelus pelan perut Ima dan Rheina. Niatnya untuk meredakan amarah dua ibu hamil.
Namun tanpa Arya sadari dengan cepat tangannya yang mengelus perut Ima di pelintir oleh Satya. Jeweran Rheina bahkan sampai lepas, dua ibu hamil ini hanya bisa melipir menjauh. Bila Satya yang posesif sudah bertindak tidak akan ada yang bisa meredakannya, bahkan Ima istrinya sendiri. Jadi lebih baik menyelamatkan perut mereka sendiri, mereka sudah lapar butuh makan.
"Aduhhhhh....ampun mas satya... Tadi maunya ponakan katanya...sakit ini, besok susah tanda tangannya kalau keseleo...tender besar besok"
'apes banget dah gue, jabatan CEO tapi berasa babu di hadapan anak mantu om Regawa' Arya menangis dalam hati
Arya bener-benar harus menguras otak untuk mengurus dana yang digunakan untuk pernikahan Bagas, acara tujuh bulanan Rheina dan Ima plus lahirannya. Dana yang memang hak keluarga pamannya, Regawa sudah diputar olehnya dalam bentuk tender proyek jangka panjang dan tentu saja belum menghasilkan banyak. Dan ia harus bisa mencari cara dana lainnya untuk itu semua. Ia salah langkah dalam mengelola dana, namun semua sudah selesai hanya tinggal lahiran Rheina dan Ima. Maka ia bisa bernafas lega setelahnya.
"Bro, malu banyak tamu keluarga yang lihat. Tolong jaga muka Arya dong" Bagas mencekal keras lengan Satya.
Satya memang setelah menikah begitu posesif terhadap Ima, istrinya. Ia melarang Ima bekerja, dan ia benar-benar tidak suka bila ada laki-laki lain menyentuh istrinya bahkan kadang perempuan juga ikut tidak disukai olehnya. Bagas yang notabene kakaknya kadang tidak luput dari sikap posesif Satya.
'bener-bener bucin gi-la' umpat Bagas dalam hati
__ADS_1
"Maaf, refleks" Satya meminta maaf dengan santai dan berlalu meninggalkan Arya dan Bagas. Ia mencari keberadaan Ima, istrinya.
"Jangan lupa bro, itu bucin gi-la. Sentuh dikit, tangan putus" Bagas memijat pelan bahu Arya
"Iya gue lupa, bucin gi-la itu" Arya ikut memaki Satya. Mereka tertawa bersama menertawakan kebucina Satya yang berada di taraf parah.
Bagas mengajak Arya duduk di meja yang kosong, Nina menghampiri dan memberikan dua gelas kopi kepada Bagas dan Arya lalu berlalu, ia memberi ruang untuk Bagas dan Arya untuk berbicara
"Bro, memang uang bokap gue kurang ya buat nikahan gue sama acara ini?" Bagas agak kepikiran setelah terus menerus Arya membicarakan hal itu
"Gak lah bro, mana mungkin. Coba lo hitung sendiri, sudah berapa tahun itu dana gak pernah di ambil? Kaliin aja sama dana pertahunnya. Kalian bertiga sudah billionaire man"
"Trus kenapa lo kelihatan pusing gini?"
"Sorry, gue salah bro. Dana triliunan itu gue pake ke proyek jangka panjang, gua pikir sayang uang nganggur itu gak kalian ambil. Kalau gue pake buat muter lagi, win win solution bro gue pikir"
"Lo gak ambil pinjol buat nutup semuanya kan?" Bagas menggoda Arya, ia sekarang paham kenapa Arya ketar-ketir memutar otak untuk menutupi pengeluaran biaya acara
"Lo bercanda bro!!!" Mata Arya hampir keluar mendengar candaan Bagas
"Makasih banyak bro, sudah mau pusing buat kami bertiga" Bagas merangkul Arya
"Belom, nti nunggu mereka lahiran" Arya menunjuk Rheina dan Ima dengan tatapan matanya
"Hati-hati bro, bucin gi-la. Matanya laser, buta seketika lo" Bagas memberi peringatan, ia melihat Satya sudah memandang tajam ke arah Arya, hanya karena melihat Ima.
"Hahaha" Arya terbahak-bahak
*
*
Namun sampai siang ia nasih merasakan hal yang sama berulang-ulang. Ima belum memberitahukan kepada Satya suaminya ataupun mbah Sari ART yang selalu bersamanya. Satya tentu saja sedang bekerja, ini hari rabu.
Tiba-tiba saat Ima hendak berangkat menjemput Mila putri pertamanya, ia merasa mengompol dan tidak bisa ia tahan. Air ketubannya pecah rupanya, membasahi lantai dan kedua kakinya. Ia mematung terkejut, bahkan suaranya tidak keluar.
"Nya, jadi berangkat?" Sapto supir pribadi Ima, suami mbah Sari menghampiri setelah menunggu lama nyonya nya yang tidak kunjung keluar
"Tolong saya pak, saya mau lahiran kayaknya" Ima berkata dengan lirih. Dari dahinya mengalir banyak keringat.
"Sari!!! Nyonya mau lahiran!!!" Teriak Sapto kepada istrinya
Dengan gerak cepat Sari membawa tas persiapan melahirkan yang memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dengan hati-hati membantu Ima berjalan keluar rumah untuk menuju rumah sakit terdekat. Sari terus menggenggam tangan Ima dan mengajaknya beristighfar selama perjalanan ke Rumah Sakit
Setelah sampai, ima terus di dampingi Sari. Sapto langsung menghubungi Majikannya, Satya.
"Pak, ibu mau melahirkan sudah ada di Rumah sakit" Tanpa berkata-kata Satya memutus sambungan telepon dan bergegas menuju rumah sakit.
Ima sudah memasuki bukaan delapan saat datang ke Rumah Sakit. Lalu tepat saat Satya datang, bukaan Ima sudah sempurna. Beruntung Satya bisa menemani Ima melahirkan tepat waktu. Setelah perjuangan selama setengah jam, lahirlah putra pertama mereka.
*
"Waduh kebangetan banget ya kamu, katanya suami siaga, bucin gi-la. Masak ninggalin istrinya saat mau lahiran" Rheina memukuli lengan Satya dengan guling kecil untuk bayi. Setelah mendengar berita Ima melahirkan dari Sari ART dirumah Ima. Rheina dan suaminya yang kebetulan ada di Depok -rumah kediaman Bagas- bergegas ke Bogor. Tentu saja Bagas dan Nina juga ikut langsung menyusul setelah mendapat kabar dari Rheina.
"Sayang, ingat kandunganmu" Hans suami Rheina mengelus lembut perutnya
Bagas yang baru datang langsung menghampiri Satya dan memberikan bogem mentahnya. Bagas mendapatkan kabar bahwa Satya tidak menemani Ima melahirkan karena sibuk bekerja, dan ia begitu marah saat mendengarnya. Tentu saja kabar itu dari Rheina yang sedang dalam masa sewot.
"Semiskin apa lo sampe rela ninggalin adek gue saat lahiran hah!!! Gue yang bayarin lahirannya bang-ke" Satya yang belum siap sudah terjatuh saat menerima pukulan Bagas.
__ADS_1
"Clam down bro" Hans merangkul Bagas menjauh dari Satya. Nina ikut membantu agar Bagas tenang
"Mas, dek Ima yang penting sekarang" bisik Nina lembut ditelinga Bagas. Bagas merangkul Nina dan menepis tangan hans, ia masih mode marah.
"Dimana Ima, mas?" Tanya Bagas kepada Hans
"Di dalam, ssedang menyusui katanya. Kita tidak boleh masuk sama Satya" Hans menerangkan
"Bucin gi-la, itu adek kandung gue monyet" Bagas membuka pintu kamar, sebelumnya sudah mengetuk pintu. Bagas dan Nina masuk kedalam dan Rheina ikit masuk, sedangkan Hans menolong Satya untung bangkit.
Kesalah pahaman sedikit terurai saat Ima menjelaskan duduk permasalahannya. Namun baik Bagas dan Rheina masih marah kepada Satya yang tidak peka padahal Satya selalu bisa membaca ekspresi wajah Ima, apapun kondisinya.
Putra pertama Ima dan Satya begitu mirip dengan bentuk wajah Ayahanda Regawa. Bagas, Rheina bahkan Ima begitu terharu. Perasaan rindu dan bersyukur menjadi satu saat memandang wajah Bayi laki-laki yang diberi nama Arsyanendra Janardana (Lelaki yang berjaya, memiliki kehormatan dan berpengetahuan juga suka menolong)
"Aduhhhhh...." Rheina tiba-tiba merasakan mulas dan memegang perutnya. Hans dengan siaga menuntun Rheina duduk dan mengelus punggungnya.
"Aku panggilkan suster ya kak" Bagas berlalu saat mendapatkan anggukan setuju dari Rheina
Hans terus mengelus punggung Rheina dengan lembut, Nina disampingnya membisikkan kata-kata istighfar ditelinga Rheina dengan lembut
"Mba rhein... Mas Satya bantuin itu" Ima panik, untung bayinya tertidur di dalam box nya. Satya malah menenangkan Ima bukan membantu Rheina.
"Mba Rhein mas" Ima merajuk
"Ada suaminya sayang, kalau aku suami kamu" Jawab asal Satya
Tak berapa lama Bagas masuk dengan beberapa suster. Rheina di papah menuju kursi roda, mereka akan membawa Rheina ke ruang bersalin tempat Ima tadi melahirkan. Hans selalu setia menemani kemanapun istrinya pergi.
"Lihat itu namanya suami siaga, buka cuma omongannya saja. Buktikan!!!" Bagas masih sempat-sempatnya menyindir Satya.
*
Persalinan Rheina begitu lancar, saat sampai di ruang bersalin rupanya bukaan sudah sempurna dan dalam hitungan menit bayi perempuan lahir ke dunia. Padahal Hari Perkiraan Lahir (HPL) masih tiga minggu lagi.
"Bersyukur kita ada di Rumah Sakit saat baby mau keluar Sayang. Terima kasih banyak mya love" Hans mencium kening Rheina dengan sayang
Bayi perempuan mereka memiliki wajah yang serupa dengan Hans, bener-benar anaknya.Hans memberi nama Zanneta alka van leeuwen ( Anggun, lembut, cantik)
Rheina dipindahkan satu ruangan dengan Ima, tentu saja keinginan mereka berdua. Baik Ima dan Rhein ingin agar mereka bisa berbagi moment saat ini. Karena setelah tiga bulan dari sekarang, Rhein berencana akan kembali ke Belanda bersama Hans suaminya. Walaupun dengan keberantan Satya mengalah.
Bagas begitu bahagia melihat ketiga wanita dalam hidupnya bahagia. Rheina wanita pertama kakak perempuannya sudah bahagia bersama suami dan putri kecil mereka. Ima wanita kedua adik perempuannya pun sudah bahagia dengan suami dan kedua anaknya. Lalu Nina wanita terakhirnya, istri tercintanya, bahagia dengan pernikahannya mereka apalagi kabar bahwa Nina hamil tiga minggu.
Bagas tidak bisa berhenti bersyukur akan hidupnya kini begitu juga Nina.
Nina bersyukur karena bisa bertemu pangeran ceroboh nan baik hati yang membuatnya merasa menjadi ratu.
"I love u mas Bagas" bisik mesra Nina
"I love you too sayang Nin" balas Bagas
*
~❤️~
Jangan lupa like jempolnya ya 👍
Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉
__ADS_1