Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 5


__ADS_3


Tok


Tok


Tok


Nina merasa terganggu di tidurnya. mencoba membuka matanya yang berat dan bengkak akibat menangis semalaman. Indera pendengarannya masih menangkap suara ketukan pintu yang konstan dan konsisten. Di renggangkan tubuhnya, ia sedikit merasakan pegal di betis kakinya, efek ia memacu menggoes sepedanya dengan cepat saat di kejar Budi, mantan suaminya.


"Nina" Suara Bagas di balik pintu terdengar diantara ketukan pintu kamar


"Nin, bangun dulu sebentar. Nina"


"Iya, sebentar" dengan suara serak Nina berusaha menjawab tentu saja dengan sedikit menaikkan nada suaranya agar terdengar oleh Bagas. Dan sepertinya berhasil, suara ketukan pintu berhenti.


Nina berusaha untuk bangun diantara pegal-pegal di badannya. Membuka pintu dan melihat senyum menawan Bagas


'Vitamin pagi' Nina tanpa sadar mengembangkan senyum manis diwajahnya


'Mood booster ku' Bagas pun tanpa sadar mengembangkan senyum manis diwajahnya


Mereka saling menikmati senyum manis di wajah lawan pandanganya. Beberapa saat tanpa kata hingga akhirnya sadar dari keterpesonaan mereka.


"Mas Bagas" Semburan merah di wajah Nina terlihat Bagas dengan jelas


"Nin, sarapan dulu yuk. Sekalian saya mau diskusi sama kamu"


Nina hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Bagas menuju ruang makan


Ratih sudah menyiapkan sarapan nasi goreng omelette buatan Bagas di meja makan beserta susu untuk Nina. Sementara Bagas di suguhkan jus buah dan sandwich.


"Duduk Nin" Bagas membukakan bangku untuk Nina duduk dan membantunya setelah nya


"Makasih banyak Mas" Nina merasa senang akan perlakuan Bagas


'kayak ratu'


"Yuk makan dulu Nin. Saya yang bikin nasi goreng omelette nya"


Nina terkejut mendengarnya. Hatinya menghangat mendapatkan perlakuan manis dari Bagas. Senyum manis diwajahnya tercipta tanpa ia sadari akibat perlakuan manis Bagas.


"Mas Bagas kok cuma makan roti?"


"Saya sudah makan tadi jam 5. Ini cuma buat ganjel perut lagi aja" Bagas meringis


"Mau diskusi apa ya Mas?"


"Sambil makan gak apa-apa?"


"Iya, gak apa-apa Mas"


"Saya sudah mintain izin ke Pak Angga buat kamu hari ini izin gak masuk. trus hari ini kamu istirahat saja dulu di sini. Saya mau ke Bekasi dulu ada kerjaan, sebentar siang sudah kelar. Sore baru kita cari tempat tinggal baru buat kamu, gimana?"


"Hah?!" Nina terkejut mendengarnya, belum bisa mencerna ucapan Bagas. Banyak pertanyaan di pikiran nya setelah mendengar ucapan Bagas


"Hari ini kalaupun kamu maksa masuk kerja, pasti gak optimal kerjanya. Belum lagi kalau rupanya mantan kamu itu tahu tempat kerja kamu, bisa di obrak-abrik Coffee Shop nya. Mau kamu begitu?"

__ADS_1


Nina menggelengkan kepalanya cepat


"Nah, lebih baik setelah ini kamu istirahat. Kompres mata kamu dan nanti mba Ratih bantu pijet kamu. Sore baru kita cari tempat tinggal baru buat kamu. Aku sih senang aja kalau kamu mau tinggal disini tapi pasti jadi omongan orang" Bagas cengengesan


"Kenapa harus cari tempat tinggal baru Mas?"


"Mantan kamu pasti nyari kamulah. Kamu bilang sendirikan ketemu di dekat rumah kontrakan kamu. Pasti dia tahu lah tempat kamu tinggal, kalau pun tidak tahu pasti dia bakal tetap ngejar-ngejar kamu. Mau kamu tiba-tiba kayak kemarin ketemu malam-malam? Masih untung


ketemu saya"


Nina menundukkan kepalanya, membenarkan ucapan Bagas.


Mereka diam beberapa saat


"Mas Bagas kok bisa kenal Pak Angga sampai minta Izin?" Nina tiba-tiba ingat hal yang mengganjal pikiran nya


"Kenal aja, tapi jarang ngobrol. Beliau


mantan kakak saya, kebetulan masih nyimpan kontaknya. Saya juga kaget awalnya saat tahu beliau buka Coffee Shop di seberang percetakan"


"Mas Bagas open banget ya, semua di ceritain"


"Saya bukan orang yang gampang terbuka sama siapa saja Nin. Ini cuma sama kamu saja saya open begini, entahlah... saya nyaman sama kamu makanya apa saja bisa saya bicarakan dengan kamu" Bagas memandang lekat mata Nina, mencari reaksi akan ucapannya


Nina malah menundukkan kepalanya, malu. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus, merona merah hingga ke telinganya.


Bagas hanya tersenyum senang akan reaksi Nina


"Makan dulu Nin. Buatan saya itu,di jamin enak."


"Enak mas, nasi gorengnya. Hebat Mas Bagas" Nina memberikan ibu jarinya tanda pujian kepada Bagas


"Lebih enak lagi nanti kalau sudah SAH, pasti tiap hari saya suguhin makanan enak buatan saya" Bagas menekankan kata SAH


uhuk


uhuk


uhuk


Nina tersedak makanan nya, terkejut dengan ucapan Bagas.


"Minum dulu Nin. Jangan buru-buru, gak akan ada yang minta, kalau habis nanti saya masakin lagi" Bagas menyodorkan gelas air putih kepada Nina


Nina menerimanya dan meminumnya dengan cepat


'Serangan godaan mas Bagas naik level'


Nina melanjutkan makannya dengan perlahan, takut kembali tersedak akibat rayuan Bagas yang naik naik level


*


"Saya berangkat dulu ya Nin. Soalnya kerjaan ini harus di awasi langsung sama saya, gak bisa di wakili" Bagas pamit setelah Nina selesai sarapan pagi


"Iya hati-hati dijalan Mas"


"Mau cium tangan? Anggap aja latihan sebelum dibayar lunas"

__ADS_1


Wajah Nina kembali bersemu merona merah


"Apaan sih Mas Bagas, bercanda melulu"


"Serius loh saya ini Nin"


"Sudah katanya ada kerjaan, sana berangkat. Saya masuk dulu mau istirahat" Nina langsung berlari masuk ke dalam kamar yang sementara ia tempati


Bagas tergelak tertawa melihat tingkah malu-malu Nina, mood nya menjadi baik dan bagus setiap bersama Nina


'Benar-benar Mood booster ku'


*


Cerita di balik percakapan telepon antara Bagas dan Angga, mantan pacar Kakak Bagas. Rheina Indraswari Sarendra.


"Pagi Pak Angga"


"Pagi, maaf sebenarnya ini siapa ya? kenapa anda bisa meminta izin atas nama Nina?"


"Saya Bagas Pak, pemilik percetakan di seberang Coffee Shop milik bapak. Semalam saya bertemu Nina di jalan raya sepertinya akan di begal orang, jadi saya tolong. Sekarang ada di kediaman saya istirahat. Saya akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari izinnya Nina hari ini"


"Kamu adik ya Rheina?"


"Iya Pak, apa kabar?"


"Bagaimana kabarnya Rheina?"


"Baik, Alhamdulillah. Kakak tinggal di Leiden Belanda sama suaminya"


"Jadi dia benar sudah menikah dengan Hank?"


"Iya"


Sunyi setelah nya


"Apa dia bahagia?"


"Kakak Rhein sangat bahagia, akhirnya ada laki-laki yang bertanggung jawab terhadap nya. Terhadap hidupnya juga hatinya"


"Jadi saya mengirim pesan hanya karena terlalu pagi untuk sebuah percakapan lewat telepon. Karena sekarang sudah clear masalah Nina, saya undur diri. Selamat pagi Pak Angga" Bagas langsung memutuskan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban dari Angga


Bagas masih dalam keadaan marah dan kecewa kepad Angga, mantan pacar kakaknya. Lebih tepatnya mantan selingkuhan Angga. Laki-laki beristri yang mengaku bujangan dan merayu Rheina kakaknya.




❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍



❤️ Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2