Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Sebuah cerita masa lalu


__ADS_3


Satya merangkul pundak Ima membawanya bukan masuk ke dalam ruangan pertemuan pribadi. Berbalik menuju taman belakang restoran dan mengajak duduk dibawah pohon.


"Sini duduk dulu"


Ima seperti kerbau yang dicocok hidungnya, menuruti perintah Satya. Duduk di bawah rindang dengan udara sejuk berasal dari pohon beringin berukuran sedang.


Rangkulan berubah menjadi pijatan lembut di kedua pundak Ima.


"Tidak apa-apa bila hari ini adalah hari terberat dalam hidup kamu"


"Nikmati, resapi dan jadikan ini pembelajaran hidup kamu."


"Ini semua masa lalu milik kamu"


"Jika ada yang menyakitkan, lepaskan. Jangan mau menggenggam duri ditelapak tangan dan membawa seterusnya."


Ima menganggukkan kepalanya mendengar petuah Satya. Ima merasa bersyukur hadirnya Satya saat ini. Dahulu Ialah awalnya luka, namun sekarang Ialah pelipur dan pengobat luka lara.


"Makasih banyak Mas"


Satya tersenyum senang dibelakang punggung tanpa bisa dilihat Ima


'Aku akan menjadi pendamping hidup yang benar-benar mendampingi kamu melepaskan masa lalu kamu yang menyakitkan'


' Agar kelak langkah kita hanya ada kita dan Mila, juga calon adik-adik Mila'


*


"Yang kamu mau kemana?" Ayudisha menarik tangan Ganendra


Ditepisnya dengan mudah tarikan tangan Ayudisha dan berjalan mengikuti arah perginya Ima dengan lelaki yang tidak dikenalnya


"Yang" dikejarnya sang kekasih hatinya beberapa kali mencoba menarik lengan Ganendra namun selau bisa ditepis dengan mudah olehnya

__ADS_1


'Siapa laki-laki itu, bisa peluk-pelukan sama Ima'


Tanpa menghiraukan panggilan dan tarikan tangan dari Ayudisha. Ganendra tetap berjalan mencari sosok Ima.


'aku yang selalu ada buat kamu. Bukan Ima, jangan tinggalin aku lagi yang' Inginnya berteriak lantang di telinga Ganendra namun apalah daya, rasa malunya lebih diutamakan


"Lihat, sekarang Ima sudah bahagia sama lelaki pilihan nya"


"Aku yang selalu ada untuk kamu" dengan suara lirih Ayudisha berbisik ditelinga Ganendra, saat tubuhnya berdiri diam diambang pintu keluar taman Restoran melihat Ima bermesraan dengan lelaki lain


"Lantas? hanya karena itu aku harus menyerahkan hidup ku untuk tetap bersamamu?" Tatapan matanya tajam dan jengah


"Obsesi kamu butuh pertolongan ke psikiater" Ganendra berjalan mendekati tempat Ima berada


"Aku bukan orang gila!!" Teriakan Ayudisha menarik perhatian tamu Restoran termasuk Ima


*


Ima memperlihatkan wajah malas. kalau bukan karena Satya, ia tidak akan duduk berhadapan dengan kedua mantan, ralat dengan ditambah Satya menjadi tiga mantan.


'Kenapa harus ada kamu lagi, Ima?'


'Ganendra cuma milik aku'


"Pembicaraan ini bisa lebih cepat? Saya masih di tunggu di dalam!" rasa malas Ima muncul. Ia lebih suka memandang rindangnya pepohonan


Ganendra mencoba memberikan diri memegang tangan Ima di atas meja. Gerakannya terhenti saat tangan Ima ditarik Satya dan digenggam oleh nya. Ayudisha bahkan sudah menarik lengan Ganendra.


"Waktu lima menit akan segera habis bro" tatapan mata tajam Satya berikan, seenaknya saja mau menyentuh miliknya


Ditepiskan cengkraman tangan Ayudisha


"Saya minta maaf atas apa yang pernah saya perbuat"


"Saya salah Ma, semua salah saya bisa-bisanya termakan hasutan dari dia"

__ADS_1


"kapan aku menghasut!! semuanya benar apa adanya ya" Ayudisha tidak terima semua kesalahan di limpahkan kepadanya


"Sudah!! Saya sudah lama memaafkan kalian. Silakan ribut di tempat lain. Saya pamit, ada urusan yang lebih penting" Ima bangkit dengan menggenggam tangan Satya


"waktu lima menit habih bro" Satya menahan pundak Ganendra yang mencoba menahan Ima agar mendengar penjelasannya


Ima bergeming dan berjalan masuk ke dalam restoran bersama Satya, bergandengan tangan.


Hati Ganendra memanas melihatnya, direlung hatinya ia tidak terima Ima dengan lelaki lain. Egonya begitu tinggi, merasa di campakkan. Padahal


Ia lah yang mencampakkan Ima kala itu hanya karena Ima sibuk bekerja dan mengajar gratis, bahkan menduakan Ima dengan sahabat baiknya Ayudisha dibelakang Ima.


*


"Pasti karma akan membalas mereka sayang" dibisikkan di telinga Ima saat mereka sudah masuk ke ruangan pertemuan pribadi


"Aku gak pernah peduli sama masa lalu lagi mas" di bisikkan kembali jawabannya di telinga Satya


Kemesraan mereka menjadi tontonan sanak keluarga. Bagaimana tidak, Ima duduk di samping Eyang putri. Otomatis menjadi spot light seluruh keluarga besar yang ada. Alih-alih pengantin baru yang menjadi tontonan malah Ima dan Satya lah yang menjadi tontonan. Tanpa mereka sadari


Eyang putri terseyum senang melihat Ima dan Satya


"Nanti Tahun depan kita buat acara yang lebih meriah. Catat semuanya, acara saya mantu ya" Eyang putri begitu bahagia mengumumkan nya




❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍



❤️ Terima kasih banyak ❤️


__ADS_1


Bersambung 😉


__ADS_2