Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
33


__ADS_3


Pagi hari seperti biasanya, dengan perlahan Nina membuka matanya. Ia terusik dengan suara alarm handphone miliknya, sudah pukul 4 pagi. Waktunya bangun, mandi dan bersiap ibadah.


Nina dengan gerakan perlahan menyingkirkan tangan Bagas yang dengan santai memeluk bagian kesukaan Bagas dari tubuhnya. Nina berniat untuk mandi terlebih dahulu, ia takut bila membangunkan Bagas akan yang terjadi malah mereka akan bermain di kamar mandi hingga lewat waktu ibadah seperti saat awal-awal menikah.


Dengan gerakan cepat setelah sukses melepaskan diri dari Bagas, Nina menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia harus mandi besar setiap hari kecuali saat datang bulan. Tiba-tiba Nina mematung saat menyikat gigi.


'tanggal berapa ini ya? Kok perasaan belum dapet juga ya?' Nina tiba-tiba kepikiran


Nina menyelesaikan sikat giginya, ia segara mengeluarkan alat testpack yang memang pernah Bagas beli dalam jumlah banyak. Menampung air seninya dan mencelupkan testpack, sambil menunggu ia bergegas mengenakan pakaiannya. Sekarang ia takut bila tidak mengenakan pakaian, Bagas selalu saja menerjangnya tidak kenal lelah padahal ia kelelahan. Lebih baik mencegah hal yang membuat lelah, pikir Nina


"Maklum Nin, namanya bujang lapuk trus dapat janda hot macam kamu. Ya jadi buas lah" ledek Rheina kala itu


Setelah selesai berpakaian, ia kembali ke dalam kamar mandi. Ia mengecek hasil testpacknya, ada dua garis terlihat jelas. Nina menutup mulutnya, ia tidak percaya dan sangat terharu. Ia bisa hamil, di pernikahan pertamanya ia pernah dicap mandul oleh mantan mertuanya karena belum hamil juga bulan ke empat pernikahan.


Nina terharu, ia bahagia. Dengan cepat dicucinya testpack tersebut, agar tidak ada bekas air seni yang menempel. Ia akan memamerkan langsung kepada suaminya Bagas.


"Mas... Mas Bagas bangun..." Dengan sedikit terisak Nina mengoyangkan tubuh Bagas agar terbangun dari lelap tidurnya.


"Hmmm"


"Buka matanya, lihat ini" isakan Nina membangunkan Bagas, ia langsung terduduk takut ada hal yang tidak-tidak terjadi kepada istrinya. Nina meletakkan testpack ditangan Bagas, suaminya. Bagas mencoba menyadarkan dirinya, mefokuskan penglihatannya menatap benda yang diberikan Nina. Sedetik, dupa detipk hingga sepuluh detik Bagas tidak bereaksi.


Nina cemberut, ia kecewa akan sikap Bagas. Suaminya seperti tidak menyukai jika dirinya hamil, padahal anaknya buah cinta mereka. Nina yang memang sudah menahan tangis haru karena tahu bahwa ia hamil berubah menjadi tangis kecewa. Nina merasa ditolak oleh Bagas. Ia berdiri hendak keluar mencari tempat untuknya menangis. Airmatanya sudah mengalir.


"Sayang Nin kenapa?" Bagas langsung mencengkram erat tangan Nina saat Nina bangkit berdiri


"Maafin Nina mas, maaf sudah mengecewakan mas" tangis Nina pecah, tangisnya malah meraung-raung. Ibu hamil beserta hormonnya sudah mulai beraksi.


"Sayang Nin" Bagas kelabakan, otaknya konslet seketika tadi melihat benda yang diberikan oleh Nina. Ia berasa bodoh seketika, ia lupa benda itu dan kegunaannya, makanya ia bersikap diam seperti tadi. Mau bertanya tapi keburu Nina ngambek entah kenapa.


Itulah drama pagi ala ibu hamil yang baru tahu bahwa ia hamil.


Setelah drama subuh tadi selesai setelah diluruskan, Bagas berkata ia bahagia karena akan menjadi seorang Ayah. Padahal ia dilema masih ingin berpacaran halal dengan istrinya, tapi Tuhan sudah berkehendak, mau bagaimana lagi ya bersyukur.


"Mas Bagas gak sayang aku, masa aku gak dibuatin sarapan lagi kayak dulu pas PDKT" Drama pagi berlanjut saat sarapan, Nina yang sudah mulai labil tiba-tiba kembali menangis.


Bagas pun mengalah membuatkan menu sarapan, padahal Ratih sudah membuat sarapan. Terpaksa demi ketentraman rumah tangga, pikir Bagas. Sedang sarapan yang sudah dibuatkan Ratih di simpan menjadi bekal, jadilah bekalnya double.


*


Nina pagi ini akan mengecek Coffee Shop, sekaligus mengerjakan kerja kelompok bersama teman kampusnya. Nina mengajak teman-teman kampusnya kerja kelompok di Coffee Shop miliknya agar menambah jumlah pelanggan, hitung-hitung promosi gratis karena teman-teman kampusnya pasti akan memposting tentang kegiatan mereka di Coffee Shopnya


"Kalau sudah selesai ke percetakan langsung ya sayang Nin, atau kalau mau istirahat di lantai 3 kabarin. Jangan cape-cape Bundanya, Ayah jadi khawatir" Bagas memberikan nasehat-nasehat kepada istrinya saat mengantar Nina ke Coffee Shop


"Iya" Bagas mencium kening Nina dan Nina mencium tangan Bagas

__ADS_1


"Aih... mesranya...saya iri" ledek Leni saat membuka pintu Coffee Shop


"Minta gih buruan sama Toni" Nina berlalu masuk kedalam Coffee Shop dan Bagas ke percetakan miliknya. Meninggalkan Leni sendiri


Siang nanti Nina akan menjamu teman-teman kampusnya di private room lantai 2, dan Nina akan merapihkannya dahulu agar lebih nyaman untuk mengerjakan tugas kelompok.


*


Seperti biasa, di siang hari pengunjung Coffee Shop cukup ramai. Banyak pesanan kopi untuk menemani setelah makan siang. Nina menjaga kasir untuk sementara karena kayla tiba-tiba sakit perut.


"Selamat datang~" sapa para pegawai saat pelanggan masuk


"Selamat siang, pesan apa kak?" Nina sedikit terkejut melihat Angga yang datang sebagai pelanggan


"Siang Nin, selamat ya untuk pernikahannya. Saya pesan Espresso dan ice vanila latte, dua red Velvet cake dan Chocolate cookies. Boleh minta meja yang tenang untuk dua orang Nin?"


"Tentu pak" Nina meminta tolong kepada Agus untuk mengantar Angga ke mejanya setelah melakukan transaksi pembayaran. Pesanan akan di antar.


"Hai Nin, pa kabar?" Rahmat menyapa, Nina tidak sadar kapan laki-laki itu masuk. Ia terlalu fokus melihat ke arah perginya Angga yang sendirian tapi memesan untuk dua orang.


"Hai" Nina canggung, ia masih terkejut akan kedatangan Angga -mantan Boss nya yang membuat ia bermasalah dengan Maria- lalu ini Rahmat -mantan gebetannya-


"Pesan apa?" Nina mencoba menguasai dirinya


"Ini" Rahmat menyodorkan kertas pesanan anak-anak minimarket


"Iya, yang promo aja boleh kan?" Rahmat malu-malu


"Bolehlah, semua orang bisa menikmati kopi tanpa masalah" jiwa marketing Nina keluar


Rahmat lalu menyelesaikan transaksi pembayaran dan memilih menunggu di tempat menunggu yang di sediakan Coffee Shop.


"Assalamualaikum nak" salam seorang wanita tua, Nina yang saat itu sedikit sibuk membantu pesanan dari Rahmat yang agak banyak tidak menyadari kedatangan pelanggan baru yang datang


"Waalaikumsalam, selamat datang. Pesan apa?" Nina terkejut melihat pelanggan yang ternyata Asmarini, mantan ibu mertuanya, ibu dari Budi mantan suaminya.


"Nduk bisa berbicara sebentar? Saya pesan kopi juga ndak apa-apa, asal bisa bicara sebentar" dengan lirih Asmarini bertanya


"Boleh bu, ayo silakan" Nina mengajak Asmarini ke sudut ruangan, meja yang agak tenang. Bersebrangan beberapa meja dengan meja Angga yang masih duduk tenang seperti menunggu kedatangan seseorang.


"Maafkan ibu nduk selama ini, ngapuro (maaf)" Asmarini langsung memegang tangan Nina lembut dengan wajah sendu. Beliau memang berniat untuk meminta maaf langsung kepada Nina, dan baru saat ini baru bisa.


"Sudah bu, saya sudah memaafkan segala hal yang pernah terjadi dulu. Saya juga minta maaf atas segala kesalahan saya bu" Nina mengelus lembut tangan tua Asmarini


Setelah meminta maaf dan bercakap-cakap sedikit, Asmarini pamit. Beliau pergi sendiri dari Rumah Sakit pusat hanya untuk bisa bertemu dan meminta maaf kepada Nina tanpa sepengetahuan anak dan suaminya. Nina khawatir akan keselamatan Asmarini yang ia tahu sedang dalam keadaan sakit, ia berinisiatif untuk memesankan taxi online untuk Asmarini bisa kembali ke Rumah Sakit dengan selamat. Nina mengantar sampai taxi online datang.


Saat Nina kembali masuk setelah mengantar mantan mertuanya, ia terkejut melihat kakak iparnya duduk berhadapan dengan Angga.

__ADS_1


'lah kapan mba Rhein datang? Gak lihat'


Saat Nina akan menghampiri, tangannya di cekal oleh Hans, suami Rheina. Kakak iparnya.


"Mas Hans"


"Jangan di ganggu dulu, lihat dari jauh saja" Hans memberi pengertian. Nina lalu duduk di samping Hans melihat kakak iparnya, Rheina berbicara dengan Angga.


'sebenarnya ini hari apa ya? Kok hari ini ketemu banyak mantan sih. Berbaris lagi tadi' Nina tenggelam dalam pikirannya sendiri


*


"Wah, parah kak Rhein. Ketemu mantan dihadapan suami sendiri" Bagas meledek. Saat ini mereka sedang makan malam bersama di rumah kediaman Sailendra.


"Mending di depan suami, daripada sembunyi-sembunyi, selingkuh namanya" Rheina membela diri. Ia bertemu dengan Angga untuk meluruskan masalah, bagi Rheina hubungan dengan Angga sudah selesai tapi di pikiran Angga belum. Maka tadi ia mencoba menyelesaikannya.


"Nih, Nina ketemu mantan tadi juga di Coffee Shop" ledek Rheina ke Nina, bercanda niatnya dan Nina paham tetapi tidak dengan Bagas yang menanggapi dengan serius


"Apaaaaa?!" Bola mata Bagas membesar, ia melotot


"Hihihi" Rheina dan Nina cekikikan bersama melihat reaksi Bagas


"Sayang Nin" Bagas merajuk


"Iya, tadi aku bikin barisan para mantan. Bener-benar berbaris Mas" Nina masih cekikikan


"Mantan boss, mantan gebetan, mantan mertua trus ketemu mantan suami tapi cuma lihat lewat hp aja" Nina tadi sempat video call dengan Budi memakai handphone milik Asmarini, Budi meminta maaf.


"Aku panas ini sayang Nin" Bagas makin merajuk


"Nangis nih" mata Bagas memerah, sepertinya ia terkena sindrom couvade atau sering disebut kehamilan simpatik. Bagas jadi gampang melow.


"Ayah Bagas yang paling dicintai sama aku dan baby" Nina memeluk tubuh Bagas


"I love u Ayah Bagas"


"I love u Bunda Nina"


*


*


~❤️~


Jangan lupa like jempolnya ya 👍


Terima kasih banyak ❤️

__ADS_1


Tamat


__ADS_2