
Sebulan setelah masalah dengan para mantan selesai. -Mantan atasan, Maria. Mantan suami, Budi dan mantan gebetan, Rahmat.- Nina dan Bagas melakukan acara lamaran di salah satu hotel di Semarang. Karena rumah orang tua Nina yang tidak layak untuk dijadian tempat acara dan saat ini dalam tahap renovasi oleh Waskana dengan biaya tentu saja dari Bagas. Juga karena Bagas yang datang dengan membawa keluarga besarnya, keluarga dari ayahanda -keluarga dari adik adik ayahnya- dan keluarga dari Ibundanya yang ada di Solo -Nenek dan adik ibunya- juga Ratih tentunya. Rombongan anggota keluarganya terlalu banyak. Menyita banyak ruang.
Sangat bersyukur Acara lamaran Bagas untuk Nina disetujui dengan mudah oleh kedua orang tua Nina. Hanya sebuat syarat mutlak yang terucap dari mulut Ibunya Nina
"Saya mohon jika memang berjodoh dan benar-benar akan menikah. Tolong jangan pernah ada perceraian dalam pernikahan lagi. Tolong sayangi dan cintai putri saya dengan tulus" dengan derai air mata, ibunya Nina memohon kepada Bagas
"Saya akan berusaha untuk memenuhi permintaan Ibu. Dan janji saya kepada Ibu saat ini, adalah saya akan mencintai, menghormati, menjaga dan mengajak Nina kepada kebaikan. Dan sepanjang hidup setelahnya saya akan berusaha memengang teguh janji saya itu. Bismillahirrahmanirrahim" Bagas menjawab dengan yakin dan tegas
"Mahar pernikahannya mau apa cah ayu?" Nenek Bagas sebagai orang yang paling tua bertanya
"Saya nda minta apa-apa eyang. Cuma minta janji mas Bagas agar selalu bisa menjadi Imam saya di kehidupan dan di ibadah" Nina menjawab malu-malu
"Mahar itu haknya seorang calon istri jadi kamu berhak meminta kepada Bagas, dan bila Bagas sanggup memberikan harus ia berikan" bulik Gunarto memberi pengertian dengan lembut
"Sudah saya dan Nina pikirkan bulik, maharnya sudah ada. Nanti saat ijab kabul juga tahu, sekarang rahasia dulu" Bagas menjawab dengan riang
"Pinternya bujangku, milih istri ayune koyok ngene*" puji Nenek Bagas dari pihak Ibunya
(Cantiknya seperti ini)
"Yo iyo toh Ibunda, ayune ki hatine jugo, dudu ora mung raine sing ayu*" Ratih ikut memuji
(Ya iya Ibunda, cantiknya itu hatinya juga, bukan wajahnya saja)
Acara pernikahan Bagas dan Nina akan berlangsung tahun depan, terhitung enam bulan lagi. Di awal tahun bulan pertama. Dikarenakan adanya kepercayaan bahwa adik dan kakak tidak boleh menikah di tahun yang sama. Dan tahun ini bulan pertama, adik bungsu Bagas, Ima baru saja melangsungkan pernikahan.
Kedua orang tua Nina tidak keberatan akan hal tersebut. Malah senang karena bisa mempersiapkan acara pernikahan dengan santai tanpa tekanan.
Setelah acara puncak lamaran adalah ramah tamah. Bagas mengenalkan semua anggota keluarganya yang sangat banyak. Membuat keluarga Nina takjub, kerena keluarga Nina yang hanya ada beberapa orang saja yang ikut acara lamaran.
Nina senang karena semua anggota keluarga Bagas menerimanya dan keluarganya. Padahal mereka berbeda status sosial, Bagas berasal dari keluarga pengusaha bahkan perusahaan kontruksi terbesar di Indonesia, Waskana. Sedangkan Nina hanya dari keluarga miskin buruh tani tanpa punya tanah sawah, dengan pendidikan yang rendah. Bahkan bisa menerima keadaan Nina yang seorang janda cerai hidup.
Acara lamaran berlangsung ramai dan terasa kekeluargaan yang erat semakin terjalin. Setelah dua jam Acara selesai, namun berlanjut ke acara keluarga agar makin mengeratkan rasa, juga sebagai liburan singkat bagi sebagian keluarga.
Bagas berencana akan melangsungkan akad nikah di Semarang karena kedua orang tua Nina yang meminta agar keluarga dan sanak saudara juga tetangga Nina bisa hadir. Lalu akan di adakan resepsi pernikahan di Jakarta karena keluarga dari ayah Bagas banyak yang bermukim di sana.
*
"Makasih banyak ya Mas calon Imam" Nina menggenggam tangan Bagas lembut namun erat
__ADS_1
"Sama-sama calon makmum" Bagas mengelus tangan Nina yang menggenggam tangannya menggunakan ibu jarinya
"Mas Bagas itu seperti jakpot di hidup saya. Bahkan di mimpi terliar saya pun tidak pernah berharap memiliki lelaki yang se sempurna Mas. Bukan harta yang saya cari, tapi..."
"Rasa tanggung jawab, perhatian, pengertian, mau berbagi disegala keadaan. Aku akan berusaha untuk itu Nin. Kedua orang tuaku sudah mencontohkannya sepanjang hidupku, kakak dan adik perempuanku mengajarkan aku harus bisa menjadi lelaki bertanggung jawab. Dan aku harap disepanjang hidup kita kelak akan terus menjadi Imam kamu yang bertanggung jawab" Bagas memotong ucapan Nina
"Terima kasih banyak mas" Nina memeluk Bagas dengan tangan yang masih saling menggenggam.
"Terima kasih banyak juga sudah mampir dihidup aku dan mau menjadi makmumku" Bagas mencium kening Nina lembut
"Belum halal hayooo" Ratih bertepuk tangan mencoba menyadarkan Bagas dan Nina
Malam ini mereka berkuliner ria di kota Semarang, selama dua hari ini akan dijadikan ajang liburan keluarga, keluarga besar Bagas dan Nina. Berwisata sepuasnya di kota Semarang selama dua hari dua malam, karena besok malam mereka semua akan kembali ke kota masing-masing. Dan yang merasakan getahnya adalah Arya sang CEO Waskana, ia harus bisa menggelontorkan dana untuk biaya liburan seluruh keluarga dari hasil laba tahun kemarin, dan harus memutar otak lagi menyisihkan untuk pernikahan Bagas tahun depan.
'yang nikah siapa yang mikir dananya siapa? Apes amet tahu gini mending dulu biar Bagas yang jadi CEOnya' runtuk Arya
*
*
Toni setelah kepulangan Leni dari rumah sakit, beberapa kali mencoba menghubungi Rahmat. Ia bukan ingin mencari perkara dan perhitungan dengan Rahmat namun hanya ingin mengajaknya kembali bekerja. Rahmat sudah membolos 1 minggu lamanya, dan ia sudah mendapatkan SP dari manager Minimarket. Toni hanya merasa kasian bila sampai Rahmat di pecat, mencari kerja itu susah pikir Toni.
"Kenapa?" Rahmat sewot
"Kerja woy!!! Dah bolos banyak juga. Ayo kerja lagi, cari kerja itu susah Mat" Toni menasehati
"Halah, paling trik lo doang biar gue balik trus lo bisa bales gue dah bikin cewe lo jatoh" Rahmat acuh
"Gue, Leni bahkan sampai pak Bagas sudah gak mempersalahkan masalah itu lagi. Dah ditutup kasusnya sama pak Bagas. Leni juga mau minta maaf langsung sama lo, dia bilang dia yang salah mancing-mancing lo sampai lo marah. Gue sebagai lakinya juga minta maaf atas nama Leni. Balik Mat, kerja lagi" bujuk Toni
"Trus Kalau Nina gimana?" Rahmat bertanya hati-hati
"Kenapa sama Bu Nina? Dia sih santai aja perasaan gak ada masalah sama lo. Malah katanya bulan depan mau lamaran" Toni bingung akan pertanyaan Rahmat
"Dia gak di teror lagi sama mantan suaminya, yang waktu malam-malam kita ketemu di warung pecel lele, laki yang ngancem-ngencem itu"
"Kayaknya gak lagi deh, Leni cerita itu dah selesai. Mantannya dah pindah keluar kota dan gak bakal ganggu hidup Nina lagi. Kenapa sih lo?"
"Gak, gak kenapa-napa. Besok gue usahain balik. Makasih banyak Ton" Rahmat memutuskan sambungan telepon dengan rasa lega.
Ia sebenarnya merasa bersalah dan merasa dirinya begitu bodoh selama pelarian ini ia berpikir. Menyalahkan Bagas yang merebut Nina padahal ialah yang menolak Nina mentah-mentah, cemburu karena Nina mendapatkan laki-laki yang lebih dari dirinya. Juga kepada Leni, tempat ia melampiaskan kekesalannya padahal Leni tidak salah apapun. Dan hal yang bodoh adalah memprovokasi Budi agar menteror Nina dengan memberitahukan tempat tinggal Nina. Padahal kalau saja Rahmat tidak memberitahu tempat tinggal Nina kepada Budi, Budi pun sudah tidak memperdulikan lagi karena sibuk mencari uang untuk hidup di Ibu Kota agar bisa dengan mudah merawat Ibunya ke Rumah Sakit Pusat.
__ADS_1
Malam itu Rahmat langsung menuju ke pertokoan. Ia bertekad untuk meminta maaf kepada semuanya. Saat ia sudah memarkirkan motornya, Bagas melintas. Dengan cepat Rahmat memanggilnya.
"Mas Bagas, tunggu" Rahmat mensejajarkan langkah dengan Bagas
"Eh, Rahmat pa kabar? Lama gak lihat kamu, katanya ibunya sakit? gimana keadaannya?" Bagas basa-basi
"Baik mas" Rahmat menggaruk tengkuknya malu
"Boleh bicara sebentar mas?" Pinta Rahmat sopan
"Boleh, ayo ke dalam aja ngobrolnya" Bagas menunjuk percetakannya. Mereka pun menuju ke percetakan dengan berjalan beriringan.
Bagas mempersilahkan Rahmat duduk di ruangannya, Rahmat agak gugup dan Bagas santai saja. Ia menyeduhkan teh hangat kepada Rahmat dan menyajikan snack ringan yang memang selalu ada di ruangannya.
"Ada apa nih?" Bagas duduk setelah menyajikan minuman dan cemilan
"Saya mau minta maaf mas, saya banyak salah sama mas Bagas. Sudah buat Coffee Shop mas Bagas jadi buruk citranya gara-gara saya gak sengaja narik jatuh Leni. Juga sudah memberikan informasi tentang Nina kepada mantan suaminya. Saya minta maaf sekali mas" Rahmat memohon
"Yang sudah lewat ya sudah, kalau kamu menyesal ya itu bagus buat pembelajaran kamu kedepannya. Saya sudah tidak mempermasalahkan hal-hal yang lalu, sudah selesai semuanya. Saya harap kamu juga jangan mengulang hal-hal itu lagi." Bagas dengan bijak berbicara
"Terima kasih banyak mas" Rahmat terisak-isak
"Saya juga akan minta maaf sama Leni langsung juga sama Nina"
"Silakan kalau sama Leni, tapi kalau sama Nina saya mohon jangan dulu ya. Biar saya yang menyampaikan, nanti bila Nina sudah bisa bertemu dengan kamu lagi baru silakan"
"Baik pak, terima kasih banyak" Rahmat hendak mencium tangan Bagas, dan dilarang Bagas dengan keras
"Cium tangan sama emak bapak aja jangan sama saya, masih muda saya"
*
*
~❤️~
Boleh kali minta like jempolnya 👍
Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉
__ADS_1