Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 20


__ADS_3


20


[Nina, calon makmum ku. Hari ini mas gak bisa ke sana ya, besok juga gak bisa. Mungkin lusa baru bisa ngecek, sekalian lihat kamu. Hati-hati jangan keluar sendirian. Kalau mau jajan delivery aja. Dari calon imam mu. Bagas ❤️]


Nina membaca pesan dari Bagas dengan perasaan berbunga-bunga, dengan wajah malu-malu.


'akh... Calon imam ku manis banget sih' Nina memeluk handphone miliknya seperti ia akan memeluk Bagas. Perasaan bahagianya membuncah hingga seperti disekelilingnya ada bunga-bunga bermekaran


"Wizs... Bunganya mekar dimana-mana ini Bu" ledek Leni yang memang sedang membersihkan meja di sebelah Nina berdiri. Leni tidak bermaksud kepo dengan hidup Nina, hanya kebetulan saja Leni ada di sebelah Nina yang dari tadi bersikap seperti orang kasmaran -walaupun betul kasmaran- dengan tingkah lebay -berlebihan-


"Iya Len, doain ya biar cepet SAH" Nina mulai labil, kemarin masih malu-malu dan takut-takut juga tidak percaya. Saat ini malah terang-terangan.


"Aamiin Bu, Sah" Leni menjawab dengan tulus


"Makasih banyak ya Len" Nina mengelus lengan Leni dan berlalu meninggalkan Leni yang kembali sibuk bekerja.


Nina kembali bekerja, membantu di counter pemesanan. Malam adalah saat-saat Coffee Shop ramai.


*


Setelah perjuangan melayani para penikmat kopi, akhirnya jam sepuluh malam Coffee Shop di tutup untuk hari ini. Para pegawai melakukan tugasnya masing-masing, membersihkan Coffee Shop. Nina dan Kayla karyawan baru bagian administrasi, mereka bahu membahu menghitung dan menginput pemasukan dan pengeluaran hari ini pembukuan keuangan Coffee Shop. Kayla yang cekatan membuat pekerjaan menginput data menjadi lebih cepat selesai bertepatan juga dengan pegawai lain yang sudah selesai merapihkan Coffee Shop.


"Ok, semuanya sudah selasai. Terima kasih banyak kerja samanya hari ini. Selamat istirahat, hati-hati dijalan" Nina berterima kasih dan membubarkan semua pegawai


"Terima kasih banyak~" jawaban serempak para pegawai


"Kay pulang sendiri atau di jemput lagi?" Nina bertanya basa-basi


"Di jemput Bu, tapi kayaknya belum datang, saya tunggu di sini gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa, saya juga nunggu mina pulang kerja" Nina menjawab sambil mengangkat bangku yang tadi ia duduki dan membantu Leni menutup tirai untuk menutupi bagian kaca jendela.


"Bu, saya keluar sebentar ya..." Leni meminta izin


"Kalau sudah di luar jam kerja panggil nama aja gak apa-apa Len."

__ADS_1


"Kebiasaan bu boss"


"Gak ganti baju dulu? Nti bawa kunci ya takut saya sudah kunci pintunya"


"Iya, ini mau ganti baju dulu. Nti kunci aja gak apa-apa, aku bawa kunci juga" Leni bergegas naik ke lantai 3


Nina duduk di sofa panjang dan menaikkan kakinya, meluruskan kakinya di atas sofa sambil sesekali memijatnya. Kakinya pegal seharian mondar-mandir, lebih menyenangkan sebagai Barista -hanya di counter saja pikirnya- . Nina sebenarnya ingin naik ke kamar dan mandi namun Kayla belum pulang dan tidak mungkin meninggalkannya sendiri apalagi dia yang memegang kunci Coffee Shop


"Di jemput siapa Kay, pacar ya?" Nina bertanya basa-basi lagi agar tidak sepi.


"Pacar Bu" wajah Kayla tersipu malu


"Sudah lama pacarannya?"


"Lumayan Bu, sudah dua tahun. Dulu LDR an, Alhamdulillah sekarang dia sudah pindah ke Jakarta juga"


"Lama juga ya pacarannya, gak cape pacaran lama-lama? Eh... Maaf bukan menghakimi loh Kay... Cuma nanya, kalau gak berkenan gak usah di jawab... Maaf ya kay" Nina tidak enak hati


"Insyaallah tahun ini menuju naik pelaminan Bu, doain aja. Dua tahun buat nabung bekal resepsi"


"Aamiin.. semoga lekas ya Kay" Nina menjawab dengan tulus


Suara klakson motor terdengar dari luar dan tak beberapa lama suara telpon masuk ke handphone milik Kayla, dilihatnya segera dan tersipu malu wajahnya.


"Bu, saya pamit ya. Sudah di depan orangnya. Terima kasih banyak." Kayla pamit


"Iya, hati-hati dijalan. Sampai besok, selamat istirahat" Nina mengantar Kayla sampai depan pintu Coffee Shop, niatnya setelah itu akan mengunci pintu dan naik ke atas untuk segera mandi dan istirahat tidur.


Setelah kepergian Kayla dan pacarnya, Nina segera mengunci pintu dan menutup tirai. Di putar tumitnya menuju tangga


'Mari naik dan mandi lalu istirahat' tekat Nina dalam hati


*


Tubuh Nina sudah segar setelah mandi dan makan malam bersama Mina tadi. Rasa kantuknya sudah menguap tak berjejak, apalagi setelah ngobrol kesana-kemari bersama Mina. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Handphone yang dari tadi di charger baru bisa di genggam olehnya. Dengan memasukkan kata sandi layar handphone memperlihatkan wajahnya yang bergaya manis, ada beberapa notifikasi baru. 5 pesan chat, 1 sms dan 10 panggilan tidak terjawab.


'siapa yang miss call berkali-kali?' pikir Nina sambil mengecek notifikasi panggilan. Ada 2 panggilan tidak terjawab dari Bagas dan sisanya dari nomor baru yang tidak ia kenal. Dahinya berkerut bingung, hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


Lalu di alihkan ke notifikasi chat, 4 chat masuk dari Bagas dan 1 dari nomor baru yang melakukan panggilan telepon tidak terjawab berkali-kali. Di baca lebih dahulu chat dari Bagas, prioritasnya saat ini.


[Malam calon makmum ku. Sudah makan belum?]


[Saya lagi ada dari rumah adiknya ayah saya, mau minta izin dan restu buat ngelamar kamu. Doain ya]


[Saya telpon gak di angkat lagi apa sih?]


[Nina sayang, kamu baik-baik saja kan?]


Nina terseyum senang, wajahnya panas merona merah. Di letakkan telapak tangan kanannya di pipinya, sedikit meredakan panas di wajahnya. Lalu membalas chat ke Bagas


[Malam calon imam ku, maaf tadi hpnya aku charger trus aku tinggal mandi]


[[Saya lagi ada dari rumah adiknya ayah saya, mau minta izin dan restu buat ngelamar kamu. Doain ya] Semangat calon Imam ku, semoga di permudah. Dan semoga kita berjodoh sampai maut yang memisahkan]


Nina menenggelamkan wajahnya ke bantal, malu setelah membalas pesan Bagas.


'semoga kau memang benar akan menjadi imam dalam hidupku mas Bagas' doa Nina dalam hati.


Setelah euforia kegembiraan membaca chat dan berbalas chat dengan Bagas. Nina kembali membaca chat masuk dari nomo baru yang tidak di kenalnya.


[Hallo Karenina, apa kabar? Hebat ya bisa jadi boss di Coffee Shop dan dapat bujang lapuk kaya raya. Nikmatinlah hari-hari kamu dengan kakimu, segera saat kita bertemu lagi akan ku pastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi]


Nina melempar handphone miliknya ketakutan dan masuk ke dalam selimutnya setelah membaca chat masuk. Ia sekarang tahu siapa pengirim chat tersebut, Budi -mantan suaminya-


Lalu tiba-tiba ia ingat belum mengunci pintu kamarnya, dengan gerak cepat ia melompat jauh dari kasur dan mengunci pintu kamarnya. Dengan gerakan cepat tergesa-gesa ia kembali masuk ke dalam selimut, tubuhnya bergetar ketakutan, matanya awas melihat keadaan.




Jangan lupa like jempolnya ya 👍



Terima kasih banyak ❤️

__ADS_1



Bersambung 😉


__ADS_2