
Tok
Tok
Tok
Bagas mengetuk pelan pintu kamar inap Leni, takut mengganggu istirahat bila rupanya Leni ataupun Nina sudah tidur. Namun Bagas tetap mengetuk pintu demi kesopanan.
Strettt
Pintu kamar inap terbuka dan muncul wajah Nina dengan senyum manisnya. Bagas terpesona, waktu seolah-olah berhenti. Suara-suara disekitar mereka menghilang senyap, hanya ada Nina dan Bagas saling memandang.
"Mas Bagas" Nina menyapa, mengajak kesadaran Bagas kembali. Di dorong dadanya Bagas agar mundur memberi ruang untuk Nina maju keluar kamar inap. Lalu menutup pintu perlahan-lahan.
"Leni sudah tidur, kayaknya karna efec obat. Tadi suster ngasih obat lewat infus pas mas Bagas masih diluar. Kita ngobrol diluar aja ya mas, takut ganggu istirahatnya Leni" Nina menuntun tangan Bagas menuju ruang tunggu dekat meja perawat. Mereka duduk di pojok ruangan dan duduk bersebelahan.
"Kamu mau makan Nin?" Bagas bertanya basa-basi
"Kan sudah makan tadi bareng mas Bagas, sebungkus berdua. Mas Bagas masih laper ya" goda Nina
"Gak laper cuma pengen nyemil aja Nin, mau?" Bagas membuka salah satu Snack dan menawarkan kepada Nina, namun di tolak Nina dengan gelengan kepala
"Tadi Leni sudah cerita kejadian versinya dia" Nina memberi informasi tentang Leni, Bagas diam menganggukkan kepalanya mendengarkan Nina berbicara sambil makan snack. Nina pun menceritakan seperti yang di ceritakan Leni tanpa menambahkan dan menguranginya
"Saya setuju sama kamu Nin. Males saya ribut-ribut, cape. Kalau ini bisa di selesaikan dengan baik kekeluargaan lebih baik banget"
"Calon makmum aku kok bijak banget sih" goda Bagas mengelus rambut Nina, membuat rona merah merona malu-malu tercipta di wajah Nina.
"Ikh... Muka kamu kalau malu-malu lucu banget sih, jadi pingen meluk. Yuk buruan kita halalin" goda Bagas semakin-makin
"Mas Bagas akh..." Nina mendorong pelan lengan Bagas, ia malu sekali di goda Bagas tapi hatinya begitu senang
*
Pagi harinya Bagas dan Nina pamit, Nina kembali ke Coffee Shop dan Bagas kembali bekerja di percetakan. Ada Toni yang sudah datang dari sebelum subuh, ia menukar shif agar pagi bisa menjaga Leni. Karena kalau malam masih belum diperbolehkan, belum halal.
"Titip Leni ya Ton, kalau ada apa-apa kabarin saya atau mas Bagas" Nina mewanti-wanti
Bagas dan Nina berangkat bersama dengan menaikkan mobilnya. Ia akan menumpang mandi di Coffee Shop lalu kembali bekerja di percetakan. Nina pun hari ini akan kembali bekerja seperti biasa, begitu juga Coffee Shop akan beroperasi seperti biasa.
__ADS_1
Bagas sebagai owner Coffee Shop sudah menutup kasus Leni sebagai kecelakan dan akan bertanggung jawab penuh sampai Leni sehat kembali bekerja, juga tidak akan memperpanjang masalah soal Rahmat.
"Kasus ini selesai. Saya yang bertanggung jawab penuh atas semuanya sampai kamu dinyatakan sehat oleh Dokter. Setelah ini saya tidak mau ada ribut-ribut lagi yang membawa-bawa kejadian ini, oke" itu kata-kata Bagas kepada Leni dan Toni saat tadi di rumah sakit
"Semua kembali seperti biasa lagi, saya minta menenangkan diri juga tolong tenangkan orang lain yang kepo. Jangan nambah-nambah masalah" Bagas memberi perintah
"Mau sarapan apa Nin?" Tanya Bagas sambil serius mengemudi
"Apa ya mas, Bubur kacang hijau enak kayaknya" Nina menjawab sambil berpikir
"Siap bu boss" ledek Bagas
"Iya mas calon Imamku" ledek Nina tak mau kalah
Mereka berdua tertawa kompak setelahnya, perasaan membuncah bahagia karena bisa bersama dengan orang terkasih. Membuat kekhawatiran akan masalah yang ada sedikit teratasi karena mood hati semakin membaik. Energi positif mengalir di setiap lekuk tubuh, menghilangkan energi negatif masalah.
*
Sesuai instruksi Bagas, sebagai owner Coffee Shop Arleen. Mulai hari ini Coffee Shop akan beroperasi normal seperti biasa. Kasus kejadian terjatuhnya Leni dianggap kelalaian saat berkerja, bercanda tidak tepat tempat.
Leni akan mendapatkan SP1 dari Bagas, tapi itu hanya formalitas saja agar masalah tidak bertambah besar. Leni pun menyetujuinya karena ia pun meresa ikut bersalah memancing kemarahan Rahmat.
Semua pegawai hanya di beri informasi bahwa, Leni dan Rahmat bercanda lalu tidak sengaja dorong-dorongan di tangga dan jatuhlah Leni. Soal Rahmat yang menghilang itu bukan urusan Bagas, ia tidak mau peduli.
"Saling menghormati sesama rekan, menghormati kepada atasan dan menghormati pelanggan. Agar para pelanggan pun tahu bahwa tempat ini layak untuk di singgahi dan untuk kembali dan kembali berkunjung" Bagas meneruskan
"Kasus Leni saya anggap selesai, begitu juga kalian semua. Saya bertanggung jawab penuh sampai Leni di nyatakan sembuh oleh Dokter. Saya tidak mau ada desas-desus gosip yang aneh-aneh lagi. Selamat bekerja dan beraktivitas kembali" Bagas menutup pertemuan pagi
"Baik Pak Boss" jawab semua pegawai
*
"Loh, kamu jadi manajer disini toh?" Maria menghampiri Nina dengan membawa cangkir kopi
"Siang Bu, sudah dapat tempat duduk? Mau saya bantu?" Nina menyapa dengan senyum manisnya, sebenarnya ia agak ngeri melihat Maria membawa cangkir kopi di tangannya.
'kayak mau di siram' Nina agak takut
"Hebat juga bisa merayu bujangan kaya, sampai minta di belikan Coffee Shop dan menjadi manajernya. Janda itu selalu terdepan ya.... Terdepan gatelnya..." Maria mencibir
'jiah, kenapa lagi ini orang. Perasaan dulu sudah selesai masalahnya, kenapa jadi nyari masalah lagi sih?' Nina jengah
__ADS_1
"Kalau ibu sendiriian di sana ada bangku kosong, atau duduk di depan counter. Silakan" Nina mencoba tidak terpancing tetap menjaga profesionalisme kerja
"Lon-te" umpat maria pelan namun dapat Nina dengar
'sabar Nina, sabar... Ingat kata Mas Bagas. Hati boleh panas, kepala tetap dingin' Nina menasehati diri sendiri.
Nina pura-pura tidak mendengar dan tetap tersenyum, menyapa pelanggan lain. Hari ini pelanggan tidak terlalu banyak seperti biasanya. Imbas kejadian kemarin. Namun Bagas ataupun Nina tetap mensugesti para pegawai agar tetap berkerja seperti biasa malah kalau bisa semakin baik dan profesional.
Banyak pelanggan yang cukup kepo akan kejadian kemarin, bertanya-tanya kepada pegawai Coffee Shop layaknya mengajak bergosip.
"Kemarin kok tutup sih, padahal aku lagi pusing banget butuh kafein" salah satu pelanggan protes
"Iya kak, maaf sudah membuat tidak nyaman. Kami akan berusaha melayani sebaik-baiknya" jawaban setiap pegawai bila ada pelanggan yang protes
"Kemarin katanya ada kejadian kriminal ya disini? Gosipnya ada pegawai yang didorong dari lantai atas sampai mati" salah satu pelanggan bertanya
"Tidak benar kak berita tersebut. Hanya kesalah pahaman antar teman saja, bercanda di atas tangga sampai terpeleset di tangga. Orangnya juga baik-baik saja, hanya kakinya terkilir" Tamy menjawab dengan diplomatis
"Berarti tangganya gak safety dong" tuding pelanggan lain
"Sudah sesuai standard kak tangganya, kan di renovasi oleh Waskana. Namanya apes kepeleset bercanda sama teman ya begitu jadinya kak" Kayla menjelaskan
"Denger gosip katanya cekcok sama owner soal gaji ya, katanya gaji disini kecil di bawah UMR" salah satu pelanggan bergosip
"Wah itu tidak benar kak, gaji saya saja yang cuma waiters di atas UMR kak. Bisa cicil handphone boba dong" Andi langsung pamer Handphone boba miliknya, membuat pelanggan mati kutu
Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pelanggan dan tentu saja bisa di jawab dengan diplomatis oleh semua pegawai Coffee Shop.
*
*
Jangan lupa like jempolnya ya 👍
Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉