
"Deasy bahkan tidak senang akan kehamilannya, katanya itu merusak tubuhnya"
"Deasy hampir menggugurkan kandungannya. Ia lebih memilih menjadi model dan meninggalkan kami setelah melahirkan" Terdengar rasa frustasi dari suara Satya dan Ima menyadarinya.
"Wah... Ima gak denger berita apapun itu..." Ima memberikan senyum aneh
"Ima jarang datang ke pertemuan keluarga mas"
"Males di tanya-tanya melulu"
"Tahukan apa yang ditanyain melulu"
"Hehehe" Ima sengaja menggaruk kepalanya agar Satya berhenti mengelus kepalanya
Tapi bukannya berhenti malah Satya ikut menggaruk di tempat Ima menggaruk
"Sudah donk mas, aku bukan monyet" rengek Ima menepis tangan Satya
Satya tertawa terbahak-bahak namun tetap mengelus kepala Ima
"Hahahaha"
Setelah hampir 2 jam mereka bermain salju dan Mila sudah kedinginan, akhirnya mereka keluar dan mencari makan. Ima mengaktifkan kembali telepon genggam miliknya yang memang sengaja ia matikan karena kesal dengan Dara.
drttt
drtttt
drtttt
Pesan masuk secara cepat dan berderet ke handphone miliknya. Ima tersenyum lucu.
"Ima mau makan apa?" Satya tetap dengan kegiatannya mengelus kepala Ima
"Sapo tahu sapi pakai nasi sama teh tawar anget"
"Mila juga mau kayak mama"
"Siap My princess dan My Queen" Satya mengelus kedua kepala Ima dan Mila dan memesankan makanan untuk mereka
Ima sebenarnya canggung dengan sikap Satya yang ringan tangan, mengelus-elus kepala ataupun pundak juga punggung Ima.
'Bisa-bisa baper beneran ini gw'
Ima memegang dadanya
__ADS_1
"Mama kenapa?" Mila memeluk Ima
"Ibu baik-baik saja kok"
"Mama" Mila kekeh dengan panggilannya untuk Ima
"Iya...iya.."
Nada dering telepon genggam miliknya terdengar, Ima melihat nama pemanggil
'burung Dara'
"IMAaaaaaaaaa....." lengkingan Dara terdengar saat Ima menggangkat telepon
"APA"
"Ada dimana Lo?"
"Lo kok gak ngajak-ngajak gw"
"Emang ada dimana Lo?"
"Diparkiran motor"
"Jadi tukang parkir lo"
"Gw kesana ya... jangan ditinggal"
"Gak janji" Ima memutuskan sambungan telepon. Dibacanya beberapa pesan dari Dara yang mencari-cari dirinya. Dara menunggu di perkiraan motor karena tahu motor Ima masih ada di parkiran. Dara tidak mau pulang, dan menunggu Ima untuk pulang bareng ke kosan.
"Gigih juga nih bocah'" guam Ima
"Siapa yang gigih Ma" Satya kembali dari membayar pesanan makanan dan melihat pesan yang ada di handphone Ima. Kembali Satya mengelus kepala Ima dan Mila bergantian
__ADS_1
"Lagi asyik chat sama siapa itu? Kamu ada janji sama cowo"
"Temen aku, tadi kita kesini bareng"
"Aku kira dia sudah pulang duluan, tahunya nungguin"
"Nanti dia mau kesini ikut makan"
"cewe cowo Ma" Satu tangan Satya turun memeluk pundak Ima dan satunya memegang tangan Ima yang memegang Handphone untuk dilihatnya dengan jelas
"Cewe ayah...."
"Suaranya cempreng kayak kakak lani"
"Hmmm" Satya hanya menggukkan kepalanya tapi tetap fokus ke layar handphone Ima
"Tadi naik apa kesininya Ma"
"Motor mas, boncengan berdua Dara" Ima benar-benar terintimidasi atas sikap Satya
'Astaga kenapa jadi kayak orang posesif begini ya'
"Nanti pulang aku yang anter, aku mau lihat kamu tinggal dimana" Satya mengambil Handphone Ima dan mengskrol-skrol nya dihadapan Ima
'Berasa kepergok selingkuh'
'Untung wallpaper sudah diganti dan foto sama Bimo sudah dihapus'
"Gak keberatan kan saya laihat-lihat handphone kamu Ma" Satya dengan senyuman yang menggoda
'Astaga, kenapa jadi merasa habis selingkuh sih'
❤️Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung