Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 22


__ADS_3


22


Leni sudah berdiri mondar-mandir di depan pintu Coffee Shop. Matanya mencari-cari sesuatu dengan menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia menunggu Bagas datang. Ia gelisah menunggu untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Nina semalam.


"Pagi Neng Leni, nungguin siapa?" Sapa Toni sambil menggoda


"Eh, bang Toni. Nunggu pak boss Bagas" wajah Leni tersipu malu-malu


"Tumben nunggu diluar begini?" Toni curiga


"Mau ceritain masalah Nina bang" jelas Leni


"Kenapa Nina?" Jiwa kepo Toni keluar


"Abang janji jangan cerita-cerita sama yang lain ya" ancam Leni serius


"Emangnya tampang abang ada kayak ember bocor neng?"


"Ikh, serius ini bang" Leni sewot memukul pundak Toni


"Sama, serius juga. Mau langsung ke KUA juga hayuk" Tantang Toni


"Yeeeh... Kalau serius yang itu sana ketemu bapak saya dulu Bang" ajak Leni


"Asyiap" Toni cengengesan


"Len, aku berangkat kerja dulu ya. Kamar mandi dah kinclong. Tati nemenin Nina makan diatas. Bye" Mina pamit sambil menepuk pelan pundak Leni dan berlalu


"Hati-hati dijalan Mina" Leni melambaikan tangannya dan dibalas Mina dengan lambaian tangan juga


"Emang Nina kenapa neng?" Toni kembali fokus ke pembicaraan awal karena mendengar nama Nina tadi disebut teman Leni, ia tidak tahu nama Mina karena belum berkenalan.


"Janji jangan cerita ke siapa-siapa ya" ulang Leni menyakinkan dan dibalas anggukan kepala Toni


"Semalam Bu Nina di teror ma mantan suaminya mpe Nina ketakutan. Semalam bu boss nangis aja." Leni menjelaskan


"Teror gimana neng?" Toni makin penasaran


Akhirnya Leni menceritan kepada Toni kejadian semalam juga tentang ancaman dari mantan suaminya Nina. Mereka ngobrol hingga tidak menyadari keadaan, dari berdiri dan sekarang sudah duduk di dalam Coffee Shop.


"Gi-l@ banget itu cowo, lapor polisi aja itu Len. Bilang sama bu boss saya siap jadi saksi saat dia ancem-ancem pas di deket warung pecel lele" Toni kesal mendengar cerita sampai memukul meja


Bruk


"Siapa yang mau ngancem-ngencem? Emang kamu mau jadi saksi apa Ton? Saksi nikah aja belom pernah" Bagas tiba-tiba datang dan memotong ucapan Toni. Ia mendengar kekesalan Toni, yang belum ia tahu sebabnya. Karena ia baru saja datang dan melihat Toni dan Leni mengobrol asyik


"Pak boss, akhirnya datang juga" Leni lega


"Pak dengerin yak" dan Leni pun menceritakan hal yang sama seperti ia menceritakan kepada Toni.


Bruk

__ADS_1


Bagas memukul meja yang sama -yang dipukul Toni- dengan murka.


"Iya, ini masuk pengancaman serius. Saya bakal lapor polisi, kamu yakin mau jadi saksi Ton?" Bagas marah


"Yakin pak boss" tegas Toni


"Maaf pak boss nyela, kayaknya sekarang yang penting keadaan bu boss dulu deh. Bu Nina masih nangis di atas" Leni menunjuk langit-langit


"Akh, iya bener. Makasih Len. Hari ini nitip Coffee Shop, kamu yang hendel. Nanti ada bonus buat kamu. Juga buat kamu Ton. Makasih banyak" Bagas bergegas naik ke lantai atas


"Alhamdulillah dapet bonus, buat nabung resepsi ya Neng" goda Toni


*


Di lantai atas Bagas mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu sebelum membuka pintu dan masuk. Tidak ada siapapun, Bagas berjalan masuk menuju kamar Nina. Baru akan mengetuk, pintu kamar sudah terbuka. Ada wajah Tati yang sama-sama -Bagas- terkejut.


"Eh, pak boss"


"Nina lagi apa? Dia baik-baik saja?"


"Tidur pak, baru saja. Semalam menangis saja, tadi bis selesai sarapan saya kasih parasetamol"


"Saya mau lihat boleh?"


"Ya silahkan pak boss. Saya sekali pamit mau berangkat" Tatiem memberikan jalan untuk Bagas masuk


"Makasih banyak ya dah ada buat Nina"


Bagas dengan perlahan berjalan mendekati kasur Nina, berjongkok dan duduk perlahan. Memandangi wajah lelah Nina. Hatinya sangat hancur melihat mata sembab Nina. Semalam padahal ia sedang bahagia karena mendapatkan restu dari pakli Gunarto untuk meminang Nina, malah Nina disini sedang menangis ketakutan karena mantan suaminya itu.


'harus di hilangkan dulu peredaran mantan sebelum janur kuning melengkung' tekat Bagas


Dielusnya dengan perlahan kepala Nina, dan dikecup puncak kepalanya.


Bagas bangun dan berlalu keluar kamar, menutup pintu dengan perlahan. Ia duduk di sofa dan mengeluarkan phonecellnya mengechat Karenina, memintanya menghendel percetakan untuk hari ini karena ia izin tidak masuk bekerja. Lalu ia menghubungi sepupunya, Rendi. Pengacara keluarga besarnya, Rendi sudah memiliki kantor pengacara atas namanya sendiri.


Setelah mengirim chat dan di balas oleh Rendi. Phonecellnya berbunyi tanda ada panggilan masuk.


"Yo bro" Sapa Bagas


"Ada apa nih? Tumben mau nelpon aja aja chat dulu nanya sibuk gak nya"


"Ada masalah serius ini mas"


"Serius bagaimana nih sampai butuh pengacara?"


Bagas menceritakan tentang masalah Nina dan mantan suaminya yang menerornya. Sekali, dua kali dan yang ketiga kali teror pun Bagas ceritakan. Lalu latar belakang kenapa Nina bisa di teror. Dan terakhir di ceritakan tentang hubungannya dengan Nina


"Waduh calon ipar toh... Pasti tak bantu sampai selesai ini sih. Mau damai atau ke meja hijau?"


"Kalau bisa damai ya damai aja mas, aku gak suka ribut-ribut pusing"


"Siap, nanti siang meluncur. Tak cari dulu orang yang bisa ngurus beginian, nti biar dia hubungi kami Gas"

__ADS_1


"Iya, makasih banyak mas Rendi. Tagihannya kasih ke Arya aja oke"


"Gendeng* aku gak ikutan pokoknya kalau Arya sampai marah terima tagihan"


(Gi-l@)


"Gak akan lah. Tenang aja, bilang itu tagihan dari Bagas"


"Sak karep mu*, wis tak cari dulu orangnya"


(Terserah kamu)


"Makasih banyak Mas" Bagas meletakkan phonecellnya di meja setalah selesai


'anggap satu selesai' Bagas menghela nafas berat


*


*


Nina terbangun mendengar suara televisi menyala. Dia melihat jam di handphone miliknya, pukul setengah sebelas. Ia terkejut menyadari ia tertidur sangat lama dan melewatkan shif pagi. Ia merasa bersalah, bagaimana bisa seorang manager santai-santai tidur di lantai atas tanpa bekerja. Ia bergegas mengganti bajunya lalu memoles wajahnya dengan make up tipis namun tidak untuk di bawah matanya. ia harus memberikan banyak concealer di kantung matanya agar terlihat segar.


setelah siap ia bergegas keluar kamar. Dan betapa terkejutnya ia melihat Bagas sedang ada di dapur, sibuk entah apa.


"Mas Bagas" Sapa Nina lembut


"Eh, Nina. Kamu sudah bangun sayang" Bagas mematika kompor dan bergegas menghampiri Nina. Lalu memeluknya


"Semua akan baik-baik saja. Ada saya yang akan selalu melindungi kamu. Kamu cukup bersandar pada saya, Imammu" Bagas berbisik di telinga Nina dengan lembut


Nina menahan harunya, ia begitu bahagia di cintai oleh Bagas dengan cinta yang berlimpah ruah. Bukan materi yang ia kejar dari seorang pria, namun tanggung jawabnya, pengertiannya, kasih sayangnya. Dan Bagas memberikan semuanya untuknya.


"Makasih Mas, Imamku" bisik Nina di telinga Bagas


Pelukan merekapun mengerat, kebahagiaan mereka membuncah. Nina merasa di cintai dan Bagas meras dibalas cintanya.


*


*




Minta like jempolnya ya 👍



Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2