Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II - 1


__ADS_3


"Terima kasih atas kunjungan nya, selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Di tunggu kunjungan-kunjungan berikut nya" Nina menundukkan kepalanya kepada pelanggan yang akan pergi dengan senyum teramah miliknya yang sudah di latih sebelum mulai bekerja menjadi barista di Coffee Shop setahun yang lalu


Pelanggan sepasang wanita itu hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Nina dan melangkah keluar dari Coffe Shop tersebut


cring


cring


cring


Pintu terbuka dan kembali tertutup menimbulkan goyangan dan membuat lonceng kecil di atas pintu berbunyi.


Setelah keluar pelanggan lain, masuk kembali Pelanggan lainnya. Kali ini Lelaki muda dengan pakaian berjas yang menjadi pelanggan tetap selama 6 bulan terakhir


"Selamat datang~"


"Malam mas Bagas, tumben pakai jas" Nina menyapa dengan sopan, walaupun sebenarnya jantung bertalu-talu dan berpesta di dalam tubuhnya


Nina tertarik kepada Bagas, bagaimana tidak tertarik, Lelaki tampan dan mampan yang sudah lebih enam bulan wara-wiri di penglihatan Nina. Pemilik percetakan besar di depan Coffee Shop tempatnya bekerja. Setiap hari selesai jam kerja di malam hari selalu datang berkunjung dan bersikap sangat ramah. Dari awalnya biasa saja sampai merasa terbiasa dan akhirnya sekarang luar biasa.


"Habis meeting ketemu klien kelas kakap"


"Pesan yang biasa ya Nin" Bagas mengedipkan sebelah matanya


'Nah kan' Nina terkejut setelah mendapatkan kerlingan mata dari Bagas


'Gimana gw gak tertarik kalau doi tingkahnya begitu' Nina membalikkan tubuhnya dan seolah-olah membuat kopi tanpa merasa risih atas kelakuan Bagas yang menggoda tadi


Padahal jantung semakin berdetak cepat dan semakin liar pesta dalam dadanya


'aduh, kayak anak ABG aja gw. Panas dingin setiap ketemu Mas Bagas. Inget umur Nina'


'Jantung gw berasa mau copot kalau di godain terus-terusan ini' Nina mengelus-elus lembut dadanya dengan tangan kirinya


Nina masih berkutat dengan mesin kopinya dan berusaha menetralkan detak jantung nya. Berusahan fokus agar tidak merusak kopi pesanan Bagas kembali. Ya dulu Nina pernah tidak fokus membuat kopi karena terpesona melihat senyum Bagas yang makin menawan, membuat rasa kopi begitu sulit untuk di jelaskan, hanya tidak enak saja kesimpulannya.


Sementara itu Bagas kembali duduk di tempat favorit miliknya, di pojok dekat dinding. Alih-alih dekat kaca yang bisa melihat keadaan jalan raya kota yang berlalu-lalang kendaraan, Bagas lebih senang menyendiri sepi sendiri di pojokan.


Cring


Cring

__ADS_1


Cring


Pintu Coffee Shop kembali terbuka dan masuklah pelanggan wanita cantik yang lumayan sering terlihat di Coffee Shop


"Selamat datang~" Nina dan beberapa pelayan menyapa ramah


"Malam Kak Karen, pesan apa nih?" Nina menyapa ramah sambil menanyakan pesanan


"Mocca ya Nin, aku ke pojok dulu samperin Bagas" Lambaian tangan Karin mengantarkan tubuhnya pergi menghampiri tempat Bagas berada


'Sadar diri Nin, Mas Bagas sudah ada bidadari nya sendiri' Nina memandangi keakraban Bagas dan Karen


'Sadar diri status diri sendiri, Nin. Tidak mungkin Mas Bagas suka sama janda kayak kamu ini' Nina menasehati dirinya sendiri


Nina memang janda di usianya yang 24 tahun, ia bercerai dari suaminya yang hobi berjudi. Pernikahan mereka hanya bertahan 6 bulan saja. Setelah menikah, suami nina jadi kecanduan judi. Padahal sebelumnya tidak pernah mengenal judi. Habis semua uang tabungan dan perhiasan Nina di ambil suaminya untuk berjudi. Dan karena Nina tidak tahan akan sikap suaminya maka ia menggugat cerai.


Setelah bercerai Nina pindah ke Jakarta untuk mengubah suasana hidupnya. Dan sudah setahun ini ia bekerja sebagai barista di Coffee Shop ini.


"Len, tolong anterin ke meja pojok tempat Mas Bagas dan Kak Karen ya... terima kasih banyak" Nina meminta tolong kepada rekan kerjanya.


Ia tidak percaya diri bila harus mengantarkan pesanan mereka, Bagas dan Karen. Takut salah paham, bukannya cemburu, tapi ia sadar diri bahwa ia tidak sejajar bersanding dengan Bagas ataupun dibandingkan dengan Karen.


"Ia mba Nina" Leni akhirnya mengantarkan pesanan Bagas dan Karen ke meja mereka


Malam semakin larut namun tidak membuat Ibu Kota menjadi sepi. Jam operasi Coffee Shop sudah selesai dan saatnya menutupnya.


Nina dan beberapa karyawan masih sibuk merapihkan Coffee Shop. Maria, Manager masih sibuk melihat-lihat transaksi yang sudah terjadi.


"Bu Maria ini air putihnya" Nina menyuguhkan di meja sebelah Maria dan alat-alat tempurnya; laptop, kalkulator, tumpukan nota.


"Makasih banyak Nin. Kalu sudah selesai boleh pulang duluan kok"


"Lalu Bu Maria bagaimana?"


"Itu ada suami saya nungguin" Maria menunjuk area parkir di depan Coffee Shop yang terdapat sebuah motor besar dan seorang lelaki dengan kepulan asap rokok


Nina membentuk senyum malu-malu setelah mengikuti arah tunjuk Maria


"Sudah rapi, saya pamit pulang dulu Bu" Nina pamit beserta rekan-rekan yang lainnya.


Nina mengeluarkan sebuah sepeda dari dalam ruang istirahat pegawai Coffee Shop


"Duluan Bu" pamit Nina saat melewati Maria yang masih sibuk dengan kegiatannya

__ADS_1


Hanya lambaian tangan yang mengiringi kepergian Nina


Sebelum menaiki sepedanya, nina menyapa suami dari Maria. Pemilik Coffee Shop tempatnya bekerja.


"Malam Pak Angga. Pamit pulang duluan"


"Hati-hati dijalan Nin"


Nina tinggal di rumah kontrakan agak jauh dari tempat kerjanya. Ia tinggal bersama 3 orang teman yang boleh ia kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di Ibukota Jakarta. Mereka berkenalan di minimarket terminal saat hendak mencari kos-kosan dan akhirnya berkenalan dan mengontrak rumah bersama.


Rumah kontrakan Nina agak masuk ke dalam gang-gang padat rumah. Karena murah dan bisa saling menyapa antar tetangga begitu pikir Nina kala itu.


Saat akan memasuki salah satu gang, jalan pintas untuk sampai ke rumah kontrakan nya. Nina harus bertemu dengan kumpulan laki-laki yang asyik main kartu. Nina agar risih melihatnya dan perasaan nya menjadi tidak enak.


"NINA!!! KARENINA!!!" Teriakan melengking dari arah kumpulan laki-laki tadi


Nina mematung. Jantung Nina berdetak kencang dan bertalu-talu. Namun berbeda dengan saat tadi di goda Bagas. Ini lebih ke mencekam. Pandangan matanya melebar seperti melihat hantu


'Kenapa ada dia di sini?' Mata Nina menangkap sosok laki-laki yang memanggilnya.


Lelaki itu berdiri dan mencoba mendekati Nina


'Tuhan, selamatkanlah aku' Air mata Nina mengalir tanpa ia sadari, tubuhnya menggigil ketakutan


Entah dari mana muncul kekuatan, Nina mengayuh sepeda dengan kencang meninggalkan kerumunan laki-laki. Berbalik ke arah keramaian jalan raya Ibu Kota.


'Pergi menjauh......, lari yang kencang......, jangan melihat kebelakang...... Lari..... Lari.....' Nina mengayuh sepeda dengan kencang menjauhi sosok laki-laki tadi.


Budi, mantan suaminya yang hobi berjudi. Tidak ada yang tahu bahwa Nina pernah menjadi korban KDRT saat menikah. Dan saat Nina mengajukan permohonan perceraian, Ia pernah di ancam akan di buat lumpuh bila bercerai. Itulah alasan Nina pergi ke Ibukota Jakarta




❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍



❤️ Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2