
Nina sedikit merasa terpuruk setelah mendapat pemecatannya yang tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Nina meras dirinya di perlakuan tidak adil hanya berdasarkan khayalan dari Maria. Bagaimana bisa dia mempunyai affair dengan Angga, pemilik Coffee Shop dan suami Maria. Padahal tidak pernah ia berbincang-bincang dengan Angga, hanya selalu sebatas sapaan hormat setiap bertemu. Angga selalu memberikan wajah muram tanpa senyum kepada siapapun, membuat lawan bicara enggan untuk berbicara lebih dengannya. Angga terlihat memasang tembok tinggi kepada semua orang, bahkan ke istrinya sendiri. Tidak pernah Nina ataupun pegawai lain melihat senyum di wajah Angga. Lalu bagaimana bisa di tuduh memiliki hubungan khusus dengan Angga suaminya.
Walaupun dirinya janda, Nina tidak mempunyai niat untuk menikah lagi. Dirinya masih trauma akan pernikahan nya yang lalu. Pernikahan baginya menakutkan untuk di jalani. Sebuah hubungan yang tidak ada di rencana masa depannya. Memangnya siapa yang mau dengan janda bila masih banyak gadis muda di sekitarnya.
"Non, di minum dulu teh nya biar tenang. Gak usah di pikirin apa yang di omongin orang tadi itu. Kayaknya itu orang butuh ke dokter jiwa"
"Makasih Mba, juga maaf ya"
"Sama-sama, sudah gak usah minta maaf buat kelakuan orang itu Non"
Nina meminum teh untuk menenangkan diri nya. Sedikit membuat tubuhnya tenang, sedikit membantu agar dirinya tidak tegang.
Terdengar sayup-sayup suara mobil Bagas yang sedang parkir di depan halaman
"Mobil den Bagas itu Non, saya keluar dulu ya" Ratih sudah tergopoh-gopoh keluar rumah
Huff
Nina menghela nafas panjang dan berat.
'kenapa jadi begini ya? Apes amet di pecat cuma gara-gara di tuduh punya affair sama Pak Angga'
Di usap dengan kasar wajahnya berulang kali
*
"Den"
"Nina gimana mba?"
"Non Nina sedih Den, di pecat sama orang gila itu"
"Trus ngapain lagi dia tadi?"
"Saya usir Den, habis dia menghina Non Rhein. Saya sakit hati Den" mata Ratih berkaca-kaca menahan tangis
"Ada apa sih sama mereka itu Den, nyangkutin masalah melulu sama keluarga di sini. Padahal sudah ngalah terus kan"
Bagas mendekat dan memeluk tubuh Ratih, orang yang sudah merawat dan membesarkan nya dengan kasih sayang setelah ke dua orang tuanya. Tangis Ratih pecah di pelukan Bagas.
Setelah Ratih menguasai dirinya dari tangisannya. Mereka berdua masuk ke dalam rumah bersisian
"Den saya siapin makan ya"
"Iya makasih Mba, kebetulan lapar. Nina ada dimana mba?"
__ADS_1
"Di ruang makan Den"
Ratih menuju ke arah dapur sedangkan Bagas menghampiri Nina berada
"Kamu baik-baik saja Nin?" Pertanyaan Bagas mengagetkan Nina yang tenggelam dalam lamunan nya
"Mas Bagas" Nina bahkan tidak menyadari bahwa sudah cukup lama Ratih dan Bagas berada di luar rumah sebelum masuk ke dalam
"Kamu baik-baik saja Nin?" Di ulangi pertanyaan yang sama karena Bagas belum mendapatkan jawaban
"Saya gak baik-baik saja Mas. Saya di pecat Bu Maria, saya di tuduh punya affair sama Pak Angga"
"Sudah, kamu tidak usah memikirkan masalah mereka. Nanti saya yang bantu kamu cari kerja yang lain"
"Saya gak terima di tuduh punya affair sama Pak Angga Mas"
Bagas menghela nafas
'Erlangga si@lan, pengen gua tonjok'
"Dah, nanti saya konfirmasi sama orangnya"
"Siapa mas?"
"Ya orang yang di tuduhkanlah" Bagas benar-benar malas menyebut nama Angga ataupun Maria
"Dua-duanya. Dah makan, saya lapar"
Bertepatan dengan Ratih dan membawa makan siang
*
Bagas meminta Nina beristirahat dulu setelah makan. Setelah itu baru mereka akan membicarakan lagi masalah yang terjadi.
Nina menurut dan sudah di dalam kamar dan tertidur, walaupun awalnya ia tidak yakin bisa tidur bila masih banyak pikiran dalam kepalanya.
Bagas pun kembali ke kamar nya, setelah membersihkan badannya ia mengecek Handphone miliknya. Mengecek beberapa pekerjaan dan laporan pekerjaan dari pegawainya. Setelah selesai ia berniat menghubungi Angga, walaupun enggan
Tut
Tut
Tut
"Ya Bagas?"
"Bisa kita bicara langsung sekarang?"
__ADS_1
Sunyi, Angga terdiam tidak menjawab
"Nina di pecat oleh istri anda setelah tadi dengan berani datang ke kediaman saya. Dengan berani menghina kakak Rhein saya, membuat ibu angkat saya menangis dan marah. Jadi daripada salah paham ini berlarut-larut dan membawa orang yang tidak bersalah harus terkena imbasnya, jadi ayo kita bertemu sekarang. Clear kan masalah ini segera"
"Ok. Dimana?"
"Saya membuka pintu rumah saya untuk anda hari ini"
"Baik, satu atau dua jam lagi saya sampai kesana"
Sambungan telepon di putus oleh Bagas setelah itu. Bagas sebenarnya enggan bertemu dengan Angga. Sekarang dirinya sudah muak melihat mereka berdua, Angga dan Maria. Berada di sekitarnya, membawa masalah yang sama malah menambah kannya sekarang.
Di mulai saat Angga membuka Coffee Shop di seberang depan Percetakan miliknya yang di wariskan oleh Ayahandanya, sudah mengusiknya. Salah seorang pemimpin perusahaan kontruksi terbesar di Asia membuka Coffee Shop dan setiap pagi dan malam berjaga di sana. Itu sangat menggangu penglihatannya. Karena orang itu yang sudah menyakiti hati dan perasaan kakaknya dan kedua orang tuanya juga keluarga nya. Membuat kakaknya harus pindah bekerja ke luar negeri untuk menghindarinya.
Bukan Angga yang di bencinya, tapi sikap pengecut miliknya. Atas nama cinta ia mendekati Rhein, kakaknya. Padahal ia sudah menikah, persetan dengan pernikahan mereka adalah pernikahan karena di jodohkan. Caranya yang salah.
"Silakan kau mencintaiku dengan bebas. Tapi bukan berarti segala cara kau halalkan. Masih menikah kau bilang duda. Silakan kau minta aku dari orang tuaku, aku salut kepada mu. Tapi tidak di dasari oleh dusta. Jangan jadikan aku pelarian atas hidupmu yang tidak bisa kau syukuri. Kalaupun tidak ada cinta diantara kau dan istrimu, jadilah gentle untuk menyudahi atau memang kau berniat untuk membuat harrem? Tapi jangan mimpi itu dengan ku" ucapan Rhein dulu kepada Erlangga atau Angga
'Benar caramu yang pengecut Erlangga, atau aku harus panggil kau Angga'
*
Dan disinilah Angga berada setelah menempuh satu setengah jam perjalanan, ruang tamu rumah Bagas. Ratih masih dengan sopan menyuguhkan minuman dan cemilan
'menghargai tamu itu di sunahkan Rasullullah' Ratih mengingat dirinya sendiri
"Silakan" Ratih enggan memanggil 'Den' kepada Angga
Angga masih duduk sendirian di ruang tamu itu setelah tadi di arahkan oleh seorang security komplek dan di sambut oleh Ratih di depan halaman. Angga memandangi ruang tamu juga halaman depan rumah yang nampak sudah di renovasi besar-besaran. Hingga merubah rumah ini berbeda dengan yang di ingat dirinya dahulu saat masih bersama cintanya, Rheina.
Ratih sudah melepaskan foto keluarga Bagas yang ada di ruang tamu sebelum Angga datang
"Ndak rela saya Den, wajah Non Rhein dipandangi olehnya"
Jangan lupa like jempolnya ya kakak 😉👍
Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉
__ADS_1