Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 10


__ADS_3



Tok


Tok


Tok


Nina merasa terganggu di tidurnya. mencoba membuka matanya yang berat. Rasanya begitu sulit untuk membuka kelopak matanya. Ia masih benar-benar mengantuk.


"Nin, Nina" Suara Bagas di balik pintu kamar


'Mas Bagas'


Nina mendapatkan kembali kesadaran nya.


"Nin, Nina. Bagun Nin" pangil Bagas di sela ketukan pintu


"Iya Mas, sebentar" Nina menjawab dengan suara serak khas orang bangun tidur


Pintu terbuka dan terpampang wajah Bagas dengan senyuman menawan miliknya


"Hai Nin"


"Mas Bagas" Wajah Nina bersemu merona merah


"Baru bangun ya? maaf ya bangunin kamu. Cuci muka dulu nanti kita ke depan ketemu sama bos kamu"


"Hah? Bos saya Mas?"


"Iya, sudah cuci muka dulu sana" di dorong tubuh Nina masuk ke kamar mandi


Sambil Bagas menunggu Nina di depan pintu, ia sibuk dengan handphone miliknya. Mengecek berbagai hal yang ia harus cek. Ia mencari berbagai macam solusi yang terbaik untuk Nina, memberikan pekerjaan di tempat lain, tempat tinggal baru, mengganti sepedanya juga memberikan perlindungan dari mantan suami dan terlebih dari dua orang yang paling di bencinya saat ini, Maria dan Erlangga atau Angga. Terserahlah.


Juga ia memikirkan cara bagaimana membuat orang yang dibencinya tersebut tidak berada di peredaran hidupnya, hidup keluarganya dan Nina.


"Mas Bagas" Nina sudah membersihkan dirinya dengan pantas berdiri di samping Bagas


"Nin" Bagas menghentikan aktivitas nya dengan handphone nya


"Sudah?"


Nina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ayo" Bagas mengulurkan tangannya.


'gandengan tangan?' Nina memandang tangan Bagas dengan tanya


"Ayo Nin" dinaikkan nada suaranya tetap dengan uluran tangan, menunggu di sambut


Nina menyambut uluran tangan Bagas dengan perasaan berdebar-debar. Organ dalamnya layaknya diskotik dengan penuh pengunjung yang saling berhentakan, meriah dan menggila. Bahkan ia sampai tanpa sadar menahan nafasnya dan kembali teringat saat Bagas menariknya lembut.


'Gw butuh mood booster ku saat ini' Bagas menggenggam tangan Nina lembut namun kokoh


*

__ADS_1


"Sore pak Angga, maaf menunggu lama" Bagas menyapa tetap dengan sopan walaupun enggan. Rasanya ia hanya ingin menghias wajah Angga dengan bogeman atau tubuhnya dengan tendangannya


"Ba... Pak Bagas... Sore juga" Angga berdiri dari duduknya dan memberikan tangannya mengajak bersalaman. Namun tangannya hanya bisa bergantung saja, Bagas memilih duduk di depannya bersama Nina. Alih-alih berjabat tangan


'Mimpi lo ketinggian klo mau gw jabat tangan lo' Bagas benar-benar muak


"Pak Angga Sore" Nina menyapa ramah, bagaimana pun Angga pernah menjadi Bossnya


'aih...Mood booster ku. Sebelnya ilang karena ada kamu Nin' Bagas meremas lembut genggaman tangan mereka


Nina memandangi wajah Bagas, merasakan remasan di genggaman tangan mereka


'kenapa mas?' tanpa kata-kata Nina bertanya


Bagas yang mengerti hanya menggelengkan kepalanya


"Sore Nina" Angga menjawab sapaan Nina


"Langsung saja ke masalah inti, tidak usah pakai basa-basi lagi." Dengan tegas Bagas berbicara, menghela nafas panjang terlebih dahulu


Angga dan Nina pun menjadi tegang untuk mendengarkan.


"Berapa harga Coffee Shop itu?"


"Pengacara saya dalam perjalanan dan akan mengurus legal pemindahan pemilik segera. Jadi sebutkan angkanya Pak Angga"


Angga benar-benar terkejut, bola matanya membesar. Menelan ludahnya susah payah


"Saya tidak berniat menjualnya Ba..Pak Bagas" dengan gugup ia menjawab


"Dealnya mudah Pak Angga, jual atau pindah. Jika tidak mau kita bisa ke meja hijau atau harus ke paparazi dulu, saya tidak keberatan memberikan informasi bahwa Erlangga Dharmawan adalah seorang penipu dan tukang selingkuh. Toh kakak saya ada di benua lain, tidak akan berimbas banyak. Lain hal dengan anda dan citra perusahaan anda"


Angga menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Sebenarnya niat awal membuka Coffee Shop untuk bisa melihat Rheina, ia sangat menginginkan bisa kembali bersama Rheina. Wanita satu-satunya pemegang hatinya, cinta dalam hidupnya.


"Jadi di angka berapa bapak Erlangga Dharmawangsa?" Bagas menyilangkan kedua tangannya di depan dada


'Sedang apa aku disini?' Nina syok mendengar Bagas dengan santai hendak membeli Coffee Shop Angga


'Ini beli Coffee Shop berasa jajan di warung' Nina bergantian memandang wajah Bagas dan Angga


*


*


"Makan yang banyak Nin, besok pagi baru kita bisa pergi nyari tempat kosan baru buat kamu" Bagas sudah dari tadi sibuk memberikan aneka lauk pauk ke dalam piring makan Nina


"Makasih banyak Mas"


"Makasih mulu ngomongnya, pakai cara lain boleh gak?" Di naik turunkan alis mata Bagas menggoda Nina


"Mas Bagas ih..." Rengek Nina dengan suara yang imut-imut menurut telinga Bagas


'Mood booster ku memang selalu bisa membuat hatiku kembali baik'


"Hahahaha" Bagas tertawa terbahak-bahak melihat wajah Nina yang merona merah hingga ke telinganya


'Mas Bagas menggodanya bikin panas' Nina memegang wajah meronanya

__ADS_1


Makan malam mereka di warnai dengan banyak godaan dari Bagas, godaan yang benar-benar berasal dari dalam hati


*


Tok


Tok


Tok


"Den Bagas" Ratih menyapa Bagas di ruang kerja yang dulu sering di gunakan Tuannya, Ayahanda Bagas. Ratih masih berdiri di ambang pintu.


"Iya Mba, sini masuk"


Ratih masuk dan menutup pintu perlahan. Bagas bangkit dari kursi kerjanya menuju sofa panjang di tengah ruangan


"Duduk sini Mba, ada apa?" Bagas menepuk sofa sebelahnya memberitahu untuk duduk di sampingnya


"Den, benerkan itu leleman ndak bakal ke sini ganggu lagi kan?" Ratih sudah membuka pembicaraan sebelum duduk sempurna di samping Bagas


"Leleman?" Bagas mengerutkan keningnya


'Istilah apa lagi itu?'


"Lelaki lemah iman Den. Sama ular keketnya ndak bakal kan datang lagi. Kalau datang izinin saya nguyur air sama taburi garam ya Den"


"Hahahaha" tawa lepas Bagas menggema di ruangan


'ini dia mood booster asli gw, kalau Nina itu pakai cinta'


"Boleh-boleh kalau mereka berdua berani menginjakkan kakinya lagi ke sini" Bagas menjawab di sela tawa


"Kok ya ada pasangan aneh begitu ya, kompak banget buat hati orang mangkel"


Bagas hanya bisa mengangkat bahu, ia juga tidak tahu jawabannya


"Tapi benarkan Den, mereka ndak bakal ada di sekitar kita lagi. Non Nina gimana Den?"


"Saya sudah menyelesaikannya, entah pihak sana bagaimana menyelesaikan masalah, biarkan saja mereka. Tapi bila benar mereka berani datang, security sudah memblacklist permanen"


"Kalau security berani memasukkin mereka lagi, tak penyet-penyet security nya" tangan Ratih digenggam memperagakan menekan-nekan bantal sofa dengan penuh emosi


"mba Ratih is the best" Bagas memeluk Ratih dari samping dengan tawa yang membahana


"Saya gitu loh Den" hidung Ratih sudah kembang-kempis jumawa


*




Jangan lupa like jempolnya ya kakak 😉👍



Terima kasih banyak ❤️

__ADS_1



Bersambung 😉


__ADS_2