
"Motornya biar Bu Dara yang bawa"
"Kuncinya ada di dalam tas kamu kan Ma" Satya merogoh tas Ima dan mencari kunci motor.
Ima terkejut dengan tingkah Satya. Namun Ia tidak bisa melarangnya.
"Nah, ini Bu Dara kuncinya" Satya tanpa basa-basi berbicara dengan Dara
Dara tersentil dengan panggilan 'Bu' yang selalu disematkan sebelum namanya oleh Satya. Seperti tembok yang sengaja dibangun diantara mereka
'Nolaknya halus tapi tepat di jantung'
'Sakit tapi tak berdarah'
"Maaf saya tidak bisa mengendarai motor" Dara memelas
"Bisa sih tapi bisa nabrak sampai rumah sakit"
"Paling parah ya ke kuburan"
Ima hanya bisa cengengesan saat dipandangi Satya
Satya menghela nafas berat. Ia tetap kekeh untuk mengantar Ima. Ia harus tahu dengan mata kepalanya sendiri tempat tinggal Ima
"Ya sudah saya antar semuanya pulang"
"Motor saya mas" protes Ima
" Gak akan hilang di parkiran. Besok bisa kamu ambil bareng saya"
"Ayo" Satya menuntun Ima berjalan
Ima terpaksa menuruti maunya Satya. Karena Mila sudah tertidur pulang di gendongannya. Ima masih tetap risih dengan rangkulan tangan Satya di pundak kirinya juga genggaman tangan Satya di lengan kanannya.
Ima mencoba cara halus dengan berhenti berjalan ataupun memutar tubuhnya namun Satya tetap konsisten dengan keringanan tangannya yang merangkul Ima
"Mas aku bukan nenek-nenek harus dituntun" Ima masih berusaha
Satya hanya terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya
"Ayo"
Ima kalah
*
"Bu Dara duduk dibelakang saja"
"Ima duduk depan ya~"
__ADS_1
ada perbedaan nada suara yang terdengar jelas di telinga siapapun yang mendengar Satya berbicara
Dara keki luar biasa 'kayak kuman amet' sih gw'
' Demi makan gratis dan pulang ke kosan tanpa ongkos'
"Mila bagaimana mas?"
"Kamu pangku" Kembali ringan tangan Satya berulah. Di rangkul pundak dan dielus lengan Ima.
Ima merinding dan memilih masuk mobil duduk anteng sambil memangku Mila. Ima menahan nafasnya saat sebagai tubuh Satya masuk dan memakaikan sabuk pengaman untuk Ima dan Satya mencium kening Mila juga mengelus kepala Ima.
"Masukin alamat kamu di GPS Ma" tunjuk Satya
Satya berputar dan masuk mobil duduk di kursi pengemudi, memasang sabuk pengaman. Sebelum Satya menginjak gas terdengar gedoran pintu mobil dari belakang
bruk
bruk
bruk
"Saya belum naik Imaaaa... "
"pintunya gak bisa kebuka...."
Dara menempelkan wajahnya ke kaca pintu belakang mobil
Setelah satu jam perjalanan dengan mobil, mereka sampai ke kosan Ima dan Dara tinggal. Dara langsung keluar mobil dan masuk kedalam kosan dengan cepat tanpa melihat kebelakang
"Makasih....Dadah..."
Ima mencoba membuka sabuk pengaman, namun belum juga sabuk terbuka. Satya sudah menginjak gas meninggalkan kosan
"Mas aku belum turun ini" rengek Ima
"Besok kamu liburkan. Ikut aku aja, kasian Mila tidur di mobil jatuh nanti"
"Hah"
__ADS_1
"Kok gitu sih?" Ima bingung
'Tidur di rumah laki-laki'
"Besok aku anter ambil motornya" Satya mengelus pipi Ima lembut
"Tidur dirumah aku dulu."
"Ada Mila sama Mbah nya kok" Satya kembali fokus menyetir mobilnya
Ima kehilangan kata-kata. Dan memilih mengelus kepala Mila, di singkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Satya melihat sekilas dan tersenyum senang dan mengelus kembali kepala Ima dengan lembut
"Kamu sendiri kan Ma?"
"Hah?"
"Aku juga sendiri"
"Jalan bareng yuk"
'Apaan maksudnya'
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉
__ADS_1