
'Bener-bener gw kelihatan kayak gembel apa, gak boleh masuk ke perumahan. Padahal rumah gw sendiri'
Dara sudah disuruh masuk ke kamar tamu oleh ART untuk beristirahat. Ima duduk di ruang tengah menonton TV. Ima masih bersungut-sungut, wajahnya masih saja menunjukkan kekesalannya. Bagas menghampiri Ima dengan nampan berisi kopi dingin dan cemilan untuk Ima dan dirinya
"Sudah gak usah di pikirin lagi yang tadi" Bagas membelai kepala Ima
"Gw keliatan gembel banget ya Mas?"
"Hahahaha"
Ima kesal melihat Bagas tertawa terbahak-bahak. Di minumannya kopi dingin dan dimakannya cemilan yang dibawa Bagas tadi
"Kan, mas sudah bilang. Ganti itu motornya"
"Kenapa emang sama motornya?" Ima dengan nada tidak sukanya
"Ya... ganti sama motor Mas itu yang Gedean itu aja Dek" Bagas serba salah
"Gak asyik, gak bisa nyalip kalau macet"
" ganti yang baru saja gimana?"
"Kenapa, kelihatan kayak gembel ya?"
"Bukan gembel adekku, tapi itu kelihatan motor tua banget"
"Trus karena motor tua, gak boleh masuk gitu ke rumah sendiri?"
"Disini bukan motor aku yang salah, tapi itu security yang sikapnya salah"
"Coba dia ramah gak menghina, gw gak bakal juga ngomel-ngomel"
"Dia juga sudah minta maaf Dek. Sudah jangan bahas orang yang gak penting"
"Kalau besok-besok gw pulang kayak gitu lagi, gak bakal pulang besok-besok gw ke rumah"
"Iya nanti mas omelin mereka"
"Kangen mas sama kamu dek" Bagas merentangkan tangannya meminta dipeluk
Ima mengerucutkan bibirnya namun tetap memeluk kakaknya.
"Sebel aku tahu mas digituin"
"iya dek" Bagas mengelus-elus punggung Ima dengan sayang
Ehemmm
Dara berdehem melihat pelukan kakak adik didepan mata
'Mau donk dipeluk juga sama Mas Bagas'
Ima dan Bagas kompak melihat ke arah asal suara tanpa melepaskan pelukan mereka.
"Maaf aku ganggu, aku ikut nonton juga disini ya ~~~~" Dara langsung duduk disebelah Bagas
"Aku juga mau donk dipeluk~~~" Dara mengedipkan kedua matanya ke arah Bagas
__ADS_1
Ima dan Bagas melepaskan pelukan mereka. Bagas berdiri dan pindah kesamping Ima. Ima menerus minumnya
"Kok pindah duduk Mas~~" Dara berdiri hendak ikut pindah agar bisa duduk disebelah Bagas
Ima menarik Dara duduk kembali
"Bukan mahram, jangan nempel-nempel"
"Ikh Ima... giliran aku gak boleh, kamu kemarin sama Satya aja elus-elusan, peluk-pelukan, mpe kata Dewi ciuman di ruang tamu kan"
"Apa!!!" Bagas berteriak kaget
"Kamu ciuman sama Satya Dek?"
"Gak mas, gak ciuman... ngaco aja si kamu Ra... aku gak ciuman..." Ima gelagapan
*
Ima akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Satya dan Mila anaknya. Lalu bermain salju dan makan bersama.
"Lo gak pulang ke kosan trus pergi nginep kemana?" Dara memotong cerita Ima
Ima yang kesal kebiasaan Dara yang suka memotong ucapan mencubit mulut Dara
"Diem dulu, belum kelar"
Ima menceritakan tentang dirinya dipaksa Satya menginap dirumahnya diBogor dan tidur dengan Mila dikamar anaknya
"Berdua doank sama Mila" teriak Ima gemas
tapi Ima tidak menceritakan tentang dirinya pergi dengan Satya ke pantai. Ima hanya menceritakan tentang mereka makan bakso berdua hari sabtunya dan jajan cemilan lalu mengambil motor di Mall
Ima juga menceritakan yang sebenarnya terjadi di ruang tamu tentu tanpa menceritakan tentang Satya yang mencium kening Ima
" Gw dirangkul ma Satya" Ima mencontohkan merangkul Bagas
" Lihatkan, kalau dari belakang kayak orang *******!"
Dara akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Akhirnya kamu sama Satya balik lagi Dek"
"Kita gak ngapa-ngapain Mas, biarkanlah mengalir apa adanya dulu"
"Gak apa-apa Ma sama Satya itu aja langsung, bawa pas nikahan Bimo"
"Jangan mau kalah ma mantan yang brengsek sudah ninggalin nikah setelah selingkuh"
"Satya seribu kali lebih Good looking ma Good rekening dari pada playboy cap cicak Bimo itu"
"Siapa Bimo Dek?" Bagas bertanya bingung
Ima memucat dari tadi saat Dara menyebut-nyebut nama Bimo
Dara dengan semangat empat lima dan melupakan suara anggun centilnya menceritakan tentang Bimo yang merupakan mantan pacar Ima selama dua tahun terakhir. Juga tentang Ima yang ditinggal menikah karena selingkuhannya Bimo
"Ketemu orang brengsek lagi Dek?"
"Gak cape?"
__ADS_1
Ima tidak bisa berkata-kata lagi
*
Malamnya saat waktunya makan malam, Satya datang membawa beberapa makanan dan cemilan. Ima dan Dara terkejut bukan main melihat Satya datang.
"Hai Gas"
"Hai Ima sayang" Dielus puncak kepala Ima lembut setelah memberikan bawaannya kepada ART, Satya duduk disebelah Ima
"Kok ada disini?" Ima bingung bagaimana Satya bisa datang karena dia belum membalas pesan-pesan Satya karena masih kesal tentang penghadangan dirinya yang hendak masuk ke rumah siang tadi
"Iya kangen" Satya tersenyum senang
"Satya, WA mas tadi sore" Bagas menjawab rasa kebingungan Ima
"Mas Bagas akrab ma Mas Satya?"
"Dari dulu juga akrab" Bagas tetap melanjutkan makannya
"Iya akrab lah sayang, kan calon ipar" Satya mencolek hidung Ima gemas
ehemmm
Dara merasa seperti orang transparan tidak dianggap
Satya melirik dan berpikir. Satya lupa akan Dara, ia berpikir pernah bertemu dimana dengan Dara
"Itu Dara, teman saya yang waktu di Mall makan bareng Mila juga"
"ooh"
"Aku bawain devil cake buat kamu"
"iya, makasih. Dah makan Mas?"
"Mau donk ma, suapin" Satya membuka mulutnya didepan Ima. Ima canggung
"Cih.."
"Buruan cepat nikah aja deh berdua"
"Jadi kapan nikah?" Bagas gemas melihat kelakuan Satya dan Ima
" Jangan suka nanya kapan nikah?"
"Nanti kalau aku sebar undangan, nanti Lo bingung datang kondangan sama siapa?" Ima mengejek Bagas
"Sama aku lah Ma, Ya kan Mas Bagas ~~~" Dara menjawab dengan suara centil
❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍
❤️ Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉