
Nina akhirnya bisa bernafas lega setelah sampai di Coffee Shop, di antar rombongan pegawai minimarket sebelah. Membuat dirinya sedikit meras terlindungi, walaupun di dalam pikirannya masih berkecamuk bagaimana nasibnya esok bila bertemu lagi dengan Budi. Ditambah dengan kehadiran mantan kedua mertuanya. Makin runyam saja ke depannya.
"Terima kasih banyak sudah nganterin saya sampai sini. Lain kali say traktir kopi disini ya, sebagai tanda terima kasih saya." Nina mencoba mengontrol nada suaranya, agar tidak membuat khawatir
"Tinggal disini sekarang Nin?"
"Denger-denger sampai di renov sama Waskana lantai atasnya ya"
"Lah beneran Nin, di renov sama Waskana? Itukan yang bangun jalan kali, @su"
"Noh, plang namanya nutupin pasir itu j@ncuk"
"Woy selow jangan ribut sendiri. Sama siapa aja tinggal disini Nin?" Rahmat menengahi teman-temannya yang bertengkar karena masalah kecil
"Ada Leni juga di atas. Sama dua teman saya, jadi berempat "
"Lah cewe semua, gak parno itu."
"Woy ada security kali, beg* bener sih lo"
"Kita juga tinggal di lantai atas, ngemper ber enam ini. Mana setok barang juga berjubel, empet-empetan dah kita"
"Kalo ada apa-apa bisa minta tolong kita kok Nin. Salam buat Leni ya" Toni melobi
"Cabut dulu Nin"
" Bye Nin"
"Makasih banyak semuanya, besok kopi gratisnya ya"
"Asyik, auto datang besok"
"Ditunggu Nin"
"Ok Nin"
Lambaian tangan penanda ke pergian rombongan pegawai minimarket sebelah. Nina sangat-sangat bersyukur masih banyak orang baik disekitarnya.
*
*
"Loh Nin. Katanya keluar makan sama Mina, kok sendirian?" Leni menyapa saat berpapasan di dapur. Leni hendak mengisi teko air minumnya untuk ia taruh di dalam kamar bila sewaktu-waktu haus tidak perlu keluar kamar.
"Dapat salam dari Toni, len" Nina mengalihkan pembicaraan
"Ikh.... Nina apaan sih"
Wajah Leni memerah merona, malu-malu
"Ketemu dimana Nin? Kok bisa nitip salam?"
__ADS_1
"Di bawah tadi barusan, bareng anak-anak pegawai minimarket"
"Ciyeee Leni...." Nina gantian meledek, balas dendam akan beberapa godaan Leni soal Bagas
"Ikh...malu tahu" Leni bergegas masuk ke dalam kamarnya menghindar dari ledekan Nina.
'Kan.. sekarang tahu rasanya malu di ledekin' Nina bersorak gembira dalam hati
Nina belum mau menceritakan tentang yang terjadi barusan. Bukan tidak mau terbuka hanya saja tidak mau membuat panik Leni.
*
Jam sudah menunjukkan tengah malam, namun Nina tidak bisa tidur. Pikirannya masih ada di kejadian tadi, masih berpikir ucapan Budi
"nina kita akan ketemu lagi lain waktu"
Dan pasti akan terjadi, apalagi tadi ada kedua mantan mertuanya. Mantan Ibu mertuanya, Asmarini. Seorang Ibu yang terlalu memanjakan anaknya, Budi. Karena kasih sayangnya yang berlebih kepada anaknya membuatnya di jadikan saingan alih-alih anak menantu. Semua hal yang dilakukan Nina akan di komentari buruk dan dibandingkan dengannya, mulai dari dandanan, pakaian, makanan, tata letak rumah, pekerjaan hingga servis di atas ranjang.
"Masakan kamu kok kayak gini rasanya, coba itu masakan Ibu, beda jauhkan sama rasa masakan kamu"
"Ampun Gusti, dandanan apa itu. Bedak kok tebel begitu, lipstik kok menor warnanya. Lihat coba dandanan ibu, natural jauh dari usia asli ibu, lebih muda"
"Haduh...du... Pakaian apa yang kamu pakai, rombengan begitu kok di pakai. Coba itu lihat Ibu, pakaian itu harus bagus dan mahal"
"Owalah nduk, ngapain kerja sih, dirumah ngurus suami yang benar. Anak ibu sudah nafkahin kamu, servis dong yang baik di atas ranjang. Contoh ini ibu, ayah masih kelepek-kelepek sama Ibu. Masih jos"
Sedangkan mantan ayah mertuanya, Banyu. Orang yang keras kepala, mau menang sendiri, diktaktor, arogan, mementingkan nama baik, kolot. Selama menjadi menantu, berbicara ngobrol dengannya Nina bisa menghitung dengan jarinya. Hanya beberapa kali, karena bagi Banyu, wanita itu ada di bawah laki-laki. Tidak pantas diajak diskusi tentang pekerjaan ataupun hal lain. Nina selalu di sepelekan keadaannya, pendapatnya, bahkan maunya.
Mungkin bukan kekerasan fisik yang di terima Nina selama pernikahan nya. Tapi mentalnya yang terluka, ucapan-ucapan buruk yang terdengar setiap saat dan berulang berubah menjadi seperti kebenaran.
'yang lalu biar berlalu'
Nina membaca beberapa pesan dari Mina dan panggilan telepon tidak terjawab satu jam yang lalu
[ Nina ada dimana? Katanya mau makan bareng]
Panggilan telepon tidak terjawab
[Aku pulang aja, Nina gak ada kabarnya sih. By]
[Nina dimana? Kok aku ketuk pintu gak ada jawaban?]
Panggilan telepon tidak terjawab
[Dah bobo ya? met bobo Nina]
Nina langsung membalas pesan kepada Mina
[Iya aku ketiduran tadi, cape banget. Ini kebangun haus. Semangat Mina kerjanya❤️]
Disela mengetik pesan tiba-tiba ada pesan masuk dari Bagas. Nina bahkan sampai menahan nafas karena terkejut
[Malam Nina, masih online saja? Tidak tidur istirahat?]
__ADS_1
Perasaan Nina berbunga, perhatian Bagas sederhana tapi membuatnya bahagia. Ia dan Bagas memang sudah beberapa kali berkirim-kirim pesan. Dan selalu saat berkirim pesan perasaan Nina begitu bahagia, layaknya kasmaran. Nina menyukai Bagas dan meras bahwa Bagas pun menyukainya. Namun ada waktu-waktu tertentu ia tidak percaya diri bahwa Bagas menyukainya.
[Malam Mas Bagas, kebangun mas, haus. Mas Bagas kok belum tidur?]
[Belum, kepikiran kamu. Kamu baik-baik saja kan Nin? Perasaan saya gak enak tadi]
Deg
'aduh filling mas Bagas bisa tepat begini. Gimana ceritainnya ya? Cerita atau gak?' Nina kebingungan sendiri
[Jangan terlalu over thinking Nin, apalagi negatif thinking ke saya. Nanti salah paham lagi. Saya tulus sama kamu Nin. Saya suka sama kamu, kalau bisa mau halalin kamu. Cerita aja apa yang terjadi?]
Wajah Nina memanas seketika, merah merona. Seyum malu-malu tercipta di wajahnya setelah membaca pesan Bagas
'Halalin' terngiang-ngiang di pikiran Nina
[Saya cuma janda miskin Mas, gak ada yang bisa dibanggain]
Dering telepon tanda ada telepon masuk dari handphone milik Nina
'My Boss, mas Bagas' Nina membaca nama pemanggil. Disentuh ke atas gambar tombol hijau.
"Nin, saya serius. Jangan over thinking apalagi negatif thinking tentang saya" Kalimat pembuka Bagas setelah tersambung
"Iya Mas" cicit Nina
"Saya jujur belum pernah pacaran seumur hidup saya. Dan saya juga gak mau pacaran. Saya mau langsung halal, pacarannya setelah halal. Kamu mau kan sama saya menuju Halal Nin?" Bagas tanpa basa-basi
"Saya kan cuma..."
"Saya gak lihat ada apanya di kamu Nin, saya lihat kamu apa adanya. Hati saya yang pilih kamu, kalau kamu mau setuju menuju halah sama saya. Kita bakal langsung ke rumah kamu ketemu orang tua kamu Nin" Bagas memorong ucapan Nina
"Hah..?
"Saya serius Nin"
"Saya mau mas, tapi...."
"Alhamdulillah... Kapan kamu mau kita kerumah kamu ketemu orang tua kamu? Besok? Lusa? Minggu depan? Atau bulan depan? Tapi jangan tahun depan" Bagas terlalu bersemangat memotong lagi ucapan Nina
"Mas, apa tidak terlalu terburu-buru?"
"Saya lamar kamu dulu Nin. Nikahnya paling bisa tahun depan soalnya tahun ini adik saya baru saja menikah. Tidak boleh kakak adik menikah di tahun yang sama kata eyang saya"
"Tapi mas, saya masih punya masalah penting"
*
*
Jangan lupa like jempolnya ya 👍
Terima kasih banyak ❤️
__ADS_1
Bersambung 😉