Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 14


__ADS_3


Malam hari setelah Coffee Shop tutup, Bagas datang dengan seorang lelaki yang di kenalkan bernama Bram. Ia adalah seorang akuntan yang berpengalaman, salah satu teman baik Bagas di kampus dulu. Bram bekerja di perusaan pengadaan alat berat, dan mau membantu Bagas mengajari Nina pembukuan dan menajemen di Coffee Shop.


"Nin, ini Bram teman saya. Seminggu ini akan ngajarin kamu pembukuan ya." Bagas memperkenalkan Bram kepada Bram


"Bram ini Nina, calon saya jangan di tikung. Tolong ajarin dia pembukuan, yang sabar kalau ngajarinnya" Gantian Bagas memperkenalkan Nina kepad Bram tentu saja dengan sedikit wejangan


'Lo laki juga soalnya, sama-sama single kita. Sebelum di tikung kasih peringatan dulu' pikir Bagas


"Bram" Bram menjulurkan tangannya, menciba berkenalan


"Nina" Nina membalas jabatan tangannya


"Dah, jangan lama-lama jabatannya. Gak nyebrang jalan" Bagas melepas jabatan tangan keduanya


"Santai Bro, tenang pembinor bukan cita-cita gw" Bram mengangkat kedua tangannya dan berjalan menuju sofa panjang di ujung ruangan. Duduk dengan santai dan menaruh tasnya di atas meja. mengeluarkan laptopnya dan menyalakannya


"Hati-hati Nin sama dia, ambil ilmu baiknya buang ilmu sesatnya. Cewenya di setiap tikungan ada" Bagas mewanti-wanti


"Apaan?!! Bukannya lo yang kayak gitu. Baik sama semua cewe, tapi PHPin orang tahunya. Kamu harus hati-hati sama itu cowo disebelah kamu. Dia cowo yang sangat baik banget tapi cuma baik aja"


Deg


'Iya ya, mas Bagas emang baik banget sama siapa aja. Jangan ge-er Nina' hati Nina menciut.


Mereka akhirnya duduk di samping Bram, di sofa panjang melihat laptop bram.


"Tapi kalau sama kamu pake hati kok Nin" Bagas mengedipkan matanya ke arah Nina.


Nina duduk diantara Bagas dan Bram. Malam ini ia akan belajar cara pembukuan dan manajemen Coffe shop. Khusus hari ini hanya mereka bertiga, besok baru akan ada satu orang lagi yang membantu di bagian administrasi, membantu Nina di Coffee Shop.


'Salahku dulu sekolah tidak baik, sampai membuat pembukuan saja bisa lupa' Nina mengabaikan godaan Bagas


Dipikirannya saat ini lebih ke konsentrasi menerima pelajaran dari Bram. Nina merasa harus membuktikan dirinya mampu, bukan hanya karena rasa kasian.

__ADS_1


*


*


Setelah dua jam belajar dengan Bram, Nina merasa lelah. Lelah raga, jiwa hingga otaknya.


'Tenaga terkuras habis hilang kayak di cium Dementors' Nina merebahkan badannya di kasur yang baru di beli tadi pagi bersama Bagas


Mulai malam ini Nina akan tinggal di lantai 2 gedung Coffee Shop 'Arleen' tempatnya bekerja. Tadi pagi sebelum ia memulai shif kerjanya, sudah mulai merapihkan dan menata beberapa bagian untuknya tinggal. Sementara sudah bisa untuk tidur, belum sempurna untuk dikatakan kamar tidur.


'Besok lagi rapihin tempat tinggal baru, sekarang bobo' Nina mulai memejamkan matanya


Sebelum ia naik ke lantai 2, ia sudah mengunci pintu Coffee Shop dari dalam. Coffee Shop terdapat pintu pengaman tambahan dan itu bisa di gembok dari dalam ataupun dari luar. Lantai 3 sebenarnya cukup lebar jika hanya Nina seorang yang menempati, rencananya akan ditempati oleh Leni dan dua teman kosan Nina. Tapi mereka akan pindah minggu depan, bertahap. Menunggu renovasi untuk membuat sekat antar kamar yang akan dilakukan mulai besok. Dan selama renovasi itu Nina terpaksa menginap di lantai 2 ini. Awalnya Bagas menyarankan untuk Nina menginap lagi selama renovasi di kediamannya, namun Nina menolak.


"Gak usah Mas, nanti jadi omongan orang. Saya di lantai 2 dulu seminggu nanti kalau sudah rapih baru pindah ke lantai 3"


"Ok, nunggu SAH kan" Bagas tetap saja menggodanya


Nina masih membentengi dirinya, menjaga diri dari gede rasa akan godaan Bagas. Bahwa semua yang dilakukan Bagas semata-mata adalah tindakan wajar dari orang baik untuknya. Apalagi setelah mendengar ucapan Bram tadi. Bagas memang orang yang sangat baik, bahkan kepada siapapun. Ke orang yang di bencinya pun ia tergolong baik. Tidak ada tindak kekerasan yang di lihat Nina saat kemarin berbicara dengan Angga.


*


*


"Malam Pak, Saya titip Coffee Shop sama Percetakan ya. Terlebih sekarang Coffee Shop sudah ada yang ikut tinggal disana. Nantinya ada 4 orang, perempuan semua. Saya minta tolong di jaga ekstra" Bagas bertemu dengan komandan Security di kantor Security pertokoan


Disela-sela perbincangan itu Bagas memberikan amplop coklat tebal


"Untuk rame-rame Pak, sekedar kopi dan gorengan" Bagas merendah saat memberikannya


"Akh...Mas Bagas bisa aja. Kopi ma gorengan sebanyak apa dengan uang begini tebal. Wereg mas ada juga"


Dan perbincangan malam itu cukup ramai dengan lelucon antar beda generasi.


*

__ADS_1


*


Bagas memarkirkan mobilnya di carport kediamannya, disambut hangat oleh Ratih setiap harinya. Bagas bersyukur akan kehadiran Ratih di kehidupannya. Ratih yang sudah mengasuhnya dan ke dua saudarinya dari kecil. Bagas bahkan dengan bangga menyebut Ratih sebagai Ibu angkatnya kepada siapapun.


Semenjak kedua orang tua nya meninggal dalam kecelakaan mobil yang di kendarai Kosim, suami Ratih. Hanya Ratih yang ia punya dan begitu juga sebaliknya. Kakaknya Rheina pindah keluar negeri menghilang dari laki-laki br*ngsek begitu juga adiknya Ima pindah ke Bekasi Patah hati di tinggal menikah tunangan. Bagas yang hidupnya dikelilingi oleh wanita, saudarinya dan Ratih. Bertekat dalam hati tidak akan pernah mempermainkan perasaan wanita manapun. Ia selalu berbuat dan bersikap baik kepada wanita, ya walau ia akui bahwa sikap baiknya kadang menimbulkan salah paham.


'Jadi Cowo Baik di bilang PHPin orang, jadi cowo jahat di bilang Br*ngsek'


"Malam banget Den pulangnya. Sudah makan?" Ratih menyapa dengan senyum tulus seorang Ibu kepada anaknya


"Sudah tadi di Coffee Shop bareng Nina ma Bram. Dah malam tumben Mba belum tidur? Istirahat saja duluan gak usah nunggu saya pulang"


"Kasian nanti Den Bagas kalau belum makan bagaimana?"


"Saya bisa nyiapin sendiri makanan kok Mba. Mba Ratih cuma tinggal masak aja. Nanti kalau saya lapar saya siapin buat diri sendiri. Kasian ngantuk nunggu saya pulang malam. Apalagi seminggu ini bakal pulang malam terus"


"Ya namanya juga sudah jadi orang tua Den, kepikiranlah. lagian kopisop itu apaan Den?"


"Coffee Shop itu warung kopi"


"Owalah...warung kopi sekarang namanya keren ya" Ratih cengengesan


Bagas hanya tersenyum simpul


"Non Nina trus tinggal dimana? balik ke kosannya? kalau ketemu mantan suaminya gimana Den?"


"Tinggal di lantai 2 Coffee Shop, kan ada 3 lantai itu gendungnya. Jadi dia irit sama aman juga. Securitynya nonstop dua puluh empat per tujuh kayak macdi mba"


*


*


Jangan lupa like jempolnya ya kakak 😉👍


Terima kasih banyak ❤️

__ADS_1


Bersambung 😉


__ADS_2