
Jeritan histeris bersautan di lantai satu Coffee Shop yang ramai pengunjung. Karena sore hari adalah jam sibuk Coffee Shop, banyak pegawai yang pulang kerja mampir. Beberapa pegawai menuju ke tubuh Leni yang tergeletak tidak bergerak, yang tadi jatuh berguling-guling dari atas tangga.
"Orang itu yang dorong" teriak seorang pelanggan yang duduk di seberang tangga, menunjuk ke arah tangga yang ada Rahmat sedang berdiri kaku
Semua mata memandang ke arah Rahmat.
*
Suara gaduh ramai mengusik ketenangan pembicaraan Bagas, Nina dan Anton. Bahkan terdengar suara sirene, semakin membuat kebingungan dan bertanya-tanya. Ada apa yang terjadi? Begitulah pertanyaan yang sama mereka pikirkan
"Ada apa ya Mas? Kok ada bunyi ngiung-ngiung gitu" Nina bertanya polos
Bagas yang sudah berdiri dengan cekatan melihat dar jendela, di bawah ramai orang-orang berkerumun dan ada mobil ambulans yang datang.
"Gak tahu Nin, dibawah ramai banget. Ada ambulans juga. Saya kebawah lihat dulu" Bagas pamit dan berjalan keluar ruang huni
"Saya penasaran juga, mau lihat" Nina menyusul
Anton merapihkan berkas-berkas terlebih dahulu dan memasukkan ke dalam tas dengan nomor kimbinasi untuk membukanya. Ia harus bisa menyimpan berkas-berkas penting milik kliennya, menjaga agar tetap rahasia. Baru ia bisa ikut turun melihat keadaan.
Bagas turun dengan pelan, mengikuti langkah kaki Nina yang perlahan. Ia mencoba mengimbangi gerakan Nina, menjaganya agar ia tidak jatuh karena tubuh Nina yang masih belum fit.
Dari lantai 2 sudah terlihat keadaan lantai 1. Bagas dan Nina melihat ada paramedis yang mengangkat tubuh Leni ke bangkar, leher Leni di beri bantalan pelindung di lehernya.
"Astaga Leni" Nina memekik terkejut, sebagai paramedis menatap ke arah suara
"Ada yang terjadi sebenarnya?" Bagas bertanya dan turun dengan cepat mendekati paramedis yang siap membawa Leni ke dalam ambulans
"Pak Boss, Leni jatuh dari tangga. Kata Bu Maria saksi mata, Rahmat yang dorong dari lantai dua" Agus menjelaskan sembil mendekati Bagas, mendorong tubuhnya agar paramedis bisa membawa Leni segera ke Rumah sakit.
"Apa?" Bagas dan Nina terkejut bersamaan, Bagas membelalakan matanya terkejut. Nina menutup mulutnya.
"Kamu ikut Ambulans, saya ngikutin dari belakang" Bagas memberi perintah kepada Agus
"Kayla, tutup Coffee Shop. Kamu yang bertanggung jawab sementara." Bagas kembali memberi perintah
"Ada apa pak Bagas?" Tanya Anton yang baru turun
"Ada kecelakaan Pak Anton, pegawai saya jatuh dari tangga. Katanya di dorong, entah bagaimana saya tidak tahu. Yang penting orangnya dulu di selamatkan" Bagas menjelaskan
"Saya pamit dulu Pak Anton. Mau menyusul ke Rumah sakit dulu" Bagas menjabat tangan Anton.
*
Bagas dan Nina mengikuti ambulans menuju Rumah sakit. Nina bersikeras ikut walaupun sudah dilarang oleh Bagas, karena Bagas sedikit mengkhawatirkan keadaan badan Nina yang belum fit.
Beruntunglah Rumah Sakit tidak terlalu jauh dari pertokoan. Dan jalan menuju ke arahnya tidak terlalu macet, secara jam pulang kerja di Jakarta adalah jalanan termacet. Bahkan jalannya kura-kura lebih cepat daripada kendaraan.
Leni segera di tangani di IGD, Bagas langsung mengurus administrasi untuk memudahkan perawatan. Beruntunglah Nina membawa Handphone miliknya yang menyimpan data-data seluruh pegawai Coffee Shop, dan itu sangat mempermudah saat pendaftaran.
Setelah selesai mengurus pendaftaran, Bagas dan Nina menghampiri Agus yang menunggu di depan IGD
"Agus gimana?" Sapa Nina sambil bertanya
"Belum ada dokter yang menjelaskan Bu, mungkin masih di tangani di dalam"
"Kamu kalau cape, boleh balik dulu kalau mau" Nina duduk disamping Agus
"Iya kamu kalau mau pulang ke Coffee Shop duluan juga gak apa-apa kok. Ada kami disini" Bagas ikut menjelaskan dan duduk di samping Nina
"Nanti saja Bu Pa Boss, biar kalau di tanya-tanya kenapanya saya yang jawab. Nanti Bu Pak Boss bingung kalo ditanyain kronologinya" Agus menolak
"Memang gimana kronologinya?" Nina dan Bagas penasaran
"Jadi tuh Leni jatuh dari tangga, jatuhnya guling-guling gitu Bu Pak Boss. Saya kebetulan posisinya di samping tangga jadi ngelihat Leni berguling jatuh. Semua pelanggan teriak kaget. Heboh deh semua"
"Trus ada Bu Maria Bu Pak Boss, beliau duduk persis di seberang tangga menghadap ke arah tangga persis. Bu Maria teriak 'orang itu yang dorong' sambil nunjuk ke tangga, saya penasaran lihat ada Rahmat yang ada di depan tangga lantai 2. Rahmatnya diem aja gak gerak tapi mukanya pucet. Saya samperin Rahmat nanya ke dia, bener dia dorong Leni. Eh dianya malah lari turun saya di dorong juga, untung gak jatoh" Agus bercerita mendetai
__ADS_1
"Trus " Nina masih kurang puas mendengar penjelasannya
"Iya gitu Bu, kayla langsung nyuruh Andi panggil ambulans, sama ngelarang siapapun megang badannya Leni. Dia sujud disamping Leni, manggil-manggil Leni tapi Leninya gak respon. Ya sudah sampai akhirnya ambulans datang trus Pak Boss sama Bu Nina turun"
"Rahmatnya gimana itu?" Bagas bertanya gantian
"Rahmat bis dorong saya lari turun, katanya Tamy dia sempet di cegah sama orang-orang tapi dia ngelawan mpe lari keluar, gak tahu kemana. Gitu doang Pak Boss yang saya tahu"
"Aneh ya" Nina beramsumsi
"Iya aneh Bu, kayaknya bener Rahmat dorong Leni, tau gak sengaja atau segaja. Yang anehnya dia lari kayak kesetanan gitu Bu. Katanya Tamy pas di cekal dia ngelawan kasar gitu"
"Rahmat yang saya kenal itu orang baik, lembut sama perempuan. Gak ada kasar-kasarnya, sama laki-laki juga gitu" Nina menerawang mengingat prilaku Rahmat sehari-hari
"Iya Bu, saya juga selama kenal Rahmat, dia orangnya ramah sama siapapun. Gak kasar, kalau ada selek ama teman dia malah cooling down orang" Agus mengiyakan perkataan Nina
"Itu juga yang saya lihat sehari-harinya" Bagas juga ikut mengiyakan
*
Toni datang saat malam hari setelah selesai shif kerjanya. Ia begitu terkejut akan berita Leni mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga saat bekerja. Saat shif kerjanya, ia memang tahu ada ambulans datang ke Coffee Shop tapi tidak tahu bahwa yang di bawa adalah Leni, kekasihnya. Ia juga hanya mendengar desas-desus saja, bahwa ada yang di dorong jatuh dan pelakunya melarikan diri. Ia hanya berpikir nanti setelah selesai bekerja akan menanyakan langsung kepada Leni, kronologinya.
Bukanya bertemu dengan Leni kekasihnya, malah mendengar kabar bahwa Leni di rawat di Rumah Sakit karena terjatuh. Yang lebih kagetnya lagi, pelakunya adalah Rahmat.
'Pantes dia WA izin pulang kampung dadakan, bilangnya Ibunya sakit. Br*ngs*k' Maki Toni
Toni awalnya bingung harus kemana di Rumah sakit sebesar ini, karena teman-teman kerja Leni pun belum tahu Leni di rawat ruangan apa. Saat ia celingak-celinguk mencari, ia melihat Bagas dan Nina yang berjalan bersama masuk ke area IGD
"Pak Boss" panggil Toni mengejar Bagas dan Nina
"Leni gimana pak?" Toni berhasil mengejar dan memegang lengan Bagas dengan gemetar
"Toni" sapa Nina
"Iya Bu Nina, gimana Leni Bu?" Toni sudah lemas
Toni mengikuti perintah Bagas. Mereka bertiga berjalan menuju Agus yang masih duduk menunggu di ruang tunggu IGD.
"Lah Ton, lo kesini?" Agus menyapa Toni. Ia belum tahu bahwa Toni dan Leni berpacaran
"Iya bro, gimana Leni" Toni mencecar Agus
"Minum dulu ini" Nina memberikan botol air mineral yang tadi ia dan Bagas beli. Nina juga memberikannya kepada Agus dan Bagas.
"Makasih Bu" Toni dan Agus menerima dan meminumnya. Bagas juga meminum sedikit dan memberikannya kepada Nina sebagiannya, kerena tadi mereka hanya membeli 3 botol saja.
"Trus Leni gimana keadaannya?" Toni masih bertanya
"Alhamdulillah, sudah dilakukan tindakan. Sudah di ronsen, CT scan, cek darah, semuanya deh. Baik-baik saja, katanya gegar otak ringan. Di rawat dulu tiga hari, ini lagi nunggu kamar" Agus menjelaskan
"Alhamdulillah, syukurlah" Toni bernafas lega
"Trus biayanya gimana?" Toni panik lagi
"Kenapa lo jadi panik sih? Kayak lakinya aja" Agus bercanda
"Emang gue pacarnya, menuju SAH. Ya Pak Boss" Toni menjawab dengan tegas sambil membawa-bawa Bagas yang sedang berbincang dengan Nina soal makanan yang kurang
"Iya" Bagas menjawab seadanya, ia masih meyakinkan Nina untuk makan berdua sebungkus dengannya. Biar Agus dan Toni sebungkus sendiri.
"Ooo, gue baru tahu bro. Woles" Agus menepuk pundak Toni
"Soal biaya sudah di tanggung Pak Boss, katanya masuk kecelakaan kerja, jadi tanggung jawab beliau sebagai owner" Agus menjelaskan
"Dah, makan dulu ini. Belum makan kan. Nih satu satu ya" Nina menyela dan memberikan bungkusan makanan
"Makasih banyak Bu" Agus dan Toni menjawab bersamaan
Mereka pun akhirnya makan malam bersama. Nina dan Bagas makan berbagi berdua satu bungkus.
__ADS_1
*
Leni akhirnya sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap biasa. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Toni, Bagas, Nina dan Agus menemani di ruang rawat.
Toni masih menggenggam tangan Leni erat, ia begitu ketakutan akan keadaan Leni.
"Aku baik-baik saja kok, kamu pulang aja. Besok masih masuk kerja kan?" Leni menenangkan Toni
"Sudah pulang aja, disini ada perawat selalu standby kalau kenapa-napa"
"Beneran kamu baik-baik saja?" Toni enggan pulang
"Besok kalau sudah pulang kerja ke sini lagi aja. Kasian kamu besok harus kerja" Leni memberi saran
"Gus, sudah malam. Pulang saja gak apa-apa. Besok masih harus kerja kan" Nina memberi saran
"Iya Bu, saya pamit dulu" Agus undur diri
"Ayo Ton bareng pulang" Agus menarik Toni
"Saya ikut keluar bareng" Bagas mengikuti langkah Agus dan Toni, ia hendak keluar untuk membeli makanan dan minuman untuk di kamar inap
"Hati-hati dijalan" Nina mengantar sampai depan pintu
Nina menghampiri Leni dan duduk di samping ranjang. Mengekus lembut lengan Leni. Baik ia ataupun Bagas juga Agus dan Toni, belum berani menanyakan kejadian yang sebenarnya. Mereka masih menunggu Leni stabil dulu.
"Dah, sekarang istirahat dulu ya Len" Nina merapihkan selimut Leni
"Bu Nina nunggu disini?" Tanya Leni polos
"Iya, kamu kan jadi tanggung jawab saya Len"
"Maafin saya jadi menyusahkan ya Bu"
"Sudah-sudah jangan di pikirkan soal itu. Sekarang yang penting kesehatan kamu dulu, itu yang paling penting" Nina menenangkan
"Ini salah saya juga Bu. Saya marah lihat Rahmat yang sembarangan naik ke lantai 3 gak izin. Saya jadi makin marah karena dia pake alasan yang nyuruh Toni, padahal Toni sudah tahu kok kalau dilarang naik dulu sama saya soalnya Pak Boss mau meeting penting sama pengacara. Saya kesel trus saya dorong Rahmat, dia bales saya trus saya jatoh guling-guling trus gak sadar deh" Leni menceritakan pengalamannya dengan merasa bersalah. Ia mengakui bahwa dirinya menyulut api kemarahan seorang rahmat dan ia harus menanggungnya
"Ya sudah, namanya kecelakaan. Sudah tidak usah di perpanjang bagaimana? Sekarang waktunya kamu istirahat, mikirin kesehatan kamu dulu. Kasian Toni itu khawatir banget sama kamu" Nina memberi saran
"Iya, saya gak akan perpanjang lagi masalah ini. Sama-sama salah Bu, saya salah ya Rahmat salah" Leni mengiyakan
Nina meredupkan lampu kamar agar Leni bisa tidur dengan nyaman.
*
"Rahmat gak bisa di biarin ini" Toni marah setelah mendengar cerita dari versi Agus. Mereka ada di taman minum kopi dari tukang asongan sepeda sambil menyalakan rokok
"Sudahlah jangan kebawa emosi. Kita semua gak tahu yang sebenarnya terjadi, Leni juga belum ceritakan. Jangan dengar cuma dari satu sisi saja, tenangkan kepala. Saya gak mau ada keributan" Bagas menasehati
"Pasti ada masalah lah Pak Boss, buktinya Rahmat izin sama supervisor pulang kampung dadakan katanya emaknya sakit, padahal ibunya sudah lama meninggal saya tahu. Apalagi kalau bukan dia mau melarikan diri. Kalau salah masak kabur?" Toni masih berapi-api
"Beneran dia kabur Ton? @su juga tuh k@m-pret" Agus memaki
"Saya sama anak-anak disuruh gantiin shifnya seminggu ini gantian. Awalnya aneh dia izin cuma lewat WA trus gak bawa barang-barang. Pas saya tahu alasan izinnya saya jadi bingung curigalah. Ibunya sudah lama meninggal kok sekarang sakit" Toni mengemukakan pendapatnya
"Ya sudah, kita tenang dulu. Hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin, kita laki-laki harus kuat biar para wanita tidak khawatir. Saya tidak mau ada keributan. Nanti saya rundingkan langsung dengan Leni, maunya dia bagaimana. Tapi saya tetap maunya jangan ada keributan, damai itu lebih baik" Bagas menenangkan Toni dan Agus
"Iya Pak Boss" Toni dan Agus menjawab
Bagas mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang, di berikan kepada Agus dan Toni.
"Eh, buat saya Pak Boss. Makasih banyak Pak Boss"
"Dah sana pulang, hati-hati dijalan" Bagas berdiri mematikan bara api di rokoknya. Ia sebenarnya bukan perokok, namun saat ini ia sedang begitu pusing. Banyak masalah yang terjadi bersamaan.
"Gak usah pak Boss, saya malu nerimanya. Saya malah yang harusnya berterima kasih. Leni sudah di rawat dengan baik" Toni menolak halus
"Dah keluar males saya masukin lagi, dah kasian Nina ma Leni di tinggal lama" Bagas berlalu menuju rumah sakit
__ADS_1