Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 16


__ADS_3


Bagas membolak-balik tubuhnya di depan cermin, melihat penampilan dirinya dalam kemeja hadiah pemberian Nina -dan teman-temannya- sebagai tanda terima kasih atas kebaikan memberikan tempat tinggal gratis untuknya -juga teman-temannya-


Bagas seperti ABG di mabuk cinta, mengaburkan segala hal normal. Di pikirannya hanya rasa bahagia yang membuncah hanya karena sebuah kemeja, melupakan rasa malu. Ratih yang dari tadi sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar dan membukanya terteguh melihat tingkah agak memalukan dari Bagas. Senyuman aneh terus saja mengembang di wajah Bagas dengan aneka pose yang lagaknya seperti foto model


'Si aden lagi kasmaran' Ratih menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Bagas yang koyol


'Andai Nyonya dan Tuan melihatnya' Ratih tiba-tiba murung mengingat kedua majikannya, orang tua Bagas


Ratih ingat bagaimana Bagas yang merupakan anak laki-laki satu-satunya di didik dengan lebih keras daripada kedua saudarinya. Bukan saja didikan keras dari Ayahnya tapi dari paman-pamannya juga kakek dari keluarga Tuannya, Regawa. Bagas adalah Cucu laki-laki dari Anak pertama keluarga, pewaris asli keluarga Sarendra. Bagas semasa remaja bahkan dilarang keras untuk berpacaran, ya walaupun kedua saudarinya juga. Karena larangan tersebut Bagas menjaga pergaulannya dengan lawan jenis. Dan saat ini Ratih bisa melihat akhirnya Bagas bisa jatuh hati kepada lawan jenisnya, sebenarnya ada sedikit rumor tidak enak yang di dengar Ratih tentang Bagas yang katanya penyuka sesama jenis hanya karena tidak pernahnya melihat Bagas dekat dengan wanita, bahkan setelah usianya 28 tahun ini.


"Asyiknya yang punya baju baru" Ratih mencoba menarik perhatian Bagas dengan meledeknya


"Astaga mba Ratih... Kaget aku" Bagas memegang dadanya, ia benar-benar terkejut juga malu di pergoki dalam keadaan dan situasi yang sedikit memalukan untuknya


"Bajunya baru ya... Mau dipake besok ketemu siapa Den?"


"Iya dari Nina ini" Dengan senyum mengembang secerah matahari, Bagas sampai lupa bahwa itu hadiah patungan dari Nina dan teman-temannya yang bahkan Bagas sudah lupa nama mereka


"Mau dicuci dulu sama saya dulu gak Den? Atau mau diajak bobo langsung baru besok di cuci?"


"Kalau bobo langsung sama orangnya baru mau" Bagas menjawab asal tanpa berpikir, efec kasmaran


Plak


"Di halalin dulu Den baru bobo" Ratih memukul Bagas yang masih di dalam khayalannya


'Bocah gendeng (orang gi-la)' maki Ratih hanya berani dalam hati


"Hehehe... Coming soon Mba, Ninanya biar tenang dulu baru dilamar. Masih takut teror mantannya"


"Ya kalau makin cepet di SAH kan bisa dilindungi oleh Den Bagas langsung. Ndak was-was lagi"


"Semua orang tenang kalau sudah SAH"


"Mba terbaik" Bagas berpose ala boboboy


'Mari mengejar hati Nina terang-terangan. Masak kalah sama cowo br*ngsek itu' Bagas memikirkan Angga yang dulu dengan berani datang langsung ke orang tua nya meminta kakaknya


*


*


Nina berlari dengan kencang, secepat yang ia bisa. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan dada yang hampir meledak karena dipaksa untuk berlari cepat tanpa aba-aba. Bagaimana mau ada aba-aba, niat hati dan perut Nina ingin makan nasi pecel ayam ati ampela kebon kacang malah harus bertemu dengan Budi, mantan suaminya.

__ADS_1


'Sial banget hidup ku' runtuk Nina disela pelariannya


Nina keluar ruko Coffee Shop sendirian setelah membuat janji dengan Mina yang hendak pulang kerja lewat WA (aplikasi pesan teks), mereka akan bertemu di warung pecel lele, makan bersama berdua. Namun belum juga bertemu Mina ataupun duduk di bangku, sudah di suguhi oleh Budi dan kedua mantan mertuanya yang kelihatannya sedang makan di warung pecel lele tersebut. Budi yang memang mencari-cari Nina setelah bercerai, akhirnya bangkit dan mencoba mendekati Nina. Nina yang sudah terlalu trama dan takut akan Budi malah lari menjauh, akibatnya Budi mengejarnya.


'ya Tuhan tolong saya, selamatkan saya dari laki-laki jahat itu' doa Nina dalam hati


"Tolong..... kebakaran...." Teriak Nina mencari perhatian orang-orang namun apa daya pengunjung di malam itu hanya sedikit dan tidak membantu hanya menonton ketakutan Nina


"NINA" teriak Rahmat dan teman-teman pegawai minimarket sebelah


Nina merasa bahwa pertolongan Tuhan itu ada, dia lari menuju rombongan pegawai minimarket sebelah, mencari perlindungan.


"Kenapa Nin?"


"Iya Nin kenapa?


"Ada apa?"


Berondong pertanyaan langsung menghampiri Nina setelah bersembunyi di balik badan Rahmat.


"Tolong saya... Orang itu mau berbuat jahat sama saya. Saya mau balik ke Coffee Shop, tolong temenin" Nina berusaha berbicara dengan nafas terengah-engah


"NINA!!!" Teriak Budi di hadapan kumpulan pegawai minimarket sebelah yang berjumlah 6 orang. Nyalinya agak menciut melihat jumlah yang tidak sebanding, tapi ia tutupi dengan lantangnya suaranya


"Woy...." Sorakan koor para pegawai minimarket


"Santai Bro... Siapa lo main kasar sama cewe"


"Jangan kasar sama cewe, cupu lo bro"


"Siapanya Nina lo? Kasar banget, jan-***"


(Umpatan kasar artinya perset@n)


"Kasar jangan sama cewe bro, @su"


(Umpatan kasar artinya anjing)


"HEH, B@ngs@t!!! Kalian gak ada urusan ya ma gua dan Nina. NINA SINI KAMU" Budi meringsek masuk dalam rombongan


"Selow man.... Jangan kasar-kasar lah" Adit mendorong bahu Budi, menghalau mendekati Nina


"PABU, siapa lo berani sentuh-sentuh gua" amarah Budi terpancing


(Umpatan kasar artinya anjing)

__ADS_1


"Woy...selow...selow... woy" Sorakan koor para pegawai minimarket


Keributan tersebut membuat banyak perhatian daripada teriakan minta tolong Nina tadi, dan berkumpulah orang-orang yang tadi ada di warung pecel lele menonton


"Budi sudah Le, Malu. Ayo kita pulang saja" Tarik Ibunya Budi


"Ayo Le" Ayahnya pun mencoba menarik tangan Budi


"Sudah BUBAR, bukan tontonan ini. BUBAR" usir Ayahnya Budi


"Ndang Le!!! Ayok Bu, ngisinne wae" Ayahnya Budi berjalan menjauh


(Malu-maluin aja)


Budi akhirnya menurut ikut pergi ditarik Ibunya walaupun tidak rela, tentu saja tetap dengan wajah garang. Ia menjaga harga dirinya agar tidak diremehkan.


"NINA KITA AKAN KETEMU LAGI LAIN WAKTU" ancam Budi dengan teriakan


Tubuh Nina bergetar hebat, ia syok akan ancaman Budi terakhir tadi. Airmata nya sudah memburamkan matanya, berkedip membuat air mata itu jatuh mengalir ke pipinya dan menganak di dagunya


'Takut ya Allah... akankah aku akan terus hidup di kejar ketakutan akan kelakuan Budi'


"Nin, jangan nangis"


"Tenang Nin, kita anter balik ke Coffee Shop"


"Tenang, tuh orang gak akan berani ganggu kamu hari ini"


'iya hari ini, besok gimana?'


"Sudah Nin, sekarang balik dulu ke Coffee Shop"


"Nanti jangan keluar area ruko, tenang disana dua puluh empat jam di jaga security"


"Jangan terlalu dipikirin nanti kamu sakit Nin. Tenangin diri kamu ya"


*


*


Jangan lupa like jempolnya ya 👍


Terima kasih banyak ❤️


Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2