
"tapi mas, saya masih punya masalah penting" nina ragu-ragu mengatakannya
"masalah penting apa nin?" suara bagas tercengat, ia agak menegang takut hal yang disampaikan oleh nina begitu sulit
"mantan suami saya masih mengejar-ngejar saya mas... " tenggorokan nina seperti tercekik menahan tangis
"hah ..? gimana maksudnya?"
'katanya di teror mantannya kok malah di kejar-kejar, mau rujuk gitu?' pikir bagas parno
"mantan suami saya mau celakain saya mas, dia dulu bilang mau bikin kaki saya lumpuh kalau saya sama dia sampai cerai.... dia dendam banget mas... tadi saja saya gak sengaja ketemu lagi sama dia di warung pecel lele..."
"kamu ketemu dia lagi gimana bisa?" bagas memotong pembicaraan nina
"saya keluar beli makan di warung pecel lele kebon kacang itu mas, janjian sama mina pulang kerja...hiks.." tangis nina mengingat kejadian tadi
"nin kamu baik-baik saja kan sekarang, ada dimana kamu sekarang?" bagas panik
"di ruko coffee shop lantai 3 mas, alhamdulillah bisa pulang selamat. ditolong anak-anak minimarket sebelah... hiks... untung ada mereka yang bantuin jauhin... saya takut mas... hiks..."
"jangan nagis nin, kamu mau saya ada disana?" bagas hati-hati berbicara
"mau mas... hiks... tapi nanti jadi omongan orang... hiks.. gini aja lewat telpon..."
"besok-besok jangan keluar sendiran, besok kalau mau jajan makan diluar bareng saya pulang kerja atau delivery aja. kita belanja besok buat di dapur, kan bisa masak di dapur. atau kalau gak sempet nanti saya bawain masakannya mba ratih. pokoknya kalau gak ada saya jangan keluar area pertokoan" bagas memberikan solusi dibarengi dengan wejangannya
"iya mas..."
"jangan nangis lagi, nanti matanya bengkak besok. berendem air hangat bis itu minum susu, kompres matanya baru tidur"
"iya mas..."
"bulan depan kayaknya kita bisa cari tanggal yang pas buat ke rumah orang tua kamu. tapi sayang nikahnya baru bisa Tahun depan, ima adek saya baru nikah tahun ini soalnya"
"iya mas..."
"hahaha... kamu denger gak omongan saya, iya iya aja... jangan-jangan masih linglung lagi"
"memangnya mas lagi becanda tadi?" nina sewot
"serius lah" tegas bagas
"saya juga serius mas.... makasih banyak ya mas"
keheningan menjeda, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. bagas begitu bahagia menerima jawaban nina. dan nina begitu membuncah senang akan keseriusan bagas.
"menuju halal bareng ya nin... jaga hatinya buat saya..." bagas mewanti-wanti
"iya mas... mas juga..." nina ikut sewot
__ADS_1
'fans mas bagas kan banyak, cantik-cantik lagi'
"pastinya... wong di hati saya cuma ada kamu.. maaf ya kalau saya kaku... beneran gak pernah pacaran saya soalnya... kalau saya kurang romantis maklum ya..." bagas menggaruk tengkuknya malu, padahal nina tidak akan bisa melihat
"mas bagas itu orang paling baik yang pernah saya temui, mana ada saya punya keluhan sama mas yang sempurna begini" nina malah memuji
"aw... nina... jadi pengen cepet-cepet halal dan sah... pengen peluk kamu... hehehe... " bagas memeluk gulingnya gemas
"tenang-tenang saya pasti akan jagain kamu. sebelum sah saya gak akan kurang ajar kok" bagas langsung serius takut nina salah paham lagi
dan percakapan mereka pun masih berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan hingga satu jam tidak terasa.
*
'menuju halal bersama ya nin' ucapan bagas terngiang-ngiang di pikiran nina. setelah percakapan melalui telepon dengan bagas, semua ketakutan akan kejadian di warung pecel lele sirnah, hilang tak berbekas. sekarang di dalam pikiran nina hanya kata-kata bagas. saking kasmaran nya membuat nina bertingkah lucu, memegang pipinya, memegang dadanya, bergoyang-goyang didalam selimut, menendang-nendang ke udara, memukul bantal bahkan sampai menenggelamkan kepalanya ke bantal
'malu.... tapi aku mau.... '
nina menjerit senang saat menenggelamkan kepalanya ke bantal, meredam suaranya.
*
"mari kita countdown menuju halal.... sah..." bagas meneriakkan kata 'sah' dengan mengangkat kedua tangannya ke udara
"uowww... yeah... " ekspresi bahagia bagas, dia sampai berdiri diatas kasurnya
*
'mosok* malam-malam den bagas teriakan toh?' ratih menggelengkan kepalanya menepis pikirannya setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 1.30
(apa)
'opo iyo den bagas teriakan dini hari koyok ngono toh? opo dedemit?' ratih memilih menyelimuti seluruh tubuhnya, tubuhnya bergidik ketakutan
(apa iya den bagas teriakan dini hari seperti itu? apa hantu?)
*
*
ratih bangun kesiangan hingga terburu-buru menyiapkan sarapan. ia agak kelabakan menyiapkan bahan-bahan makanan untuk membuat sarapan juga bekal untuk bagas bawa. tadi subuh bagas meminta ratih membuatkan bekal makanan agak banyak untuk dirinya dan nina.
"mba, minta tolong masakin sayur ma lauk agak banyak buat bekel saya ma nina untuk seharian boleh. nanti nasinya masak disana saja jadi bawa lauk gitu" bagas nyengir kuda di depan pintu kamar ratih sebelum azan subuh berkumandang, mengetuk-ngetuk pintu kamar mengganggu tidurnya yang baru terlelap setelah dini hari tadi ia ketakutan mendengar suara jeritan mirip suara bagas.
"hmmm.." ratih belum bisa menyatukan nyawa dan jiwanya, masih berceceran dimana-mana karena masih mengantuk. ia bahkan belum bisa mencerna ucapan bagas dengan baik.
"makasih banyak ya mba" bagas berlalu pergi, dan ratih malah kembali tidur. akibatnya ya seperti sekarang ini, ia bangun kesiangan dan kelabakan sendiri menyiapkan masakan.
di tengah kesibukan dan sedikit kepanikan ratih memasak, bagas datang sudah rapi dalam pakaian kerjanya.
"pagi mba ratih. masak apa kayaknya ribet banget? masak yang simpel-simpel aja mba" bagas menyapa dan duduk di meja island dapur
__ADS_1
ratih tidak menjawab ataupun melihat ke arah bagas, masih sibuk dengan masakannya
"nina semalam katanya gak sengaja ketemu mantan suaminya mba, trus di kejar-kejar gitu sampai di ancem-ancem. untung ada anak-anak pegawai minimarket sebelah nolongin. saya saranin dia biar gak keluar area pertokoan,biar aman dari mantannya" bagas memulai sesi curhat
"apoooo*?!" ratih terkejut bukan main hingga mematikan kompornya seketika. biar kaget refleks ratih sudah terbukti gesit dan awas
(apa)
'dari pada kebakaran' alasan ratih
"trus non nina nya piye* keadaannya?"
(bagaimana)
"alhamdulillah sudah baik-baik saja lah mba, kan sudah ada saya" bagas memuji diri sendiri
"lah, den bagas memang semalam ada disana sama non nina?" ratih bingung mencerna perkataan bagas
"maunya, tapi ninanya nolak. katanya lewat telepon saja, soalnya sudah dini hari nanti jadi omongan orang" bagas menciut
"wis.. bener itu apa kata non nina, den. malu jadi omongan orang, makanya buruan di halalin" ratih kembali menyalakan kompor dan mulai meneruskan memasak
"sudah dong mba, insyaallah bulan depan mau kenalan sama orang tuanya sekalian ngelamar" tawa bagas membahana
"menuju halal.... sah.... sah..." jerit bagas
ratih memandang bagas dengan tatapan menerawang, berpikir sejenak
'jangan-jangan yang semalam beneran suara teriakan den bagas?'
"aden semalam juga teriakan kayak gini ya?" ratih bertanya hati-hati, takut menyinggung perasaan
"iya.." bagas masih tertawa
"ya allah gusti pangeran.... aden... semalaman ra iso turu mergono tak pikir ono dedemit" ratih memercikan air dari wastafel ke arah bagas dengan gemas
(tidak bisa tidur karena di pikir ada hantu)
"bocah gendeng, bocah edan" maki ratih gemas masih dengan memercikan air ke arah bagas
(anak sin-ting, anak gi-la)
*
*
Jangan lupa like jempolnya ya 👍
Terima kasih banyak ❤️
Bersambung 😉
__ADS_1