Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 26


__ADS_3


Jam operasional Coffee Shop Arleen sudah habis, para pegawai membersihkan pos nya masing-masing. Nina sudah membalik tanda open menjadi close. Satu hari yang melelahkan sudah terlewati. Awalnya pengunjung hanya sedikit dan pebih banyak yang take away. Namun menjelang malam akhirnya pengunjung ramai seperti biasa. Para pegawai bisa menjawab segala rasa penasaran pengunjung yang entah darimana mendengar desas-desus yang cukup menjelekkan citra Coffee Shop Arleen.


Dan kerja keras tidak mengkhianati hasil.


Segala desas-desus buruk bisa di jawab dengan realita dan fakta. Berkat kerjasama yang kompak antara pegawai, manager dan owner.


Kayla dan Nina seperti biasa adalah pegawai yang memiliki jam bekerja yang lebih panjang dari pegawai lainnya. Mereka sedang merapihkan administrasi Coffee Shop.


Beberapa pegawai yang sudah selesai membersihkan pos nya, sudah berganti baju. Duduk menunggu sambil ngobrol ataupun melihat Handphone masing-masing. Malam ini mereka semua akan di traktir makan malam Bagas, owner Coffee Shop. Sebagai ucapan terima kasih sudah bekerja baik saat kejadian kemarin, juga hari ini yang penuh dengan rasa kepo para pengunjung Coffee Shop.


Mereka menunggu Bagas datang juga menemani Kayla dan Nina yang masih bekerja.


"Rasanya aneh ya" Andi memulai percakapan


"Aneh kenapa? Banyak yang kepo?" Tanya Tamy


"Ada Bu Maria, rasanya aneh saja. Mana sekarang sikapnya jadi judes banget" keluh Andi lagi


"Iya, jadi judes gitu ya. Mana di ngompor-ngomporin pelanggan lagi" Tamy ikut mengeluh


"Ngomporin apaan? Siapa yang kompor?" Agus yang tidak mendengarkan awal obrolan karena sibuk dengan gawai nya


"Bu maria bro, lo lihat kan dari kemarin dia kesini mulu. Mana lama banget nongkrongnya" Andi menjelaskan


"Iya, mana anehnya lagi dia kan datang sendiri trus tiba-tiba bisa duduk semeja sama orang lain gitu, sok akrab trus ngegibahin Coffee Shop kita. Gue denger sendiri pake kuping gue" Tamy bercerita dengan semangat membara


"Wah, jangan-jangan yang bikin gosip jelek dia lagi" Agus membuat kesimpulan


"Memang siapa sih Bu Maria ini?" Alex pegawai baru semenjak Coffee Shop di ambil alih Bagas belum mengenal Maria dan Angga, owner lama Coffee Shop


"Owner lama Coffee Shop ini. Yang teriak nunjuk-nunjuk Rahmat ituloh" Agus menjelaskan


"Oh, orang itu.... Pantesan" Alex menganggukkan kepalanya berulangkali


"Apaan?" Tamy kepo


"Tadi dia ngajak ngobrol-ngobrol saya, bilang mau ngajak kerja sama. Nanti kalau saya mau dia bakal bayar saya 3 kali gaji setiap bulannya. Trus saya nantangin sebut gaji saya. Eh dia bilang saya nyoba peras dia, sambil marah-marah mencak-mencak" Alex menerawang saat kejadian


"Serius amet nih" canda Baskara, barista baru yang menggantikan posisi Nina. Ia baru selesai mandi dan berganti baju.


"Cerita owner lama Coffee Shop. Ituloh bro, ibu-ibu yang dari kemarin deketin lo" Alex menjelaskan


"Ibu-ibu gaje itu" Baskara bertanya menegaskan

__ADS_1


"Tadi gue juga di deketin, mau dibayar 3 bulan gaji kalau berhasil" Alex berbicara kepada Baskara. Sedangkan rekan yang lain tidak paham


"Kalau ngomong yang jelas dong, biar paham yang lainnya ini" Tamy protes


"Kemarin Baskara cerita ada ibu-ibu yang ngejar-ngejar dia, trus ngajak kerjasama. Ya yang tadi kita omongin...."


"Kerjasama apaan, muter-muter aja lo kayak cewe. Gue yang cewe aja gak gitu" Tamy sewot memotong ucapan Alex


"Sabotase rasa kopi, pelan-pelan kurangi standar penyajian. Alex kalau cerita emang begitu, belibet dia" Baskara yang menjawab dengan menahan tawa melihat Tamy sewot


"Apaaaa" koor Agus, Andi dan Tamy


Teriakan mereka menarik perhatian Kayla dan Nina yang khusyuk dalam bekerja mengurus administrasi. Kayla dan Nina hanya menatap mereka yang berkumpul tanpa bertanya, takut hitungannya hilang. Hanya beberapa saat melihat dengan dahi berkerut, lalu kembali mengerjakan administrasi.


"Gila, emang Bu Maria kenapa sih kok bisa begitu? Kan Coffee Shop ini kata pak Angga di beli sama Pak Boss Bagas legal tanpa paksaan. Kenapa bu maria jadi jahat mau jatuhin ya?" Agus tak habis pikir, ia bingung


"Ada dendam apa ya? Atau emang sengaja biar pak boss jual lagi dengan murah kalau berhasil sepi pelanggan" Andi berspekulasi


"Bisa juga Ndi, mainan bisnis. Pak boss beli mahal trus di jatuhin, sepi pembeli. Lalu bu maria beli dengan harga murah. Apalagi sekarang setelah di renov dan sejak di beli pak Boss jadi kan jadi makin rame" Tamy mengiyakan perkataan Andi


"Tapi bu maria kan orangnya baik banget, inget gak pas lo salah bikin takaran dan hampir bikin rusak mesin Ndi? Kan cuma disuruh ganti pake gaji dicicil lagi, kapan sih kita lihat Bu maria marah?"


"Saya lihat dan merasakannya lansung, itu orang nyuruh saya kerja slebor biar pelanggan gak betah. Kalau setiap bulan pelanggan makin turun gue di bayar 3 kali gaji sebulannya. Pas gue tantangin dia marah-marah. Kan pada lihat tadi saya di marahin, sampe bu Nina nenangin aja malah tambah marah-marah" Alex protes


Keheningan menjeda, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Bertanya-tanya kenapa, bagaimana, kok bisa-bisanya soal Maria.


Lonceng pintu Coffee Shop berbunyi saat pintu terbuka oleh Bagas, ia baru selesai bekerja. Datang menemui mood booster nya, sekaligus menjalankan janji mentraktir makan para pegawainya.


"Malam pak Boss" sapa semua pegawai termasuk Nina


"Malam semuanya, wah yang di sana sudah siap tempur makan nih" ledek Bagas


"Siap pak Boss" Baskara, Alex, Andi, agus dan Tamy menjawab kompak


"Tapi nunggu bu boss dulu ya" Bagas menenangkan pegawainya


"Duluan saya, pak Boss. Pesen duluan disana, jadi pas kita selesai dan datang sudah tinggal makan deh. Ya kan Kay" Nina memberikan ide


"Iya bu boss" Kayla hanya bisa mengiyakan


"Saya gak tenang, ninggalin kamu Nin. Masalah mantan belum selesai" Bagas duduk disebelah Nina dan berbisik-bisik, kayla masih bisa mendengarkannya


"Kasian anak-anak kalau nunggu kelamaan" Nina memberikan alasan


"Baskara ini ajak temen-temen kamu pergi duluan dan pesankan makanan langsung. Nanti saya nyusul sama bu boss" Bagas berdiri dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah bergambar presiden dan wakil presiden pertama Indonesia

__ADS_1


"Siap pak Boss" Baskara berdiri menghampiri Bagas dengan suka cita, menerima berlembar-lembar rupiah merah dan menghitungnya di depan Bagas


"Sepuluh lembar ini pak boss" Baskara mengkonfirmasi


"Iya, nanti kalau kurang saya yang bayar sisanya. Sana pergi, oesankan juga buay saya, Nina dan Kayla" Bagas mengusir dengan gerakan tangan


"Yeah..." Teriak senang pegawai Bagas


*


Dua puluh menit sepeninggal para pegawai, akhirnya Kayla dan Nina selesai bekerja. Kayla pamit mengganti seragamnya dengan baju biasa. Begitupun Nina. Bagas menunggu sambil melihat-lihat gawai nya.


Ada notifikasi pesan dan telepon tidak terjawab dari Anton, pengacara yang ia sewa untuk menyelesaikan urusan Nina dan Mantan suaminya. Sepertinya tadi ia terlalu berkonsentrasi saat bekerja


Dibacanya dulu pesan teks dari Anton


[Malam pak Bagas, saya sudah menghubungi Pak Budi dari kemarin malam dan saya juga sudah bertemu tadi siang langsung dengannya. Pembicaraan dengan Pak Budi kondusif dan beliau akan memikirkan penawaran dari kita. Jawaban yang akan di berikan besok siang Pak. Terima kasih]


"Cepat juga geraknya? Kondusif itu yang bagaimana ya?" Ledek Bagas bermonolog sendiri


"Siapa yang cepat gerakannya?" Nina yang sudah berganti baju berniat mengagetkan Bagas


"Eh, calon makmum" ledek Bagas juga


Mereka bedua saling tersenyum menggoda masing-masing


"Ehenmmm, Pak boss, bu boss ayok kita jalan" Kayla menyela sambil berdehem


*


*




Jangan lupa like jempolnya ya 👍



Terima kasih banyak ❤️



Bersambung 😉

__ADS_1


__ADS_2