Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
berbakti


__ADS_3


Setelah perjalan yang memakan 3 jam perjalanan. Akhirnya Ima mengantarkan Dara sampai depan rumahnya dan ikut masuk untuk menyapa Ayahnya Dara


"Siang Pak" Ima menyalami tangan Ayahnya Dara


"Siang nak Ima. Terima kasih sudah anterin Dara pulang. Ikut makan siang sama-sama nak"


"Gak usah merepotkan, saya juga ditunggu kakak dirumah buat makan bareng"


"Saya pamit pulang Pak" Ima menyalami lagi tangan Ayahnya Dara


Ima tidak mau menyapa Ibu tiri dan adik tiri Dara karena ikut kesal akan perlakuan mereka kepada Dara. Bagi Ima karena hasutan mereka Ayahnya Dara jadi selalu menyisihkan Dara dari keluarga, memang Ayahnya Dara bersalah tapi bukan berarti Dara harus tidak berbakti.


Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban dari Tuhan, terlepas dari sikap orang tua kepada anaknya. Jika orang tua nya tidak sayang dan menyakiti, biarkan Tuhan yang akan membalas mereka.


Dara mengantar Ima keluar rumah


"Kalau ada apa-apa langsung kabarin gw"


"Jangan berantem mending keluar aja dari rumah nti gw jemput" Nasihat Ima


"Iya Ma. Makasih banyak ya"


"Hati-hati dijalan"


Ima menyalakan mesin motornya dan berlalu pergi dari depan rumah Dara. Setelah motor Ima tidak terlihat Dara masuk ke dalam rumah. Merapihkan letak tas-tas miliknya di ruang tamu.


"Tidur dikamar saja sama Ayah Ra"


"Jangan!!! Nanti kalau kamu mau apa-apa dan kenapa-napa susah akunya" Ibu tiri Dara protes


"Saya yang jaga Ayah seminggu ini" Dara dengan enggan menjawab


"Baguslah kalau begitu, saya mau pergi keluar seminggu ini. Ayo Nadya"


"Ayah minta uang" Nadya merengek


"Memangnya kamu tidak bekerja?"


"Jadi model donk, biar uangnya banyak. Daripada pacaran dipakai doank badannya gak dikasih uang"


"Sudah tua masih minta uang aja!!!" Dara menghina


"Kurang ajar kamu ya!!!" Ibu tiri Dara berteriak


"Fakta yang gw bilang. Tanya aja anak Lo dah dipakai sama siapa aja"


"Daripada kamu pacaran sama cewe"


"Kemana-mana naik motor berduaan" Nadya memanasi


Dara melayangkan tamparan ke pipi Nadya


plak


"Heh... anak kurang ajar" Ibu tiri Dara menjambak rambut Dara


Dara melepaskan dirinya dengan menendang tulang kering kaki ibu tirinya


"Akh..."

__ADS_1


"Tono!!! lihat anak durhaka kamu itu" Ibu tiri Dara terjatuh memegang tulang keringnya yang sakit


"Dara!!!!" Ayahnya berteriak lantang


"Ayah, lihat kakak menamparku" Nadya berakting sedih dengan memegang pipinya


Dara memandang wajah Ibu dan adik tirinya dengan muak, lalu memandang wajah Ayahnya dengan wajah sedih.


"Kalau saja dalam darahku tidak mengalir darahmu Ayah. Sungguh aku tidak akan pernah mau berbakti padamu yang selalu mengganggap ku orang lain"


"Sungguh andaikan saja kau bukan Ayahku. Aku tidak akan mau berbakti kepadamu yang lebih sayang kepada anak orang lain dari pada anaknya sendiri"


"Sungguh, andaikan aku bisa ikut ibuku ke surga. Aku tidak perlu melihat kau mengacuhkan ku"


"Aku merindukan mu Ayah...., namun bila kau merasa aku hanya pengganggu aku akan pergi. Tenang cicilan hutang di bank tinggal dua tahun silakan dibayar kalian sendiri"


*


*


Dara keluar dari rumah ayahnya dan membawa tas-tas miliknya. Ia menyesal datang ke rumah. Andaikan saja Ia mendengarkan ucapan Ima.


Dara keluar rumah tanpa mempedulikan teriakan ibu dan adik tirinya yang marah karena Dara tidak mau membayar cicilan hutang di bank lagi. Bahkan suara permohonan Ayahnya pun Dara hiraukan.


'Cukup gw muak'


'ini sudah tiga tahun gw bersabar mencoba berbakti tapi sikap mereka sama saja tidak berubah'


'Gw kerja bagaikan sapi perah. Setiap bulan gaji habis cuma untuk bayar cicilan. bahkan buat makan bergizi saja gak bisa'


'Muak dikatain pelit, kikir, tamak, minta gratisan'


Dara menghubungi Ima lewat telepon beberapa kali


"Tunggu gw balik kesana"


"Gw gak dirumah Ma, gw ditaman"


"Oke"


*


Dara duduk di taman dekat rumahnya yang lama. Menunggu Ima datang. Dara bisa bersabar dimaki ataupun di bodohi namun tidak menghina Ima. Dara merasa tidak punya siapapun kecuali hanya Ima. Makanya tadi dia berani menampar adik tirinya dan membela diri dari Ibu tirinya.


Setelah melakukan itu Dara tidak menyesal sedikitpun. Ia bangga akan dirinya


'Akhirnya apa yang dulu tidak berani aku lakukan dan ucapkan bisa aku lakukan'


tin


tin


tin


Suara klakson motor Ima memanggil Dara untuk mendekat. Dara dengan bergegas membawa tas-tas miliknya ke arah Ima parkir.


"Diusir?" Ima bertanya masih menggunakan helm dan diatas motor matic nya


"Gw keluar sendiri" Dara menaiki motor setelah menyerahkan tas besar kepada Ima untuk ditaruh didepan


"Si rese nyari gara-gara, emak lampir Jambak rambut gw, Ayah biasa teriak-teriak aja" Dara memakai helm

__ADS_1


"Cape gw lihat orang toxic" Dara menepuk pundak Ima pelan sebagai tanda sudah siap


Ima menjalankan kembali motornya, pulang ke rumah orang tua Ima.


*


Motor Ima memasuki salah perumahan mewah di bilangan kota Depok. Saat memasuki perumahan motor Ima di berhentikan dan Ima di tanya-tanya dulu di pos security


"Siang mba, mau kemana?" Salah Satu security muda yang bertanya


"Pulang mas, blok BD 5 no 10" Ima membuka kaca helm nya dan tetap diatas motor


"Maaf siapanya mas Bagas nih?"


"Saya adik bungsunya"


"Masak sih?" Security tersebut sangsi melihat motor yang dikendarai oleh Ima.


'Motornya butut gak mungkin tinggal di sini'


"Salah perumahan mungkin mba" ledek security tersebut


Ima jengkel dan mengeluarkan handphone miliknya, menelpon kakaknya


"Iya dek"


"Mas Bagas yang ganteng, tolong ke pos security depan sekarang"


"Gw gak boleh masuk ma securitynya!!!" Ima berteriak kesal di telepon agar security tersebut mendengar


Ima tidak memindahkan motornya kepinggir jalan seperti permintaan security yang merasa motor Ima menghalangi jalan mobil untuk masuk. Dengan wajah kesal Ima memandangi wajah security tersebut. Dara bahkan dilarang untuk turun dari motor


'Sialan dikira gw pengemis apa, mau pulang ke rumah aja gak boleh masuk'


Tak berapa lama, datang motor sport biru milik Bagas.


"Dek Ima sayangnya Mas" Bagas memarkirkan motornya di depan pos security dan turun menghampiri Ima. Dipeluknya Ima yang masih tetap kokoh diatas motor matic nya


"Nih urus itu orang, katanya gw gak mungkin tinggal disini, katanya gw gak mungkin adek Lo" Ima mode dengki


"Dia gak ngomong gitu tahu Ma" Dara protes


"Hai mas Bagas ~~~~" Dara mode centil


"Hai Ra, sebentar ya dek" Bagas mengelus lengan Ima dan menghampiri security tadi


"Siang pak, itu adik bungsu saya namanya khalima. Kebetulan dari lahir tinggal disini dan baru pulang dari tempat kerja dia di Bekasi. Jadi jarang ada disini" Bagas dengan sabar memberikan informasi tentang Ima kepada security


Dan dengan rasa bersalah yang memalukan, security tersebut meminta maaf dan maklum kepada Ima




❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍



❤️ Terima kasih banyak ❤️


__ADS_1


Bersambung 😉


__ADS_2