Barisan Para Mantan

Barisan Para Mantan
Bab II 4


__ADS_3


Bagas hanya bisa melihat Ratih menuntun Nina menuju kamar yang akan ia tempati untuk menginap malam ini. Di pikiran Bagas begitu banyak hal berkecamuk.


'Ada apa dengan Nina? Kenapa ada orang yang mengejar-ngejar nya tadi, sampai Ia ketakutan begitu'


*


Bagas mencegat Ratih yang baru saja keluar dari kamar yang ditempati Nina malam ini


"Mba ratih sini dulu" Bagas duduk di ruang tengah menonton televisi, masih dengan pakaian yang dikenakannya saat pulang. Ia belum berganti pakaian, bahkan belum memasuki kamarnya sendiri.


"Gimana tadi di dalam? Nina baik-baik saja kan?" Ratih menghampiri dan duduk di ujung sofa.


Bagas begitu gelisah dengan pikiran yang tidak jernih cenderung negatif akan yang telah terjadi tadi. Hingga membuatnya rela menunggu.


"Non Nina baik-baik aja Den. Lagi mandi, jadi saya tinggal mau siapin makanan. Den Bagas belum makan kan?" Bagas sampai melupakan makan karena kejadian tadi


'Ampun... semua hal bisa lupa. Cuma Nina aja yang ingat' Bagas menggelengkan kepalanya


"Saya ke belakang sebentar den, siapin makanan dulu. Den Bagas mandi ganti baju aja dulu" Ratih menganggap gelengan kepala Bagas sebagai jawaban atas pertanyaan nya. Padahal ia sedang asyik dengan pikirannya sendiri.


'Aduh Bagas, lo bisa kehilangan pikiran begini' Bagas meruntuki dirinya sendiri setelah mendapat sedikit wejangan.


'Betapa hebatnya Mood booster ku, Nina. Bisa-bisanya gw sampai lupa segalanya begini'


"Ayo mandi" Bagas bergegas ke kamarnya


*


*


*

__ADS_1


huff


Bagas menghela nafas berat dan panjang. Bagas bisa membayangkan apa yang di rasakan Nina, merasakan rasa sakit di tubuh juga jiwa.


Betapa Bagas ingat akan adik bungsu nya yang dulu juga sempat mempunyai pacar yang hanya memoroti uang milik nya dan pacar yang hanya mau tubuh nya saja. Padahal dengan susah payah adiknya move on dari cinta pertama nya. Paham rasa sakit setelah nya karena melihat dengan langsung bagaimana terpuruk adik nya. Karena hal itu lah Bagas berjanji kepada dirinya sendiri akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa menghargai perempuan.


Lalu bagaimana lebih terpuruk lagi Nina, ini suami, mantan suaminya. Melihat dan mendengar tangisnya saja membuat ngilu hati Bagas, apalagi Bagas menjadi Nina.


Bagas merasa semakin dalam perasaan sayang kepada Nina, bila dulu karena rasa malu akan aib nya sendiri lalu berubah menjadi rasa berterimakasih dan semakin nyaman karena senyum manis Nina juga sikap ramahnya. Sekarang semakin dan semakin lebih sayang, lebih ingin menjaga, melindungi. Memberikan rasa nyaman, aman dan sayang.


*


*


Bagas semalaman sulit untuk tidur nyenyak, pikiran nya bercabang kemana-mana. Nina dan pekerjaannya juga hidup ke depannya ia bila mantan suaminya masih menerornya. Juga pekerjaan miliknya yang sudah dirancang, ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan dengan pengawasan langsung olehnya.


'Aku tidak bisa meninggalkan Nina sendiri bila mantannya masih menerornya'


"Aden" Ratih menyapa, ia baru saja keluar dari kamar tempat Nina tidur.


"Den Bagas gak tidur? nunggu di sini semalaman?" Ratih terkejut melihat Bagas sudah bangun di jam lima pagi ini dan sudah duduk di meja makan dengan segelas kopi yang terlihat masih panas dari asapnya. Juga sepiring nasi goreng omelette


"Tidur kok Mba, ini tiba-tiba kebangun lapar. Nina gimana mba?"


"Alhamdulillah bisa tidur nyenyak Den. Kasian ya Den, Non Nina nya" Ratih mendengar cerita tentang Nina dari mulut Nina langsung. Saat semalam dia menangis histeris di pelukan Bagas, dan Bagas meminta tolong untuk menemani Nina di kamar tidur setelah Nina tenang dari tangisnya.


"Kasian bagaimana mba?"


Ratih akhirnya menceritakan apa yang ia tahu, Nina menceritakan bagaimana hidupnya yang anak pertama dan harus bisa membantu orang tuanya yang hanya buruh tani bayaran tanpa memiliki tanah untuk di garap. Entah itu membantu ekonomi ataupun membantu menjaga adik-adiknya yang ada 5 orang dengan perbedaan usia satu tahun setiap orang. Bersekolah dengan 'beasiswa anak miskin' walaupun hanya sampai SMA dengan di selingi dengan bekerja serabutan untuk membantu makan sehari-hari, lalu setelah lulus harus langsung berkerja membantu biaya sekolah adik-adiknya. Hingga akhirnya bertemu dengan mantan suaminya dan menikah, lalu perjalanan singkat pernikahan nya yang di warnai KDRT juga suami yang hobi berjudi. Bercerai dengan sangat susah bukan hanya karena di susahkan oleh sang mantan suami, tapi juga karena di larang oleh ke dua orang tuanya. Mereka malu bila anaknya menjadi janda dan menjadi bahan olok-olok an di kampung. Setelah Bercerai Nina melarikan diri ke Jakarta, mengadu nasip dan peruntungan hidup. Juga melarikan diri dari mantan suaminya dan orang tua nya.


'Astaga, hidup mu Nin. Walau Awalnya sulit namun sekarang kau bisa tersenyum manis dengan tulus setiap harinya. Mood booster ku tidak kaleng-kaleng'


"Den, saya siapin sarapan dulu ya buat Non Nina"

__ADS_1


"Saya bikin nasi goreng banyak kok mba, buat mba aja masih bisa. Istirahat aja dulu"


"Aduh makasih banyak Den. Saya rapihin dapur aja kalau begitu sama nyajiin di meja sarapan nya. Permisi Den" Ratih berlalu ke dapur setelah Bagas menjawab dengan anggukan kepala


Bagas memakan sarapannya dengan cepat. Tiba-tiba dia ingat untuk menelepon Angga, pemilik Coffee Shop tempat bekerjanya Nina untuk meminta izin hari ini. Bagas akan memaksa Nina untuk istirahat hari ini full. Ia tidak akan bisa meninggalkan Nina hari ini karena ia harus ke luar kota.


Bagas masuk ke dalam kamarnya setelah selesai sarapan dan mencari handphone miliknya. Di cari di kontak nama Angga, awalnya ia ingin menelpon tapi diurungkan karena masih sangat pagi. Akhirnya ia mengirimkan pesan kepada Angga


[Pagi Pak Angga, Saya Bagaswarna Sarendra. Saya meminta izin untuk Nina tidak bisa masuk kerja hari ini karena sakit. Saya akan bertanggung jawab terhadap semua hal tentang Nina. Terima kasih banyak.]


Bagas bergegas mandi, setelah nya ia akan membangunkan Nina dan berdiskusi dengan nya. mencari solusi terbaik untuk dirinya ke depannya.


*


Telepon genggam Bagas berbunyi menandakan bahwa ada panggilan masuk. Bagas yang masih di dalam kamar mandi menjadi bergegas keluar untuk menerima nya, walaupun dengan keadaan basah dan hanya di lilit handuk di pinggang.


'Angga' Nama panggilan di layar Handphone miliknya


"Pagi Pak Angga"


"Pagi, maaf sebenarnya ini siapa ya? kenapa anda bisa meminta izin atas nama Nina?"




❤️ Minta like jempolnya ya kakak 👍



❤️ Terima kasih banyak ❤️


__ADS_1


Bersambung 😉


__ADS_2